Membawa Kabur Kakak Ipar

🍁🍁🍁

Aku duduk di sebuah kursi menghadap sebuah ranjang besar di mana seorang perempuan cantik masih terlelap di sana. "Kamu cantik. Dari dulu dan aku tidak akan pernah rela melihatmu menjadi milik orang lain."

Kuteguk kembali minuman yang telah tersedia. Tak lama, tubuh wanita itu bergerak, menggeliat dari tidurnya. "Liand," panggilnya. Ia bangkit lalu duduk menatapku penuh tanya.

Aku berdiri menghampirinya. "Cepat bangun. Mandi, karena kita akan jalan-jalan." Namun, dia masih bergeming.

Kuraih tali bathrob dan mencoba membukanya. "Atau aku yang akan memandikanmu?"

Ana, perempuan itu bangkit seketika. Meninggalkanku dan memasuki kamar mandi.

🍁🍁🍁

Aku memarkirkan mobil setelah sampai di salah satu destinasi wisata kebun petik apel. Membawa Ana membeli tiket untuk memasuki kebun. Cukup murah, hanya dua puluh lima ribu perorang.

"Ayo! Kita panen apel sepuasnya." Aku bersiap menjelajahi kebun ini, tetapi langkahku urung kala melihat tak ada pergerakan dari Ana.

Aku berbalik. "Ada apa?" tanyaku.

"Kenapa kamu bawa aku ke tempat ini?" Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah memberikan pertanyaan lain.

Wajah yang sebelumnya berhias senyuman, kini kuperlihatkan datar. "Karena hanya tempat ini yang membawa kenangan kita."

Tidak ada jawaban, ia malah memalingkan wajah. "Kenapa?" tanyaku lagi.

"Itu masa lalu."

"Masa lalu yang berharga bagiku."

"Lebih baik kamu segera melupakannya." Aku mendesis, membenci ucapannya.

Berjalan mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya. Tak peduli dia yang kesakitan. "Jangan mengatakan hal yang sulit untuk kulakukan."

"Jangan memaksaku berbuat kasar padamu di tempat umum," potongku saat melihat bibirnya akan mengeluarkan protes.

"Lebih baik nikmati liburan ini atau aku akan berbuat hal yang tidak akan pernah kamu bayangkan," desisku di samping telinganya. Tak ingin beberapa orang yang lalu lalang mendengar perkataanku.

Aku sedikit menyeretnya pada seseorang yang bertugas membagikan ranjang. Meraih satu dan memberikannya pada Ana.

Aku hanya mengikuti perempuan yang kucintai dari belakang, sesekali meraih apel untuk kucicipi. Satu sudut bibirku tertarik kala melihat senyuman di wajah Ana. Hal yang dulu sering kunikmati saat datang ke tempat ini bersama.

"Liand. Ambilkan yang di sana." Suara manja itu lama tak pernah kudengar.

Aku mendekat. "Mana?"

"Itu," tunjuknya ke atas.

"Susah, An."

"Tapi itu terlihat pas." Aku berdecak, lalu mencoba meraih buah apel yang tumbuh di salah satu dahan yang tinggi.

"Selalu seperti ini. Memilih buah yang susah diraih."

"Tapi itu kematangannya pas, Liand," ucapnya lagi.

Aku memutar bola mata tanpa ia sadari. "Percuma matang kalau kamu tidak bisa mengambilnya."

"Kan ada kamu."

"Selalu saja aku yang kamu jadikan lampiasan," ucapku kesal. Masih mencoba meraih dua buah apel yang berada sedikit di atas tanganku.

"Kamu, 'kan laki-laki." Berhasil. Dua buah apel sudah berada dalam genggaman.

"Memangnya kenapa kalau aku laki-laki?"

Senyum cerah terpatri di wajahnya. "Karena lelaki harus melindungi perempuan, juga rela berkorban demi perempuan seperti ... ku," ucapnya kemudian. Namun, ada perubahan mimik wajah. Kalimat yang awalnya terucap antusias, menjadi memelan seiring akhir kalimat.

Aku menyeringai, mendekatinya lalu meraih tangannya. Meletakkan dua buah apel yang sebelumnya kuambil. "Lalu, apa selama ini aku tidak cukup melindingimu? Tidak cukup berkorban untukmu? Sehingga kamu memutuskan untuk menikahi kakakku?"

Hening. Hanya ada diam. Tak ada yang bersuara. Hingga aku mulai mengikis jarak antara wajah kami, tatapan pun terpaku pada bibir ranum milik Ana. Namun, belum sempat aku meraihnya, ia sudah memalingkan wajah. Melepaskan genggaman tanganku lalu berlalu begitu saja.

Seperti yang sudah-sudah. Dia pergi, dia meninggalkanku begitu saja seolah aku memang tidak berharga.

