Pahitnya Kenyataan

               Agni mengendarai motornya tanpatahu arah dan tujuan. Menit-menit berlalu dan Ia hanya berkeliling kota. Duajam lewat Agni mulai merasakan kram di jemari tangannya, Ia kemudianmembelokkan motor ke pusat perbelanjaan terdekat.

Iaturun, berjalan meninggalkan tempat parkir. Meraih ponselnya yang sejak tadiberdering, mematikan panggilan masuk yang telah belasan kali Ia dengar sejakmeninggalkan kantor suaminya. Melihat isi WA yang ternyata dari anak sulungnya.

Mamadimana? Kenapa Mama tak menjemput Raka dan adik? Raka sama adik jadi pulangdijemput Papa nih." 

Itubunyi WA dari Raka, Agni bisa membayangkan bagaimana gelisahnya Raka danMentari adiknya yang selama ini tak pernah luput dari perhatiannya.

Iabaru saja melalaikan mereka, Ia tahu ini salah. Tapi Ia tak yakin untuk pulangsaat ini, Ia seperti orang linglung yang baru saja kehilangan sayapnya. Apayang dilihatnya tadi benar-benar meruntuhkan seluruh pondasi kepercayaan yangselama ini dibangunnya. Suaminya telah mengkhianatinya!

"Tolongtiketnya satu." Agni menghampiri loket bioskop yang baru buka. 

               "Ini mbak." petugasloket menyodorkan, Agni membayar dan masuk ke gedung bioskop.

               Ia sebenarnya tak benar-benarmenonton film yang tengah berlangsung, Ia hanya menumpang duduk di dalambioskop sembari  mencoba menetralisir perasaan dan pikirannya sebelumpulang. Ia tak ingin tiba dirumah dalam kondisi penuh kemarahan.

Rakaputranya yang berusia sebelas tahun, dan Mentari adiknya yang baru berusiasepuluh tahun pasti akan kaget kalau menemukannya mendadak marah. Kedua putraputrinya tak pernah melihatnya marah, begitupun suaminya. Hidupnya terlalulurus untuk keluar dari kontrol diri. Ia selalu ingin rumah dalam keadaan damaisehingga memberi sejuk pada penghuninya.

Ma,Raka sama Mentari dirumah nunggu Mama. Mama kemana?’ 

               Bunyi pesan masuk kedua dariRaka, dari kalimatnya putra sulungnya seperti heran dan bertanya-tanya kenapaMamanya tak menjemput dan tak ada dirumah. Kenapa tak membalas sms ataumenghubungi mereka.

               Membaca pesan dari Raka membuatAgni ingin pulang dan menghambur ke pelukan anak-anaknya, menumpahkan tangisdan berharap bahwa yang dilihatnya tadi siang hanya mimpi buruk dan takbenar-benar terjadi.

               ‘Mama cepet pulang ya, Rakatungguin. Raka sama Mentari nggak akan mandi sore kalau Mama lama pulangnya.’putranya mengancam.

               Agni mendesah panjang, sejakkeluar dari bioskop tadi Ia hanya duduk di coffee shop. Menghabiskanbergelas-gelas kopi yang sebelumnya tak pernah Ia teguk. Dirumah ia hanya minumjus, kopi ia sediakan hanya untuk suaminya. Itupun jika suaminya mintadibuatkan.

 

               Hampir pukul sepuluh malam ketikaAgni tiba di depan rumah. Ia menarik nafas dalam-dalam, berat untuk masuk.Apalagi dilihatnya mobil suaminya yang sudah terparkir di garasi. Sungguh, Iaenggan bertemu. 

               "Malam Bu," pembantuyang membukakan pagar rumah menyapa. tatapannya seperti keheranan danmenyiratkan pertanyaan kenapa istri majikannya pulang selarut ini. Ini bukankebiasaan agni.

               "Raka dan Mentari apa sudahtidur?" Agni mengabaikan tatapan pembantu yang sudah ikut dengannya lama.Ia mendorong sepeda motornya ke teras rumah.

"SudahBu. Tapi Bapak masih menunggu Ibu di ruang depan." pembantunya taklangsung masuk. Ia masih  mengunci pagar rumah setelah semua penghunipulang. 

               Agni melangkah masuk ke dalamrumah, sempat Ia lihat yudha Yudha yang menunggunya di sofa depan. Namun Agnimengabaikan dan tak berniat menyapa. Ia langsung menuju kamarnya.

               Yudha yang menyadari Agni yangmasih mendongkol menyusul masuk ke kamar. Perempuan itu duduk di tepi tempattidur menatapnya dengan sorot mata dingin.

               "Apa yang ingin Kaujelaskan?" Agni sekuat hati mencoba meredam amarahnya dan bersikap tenang.

               "Aku hanya mencobamelindunginya. Ia tulang punggung keluarga yang kerap mendapat perlakuan kasardari pacarnya." Yudha memberi penjelasan. Pria itu duduk disamping Agnidan berusaha meraih bahunya, tapi Agni menepisnya.

               "Kau bukan orang bodoh yangtak bisa membedakan mana mesum atau simpati?" Agni tak bisa menerimabegitu saja penjelasan Yudha. Ia menggeser duduknya menjauh dari Yudha.

               "Aku tahu Aku salah, tapiAku tak bisa menolaknya. Tiap kali Ia punya masalah Ia selalu inginmelupakannya dengan cara itu."

               Agni terdiam dalam keterkejutan,jantungnya bergolak hebat, air mata berusaha dibendungnya, Ia tak mau terlihatcengeng di hadapan suaminya.

               "Berarti yang Kulihat bukanpertama kalinya." Agni menggumam getir, Ia beranjak hendak meninggalkankamar. Suaminya meraih pergelangan tangannya mencoba menahan.

               "Jangan menyentuhku! Akujijik padamu!" Agni menepis tangan pria itu. Bergegas meninggalkan kamar,langkahnya cepat ingin segera tiba dikamar anaknya. Mendekap putra putrinya danmemperoleh kekuatan dari mereka.

               Tapi semakin Ia mempercepatlangkahnya, kakinya seperti semakin sulit bergerak. Pandangannya kabur, semuaterasa gelap.

               "Ibu pingsan Pak!"Jeritan pembantu terdengar dari luar.