Aku Mau Nikah Dini, Mama #5

Aku Mau Nikah Dini, Mama
(Pipiet Senja)

#IstriYangTersingkirkan

Diah baru pulang dari baksos bareng ibu-ibu taklim di kawasan Ciamis Selatan. Didapatinya anak-anak dibantu keluarga Bi Ikah tengah menyiapkan sesuatu yang istimewa di sekitar gazebo di tengah kebun kembang.
          
“Alooouw, Mama cintaaa!” ketiga gadis itu menyapanya sambil berebut ingin lebih dulu memeluknya.

“Pa kabar hari ini? Baik-baik sajakaaah?” Butet mencium pipinya, berhasil mendahului kedua kakaknya.
          
“Alhamdulillah, baik… Cinta! Ini ada apa?”

Mata Diah berkeliling, tampak kursi-kursi di sekitar gazebo. Oh, bahkan ada meja panjang dengan taplak berenda putih berjuntai-juntai. Tinggal diisi hidangan, Bi Ikah dan Imas bolak-balik mengangkuti makanan dari ruang dalam. Sementara Mang Umar bersama dua anak muda mengatur kursi.

Diah pun  tercengang-cengang. Sehari meninggalkan rumah, diam-diam mereka bersekongkol membuat kejutan.
          
“Duduk dulu, Ma, masih capek kan? Gimana keadaan di kemah para korban itu, Ma? Kuharap sudah lebih baik…”
Amalia seperti biasa lebih tertarik penderitaan sesamanya. Beberapa hari sebelumnya bersama rombongan rohis sekolahnya, ia telah meninjau lokasi longsor itu.

“Kau benar, sedih sekali melihat penderitaan anak-anak dan ibu-ibu. Mereka yang tercerai-berai akibat bencana alam,” kesah Diah muram.
Anak-anak terdiam memperhatikan. Ada yang membersit dari sudut-sudut mata sendu itu.
“Melihat penderitaan maha hebat yang mereka alami, rasanya…, anak-anakku! Sungguh!

Penderitaan kita ini sama sekali tak berarti apa-apa. Hanya secuil saja, tak seujung kukunya sekalipun!” lirihnya selang kemudian, terbata-bata dan masih terpengaruh perkabungan.
Untuk sesaat tak ada yang bicara.

Semua hati tercekam dan ikut merasakan duka nestapa, musibah besar yang menimpa saudara mereka di Ciamis Selatan. Memang benar ucapan ibu mereka. Dukalara mereka sama sekali tak berarti bila dibandingkan penderitaan para korban itu. Tuhan telah membukakan mata mereka lebar-lebar. Bahwa di luar sana masih banyak penderitaan anak manusia!

“Itulah yang disebut kiamat kecil,” gumam Butet.
“Kita hanya bisa berusaha sedikit meringankan beban mereka dan berdoa. Mudah-mudahan mereka tetap istiqomah dan diberi kemudahan oleh Allah Swt,” Amalia dengan bijak mencoba mencairkan suasana mengabut di sekelilingnya.

“Amiiin…”
“Sore ini kita akan kedatangan tamu cilik dari Panti Tuna Grahita, pimpinan Ibu Holis,” cetus Nadia.

“Tetangga yang jarang kita sapa itu lho, Ma!” Butet terdengar sarkastik, hingga yang mendengar tertunduk malu.
Ucapannya memang benar. Ada sebuah panti berpenghuni anak-anak malang, tapi begitu jarang mereka mengunjunginya. Memang ada petugas tetap yang bisa mereka titipi santunan. 

Namun, tentu bukan sekadar sumbangan yang mereka harapkan dari masyarakat sekitarnya. Empatik!
“Kita akan menjamu adik-adik kecil yang malang itu di rumah ini dengan segala keikhlasan. Iya kan, saudari-saudariku sayang, Bi Ikah, Mang Umar dan Dek Imaaas…?” ujar Nadia.

