Kepulangan
🍁🍁🍁

Aku menarik koper di terminal kedatangan Internasional Bandara Juanda, baru saja pulang dari Negara orang yang telah lima tahun kutinggali. Ya, lima tahun lalu Papa mengirimku ke London untuk menjalankan cabang bisnis keluarga kami yang tengah mengalami masalah di sana.

Perjuangan kerasku tak sia-sia, pengorbanan dalam berbagai hal membuahkan hasil dengan kemajuan perusahaan yang sangat pesat. Untuk itulah aku sudah diperbolehkan pulang oleh Papa. Ah, lima tahu tak pernah menginjakkan kaki di negara Garuda tercinta membuatku sangat merindukan kemacetan salah satu kota kelahiranku. Tentunya, aku juga merindukan keluargaku. Jangan lupakan dia yang terpaksa aku tinggalkan lima tahun lalu karen urusan perusahaan ini.

Keluar dari Bandara, aku menatap sekeliling untuk mecari taxi. Ya, aku memang tidak memberitahukan kepulanganku karena ingin memberi mereka kejutan.

Kuhentikan sebuah taxi, menyebutkan sebuah alamat tempatku tinggal sedari kecil. Butuh waktu tiga puluh detik untuk sampai, bahkan aku sampai ketiduran.

Setelah membayar argo, aku memasuki rumah dengan kening mengerut. Rumah tampak ramai, para pembantu lalu lalang seperti sibuk mempersiapkan sesuatu. Seperti akan ada acara besar di sini.

"Den Liand!" Sebuah panggilan membuatku menoleh. Perempuan paruh baya menatapku dengan mata berkaca. Dia adalah ibu keduaku, kepala pelayan di rumah ini yang telah membantu Mama merawatku dan kakaku sedari kecil.

Ah, kita belum berkenalan. Namaku Liand Nariel Pradipa. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Rafardhan Ariel Pradipa. Jarak usia kami hanya selisih tiga tahun.

"Aden sudah pulang?" Suara itu kembali membuyarkan imaginasiku. Kepala pelayan yang kupanggil Bu Narti itu mendekat, mendekapku sangat erat dengan satu bulir air mata yang jatuh. Kubalas pelukan itu.

"Nyonya, Tuan. Den Liand pulang!" teriaknya menggelegar. Aku tertawa, karena teriakan itu para pelayan yang tampak sibuk tadi berhenti seketika.

Suara langkah cepat terdengar dari tangga. Menoleh, dan mendapati mama dan papaku yang terlihat turun dari lantai dua. "Liand!" panggil mereka bebarengan.

"Mama, Papa." Langkah mereka semakin cepat. Aku pun mendekati mereka, pelukan hangat yang tak kurasakan selama lima tahun dapat kembali kunikmati, kuhirup aroma kedua orang tuaku.

Aku bisa melihat mata Mama yang berkaca-kaca saat pelukan kami terlepas. "Kamu kenapa tidak bilang kalau mau pulang?" tanyanya dengan menghapus air mata. Segera, tanganku terangkat untuk menghapus bulir asin itu.

"Padahal Papa berniat menghubungimu untuk memintamu pulang besok. Ternyata sudah pulang duluan."

Aku tersenyum. "Aku berniat memberi kejutan untuk kalian." Ucapanku terhenti, lalu melihat para pelayan yang tadinya tampak sibuk kini berbaris rapi di sisi kananku. "Sepertinya akan ada acara."

Kedua orang tuaku tertawa bersama, tawa yang selalu bisa menenangkanku. Seolah tawa mereka adalah hal yang dapat menunjukkan bahwa tak pernah ada masalah di antara keduanya. Sebuah usapan tangan kurasa di pundak, pelakunya adalah Papa. "Kakakmu akan bertunangan."

Terkejut? Tentu saja. Kakaku yang kaku itu sekarang mau bertunangan? Sungguh di luar dugaan. Karena setahuku dia tidak pernah mau jika kuajak mencari pacar. Dulu pernah dia dekat dengan seorang gadis. Akan tetapi ... ah, masa lalu. "Kakak bertunangan?"

Papa dan Mama mengangguk. "How can it be?"

Keduanya kembali tertawa. "Ya bisalah. Kakak kamu, kan manusia."

Aku berdecak. "Bukan begitu, Pa. Setahuku Kakak paling anti kalau diajak cari cewek."

"Maka dari itu kami menjodohkannya."

Kali ini aku melotot saking terkejutnya. "Dia mau?" Kedua orang tuaku kembali mengangguk. "Wah, pasti perempuannya cantik," ucapku sambil tertawa.

"Pati dong!" Lagi, mereka menjawabnya bebarengan. Ah, kedua orang tuaku ini memang kompak. "Lagian, mereka udah saling kenal. Kamu juga kenal, Kok." Kali ini Mama yang berbicara.

