Bersama Kakak Ipar
🍁🍁🍁

Kurebahkan tubuh Anna di atas ranjang empuk yang telah kupesan beberapa jam lalu di sebuah vila. Mengamatinya yang terlelap begitu damai. Sungguh. Aku betah melihatnya dalam keadaan seperti ini. Seolah wanita ini hanya milikku. Seolah wanita ini hanya untukku.

Kuraih slingbag milik Ana, mengambil ponselnya dan mennon aktifkannya agar tidak ada yang bisa menghubungi. Beralih pada saku celanaku, ponsel berlogo buah digigit itu kuraih. Mengetikkan sebuah pesan singkat di sana.

Aku mengajak Ana liburan untuk merayakan pelepasan status bujang.

Kukirimkan pesan itu pada Mama, lalu segera mematikan pula ponselku. Menyimpannya di tempat di mana Ana tidak akan pernah menemukannya. Aku tidak ingin ada yang mengganggu.

Berlalu dari kamar, aku mendatangi dapur. Menyeduh kopi dan membawanya pada serambi Villa, duduk pada kursi kayu dan menikmati suasana asri pedesaan dengan tanaman padi yang mendominasi.

Malang. Adalah kota yang menjadi tujuanku membawa Ana. Dua jam lebih perjalanan dari Surabaya untuk sampai di tempat ini. Cukup membuat tenagaku terkuras. Sajian kopi dan kenyamanan alam ini membuatku sedikit rilex.

"Liand. Di mana kita?" Ah. Suara merdu itu terdengar. Ana sudah sadar dari tidurnya. Memang aku memberikan obat tidur jangka pendek. Tak ingin menikmati kota ini sendiri dengan membuat Ana tidur terlalu lama.

"Vila," jawabku santai setelah menyeruput kopi.

"Vila mana? Dan milik siapa?"

"Milik pemiliknya dan di kota Malang." Ekor mataku melihat dia yang melotot.

"Aku serius."

"Aku pun juga."

"Kenapa kamu membawa aku kemari?"

"Untuk liburan. Apa lagi?" Kuletakkan cangkir berisi kopi yang masih ada setengah pada meja samping dudukku, mendongak dan menatap perempuan yang masih bertahta di hatiku.

"Kamu gila?" teriaknya cukup keras. Beruntunglah hanya ada kami berdua di tempat ini. Dia berlalu ke dalam. Entah apa yang dilakukan.

Tak lama, suara langkah yang sedikit menghentak membuat sudut bibirku berkedut. Kembali kuraih cangkir kopiku dan menikmatinya.

"Mana ponselku?" Aku hanya mengedikkan bahu. "Liand mana ponselku?"

Aku mendongak. "Aku sudah menyimpannya di tempat yang aman. Tempat di mana kamu tidak akan pernah mengetahuinya."

Ana kembali menghentakkan kaki. "Kamu ini kenapa? Sebenarnya apa yang kamu mau?" Aku hanya tersenyum tanpa menanggapi.

"Mana ponselku, Liand. Orang-orang rumah pasti mencariku. Dan ... dan bagaimana kalau Kak Ardhan tahu aku pergi bersama kamu. Dia pasti akβ€”"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya aku sudah berdiri, mendorongnya hingga terdengar suara keras akibat benturan punggungnya dan dinding villa yang terbuat dari kayu. Meskipun kayu, aku yakin dia merasa kesakitan.

Kucengkeram kedua lengannya, dengan berdesis aku berucap, "Jangan sebut nama laki-laki lain saat kamu bersamaku. Saat kita bersama." Tak kupedulikan wajah ketakutan di hadapanku.

"Kamu ingin tahu apa yang aku inginkan?" tanyaku dengan sedikit menarik salah satu sudut bibir.

"Liβ€”Liand. Apa yang kamu lakukan?"

Aku masih memasang senyuman. "Kamu bertanya apa yang aku inginkan bukan?" Dia mengangguk ragu. "Aku ingin kamu membatalkan pernikahanmu dengan Kak Ardhan. Bisa?"

