Part I Siapakah Revita Yang Mencoba Mendekati Dara
BAB I
________________________________________________________


"Non!" teriak Revita--Asisten Rumah Tangga di rumah Dara. 


Perlahan Dara menoleh ke belakang, memeperhatikan dengan jelas siapa sosok dari suara yang ia dengar. Kakinya yang mulus dan putih mengenakan sendal jepit sederhana pemberian Fandy kekasihnya. Dara tidak pernah lupa untuk memakainya, benda itu menjadi salah satu benda kesayangannya.


"Non Dara!" Suara itu semakin dekat terdengar di telinga Dara.


Dara mengusap lembut kedua mata sipitnya itu. Belum jelas terlihat, mengulangi kebiasaannya lagi. Netranya yang sudah tidak lagi jelas untuk melihat mengharuskannya untuk menerawang setiap lekukan bentuk tubuh tersebut.


"Mbak Vita!?" ucapnya setelah melihat wajah Revita.


Dara dan Revita berjalan bersebelahan, meninggalkan pantai. Tidak satu pun antara mereka yang membuka suara. Hanya hentakan seret sendal yang bersuara bergantian.


Revita adalah ART baru di kediaman Dara. Sebelumnya, mereka tidak pernah memakai jasa ART. Segala pekerjaan rumah mereka lakukan sendiri. Sesungguhnya Revita ingin sekali dekat dengan Dara. Sebab, usia mereka yang tidak terpaut jauh hanya beda tiga tahun membuat Revita penasaran untuk mengetahui masalah yang Dara hadapi, selain kepergian ibunya.


Melihat sikap Dara yang dingin, membuat Revita enggan bertanya terlalu jauh. Namun, perlahan Revita tetap berusaha untuk menyelami sikap Dara. Sebenarnya, Revita bukan mau ikut campur dengan urusan pribadi Tuan Puterinya itu, hanya saja Revita ingin dengan keterbukaannya ada solusi dalam masalah yang dihadapi.


Tampak jelas, Dara sosok gadis polos dan sangat lembut. Namun, sikapnya yang dingin membuat orang lain tidak nyaman berada di dekatnya. Ketika ada keluarga yang berkunjung, Dara lebih memilih mengurung diri di kamar.


Sikap dinginnya berawal dari kisah cintanya bersama Fandy. Dara hanya menghabiskan waktunya bersama kekasihnya itu. Sehingga, ia jarang kumpul dengan teman-teman semasa kecilnya dulu. Bukannya Fandy melarang Dara untuk bergaul karib dengan temannya, tetapi rasa cinta Dara ternamat besar untuk Fandy. Sehingga, ia tidak ingin jauh-jauh dari cinta pertamanya.


Kemudian, sikap Dara semakin berubah saat kepergian ibunya tepat dua minggu yang lalu. Karena selama ini, ibunya lah yang menjadi tempat curahan hatinya begitupun juga dengan senja.


Revita mendekati kamar Dara lalu mengetuknya beberapa kali. "Non, makan malamnya sudah siap. Tuan juga sudah nungguin Non di meja makan." Terdengar suara Dara menyahut dari dalam. "Iya, mbak. Saya segera turun."


Sama seperti hari-hari sebelumnya, meja makan yang sepi tanpa ada canda, cerita, dan juga sapaan di antaranya. Revita sangat canggung hadir ditengah-tengah keluarga Dara. Ia berniat sekali untuk menghidupkan suasana rumah yang masih dalam keadaan berkabung ini.


"Tuan, saya kebelakang dulu, iya," ucap Revita memecahkan keheningan antara mereka.


"Tunggu dulu, Mbak. Ada yang mau saya bicarakan," ucapnya sembari mengambil posisi duduknya. "Mbak, boleh tolong ambilkan satu piring lagi?" Lanjutnya menoleh ke arah Revita.


Revita pun berjalan ke dapur mengambil satu piring yang digunakan sama persis dengan Dara dan juga Gunawan--ayah Dara. Setelah kembali ke meja makan, Dara membantu ayahnya menyendoki makanan dan juga lauk-pauk ke piring Gunawan.


