Writer Wannabe
Keinginanku jadi seorang penulis mungkin baru terbersit di Tahun 2014 (8 tahun yang lalu). Awalnya tuh waktu kerjaanku mengharuskan aku naik bis Serang - Cilegon, lewat tol. Perjalanan sepanjang 20 kilometer itu jadi bikin ngelamun. Terus lamunannya tuh tiap hari itu itu aja. Jadi aku suka ngebayangin dari karakter orang - orang di sekitarku, kalau jalan hidup mereka jadi gini gimana ya akhirnya ? Kalau mereka ambil keputusan hidup seperti x akhirnya bakalan jadi z ga ya ? Nah hal hal seperti itu yang mendorong aku pengen nulis. Terus, si tokoh yang ada di kepala tuh menghantui terus setiap hari, kayak minta buat dituliskan. 

Kadang pas Sabtu Minggu, aku tetep ngantor ada kerjaan tapi santai, nah aku buat tuh kesibukan nulis2. Awalnya sih biar gampang karena aku suka novel romance yang belum ada terjemahannya, aku tulis terjemahannya, sekalian practice English lha ya. Tapi ya ga sampe selesai, lagian kalo diselesaikan juga emang butuh waktu fokus 😁. 

Pas aku balik kampung, aku jadi punya sedikit waktu buat nulis. And tadaaa....jadilah novel Senja, di Ujung Cinta. Itu idenya sih karena di kampungku tuh emang ada satu daerah yang rawan longsor, sampai satu desa itu akhirnya ditinggalkan dan direlokasi. Ada satu adegan yang aku dapat dari hasil ngobrol sama temenku, yaitu saat kejadian longsor ternyata ada orang yang masih sibuk menyelamatkan emas-emasnya ( coba kamu cek di prolog novel Senja di ujung Cinta karya Krasivaya...sejatinya itu adalah adegan nyata).

Percayalah, sebetulnya penulis itu hanya menuliskan 2 hal yaitu sensasi dan persepsi. 
Sensasi adalah hal hal yang dirasakan dan tercapture oleh panca indera penulis, yang dilihat, didengar, dikecap, dibaui, dan yang terasa. Intinya peran organoleptis sangat dominan, mata, hidung, telinga, kulit dan Lidah.

Persepsi, yaitu hal-hal yang ditulis penulis dalam imajinasinya dia. Apa yang terserap di otaknya penulis, dibayangkan, nah itu yang dituangkan penulis. Entah itu persepsi bagus, buruk, netral. 

Sebenarnya menurut aku, tidak ada murni penulis yang menciptakan sesuatu yang baru, semua ide memang sudah pernah terjadi dikehidupan nyata dan dibumbuilah oleh penulis. 

Kita ambil contoh film Moana, Moana kecil yang saat dia berjalan bisa membelah lautan, air menyingkir membentuk dinding. Kamu pernah mengenali ide itu dari mana ? Aku rasa ide itu dari kisah Nabi Musa yang bisa membelah lautan. Ya seperti pepatah 'tidak pernah ada yang baru dibawah matahari'

Tapi jadi penulis itu, goal settingnya become best seller, dimana kpi ( key performance indicatornya ) 
1. Dibaca banyak orang diatas 10k pembaca minimal lah 
2. Review positif alias kepuasan si pembaca. 

Nah 2 kpi itu aja agak berat gaes. Kadang ada penulis yang memang dia dari basic kerjaannya ya nulis, entah itu wartawan, copy writer seperti Leila s chudori yang basicnya dia adalah wartawan, trus ada lagi A Fuadi yang juga wartawan. Mereka sudah terbiasa dengan dunia literasi jadi pengalamannya pun matang yang jadi bahan bagus buat tulisan. 

Dan ada juga tipe penulis yang memang dia punya latar belakang keilmuan yang jauh berbeda dengan dunia sastra, seperti Ika natassa yang seorang bankers, Almira Bastari seorang analis keuangan, Tere Liye juga seorang akuntan. Mereka sukses didunia kepenulisan karena gaya tulisan yang khas, yang menarik fansnya. 

Kemudian ada juga penulis yang menurut aku adalah penulis yang menjadi sukses karena menjadikan tulisannya sebagai bagian dari terapi atau healing, contohlah NH Dini, kehidupan pribadinya banyak tertuang dalam setiap novel fiksinya maupun memoar, terus Pramodya Ananta Toer yang dari sudut pandang aku, dia menulis sebagai bagian dari mengekspresikan rasa ingin bebasnya. Ada juga yang lagi viral momy asf, si penulis layangan putus. 


Sebetulnya aku juga ga bisa mengkotak-kotakan penulis kayak diatas, tapi sehubungan tulisan ini aku yang buat jadi suka suka aku lah ya. 

Terus kalo Dewi lestari masuk kategori mana nih ? Jangan salah aku masih punya satu kategori lagi. Yaitu penulis yang ajaib dan beruntung. Kenapa beruntung ? Karena sedari usia dini dia sudah tahu apa maunya, panggilan menjadi penulis sudah berdenging pada mereka sejak usia dini, selain Dee lestari ada lagi asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa yang sedari usia dini sudah mendedikasikan dirinya jadi penulis, no matter what. 

Terus kalo gitu aku bagian dari kategori penulis yang mana dong ? Atau kamu yang baca yang emang punya getaran jiwa jadi penulis bisa menempatkan dimana saja Yang memang sesuai dengan kategori di atas. 

Kalau aku sendiri lebih menempatkan menjadi penulis campuran, sejak kecil suka nulis iya, karena kerjaan, ya pernah juga karena pernah jadi wartawan walau cuma 3 bulan, basic konwledge diluar sastra juga iya karena di keseharian I'm a bankers. 

Kalo kamu ? Silahkan pilih atau malah buat lah kategori penulis sendiri, dan bisa juga kamu tambahkan di kolom komentar untuk meramaikan khasanah per - writer Wannabe - an. 


Salam literasi