Menghabiskan petang itu keluarga Diah diwarnai dengan nuansa biru. Ada haru, ada sendu, ada pilu. Tapi masih menyelip sedikit tawa, meskipun itu berupa tawa getir.

“Namanya Keke, umurnya lima tahun. Dibawa ke panti oleh neneknya saat dia masih bayi dan sejak itu tak ada seorang pun yang pernah menjenguknya,” jelas Bu Holis tentang seorang anak perempuan yang telah mengusik rasa penasaran, simpati dan belas kasihan keluarga Diah.

Sejak kedatangannya anak itu tak pernah bergeser dari tempatnya di sudut gazebo, memelototi anyaman dinding secara terus-menerus.

“Jadi…, dia dibuang begitu saja karena nggak normal? Sama neneknya sendiri?” Amalia menahan air matanya.
Bu Holis, sarjana ekonomi yang memutuskan menggeluti dunia sarat empati itu, mengangguk.

Dihampirinya anak itu dan dibisikkannya sesuatu ke kupingnya.
“Aaaa, aaaa… Maaauuuu! Maeeem! Keke mau maeeem!” pekik si anak terlonjak.

Seketika ia memeluk leher Bu Holis erat-erat seolah takut dengan segala hal. Rupanya baru bereaksi apabila didekati Bu Holis.
Diah tertegun memandangi wajah Keke. Oh, anak ini! Tubuh Diah seketika gemetar. Apa yang kamu lihat, Nak? Surgakah?

“Seberapa parah ketaknormalannya?” suara Nadia bagai mengawang di antara sepasang bola mata suwung itu.

“Keke hanya menurut pada saya,” sahut Bu Holis.
“Jadi, kerjanya cuma memandangi dinding atau tembok setiap waktu?” Butet dengan tatapan; kok-ada-anak-seperti-ini?
Bu Holis mengangguk prihatin. 

Ia mengangkat Keke dan membawanya ke meja. Anak itu hanya mengambil makanan yang diberikan Bu Holis. Tubuhnya yang kecil, imut-imut sekali, melorot ketika diturunkan. Ia pun kembali memandangi dinding gazebo sambil mulai mengunyah apel merah.

“Mama…, kenapa Ma?” seru Butet tertahan.
“Eeeh, astaghfirullahal adziiim,” Diah menarik pandangannya dari anak itu. Butet telah berdiri di sebelahnya dan menatapnya keheranan.
“Mama kecapean, ya? Jangan ikutan ngatur, ah! Ayo, istirahat dulu, Ma,” dihelanya tangan sang bunda ke gazebo. 

Sementara para tamu mulai rame menyantap hidangan, dipandu oleh para sukarelawan.
“Biarkan Mama di sini dengan Keke,” pinta Diah.
“Okeee…, selamat bersenang-senang!” Butet ketawa kecil mengangap ibunya merindukan anak kecil lagi.

Mereka tak tahu apa saja yang telah dilakukan Diah dengan anak perempuan itu. Yang mereka tahu kemudian adalah Diah berhasil mendekatinya, bahkan menarik perhatiannya. Yap, Keke sama sekali tak berontak manakala didekati oleh Diah. Ia bereaksi sebagaimana bila Bu Holis berinteraksi dengan dirinya.

“Bagaimana Mama bisa? Apa yang Mama lakukan?”
Nadia dan kedua adiknya terheran-heran mendapati kembali ibunya yang telah berhasil berhubungan dengan anak itu.

“Pssst, dia baru saja tidur. Boleh kan kalau kita tunggu dia bangun dulu, baru diantarkan ke panti? Tadi Mama dan Bu Holis sudah sepakat kok…”
“Kenapa nggak boleh!” Butet menyambut dengan antusias. “Ta silaken, sok we lah, kalo mo diangkat anak juga!”

“Iya, Ma, apalagi entar rumah ini jadi…”
“Jadi apa, Teteh?” Diah menatap sulungnya.
“Gaaaak…!” sahut ketiganya seperti baru menyadari mulut mereka nyaris kelepasan bicara.

