Part 6 ( Pertemuan tak terduga )

💕 Happy reading 💕

Hari demi hari kami lewati, kafe semakin berkembang. Sudah memiliki banyak pelanggan dalam jangka waktu 2 bulan, aku bersyukur akan hal itu.

“Aku mau yang melayani Mas-mas yang ganteng itu,” kata pengunjung yang bergaya anak kuliahan.

Dia menunjuk Mas Rauf, aku mengembungkan pipi mendengar hal itu. Bukan kali ini saja, ketampanan suamiku menyita perhatian mahasiswi kampus dekat kafe kami.

Mas Rauf melirikku dan menggelengkan kepala, mengisyaratkan aku agar tidak marah dan tetap bersikap biasa saja. Aku tetap berdiri di  meja kasir melayani transaksi pembayaran pembeli, melirik sekilas Mas Rauf menghampiri mahasiswi itu dan melayaninya dengan ramah.

Pembeli adalah raja, kalimat yang selalu dia tekankan padaku agar memberikan pelayanan yang baik untuk membranding kafe ini sebagai kafe dengan pelayanan memuaskan dan ramah.

“Kamu mending enggak usah ikut melayani pengunjung deh, Mas,” omelku saat kami sudah menutup kafe dan tinggal bebenah.

“Loh, nanti pendapatan kita berkurang dong, Sayang.”

“Setiap hari bahkan setiap jam ada saja mahasiswi yang hanya ingin dilayani olehmu, Mas. Aku cemburu!” ungkapku apa adanya.

Tangannya terulur, menarik tanganku agar duduk bersisian di bibir ranjang.

“Cemburu tanda cinta tapi jangan sampai syaitan menghasut hatimu sehingga ditutupi amarah yang menggebu,” ucapnya memberikan nasihat untukku.

Benar juga apa yang dikatakan suamiku, cemburu akan menutup kalbu dan hati akan diliputi amarah. Aku salah ... seharusnya bisa mengendalikan diri. 

“Astagfirullah maaf, Mas," sesalku.

“Sudah jangan dipikirkan, aku paham bahkan sangat paham. Kamu tidak mau membagi ketampanan suamimu, jika seperti itu nanti aku akan memakai helm atau masker supaya wajah ini tidak terlihat oleh mahasiswi pengunjung kafe kita,” kekehnya.

Aku mencebik kesal yang membuatnya tertawa dan menarik mulutku dari sisi kanan dan kiri agar membentuk sebuah senyuman.

“Senyum lebih cantik,” pujinya dengan tetap menampilkan senyum hingga deretan giginya tampak yang menambah kadar ketampanannya.

Aktivitas rutin sebelum tidur yang biasa kami lakukan, obrolan kecil yang menambah keharmonisan.

“Mas ... apa kamu tidak merindukan Mama dan Papa?” tanyaku kemudian.

Air mukanya berubah sendu, 2 bulan semenjak kami keluar dari rumah mewah keluarga Mas Rauf tak sekali pun berusaha mendatangi rumah itu lagi. Namun, aku sebagai istri harus tetap mengingatkan agar Mas Rauf tidak benar-benar menjadi anak durhaka yang melupakan orangtuanya begitu saja.

“Kita fokus ke rumah tangga dan usaha kita, hmm ... boleh Mas meminta sesuatu?” tanyanya.

“Apa itu, Mas?”

“Kita ikat pinggang untuk pengeluaran, program kehamilan menjadi prioritas utama kita sekarang, bukan tentang bagaimana keadaan, Mama.”

“Senja tidak masalah, Mas.”

“Ikhlaskah kamu memakai tabungan yang susah payah terkumpul? untuk program kehamilan kali ini?”

“Insyaallah, Mas.”

Aku berdiri, mengambil tas kecil yang berisikan buku tabungan beserta ATM yang tidak pernah kugunakan. Program kehamilan tidaklah murah, test kesehatan saja sudah memakan biaya yang cukup mahal. Belum treatment pengobatan yang akan di ambil oleh Dokter, pastinya merogoh kocek yang cukup dalam.

Sebelumnya biaya tidaklah menjadi masalah, asuransi kesehatan yang dibayarkan keluarga Mas Rauf mencover seluruh biaya rumah sakit. Tapi itu dulu, sebelum Mas Rauf lebih memilihku dibandingkan orang tuanya.

“Mudah-mudahan tabungan kita cukup sampai program kehamilan berhasil, Mas.”

“Aamiin.”

“Aku selalu berdoa Allah segera menghadirkan dia di dalam rahimku, meluluhkan hati Mama dan menyatukan kita semua nantinya, Mas.”

“Insyaallah, jangan pernah putus berdoa. Jangan membenci Mama dan Papa, doakan kebaikan juga untuk orang tuaku meskipun mereka telah menyakitimu dengan perkataan dan permintaannya,” ucapnya yang membawa kepalaku untuk bersandar di dada bidangnya, tanganku melingkar di tubuh Mas Rauf.

