Lima
BEGINI RASANYA TAK PUNYA ORANG TUA

LIMA

"Inget pesen Kakak, jangan keluar rumah. Kakak janji, nanti pulang bawa jajanan buat kalian."


"Oh iya Rena, nanti kalau Kakak belum pulang, telur yang sisa dua butir dimasak aja ya, buat makan bertiga, kan nasi tadi masih ada, dihabiskan aja. Sepertinya Kakak pulang terlambat. Makan aja duluan, ga usah tunggu Kakak."


"Siipp, Kak. Hati-hati di jalan ya Kak."


"Oh iya satu lagi. Rena, jangan lupa adik-adik nanti dimandiin ya, baju kotornya di rendam aja, besok Kakak yang cuci."


"iyaa Kakak.. Rena udah tau itu, udah buruan Kakak berangkat, nanti kesorean lagi." Ujarnya sambil membimbing Dina dan Andi menyalamiku.


Ku niatkan siang ini aku harus dapat uang lebih. Selain mencicil hutang di warung Bu Wati, aku juga harus membeli beras dan sedikit jajan buat adik-adikku.


**

Di sini lah aku, dibawah lampu merah jalan besar. 


Menjul jasa suara dan tepukan tangan. Receh yang aku kumpulkan, tapi mampu menghidupi adik-adikku. 


Disini, di jalan ini aku tidak sendiri. Banyak teman yang sepertiku, hidup di jalanan. Bahkan aku jauh lebih beruntung karena memiliki tempat tinggal, sedangkan mereka kadang tidur dijalan atau dibawah jembatan.



"Dika..! Ayoo, lampunya sudah berubah merah. Buruan mobil sudah pada berhenti." Teriak Nano teman jalananku.


Kami berlari, menyayi, dari mobil satu ke mobil yang lain, ada yang memberi ada jg yang hanya melambaikan tangan.


Hari menginjak malam, kami bergerombol menghitung hasil pendapatan masing-masing. 


Alhamdulillah, hari ini aku dapat lumayan banyak, dua puluh enam ribu sudah cukup bagiku. Begitu juga teman-temanku.


"Aku duluan ya.." lambaiku keteman-teman, diikuti juga lambaian balik dari mereka.


Gegas kuberjalan, mungkin sekarang sekitaran pukul sembilan malam, aku hanya bisa menerka, karena tak pernah punya jam dirumah. Mudah-mudahan warung Bu Wati belum tutup, fikirku.


Perjalanan yang sedikit memakan waktu, karena jarak dari rumah ke jalan besar agak jauh, langkahku tak pernah surut, tak ada keraguan atau pun rasa lelah, ini ku lakukan demi mereka dirumah.


"Assalamualaikum, Bu Wati." Warung Bu Wati yang masih terbuka membuatku tersenyum, syukurlah aku tidak terlambat.


"Dika, malam sekali pulangnya?"


"Iya Bu, baru pulang dari lampu merah. Ini Bu, Dika mau cicil hutang, sepuluh ribu dulu ya Bu, total semua hutang Dika ada berapa ya bu?"


Sebentar ya, Ibu lihat catatan dulu. Total semua tujuh puluh lima ribu Dika, jadi kalau dikurang sepuluh ribu sisanya enam puluh lima ribu lagi ya."


"Baik Bu, besok Dika cicil lagi."


"Bu, beras seliter, mie instan satu sama sisanya jajanan aja Bu." Kusodorkan uang enam belas ribu ke arah Bu Wati, diikuti anggukannya.


Melangkah pulang, sambil menenteng kantong plastik hitam di tangan. Adik-adikku pasti senang.


Kudorong pintu pelan, aku tau adik-adikku pasti sudah tertidur. Aku tak mau mengganggu tidur mereka.


Pelan, ku langkahkan kaki menuju ke arah dapur, perut rasanya sangat melilit, terakhir makan hanya tadi siang. Kadang aku berkeinginnan untuk membeli makanan di jalan, tapi aku berfikir lagi dari pada beli makanan di jalan yang hanya aku sendiri yang memakannya, itu pun hanya sekali makan, lebih baik ku belikan beras, adik-adikku ikut makan juga. 


Alhamdulillah, Rena memang adik yang baik. Ada sedikit nasi dan sepotong kecil telur. Gegas ku makan, karena perut tak bisa tertahan. Sedikit, tapi lumayan untuk pengganjal perut sebelum tidur.


Biarlah beras yang tadi ku beli, esok baru dimasak, fikirku lagi.


Lelah rasanya badan. Setelah makan dan mandi, kurebahkan diri disamping adik-adikku. Kalianlah penyemangatku.

**

Pagi menjelang, bangun seperti biasa, menyiapkan air dan keperluan lain. Hari ini aku agak kesiangan bangunnya, jadi semuanya terlambat.


"Permisi..!" 


Ketukan kuat dari arah pintu yang memang belum sempat ku buka.


"Kak, ada orang di luar, Kakak aja yang bukain pintu, Rena lagi gantiin Andi baju!" Teriak Rena dari arah kamar.


"Iya.. Tunggu sebentar." Ucapku, karena pintu berkali-kali diketuk.


Membuka pintu, terkejut melihat dua orang yang berpakaian rapi berdiri di depanku.


"Cari siapa, Pak?" 


Bergetar rasanya, karena selama ini kami tidak pernah didatangi orang yang tidak kami kenal.


"Selamat pagi, kami ditugaskan menjemput anda Tuan Muda, Dika Anggara."


Apa mereka bilang? Tuan Muda? Siapa yang Tuan Muda? Apakah mereka salah orang? Tapi kenapa mereka menyebutkan nama panjangku dengan benar.
















Komentar

Login untuk melihat komentar!