"Siapa, Ma, Pa?" Pastinya aku penasaran siapa yang akan menjadi cakon istri kakakku. Disamping kakaku yang cuek, kakaku itu bermuka datar, nyaris tanpa ekspresi.

"Ada, deh. Nanti kamu juga tahu." Aku hanya mendengus melihat mereka tertawa. "Sudah sana. Kamu istirahat dulu. Nanti malam kamu ikut melamar."

Aku pun mengangguk, bergegas ke lantai dua menuju kamarku. Tempat tidur yang sudah tak pernah kujamah selama lima tahun.

🍁🍁🍁

Aku mematut diri di depan kaca. Sebuah pakaian batik yang dibuat khusus untuk acara pertunangan sudah melekat di badan. Sempurna.

Aku keluar kamar dan berkumpul dengan keluarga di ruang tamu. Setelah semuanya lengkap, kami pun berangkat. Kakaku duduk di kursi depan, sedang aku duduk di belakang bersama Papa dan Mama. Diapit keduanya dan mencoba bermanja di sana.

Keningku terlipat kala melihat jalan setapak yang dilalui mobil, aku seperti mengenalnya. Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang sangat aku kenali. Aku menoleh pada Mama. "Ini?" Aku menunjuk rumah itu tanpa kata.

Mama hanya tersenyum dan mengangguk. Pikiranku pun jatuh pada seorang wanita yang bernama Sandra. Kak Sandra. Aku masih tidak menyangka kalau Kak Ardhan akan menikah dengan Kak Sandra. Ah, dunia sangat sempit sekali.

Menuruni mobil, aku disambut oleh embusan angin yang entah kenapa malam ini terasa menggigil, seolah angin itu adalah suatu pertanda. Akan tetapi, pertanda apa?

Kusapukan pandangan pada sekeliling. Menatap rumah sederhana dari kayu tempat dulu aku sering bermain di sini bersama Kak Ardhan, Kak Sandra dan ... dia. Aku seolah merangkai kepingan-kepingan kisah masa kecil kami.

"Liand, ayo!" Suara Mama membuyarkan lamunanku. Segera kulangkahkan kaki di tempat yang lama tak pernah lagi kukunjungi. Semua orang duduk tenang, aku pun memilih duduk di samping Mama yang mengapit Kak Ardha dengan Papa.

"Begini, Pak Imam. Sesuai rencana kita beberapa waktu lalu, saya dan keluarga saya datang kemari untuk meminangβ€”" Belum sempat Papa menyelesaikan ucapannya, suara deringan ponselku mengejutkan semua orang. Segera kutolak sebuah panggilan dari seorang teman selama aku di London.

"Maaf," ucapku.

"Baiklah kita lanjutkan. Pak Imam, Bu Sawiyah. Kedatangan kami bermaksudβ€”" Lagi-lagi deringan ponselku memotong ucapan Papa. Membuat Papa dan Mama kali ini mendelik ke arahku yang kuberi senyuman gigi kuda.

"Angkat di luar," Desis Mama. Akhirnya, aku pamit undur diri untuk menerima panggilan itu, dan meminta Papa untuk melanjutkan acara.

"Baiklah. Maafkan anak bungsu saya. Kalau gitu kita lanjutkan saja. Pak Imam, Bu Saβ€”" Tak lagi kudengar suara Papa karena aku keluar dan menjauh untuk menerima panggilan.

Nama Bianca tertera, temanku dari London, dia menanyakan keadaanku. Ah, aku baru ingat kalau sejak pesawat mendarat, aku belum mengabarinya sama sekali. Padahal, sebelum naik pesawat dia memintaku untuk mengabarinya kalau aku sudah sampai. Kami bicara cukup lama, sehingga aku harus meminta untuk menyudahi panggilan ini lantaran acara kakakku. Kalau tidak, bisa satu jam aku mendengar cerita Bianca. Ya, dia memang perempuan yang ekspresif.

Kulangkahkan kaki ke dalam rumah Pak Imam. Belum semua kaki memasuki rumah, langkahku seolah dipaksa berhenti di ambang pintu. Di sana, aku melihat hal tak terduga, hal yang membuatku menyetujui jika dunia benar-benar sempit.

Langkahku terasa berat, napasku terasa sesak, tubuhku seolah terhantam godam tak kasat mata. Di sana, kakaku berdiri dengan seorang perempuan dan saling bertukar cincin. Bukan Kak Sandra seperti bayanganku sebelumnya. Melainkan perempuan yang aku cintai sejak dulu, sejak kami duduk di bangku sekolah.

Tak lama, calon istri Kak Ardhan menoleh, tatapan kami beremu, tetapi sesaat karena ia segera membuang muka. Ya Tuhan, apa yang ingin Kau tunjukkan. Dengan berat hati aku mengucapkan namanya tanpa suara. "Ana."

🍁🍁🍁

====

Like dan komennya yaaa.