Diah geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. “Kalian jadi sok misterius, ya?” gumamnya.
“Mmm, begitulaaah…,” sahut mereka kompak sekali.

“Terserah kalian sajalah!” Diah membawa Keke yang sudah tertidur lelap di pangkuannya, masuk ke dalam rumah. Sementara para tamu cilik lainnya telah dibawa pulang beberapa menit sebelumnya.

Diah menyingung perihal rencana mereka dalam mengisi musim liburan. Namun, saat inilah agaknya yang telah dinantikan ketiga buah hatinya.
“Kalian patut mendapatkan hadiah,” ujar Diah mengawali. 

“Teteh naik tingkat dengan IPK 3,8. Amel diterima di FH-Unpad. Butet naik kelas dua dengan predikat juara kelas… Ayo, katakan apa yang kalian inginkan? Kejutan yang kalian janjikan itu!”
“Aku sih nggak ngagetin amat, Ma,” Butet sambil mengunyah keripik pisang keju bikinan Bik Ikah. 

“Aku punya outlet Florista di hotel berbintang. Ini kerja bareng dengan Nia, di-back-up abis sama ayahnya yang sangat perhatian itu. Kami diberi konter yang cantik di hotelnya, Mama. Dalam dua bulan saja kami sudah berhasil meraup laba. Ups, laporannya nanti saja deh…”

“Itu bagus sekali, Sayang. Mama bangga, sungguh-sungguh…Ternyata diam-diam kamu pandai berbisnis juga, ya Nak?” Mata Diah berkaca-kaca dan ia menunduk, dikecupnya ubun-ubun si bungsu sepenuh sayang.

“Terima kasiiiih…, syiiip!” Butet sukacita dan membalas ciuman ibunya di pipi-pipinya.
“Nah, giliranmu, Amalia?” tanya Diah menatap putri kedua.

“Biar aku dulu, ya Ma,” serobot si sulung, dikerlingnya adiknya dengan mimik; kamu-paling-pas-sebagai-pembawa-bom!
“Ada apa dengan kalian berdua?” Diah menatap mereka was-was.

“Dua tahun, Mama, nggak lama. Bareng lima orang lainnya dari jurusan, nama kami terdaftar di list pertukaran pelajar ke Perancis,” cetus Nadia tenang.
“Universitas Sorbonne, Mama, bayangkan!” cetus Butet dalam nada iri. 

“Seharusnya Teteh tunggu aku dulu… Biar bareng…”
“Subhanallah,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Diah. Dielusnya permukaan jilbab putri sulungnya dengan sayang.

Perlahan dikerlingnya Amalia yang tampak agak gugup. Sampai kedua saudaranya mendekatinya, merangkul bahunya dan menyemangatinya dengan isyarat.

“Ya?” Diah menanti dalam senyum hangat. “Rasanya Mama bukan ibu yang galak…”
“Mama jelas seorang ibu yang baik, lembut, pengertian dan…”
“Istiqomah!” Nadia dan Butet menambah ucapan Amalia.

“Kalian bersekongkol, ya?” tuding Diah.
“Sekali-sekali…” Nadia mengerdipkan sebelah matanya lucu.
“Teteh, ayolah!” desak Butet.
“Amalia, Cinta, ada apa Nak?” kali ini suara Diah serius.

“Aku nggak mau pacaran, Ma,” gadis itu mengawali, kali ini ditatapnya lekat-lekat wajah sang bunda.
“Bagus! Lagian siapa di sini yang pacaran. Eh, apa ada?”
Nadia dan Butet serentak menggeleng. Diah menangkap kejujuran di sana. Ia yakinkan dirinya demikian.

“Iya, aku tahu, makanya kami memutuskan untuk…”
“Sebentar…, kami itu siapa?” tanya Diah.
“Mmm, aku dan Aa Gamal juga keluarganya…”
Diah mengerutkan dahinya, masih belum paham.