Ana mendorongku menjauh, menatap marah padaku. "Tidak mungkin." Setelahnya ia berlalu meninggalkanku. Mengedikkan bahu, aku kembali menikmati kopi yang tinggal sedikit.

🍁🍁🍁

"Apa yang kamu lakukan?" Teriakan itu hanya kulirik melalui bahu. Tak terlalu kupedulikan.

"Kenapa kamu diam saja, Liand? Cepat pakai bajumu!" Aku hanya tersenyum membelakanginya. "Apa pantas kamu hanya memakai handuk di depan wanita?"

"Aku ingin berenang," jawabku acuh. Malah aku melepaskan handuk yang melilit bagian bawahku. Tenang, masih ada boxer di sana. "Lagian kenapa kamu repot sekali aku hanya memakai handuk? Bukankah aku sudah terbiasa hanya mengenakan boxer di hadapanmu?"

"Itu dulu. Sebelum aku bertunangan dengan Kak Arβ€” Akh."

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, aku segera melemparkan botol minuman yang berada di sampingku. Jatuh tepat di depannya membuat isinya tumpah. Sejujurnya, aku takut jika serpihannya akan mengenai kaki mulusnya. Hanya saja, emosi kembali menguasai kala bibir cantik itu mengucap nama laki-laki lain.

Aku menatapnya dengan tajam. "Sudah aku katakan, jangan menyebut nama laki-laki lain saat kita bersama. Meskipun itu kakakku."

Aku segera berbalik, berlari dan melompat ke kolam renang. Tak peduli waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Otakku terasa panas meski udara di sini sangat dingin. Kepalaku terasa ingin pecah memikirkan takdir yang kualami.

Pertunangan Kak Ardhan dan Ana tentu saja tidak bisa aku terima. Dan pasti tidak akan pernah bisa. Tanpa sadar, aku memilih menenggelamkan tubuh ke dasar kolam, bermaksud mendinginkan isi kepala. Entah berapa lama sudah aku di dalam

"Liand. Liand." Sangat jelas suara milik siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Ana?

"Liand cepat keluar. Kenapa kamu lama sekali di dalam sana?" Aku tetap membiarkannya. Hingga sebuah ide terlintas di benakku.

Kubuka mata dan memindai keberadaan Ana, mulai menjalankam sandiwaraku di hadapannya. Berenang ke permukaan, mengeluarkan tangan seolah berusaha menggapai sesuatu.

"Liand. Liand kamu kenapa? Jangan bercanda." Aku diam dan tetap menjalankan rencanaku. "Liand!"

Tak lama, aku mendengar suara kecipak air. Rupanya Ana termakan sandiwaraku. Dapat kurasakan tangan yang melingkar di pinggang, mulai menarikku ke pinggir kolam. Entah bagaimana dia melakukannya, tubuhku pun sudah berada di luar air.

"Liand bangun, Liand." Ana menepuk pipiku beberapa kali. Kubuka sedikit mata dan melihat wajah ketakutan itu. Masih sama seperti waktu dulu saat aku dikeroyok di masa sekolah.


"Liand. Bangun!" Wajah itu tampak bingung. Menoleh ke sana ke mari seolah mencari pertolongan. Percuma. Karena aku membuking villa ini dan memintanya khusus hanya untuk berdua tanpa orang tambahan yang biasanya diperuntukan sebagai tukang bersih-bersih.

Tak lama, ia menatapku dalam. Terlihat keraguan di sana. Hingga tangannya mulai menunjukkan gestur yang akan memberikan pertolongan pertama. Wajahnya mendekat, semakin dekat hingga aku merasakan deru napasnya.

Namun, sesaat kemudian ia menjauh. "Liand jangan iseng," ucapnya sembari memukul dadaku. Ah, apa aku ketahuan?

"Liand. Bangun tidak? Aku ceburin lagi nih." Tak lama, cubitan kecil yang selalu menyiksa ia berikan di sekujur tubuhku. Membuat aku mau tidak mau harus mengakhiri sandiwaraku jika tidak mau tubuhku akan terluka karena cubitannya yang lebih berbahaya dari pukulan seorang preman.

