Lebaran Topat

Lebaran topat merupakan tradisi turun temurun masyarakat sasak yang dilaksanakan pada hari ketujuh setelah idul fitri atau pada tanggal tujuh syawal. Lebaran topat dilaksanakan setelah melaksanakan enam hari puasa sunah syawal. Lebaran topat disebut juga dengan lebaran kecil atau lebaran nine. Lebaran topat merupakan perayaan yang selalu ramai dilakukan di masyarakat. Pada perayaan lebaran topat akan lebih meriah dibandingkan dengan lebaran idul fitri. 

Pada perayaan lebaran topat, masyarakat akan menyediakan tiken dan topat. Tiken dan topat merupakan hidangan yang wajib ada pada perayaan lebaran topat. Tiken merupakan panganan dari ketan yang diisi dengan pisang. Tiken biasa dikenal dengan nama lepet di daerah pulau jawa. Sedangkan topat merupakan ketupat yang dibuat dari beras. Perayaan lebaran topat akan diawali dengan roah di masjid-masjid yang dilaksanakan pada pagi hari. Roah dilaksanakan sekitar jam tujuh pagi atau bertepatan dengan waktu sarapan pagi. Untuk kebutuhan roah lebaran topat, umumnya masyarakat akan menaikan dulang nare yang berisi ketupat beserta lauk pauknya. Dulang nare tersebut antara lain berisi pecel, pelalah ayam, pelalah telur, pelalah daging. 

Setelah roah selesai masyarakat akan berkumpul dengan keluarga dan kerabat di rumah masing-masing sambil menikmati tiken serta jajanan lain. Setelah menikmati hidangan di rumah masing-masing, umumnya masyarakat akan bersantai atau pelesiran ke berbagai daerah wisata. Pantai merupakan daerah wisata yang akan penuh sesak pada saat perayaan lebaran topat. Di daerah Lombok Barat sendiri, pemerintah daerah bahkan menyiapkan tempat tertentu sebagai tempat puncak perayaan lebaran topat. Tempat wisata yang dijadikan sebagai tempat perayaan lebaran topat antara lain apntai senggigi, pantai elak-elak di Sekotong dan pantai cemare di Lembar. 

Selain merayakan lebaran topat dengan berwisata, banyak juga masyarakat yang merayakan lebaran topat dengan berziarah ke makam-makam bersejarah. Makam bersejarah yang dikunjungi umumnya makam ulama-ulama penyebar islam di Lombok. Masyarakat yang berziarah ke makam-makam bersejarah akan melakukan roah ditempat. Kegiatan berziarah diisi dengan zikiran dan ditutup dengan roah atau makan bersama di tempat yang dikunjungi.