Pertunangan

🍁🍁🍁

Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat ini. Sakit? Tentu saja. Terluka? Pasti. Wanita yang aku cintai, kini bersanding dengan kakaku sendiri. Tuhan, takdir apa yang kau rencanakan?

Amarah tiba-tiba saja merasuk dalam tubuhku, kepalan tangan menguat, ingin melampiaskan pada sesuatu yang keras dan dapat kupukul bertubi-tubi. Namun, tiba-tiba saja mataku mengembun, terasa perih. Segera aku mendongak dan mengerjap, menghalau air mata yang akan tumpah.

Ingatanku terlempat ke beberapa tahun lalu, di mana kami sama-sama mengenyam pendidikan di universitas. Sering kali aku mengajaknya berpacaran, tetapi dia selalu menjawab bahwa kita lebih baik berteman saja.

Masih tergambar kala kami berada di taman belakang, menikmati jam kosong setelah mengisi perut di kantin kampus. Kupandang wajahnya yang tengah duduk di sampingku, menatap ke depan menikmati pemandangan bukit belakang kampus.

Anak rambut yang berterbangan menutupi sebagian wajah, tak memudarkan paras ayu yang dipunya. Hanya saja, itu menghalangi pandanganku. Kuangkat tangan dan menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga. Membuatnya menoleh dan pandangan kami terpaku. Akan tetapi, hanya sesaat karena ia buru-buru membuang muka.

Aku menghela napas dalam. "Ana," panggilku akhirnya.

Ia menoleh, mengangkat satu alisnya karena aku masih terdiam. "Ada apa?" Suaranya sangat lembut, aku sangat menyukainya.

"Kenapa kalau aku mengajakmu berpacaran kamu selalu mengatakan kita berteman saja? Padahal aku sangat mencintai kamu, tetapi kalau aku jalan-jalan dengan wanita lain, kamu marah. Itu artinya kamu cemburu. Dan cemburu, artinya kamu juga mencintaiku, 'kan?"

Senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku ingin kita bisa sukses dulu sebelum membicarakan mengenai cinta. Kita harus membahagiakan kedua orang tua kita dulu." Jawaban yang sangat bijak menurutku waktu itu.

Tiba-tiba saja wajahnya berubah cemberut. "Aku hanya tidak ingin namamu jelek. Aku tidak ingin kamu dianggap palyboy." Ya. Itu untuk alasan jika dia marah kalau aku akan menggandeng perempuan lain.

Akhirnya, sejak saat itu aku mulai mengubah diri. Tak lagi suka menggoda teman wanita di kampus maupun di luar kampus. Aku pun juga mulai giat dan tekun berkuliah. Semata karena ingin apa yang ia impikan tercapai.

Namun, sekarang semua itu terasa omong kosong bagiku. Keinginan menjadi orang sukses hanyalah dalihnya semata untuk menolakku. Nyatanya, dia mencintai kakakku, dan ingin menikah dengan Kak Ardhan. Pasti dia hanya merasa kasihan jika menolakku dulu.

"Liand." Suara Mama membuyarkan lamuanku, aku menatap Mama Dan Papa yang berdiri di samping Kak Ardhan.

"Kemari, Nak." Aku mengangguk, menuruti Mama untuk mendekati mereka. Di setiap langkah, tak sedikit pun tatapan teralihkan dari perempuan yang bernama Ana, perempuan yang aku cinta, yang tega membohongiku sampai aku seperti orang bodoh.

Pandangan kami kadang kala bertemu saat ia mencuri pandang, entah ingin melihat atau takut karena ia langsung membuang muka. Dari gestur tubuhnya, terlihat dia sedang gelisah. Semua itu diperkuat dengan kedua jari tangan yang saling memilin. Hal yang biasa dia lakukan jika merasakan hal itu.

Aku telah sampai di samping Mama, menatap perempuan cinta pertamaku ini yang penuh senyuman sehingga mau tak mau aku pun melakukan hal yang sama. "Kamu pasti terkejut, 'kan?"

Satu sudut bibirku tertarik. "Sangat, Ma. Aku tidak menduga kalau perempuan yang bertunangan dengan kakak adalah Ana." Aku menekan kata dalam ucapan saat menyebut namanya.

"Seharusnya kamu tahu saat kita sudah sampai di sini."

Aku kembali memasang senyum maksa yang palsu. "Aku pikir Kak Sandra yang akan menikahi Kakak, Ma. 'Kan perempuan cantik di rumah ini tidak hanya satu."

Semua tertawa akan ucapanku. "Kalau Sandra sudah menikah sejak tiga tahun yang lalu, Liand. Malah dia sudah mempunyai anak." Ibu Sawiyah berucap dengan menunjuk suatu arah. Aku mengikuti, lalu menemukan Kak Sandra yang tengah menggendong seorang gadis cilik yang cantik.

Ah, aku melihatnya tadi saat baru datang. Aku kira, gadis itu adalah anak kerabat Ana. Mengingat acara ini tidak hanya dihadiri keluarga inti, melainkan keluarga besar.