"Ampun, ampun, ampun. Iya aku mengaku hanya berpura-pura."

"Tuh, kan. Kamu bikin kesel." Dia memberenggut, sama seperti beberapa tahun lalu. Memalingkan wajah dan membelakangiku.

Kuraih tubuhnya dan kupeluk dari belakang. "Maaf. Aku hanya bercanda."

"Tidak lucu." Ok. Suaranya terdengar mulai kesal.

Kubalikkan tubuhnya, membawa dalam pelukanku. Dia memberontak, tetapi tak kubiarkan untuk lepas. "Maaf-maaf. Aku hanya ingin tahu kamu masih peduli atau tidak padaku. Nyatanya, kamu masih peduli." Gerakannya berhenti.

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku mohon, batalkan pernikahan kalian." Tangannya mendorong dadaku kasar, tetapi aku tetap mempertahankan.

"Liand lepas." Suaranya sudah kembali ke semula. Dia mulai membentuk jarak kembali.

"Liand lepas." Kali ini, ia sedikit mendorong lebih keras sehingga pelukanku berhasil terlepas.

Ana bangkit, lalu berlalu ke kamar dan menutup pintunya. Aku menghela napas dalam. "Kenapa kamu menampiknya, An?"

Aku memandang kosong pada hamparan bintang yang tampak menghiasi langit, hingga tak menyadari sudah berapa lama di sini. Hawa dingin mulai menusuk kulit, membuatku bangkit dan segera memasuki villa.

Menutup pintu kaca yang membatasi dengan dunia luar, aku membuka pintu kamar yang sebelumnya Ana masuki. Namun, pintu itu terkunci. Aku menyeringai, mengambil kunci cadangan dan membukanya dengan mudah.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" teriaknya tepat ketika aku menutup pintu.

"Tidur. Apa lagi?" Beralih pada lemari pakaian, aku meraih boxer lain yang kering dan meraih kaus biasa?

"Jangan tidur di sini. Aku, 'kan sudah di sini lebih dulu."

Aku mengedikkan bahu acuh dan berjalan ke arah ranjang. "Kamar di villa ini hanya ada satu."

Menyibakkan selimut, lalu merebahkan diri dan menutupnya pada kakiku. Kini aku dan Ana berada di bawah kain yang sama.

"Setidaknya jangan tidur di ranjang ini. Di sofa saja."

Aku menyilangkan tangan di belakang kepala. " Aku tidak mau badanku sakit saat bangun nanti."

Melirik sekilas, dapat kunikmati wajah jengkelnya. Tangan mungilnya meraih bantal dan guling lalu beranjak dari ranjang.

Belum sempat kakinya turun, aku sudah menariknya ke dalam pelukanku. Ah, aku baru menyadari kalau dia sudah mengganti bajunya dengan baju tidur.

"Liand. Apa yang kamu lakukan?" Rasanya aku bosan mendengar pertanyaan itu.

"Tidur dengan memeluk wanita yang aku cintai."

"Tidak Liand, ini salah. Aku sudah bertuβ€”"

"Diam. Atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini?" Tak ada lagi suaranya yang terdengar. Dapat kurasakan ia yang menahan napas. Entah untuk apa.

Aku mengangkat kepala sedikit. "Bernapaslah, Sayang. Aku tidak ingin kamu mati dalam pelukanku karena kehabisan napas. Meskipun itu yang kuinginkan agar kamu tidak menjadi milik siapa pun jika bukan aku. Tapi, aku tidak sekejam itu."

Kuberi satu kecupan di dahinya, lalu merebahkan diri kembali dan memeluknya sedikit lebih erat. "Tidurlah, Sayang."

🍁🍁🍁

Sudah baca Dua Hari Bersama Mas Duda atau belum nih? Mumpung masih free. 

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita  saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan
9. Suami Simpanan Bos
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Demi Anakku

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Dilamar Ustad
3. Wanita yang Ternoda
4. Mengejar Cinta Gus
5. Menikahi Tuan Muda
6. Lelaki Masa Depan
7. Cool Bos
8. Fitnah di Pesantren
9. Mencintai Kakak Ipar

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.