“Orang tuamu adalah orang tuaku juga, Mas. Aku tidak pernah membencinya.”

“Terima kasih, Sayang. Suamimu ini ... hmm itu ...,” ucapnya menggantung.

Aku mendongakkan kepala untuk melihat mimiknya saat ini, dia menarik turunkan alisnya. 

“Ckkk ... nikah sudah 2 tahun masih saja kode-kodean,” ledekku yang langsung menutup dua matanya agar tidak menggoda dengan kedipan, kecupan lembut kudaratkan.

Dia menahan pergelangan tanganku, merebahkan tubuhnya dengan lingkaran tangannya pada tubuhku.

**

“Hei, Kak, perkenalkan aku--Mala. Adik Kak Fathan, maaf datang sedikit telat,” sapanya padaku yang langsung mengulurkan tangan dan kusambut tangan itu dengan menyunggingkan senyum.

Sore ini kami merencanakan untuk memeriksakan diri ke Dokter, Mas Rauf meminta bantuan Fathan untuk mencari seseorang yang amanah bisa menjaga kasir, bukan tidak percaya pada karyawan hanya saja kami belum terlalu mengenal pribadi karyawan yang bekerja di kafe.

“Aku Senja, Mas Rauf sedang di dapur.”

“Oh iya, aku kan di sini ingin menggantikan sementara di kasir, abaikan Bang Rauf,” sahut Mala dengan cengiran.

“Ah! Iya, Mala ... kamu benar juga,” aku tak habis pikir dalam sekejap kami sudah akrab, pribadi Mala yang menyenangkan sangat cocok denganku, padahal kami baru saja mengenal. 

Mala dan Mas Rauf juga terlihat santai saat menyapa, dari cerita Mala mengungkapkan Mas Rauf sering menginap di rumah Fathan saat mereka masih berseragam putih abu-abu.

Mala pun masih bersekolah di tingkat SMA sekarang, tapi dia terlihat cerdas dan cekatan. Sungguh menakjubkan, keluarga Fathan tidak membiarkan mereka hanya menikmati hasil usaha keluarga. Mala bahkan aktif berjualan online, aku jadi ingin belajar bisnis online agar menambah pemasukan rumah tanggaku.

Bukan tidak bersyukur, dua bulan ini keuntungannya sudah lumayan untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari. Aku ingin lebih mandiri lagi dalam mencari uang agar bisa menyelesaikan program kehamilan sampai memiliki hasil dua garis.

Selama menikah dengan Mas Rauf jika diajak kesebuah pertemuan sudah pasti aku menolaknya, merasa minder di antara orang-orang berkelas. Pada akhirnya selama menikah denganku, Mas Rauf menghindari pesta apa pun hanya untuk menjaga perasaanku.

Sekarang ... aku akan menampakkan keberadaanku. Mendukung semua langkah Mas Rauf untuk memperbaiki perekonomian, bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Mama dan Papa.

“Sudah?” tanya Mas Rauf yang sudah rapi tanpa memakai baju seragam karyawan kafe.

“Sudah, Mas. Mala sangat pintar.”

“Iya dong Ka, Abang tahu lah bagaimana kepintaran seorang Nirmala,” ucap Mala memuji dirinya sendiri.

“Titip ya, Dek. Nanti Bang Fathan selesai mengajar ke kafe membantumu.”

“Siap Bos Abang.”

Kami tertawa kecil, setelahnya langsung melangkah pergi ke rumah sakit. Tidak lebih dari satu jam kami sampai di rumah sakit menggunakan taksi online.

Dengan tangan bertautan, kami langsung menuju poliknik. Suara anak kecil yang menangis cukup kencang menyapa kami saat berada di lobi rumah sakit, anak kecil itu sedang di gendong lelaki berseragam supir. Dibelakangnya seorang perempuan berkhimar coklat berjalan tergesa, kami yang baru saja masuki pintu lobi rumah sakit sedikit terhenyak menyaksikan pemandangan di dekat kami.

Anak kecil yang kira-kira berumur 1 tahun tengah terluka di bagian kaki dan wajah, Mas Rauf tidak melangkah dan tetap terpaku berdiri.

“Rauf,” panggil perempuan itu ketika menatap lurus pandangannya.

“Farah,” sahut Mas Rauf.

Perempuan yang dicalonkan Mama menjadi madu untukku, kini kami akhirnya dipertemukan oleh takdir.

Aku melirik ekspresi Mas Rauf dan Farah bergantian, ekspresi mereka ....


~~~


~Tap ❤️ dan komentar jangan lupa 😍

Baca juga 6 karya yang sudah TAMAT di KBM Aplikasi ... terimakasih.