Diculik

Teman-teman, saya Dhira Aulia ingin meminta doa dan bantuannya. Kemarin tanggal 10 Agustus, suami saya, Hirawan Wicaksana, seharusnya sudah tiba di Jakarta setelah dinas tiga tahun di Papua.  


Saya menjemput suami saya di bandara sesuai jadwal kedatangan pesawatnya. Setelah menunggu lama, suami saya tak muncul juga. Saya sudah menanyakan ke pihak maskapai, ternyata suami saya tidak masuk ke dalam daftar penumpang.


Saya mencoba menelepon suami saya, tetapi teleponnya tidak aktif. Saya juga sudah menghubungi rekan kerjanya di Papua, katanya suami saya sudah tidak ada di sana. Sekarang sudah lebih dari 24 jam sejak suami saya menghilang. Jika ada yang melihat suami saya, mohon kabari segera. 


Dhira sempat berpikir lama sebelum mengunggah pengumuman itu ke media sosialnya disertai foto suaminya. Berita ini akan menjadi berita yang menghebohkan di jagat dunia maya, karena namanya sudah cukup dikenal. Itu artinya ia akan mempertaruhkan nama baiknya. 


Namun, setelah berkonsultasi dengan rekan sesama influencer, akhirnya Dhira merasa yakin untuk menggunggah pengumuman itu. Siapa tahu di antara sekian puluh ribu pengikutnya di instagram ada yang bertemu dengan suaminya. 


Segera setelah pengumuman itu diposting, Dhira mendapatkan banyak komentar bernada simpati. Unggahannya juga dibagikan oleh ratusan orang yang menjadi pengikutnya. 


"Mbak Dhira, sabar dan terus berdoa ya. Semoga suaminya baik-baik saja," kata Asti. 


"Ya Allah, Mbak Dhira! Semoga Pak Hirawan nggak kenapa-kenapa ya!" ucap Nadia.


"Hah? Kok suaminya bisa hilang, Mbak? Feeling gue nggak enak nih. Hilang di Papua, kan?" tanya Arya.


Dhira menutup instagramnya. Ia tak sanggup membaca komentar-komentar lainnya yang membuatnya malah semakin berpikir buruk mengenai keadaan suaminya.


"Jadi, Bapak Hirawan belum sampai ke rumah?" Doni, staf kepegawaian di kantor suaminya, bertanya kembali usai Dhira melaporkan kehilangan suaminya ke kantor suaminya di Jakarta.


"Iya, sampai sekarang dia masih belum bisa dihubungi." Dhira menjawab dengan cemas. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan Hirawan. Ia khawatir terjadi musibah yang merenggut nyawa suaminya. 


"Baiklah, kami akan membantu mencarinya Bu. Beliau belum melaporkan kepulangannya kepada kami." 


"Iya, Pak. Saya mohon bantuannya untuk mencarinya." Dhira memijit kepalanya yang pening. 


"Gimana?" tanya Rinda, teman dekat Dhira yang menemaninya ke kantor suaminya. 


"Ya, baru mau diselidiki. Dia belum melaporkan kedatangannya juga ke kantor. Apa itu berarti dia memang belum sampai di Jakarta?" Dhira menatap Rinda dengan nanar. 


"Sekarang kita ke kantor polisi saja. Minta bantuan polisi juga untuk mencarinya." Rinda menyarankan. Dhira menghentikan langkah. Rasa ragu menguasainya. Apakah sampai harus lapor ke polisi? 


Melihat Dhira hanya termangu, Rinda menarik tangannya. "Ayo, kita lapor sekarang!" 


Dhira hanya mengikuti langkah kaki Rinda. Ia sudah merasa lelah fisik dan batin. Di saat ia berharap bisa memeluk suaminya, tetapi mengapa suaminya malah menghilang? 


Sesampainya di kantor polisi, Dhira langsung melaporkan kasus kehilangan suaminya disertai data-data yang diperlukan seperti kartu keluarga dan akte kelahiran suaminya.  


"Apakah Ibu sudah mencoba mencarinya?" tanya polisi.


"Sudah, Pak. Saya sudah berusaha mencari semaksimal mungkin. Saya sudah menanyakannya ke teman-teman kerjanya. Bahkan barusan saya melaporkannya juga ke kantor di Jakarta," jawab Dhira. 


"Baiklah. Kami akan membantu mencari suami Ibu juga. Mohon berikan kontak orang-orang terdekat suami Ibu ya," pinta polisi.


Dhira melengkapi semua informasi yang dibutuhkan oleh polisi untuk menemukan suaminya. Untung saja ada Rinda yang setia menemaninya, sehingga ia punya pegangan saat mulai limbung. Butuh waktu seharian untuk mengurus kehilangan suaminya ini.