“Ayahnya seorang Profesor di kampusku, Mama. Jadi tenang aja, mereka keluarga baik-baik dan terhormat di kota kembang ini!” Nadia menyemangati adiknya yang tampak mulai kewalahan.

“Aa Gamal itu sabamku di dojo yang pernah pinjam Mionya Teteh dulu, Mama,” tambah Butet.
“Mionya ringsek, tapi Mama sudah mengikhlaskannya,” Nadia menyambung kembali. 

“Malah Mama menitip salam dan mengirim bunga tercantik untuk mereka.”
“Waktu itu kita lagi sibuk menghadapi, mmm, sidang…” Amalia kembali mencoba meraih kemantapan hatinya.

“Bilang saja pas Mama dan Papa gontok-gontokan di Pengadilan Agama!” Nadia menukas, masih juga ketus bila menyinggung perihal ayahnya.

“Yeeeh…, nggak ada yang gontok-gontokan kok!” sanggah Butet. “Dari awal Mama sudah mengalah…, iya kan Ma?”
“Kalau gitu, aku yang ngegontok si centil Lien… Ups, sori!” Nadia buru-buru menekap mulutnya. “Lanjutkan, Dek, please,” ujarnya kemudian serius kembali menatap adiknya.

“Ya, begitu itu tadi…, mmm, kami memutuskan untuk menikah. Keluarganya akan datang minggu depan. Tenang saja, Mama, cita-cita kami akan tetap dijalani. Insya Allah, visi dan misi kami takkan goyah. Yaah, rencananya sambil meraih cita-cita, menyelesaikan kuliah…” Amalia berhenti dan menatap tetehnya.
“Intinya,” tambah Nadia menyemangati terus. 

“Mereka memilih menikah dini ini karena tak mau terjebak dosa, fitnah. Kalau mereka jalan bareng tanpa diresmikan, itu malah menjerumuskan mereka ke fitnah dan dosa besar…”
“Kalian…, keluarganya, bagaimana ini?”

Diah telah menyimak dan menyerap runtunan kejutan ketiga putrinya, terutama super kejutan yang ditembakkan Amalia ke jantungnya. Telaaak sekali!
Sesaat hening mengapung di sekitar ruang keluarga itu.
“Mama nggak setuju?” tanya Nadia selang kemudian, mewakili adiknya.

Diah mengusap wajahnya yang seketika berpeluh. Beberapa detik ia masih merasa dikepung kepanikan.

Wajah-wajah lembut yang duduk dengan manis mengelilinginya, seketika bagai berubah menjadi para pengkhianat. Siap melukai dan menyemburatkan aib ke wajahnya, rumahnya, nama baik dan kehormatan keluarganya...
Oh, Tuhan, ya Allah… Tidak! Tidaaak! Mereka masihlah anak-anak yang manis, solehah.

Amalia, tidak mungkin! Umurnya baru tujuhbelas, anak laki-laki itu juga seangkatan, hanya beda fakultas. Gamal semester satu FK-Unpad. Putra bungsu keluarga Profesor Amran Nasution… ooh, Tuhaaan! Bahkan ayahnya itu berasal dari kampung halaman Domu?

“Mamaa…, kita beum kelaaar!” kejar Nadia sampai ke depan pintu kamar ibunya.
“Teteh nggak keberatan dilangkah?”
“Insya Allah, aku nggak apa-apa, ikhlas…”
“Baiklah. Mama paham, tapi beri waktu… Mama harus berpikir!”

Blaaam!
“Jangan lama-lama, Maaa…”
“Istikharoh, ya Maaa!”
“Kami juga akan istikharoh…!”

Suara-suara cinta itu saling bersahutan, saling menguatkan di belakang punggungnya. Diah menyenderi pintu, matanya terpejam rapat. Pelan-pelan tubuhnya melorot. Ada beban yang sangat berat, tak terjabarkan, serasa menindih bahu-bahunya dengan telak.
***

Komentar

Login untuk melihat komentar!