🍁🍁🍁

Aku berjalan mengekorinya setelah turun dari mobil. Kediamanku menyambut kami yang baru saja sampai dari kota Malang. Setelah kejadian di kebun tadi, suasana pulang menjadi sunyi. Tak ada peecakapan sedikit oun. Sama seperti ketika aku membawanya ke Malang.

Ketika membuka pintu, aku sudah dihadiahi tatapan nyalang dari Mama. Tak lama, cubitan dan pukulan kuterima. "Dasar kamu, ya. Bikin Mama jantungan, bikin Mama kalang kabut. Kamu bawa ke mana menantu Mama? Sampai tidak ada kabar sama sekali," ucapnya dengan pukulan beringas.

"Aduh, Ma. Aduh. Stop, Ma. Aku, 'kan sudah kirim pesan sama Mama." Aku mencoba mengelak pukulan dari ratu rumah ini.

"Iya. Kirim pesan setelah seharian menghilang. Setelah membuat Mama khawatir."

"Ya maaf, Ma." Dari ekor mata aku melihat senyum yang terbit di bibir Ana. Sempat aku terbuai, tetapi pukulan beringas kembali memaksaku menghadapi kenyataan.

Aku segera berlari menjauh, pergi ke lantai dua ke kamarku. Membersihkan diri kali ini adalah pilihan yang tepat.

🍁🍁🍁

Badan sudah terasa segar, tetapi perut mulai meronta. Aku memutuskan untuk turun mencari makan. Namun, langkahku terhenti kala melewati ruang baca.

Di sana, aku melihat sosok Kak Ardhan yang tenagh duduk memangku sebuah buku. Kuputiskan untuk mendekatinya.

"Sedang apa, Kak?"

"Membaca." Ya memang begitulah kakakku.

Menjelajahi deretan buku, aku mendapati sampul berwarna biru laut. Kuraih dan melihat tulisan Album di bagian depan. Kucoba memeriksanya, membuka beberapa lembar hingga mendapati sebuah foto. Aku mendongak, bermaksud untuk bertanya.

Namun, pantulan pada kaca etalase buku membuat aku menerbitkan senyum. Aku berbalik, duduk di samping kakakku. "Kak. Ini mantan Kakak, 'kan?"

Kulirik Kak Ardhan yang memejamkan mata, lalu membuang napas kasar. "Iya," jawabnya singkat.

"Namanya kalau tidak salah Mira, 'kan?"

"Bagaimana kabarnya, ya? Dia hilang kabar begitu saja."

"Entahlah."

Aku melirik kembali etalase kaca, lalu memandang Kak Ardhan. "Apa Kakak pernah mencari keberadaannya?"

"Sudah. Tapi nihil." Kulihat kakakku yang membalikkan lembaran pada buku di pangkuannya.

"Kakak masih mencintainya?" Aku bertanya dengan memelankan suara juga intonasinya.

Terlihat Kak Ardhan yang menarik napas dalam, lalu menutup buku yang sedang ia baca, meletakkannya pada meja yang berada di depan kami. Ia melepaskan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, lalu menatapku dalam.

"Kenapa kamu tanya seperti itu?"

Mengedikkan bahu aku menjawab, "Hanya bertanya." Lalu kembali membalikkan lembar demi lembar yang masih menampilkan potret Kak Ardhan dan kekasihnya.

Aku kembali mendengar tarikan napas dalam. "Bohong jika kakak mengatakan tidak." Jawabannya membuat aku menerbitkan senyum lebar.

Tanganku terulur menepuk bahunya. "Kakak memang gentle. Berani mengakuinya padahal sudah mau menikah." Tak ada jawaban. Hanya sunggingan senyum tipis yang kudapat.

Sebuah ide terlintas di kepala. "Bagaimana kalau aku membantu Kakak mencari keberadaannya?"

"Untuk apa?"

"Ya ... ya. Salam perpisahan mungkin. Atau mengungkapkan isi hati Kakak yang masih Kakak punya?"

Kak Ardhan tersenyum tipis. "Ada-ada saja. Lagian percuma. kakak yang mencarinya bertahun-tahun saja tidak menemukannya."

"Ya apa salahnya aku berusaha." Diam. Tak ada jawaban darinya. "Bagaimana?"

"Terserah." Kak Ardhan kembali meraih bukunya, melanjutkan membaca.

Kulirik bayangan di etalase kaca. Kulihat jelas mimik wajah itu. Membuat hatiku tertawa lepas. Ya, aku akan mencari Kak Mira. Berharap berhasil menemukannya untuk menggagalkan pernikahan Kak Ardhan dan Ana.

Harus. 

🍁🍁🍁

Sudah baca Dua Hari Bersama Mas Duda atau belum nih? Mumpung masih free. 

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita  saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan
9. Suami Simpanan Bos
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Demi Anakku

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Dilamar Ustad
3. Wanita yang Ternoda
4. Mengejar Cinta Gus
5. Menikahi Tuan Muda
6. Lelaki Masa Depan
7. Cool Bos
8. Fitnah di Pesantren
9. Mencintai Kakak Ipar

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.