Gunawan langsung memberikan instruksi pada Revita untuk duduk tepat di samping Dara--anak gadisnya. Dengan gugup Revita merespon, "maaf Tuan, saya ndak bisa duduk dan makan bersama dengan kalian. Saya makan di dapur saja." Meletakkan piringnya kemudian berlalu meninggalkan Dara dan Gunawan di meja makan.


"Mbak ..., kita makannya bareng di sini, yah? Kita 'kan cuma bertiga di sini. Nah, Mbak lihat sementara kursi di meja makan ini ada banyak." Ini kali pertama Revita melihat senyum di wajah Dara yang dingin.


"Terima kasih, Tuan--Non. Saya sudah siapkan makanan saya di belakang. Nanti keburu dingin."


"Oh begitu, Mbak duduk, biar saya ambilkan."


"Ndak usah, Non." Revita berjalan cepat mengambil makanannya ke dapur sambil berbisik pelan karena tidak enak dengan sikap Dara dan Gunawan.


Mereka menghabiskan makan malam dengan keheningan. Mungkin bila jarum dijatuhkan bisa terdengar jelas di telinga. Tetapi, itulah cara Gunawan membangun sebuah keluarga, segala sesuatu ada waktunya. Bila sedang makan, fokuslah pada makanan yang ada di hadapan. Usai makan malam, Revita merapikan semua piring yang digunakan serta makana yang masih tersisa. Dara dan Gunawan masih duduk tenang di meja makan menunggu Revita selesai membereskan. 


Melihat Revita masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur, akhirnya Gunawan mengajak Dara pindah, duduk ke ruang TV. Gunawan sangat menyayangi puterinya, ia berniat untuk membuat Revita berteman karib dengan Dara. Bahkan, Gunawan juga bermaksud agar Revita tetap tinggal bersama mereka dan menjadi kakak angkat untuk Dara.


"Revita!" panggil Gunawan dari ruang TV. Suaranya membuat Revita terkejut, karena suara yang begitu keras memecahkan keheningan rumah nan mewah itu. Dengan cepat Revita menghampiri Gunawan dan Dara yang tengah fokus menonton berita di channel Trans TV.


Gunawan mengangkat remote TV, mengurangi volume suara hingga tak terdengar suara sedikit pun. Dalam posisi tenang Gunawan menjelaskan isi hatinya pada Revita, yaitu menjadikannya anak angkat di keluarganya dan agar menganggap Dara sebagai adik. Mendengar itu gadis yang baru saja hadir di tengah-tengah keluarga yang baru berkabung itu tidak bisa membohongi hatinya. Senang, itu yang dirasakan. Tetapi, sekonyong-konyong Revita tidak menerima permintaan Gunawan dengan mudah. Keluarga itu baru mengenalnya, bahkan sikap dan juga sifat seorang Revita belum mereka ketahui dengan jelas.


Revita membuka suaranya, setelah berlama-lama beradu pendapat dalam imajinasi. "Sebelumnya, terima kasih, Tuan sudah mau menerima saya di rumah ini. Maaf, ndak bisa menerima permintaan Tuan untuk menjadikan saya puteri sulung Tuan. Jika, Tuan dan Non Dara berkenan biarkanlah saya menjadi sahabat untuk Non Dara. Sepertinya, posisi itu yang cocok untuk saya."


Gunawan menerima jawaban Revita yang memilih untuk menjadi sahabat Dara. Berpikir bahwa pilihan itu lebih tepat, jika kenyamanan tercipta antara mereka, lama-kelamaan Dara akan menganggapnya sebagai sosok kakak. Namun Dara sama sekali tidak membuka suara dalam obrolan mereka. Ia hanya diam mematung mendengar semua itu.


"Ya sudah, saya mau menjelaskan itu saja. Kalau Mbak Revita mau melanjutkan aktivitasnya, silakan. Kamu juga Sayang, kalau mau ke kamar duluan saja, ayah masih mau nonton," paparnya dengan senyuman dan tidak lupa mengecup kening puterinya.



🍀
🍀 
🍀 
🍀 
🍀 
Nantikan kelanjutan ceritanya ya, teman-teman. Terima kasih sudah mampir :)