"Itu suaminya, baru datang dari kerja. Katanya tidak bisa ditinggal. Makanya terlambat." Seorang laki-laki gagah dengan tinggi sekitar 182 centimeter berjalan di samping Kak Sandra. Pantas, keberadaannya baru terlihat.

"Betul, 'kan Mama bilang, pilihan kita tepat, kamu juga mengenal Ana dengan Baik."

Aku menoleh pada Mama yang kembali berucap, memasang senyum yang selalu kupaksakan. "Iya, Ma. Aku memang mengenalnya. Sangat mengenalnya melebihi yang Mama tahu," ucapku sembari menatap Ana. Tepat saat itu pula tatapan kami bertemu. Aku yakin, dia mengerti akan ucapanku barusan.

Tanganku terulur, menyalami tangan Kak Ardhan. "Selamat, Kak."

"Thanks," jawab Kak Ardhan tanpa ekspresi. Kenapa seperti itu? Ah, itu sudah biasa. Memang wajah dan wataknya seperti itu.

Aku beralih pada Ana. "Selamat atas pertunangannya." Jelas ada keraguan dari gerak tangannya untuk menyambut uluran tanganku. Namun, ia tetap memaksakan.

Tepat saat tangan kami berjabatan, aku sedikit meremasnya. Tak peduli dengan sakit yang akan dia rasakan ketika aku melihatnya meringis. Halah. Sakit ini tidak ada apa-apanya daripada sakit yang kurasakan di hati. Menekankan kalau aku tengah marah padanya. Tak peduli ia yang meronta ingin dilepas.

"Kalau begitu, sebaiknya kita segera makan." Suara Ibu Sawiyah membuat aku melepaskan tangan Ana. Kami beralih pada ruang makan yang sudah disulap dengan meja tambahan untuk menyambut kedatangan kami. Aku mendengus, ternyata terencana sekali acara ini.

🍁🍁🍁

Di sinilah aku saat ini, di luar rumah setelah makan. Beberapa waktu lalu kakakku pergi karena memang masih mempunyai urusan dengan pekerjaannya. Perusahaan Papa yang mendapat kontrak kerja baru dengan perusahaan asing membuat Kakak mendapat sedikit lebih banyak pekerjaan. Namun tak kusangka pertunangannya tak sama sekali berpengaruh pada kegilaannya pada pekerjaan.

Kupandangi perempuan yang masih bertahta di hatiku meski telah menyakiti hatiku. Kalian boleh anggap aku bodoh. Terserah.

Sedikit menengok ke dalam, mendapati semua keluarga tampak asyik berbincang. Segera aku mendekati Ana dan menariknya dengan kasar ke samping rumah.

"Liand lepas!" Dia meronta, tetapi aku tidak peduli sebelum aku membawanya ke tempat yang sesuai untuk berbicara.

"Liand. Lepas!" Tepat setelah agak ke belakang, aku melepaskan cekalan dengan kasar, membuatnya sedikit terpelanting di depanku.

Aku mendesis, gigiku bergemerutuk. "Jadi ini dalihmu dengan mengatakan sukses, dengan mengatakan membahagiakan orang tua? Bahwa kau memang tidak mencintaiku? Melainkan kakakku?"

Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Namun aku lebih dulu menyelanya. "Penipu!" Matanya berkaca, bibirnya terbuka karena urung berbicara. Mungkin juga terkejut karena mendengar aku yang membentaknya. Karena selama ini aku tidak pernah bersikap kasar padanya.

"Kamu perempuan bermuka dua, penipu ulung. Kenapa tidak kau tolak saja aku dari dulu? Bukannya memberikan harapan palsu?" Tak ada kata, hanya air mata yang jatuh. Dapat kulihat kesedihan di sana, tapi entah untuk apa. Heh, dia mengasihaniku kah?

Aku mendekat, berdiri tepat di depannya. Mata tajamku seolah menguncinya. "Kau sudah membuatku sakit hati. Ingat, aku bukan orang yang baik untuk menerima sebuah pengkhianatan. Dendam mudah muncul dalam diriku. Jangan salahkan aku jika ke depannya akan terjadi suatu hal yang tidak kau inginkan."

Aku segera pergi meninggalkannya yang kembali menangis. Tak ingin amarahku terluapkan semua sehingga akan menyakitinya. Bagaimanapun, dia perempuan yang aku cintai. Tunggu saja hal menakjubkan dariku ... Ana.

🍁🍁🍁

=====

Sudah baca Dua Hari Bersama Mas Duda atau belum nih? Mumpung masih free. 

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan
9. Suami Simpanan Bos
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Demi Anakku

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Dilamar Ustad
3. Wanita yang Ternoda
4. Mengejar Cinta Gus
5. Menikahi Tuan Muda
6. Lelaki Masa Depan
7. Cool Bos
8. Fitnah di Pesantren
9. Mencintai Kakak Ipar

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.