Part III Bermain Ular Tangga
🌼 Happy Reading 🌼 


Dara duduk di meja makan dengan gawai di genggamannya.

"Makan malam sudah selesai." Revita datang dengan balutan celemek di tubuhnya.

"Ugh! Wangi banget masakan Mbak Vita." Dara menjulurkan lidah.

"Pasti udah laper 'kan?"

"Banget, Mbak." Dara tertawa, mata sipitnya membuat Vita gemas sehingga mencubit sedikit pipi chubby Dara.

Dara dan Revita menyantap makan malam berdua saja. Sedangkan, Gunawan masih sibuk di kantor tempatnya bekerja. Saat sedang mengecek ulang berkas, tiba-tiba notif pesan masuk berbunyi.

'Ayah sudah makan malam, belum? Dara dan Mbak Vita makan malam duluan ya, Yah.'

Gunawan tersenyum melihat isi pesan Dara. Ia pun langsung membalas pesan dengan cepat. "Oke, Sayang. Ayah sudah makan malam, kok. Sepertinya ayah pulang agak larut. Kamu jangan khawatir ya, di rumah."

Setelah selesai makan malam, Dara dan Revita bermain ular tangga. Canda tawa lepas antara mereka. Revita yang jago dalam melempar dadu, sehingga kemenangan ada dipihaknya. Noda putih yang tebal pun memoles wajah imut Dara.

"Mbak Vita curang." Dara memanyunkan bibirnya, karena sudah tiga kali kalah dalam bermain. Revita juga sangat jahil dengannya mengoleskan bedak tepung banyak sekali.

"Ehm? Ndak, loh, Non," ucapnya seraya tertawa. "Jadi, gimana? Selesai mainnya?" lanjutnya lagi.

"Ehm, nggak dong. Tunggu sampai Mbak Vita dapat hukuman sama seperti aku." Bibir mungil Dara manyun ke depan.

"Oke!" Mereka tertawa bersamaan memecahkan kegaduhan.

Kali ini Dara melempar dadu dengan semangat. Ya, meskipun hanya sebuah permainan. Ia juga a antusias ingin memenangkannya. Kali ini bidak Revita tertinggal jauh, sedangkan bidak Dara sudah mendekati kotak finish. Tinggal menunggu hasil lemparan dadunya untuk mendapatkan tiga langkah lagi, agar bidak Dara bisa menang.

Saat Dara sedang menggoyangkan dadu dalam wadah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dengan sigap Dara langsung berlari untuk membuka. Tanpa menghiraukan Revita yang berkata 'agar ia saja yang membukakan pintu.'

Ketika pintu sudah terbuka. Wajah Dara sumringah menyambut kepulangan ayahnya. "Ayah, pasti lelah." Meraih tas kantor dari genggaman Gunawan, lalu mencium tangannya.

"Ah, nggak kok. Lelah ayah sudah hilang ketika melihat senyum manis putri ayah." Merangkul Dara dan berjalan bersama. "Wajah kamu kenapa, Sayang?"

"Hahaha, ini Dara sama Mbak Vita lagi main ular tangga, Yah." Dara menarik bibirnya tertawa. "Dara kalah, Yah. Makanya banyak bedak di wajah Dara."
Mendengar rengekan Dara, Gunawan pun ikut tertawa.

"Ehm, Tuan maaf. Tadi saya mau bukain pintu untuk Tuan, tetapi Non Dara langsung lari duluan." Revita menundukkan kepalanya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Tenang aja." Gunawan tertawa, ia sangat senang melihat ke kompakkan Dara dan Revita.

"Ya, udah. Ayah ke kamar dulu ya, Sayang." Dara menjawab dengan menganggukan kepalanya.

"Lah, kita udah selesai mainnya, Mbak?" Dara melongo.
"Iya, mainnya sudah saja ya, Non."

"Kenapa? Mbak takut sama ayah?"

"Ndak, Non." Revita menggelengkan kepala.

Selang beberapa menit. Gunawan datang menemui Dara dan Revita. Di mana, mereka tengah serius menonton drama Korea di TV.

"Mbak, boleh tolong buatkan kopi sama sekalian roti bakar, ya. Roti bakarnya buatkan sepuluh slice saja. Biar kita makan sama-sama di sini."

"Iya, Tuan. Tunggu sebentar, ya." Revita berlalu meninggalkan Dara dan Gunawan.

"Ayah, Dara nemenin Mbak Vita, ya."

"Oh, iya, Sayang," ucap Gunawan seraya menghentikan mengetik sesuatu di gawainya.

Dara datang dengan mengendap-endap. Ia mencoba mengejutkan Revita yang tengah sibuk di dapur.
"Saya tau Non, di belakang."

"Yah ...."

"Ternyata Non Dara masih seperti anak kecil, ya."

"Ihh, Mbak Vita. Langsung gitu deh ngomongnya." Menyenggol bagu Revita pelan. Kemudian, Dara beranjak dan mengambil sesuatu dari kulkas.

"Non, mau ngapain? Non mau minum juga?" tanya Revita sambil menunggu roti yang sedang dipanggang.
"Iya, Mbak. Dara buat sendiri aja. Dara udah biasa."

"Jangan, Non." Dengan cepat Revita mengambil benda dalam genggaman Dara.

"Aduh, Mbak Vita kenapa, sih? Nggak apa-apa kok. Dara 'kan memang udah biasa," lanjutnya lagi.

"Huh, Non memang payah."

"Dara buatin juga untuk, Mbak ya." Tangannya meraih dua gelas kecil.

Setelah semua minuman dan roti bakar sudah selesai. Revita langsung membawanya menuju ruang TV dan dibuntuti Dara dengan crackers di tangannya.

"Ini, Tuan, kopinya."

"Iya, terima kasih, Mbak."

"Yah, minggu depan, Dara udah masuk sekolah. ATK aku udah pada habis. Ehm, baju sekolah aku juga udah tipis sekali," gumam Dara.

Mendengar gumaman Dara, Gunawan langsung meletakkan gawainya. "Ayah ada uang sedikit, ini di cukup-cukupin dulu ya, Sayang." Mengeluarkan tiga lembaran berwarna merah muda.

"Iya, Yah." Angguknya memahami kondisi keuangan ayahnya saat ini. Di mana selama ini sudah banyak pengeluaran untuk berobat ibunya. "Mbak, besok temanin Dara, ya?" bisiknya mendekati Revita.

"Iya, Non."

Tak terasa minuman dan roti bakar habis. Dara dan Revita berpamitan untuk tidur. Gunawan yang tadinya sibuk dengan gawainya, kini ia membuka laptop untuk melihat jadwal kerjanya.


Tunggu kelanjutan ceritanya ya kakak-kakak 🤗