Rinda juga yang menyetirkan mobil Dhira, karena pemiliknya sudah kelelahan. Tiba-tiba ponsel Dhira berdering. Tertulis nama Ucok di sana. Ucok yang bekerja sebagai reporter di sebuah media online adalah kenalan Dhira. Sebagai influencer, Dhira juga banyak bergaul dengan orang-orang yang bekerja di media online. 


"Mbak Dhira, aku mau wawancara nih. Beritanya kan viral di medsos," kata Ucok tanpa basa-basi. 


"Viral?! Yang benar?" Dhira terbelalak tak percaya. Belum ada 24 jam ia mengunggah pengumuman itu. Rinda cepat-cepat membuka media sosial dan mendapati status Dhira telah trending di twitter. 


"Bener, Dhir! Ini viral di twitter!" Rinda memperlihatkan trending twitter yang mengangkat berita kehilangan Hirawan.


"Hah?" Dhira hanya ternganga.


"Gimana, Mba Dhira? Bersedia saya wawancara kan?" Ucok bertanya.


"Oke aja, Dhir. Siapa tahu dengan masuk media online, suamimu makin cepat ditemukan!" kata Rinda.


Dhira sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia akan menempuh semua jalan untuk menemukan suaminya. Beritanya sudah viral. Sudah banyak orang yang tahu bahwa seorang influencer bernama Dhira telah kehilangan suaminya. 


"Oke." Dhira menjawab pertanyaan Ucok.


"Wawancara via telepon atau ketemuan, Mbak?" tanya Ucok lagi.


"Di telepon aja ya. Sekarang juga bisa." Dhira sedang tak punya kekuatan. Wawancara dengan Ucok pun dilakukan via telepon. Setelah selesai, Dhira mendapatkan telepon lain dari media online lainnya. 


"Sepertinya kamu jelasin di Instagram Live aja deh. Suruh mereka nonton aja daripada jelasin satu-satu." Rinda menyarankan, karena melihat Dhira sudah kelelahan. 


"Oh iya ya. Aku live sekarang deh." Dhira sudah tak pikir panjang lagi. Semua saran Dhira akan dilakukannya, karena yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara agar suaminya bisa ditemukan. 


Dhira memasang head phone dan bersiap melakukan instagram live. Dia sudah memberitahu teman-temannya yang bekerja di media online. Harapannya semoga saja Hirawan lebih cepat ditemukan dengan beritanya yang sudah tersebar di mana-mana. Itu karena Dhira seorang influencer dengan koneksi luas. Tidaklah sulit untuk memviralkan sesuatu. 


"Teman-teman, saya Dhira Aulia. Sebagaimana yang sudah saya ceritakan di feed instagram bahwa suami saya, Hirawan Wicaksana belum bisa ditemukan. Suami saya menghilang kemarin saat pulang dari Papua ke Jakarta. Saya benar-benar hilang kontak dengannya. Saya sudah melaporkannya ke bidang kepegawaian di kantor suami saya dan juga ke polisi. Saya berharap semoga suami saya segera ditemukan‚Ķ." 


Instagram live Dhira dengan cepat mengundang banyak penonton, karena kasusnya yang tidak biasa. Komentar-komentar pun berdatangan. Kasus Dhira juga menjadi bahan pergunjingan. Banyak yang berspekulasi mengenai alasan menghilangnya Hirawan. 


Usai melakukan instagram live, Dhira menutup matanya untuk sekadar merehatkan pikiran. Tangan kiri Rinda meremas punggung tangan kanan Dhira, menyalurkan kekuatan. Sedangkan tangan kanannya memegang setir. 


"Makasih ya, Rin. Kalau nggak ditemani kamu, aku pasti udah nggak kuat," ucap Dhira, pelan.


"Iya, tenang aja, Dhir. Banyak yang mau bantuin kamu kok karena kamu juga suka bantu orang." Rinda menenangkan. 


Ponsel Dhira berdering lagi. Kali ini bukan wartawan media online, melainkan Pandu. Dhira cepat-cepat mengangkatnya, siapa tahu ada kabar terbaru dari teman kerja suaminya itu.


"Iya, Pak Pandu, ada kabar dari suami saya?!" tanyanya, tergesa.


"Maaf, Bu Dhira, kabarnya belum pasti sih tapi kami mau mengungkapkan kemungkinan terburuk." Suara Pandu di Papua terdengar ragu.


"Kemungkinan terburuk apa?" Wajah Dhira, pias. 


"Bisa jadi Pak Hirawan diculik oleh gerombolan KKB." 


Ucapan Pandu membuat Dhira ternganga. Diculik Kelompok Kriminal Bersenjata Papua? 


Komentar

Login untuk melihat komentar!