Empat
Bab 4

Terpecah dan terbelah. Pikiran pun seolah jauh melalang buana. Meski raga tengah terbaring di atas ranjang empuk lagi nyaman. Tapi pikiranku, sedikitpun tak bisa tenang. 

Hari ini dua insiden besar terjadi. Ah, bukan dua. Melainkan tiga. Pertama kasus Eryn, kedua tabrakan tak sengaja, dan ketiga kebakaran yang menimpa gudang pusat. 

Ya Allah. Rasanya lelah sekali badan dan pikiran ini karenanya. Kucoba mengatur napas dan memejamkan mata. Tapi, bayangan masalah itu masih saja tak mau beranjak dari ingatan. 

Kulirik jam di dinding kamarku. Sudah pukul sebelas malam rupanya. Meski pencahayaannya kurang alias temaram karena sengaja hanya menggunakan lampu tidur. Tetap saja, aku bisa melihatnya dengan jelas. 

Tik! Tok! Tik! Tok! Tik! Tok! Bunyi jarum jam memecah kesunyian. Seiring pikiranku yang terus berkecamuk di dalam. 

Eryn .... 
Ah, wajah gadis itu kenapa tiba-tiba terbayang? 
Kenapa pula ia bisa terjerat kasus seperti itu? Bukankah selama ini saat kita masih berpacaran, tak sedikitpun ia terlihat memakai barang haram itu. 

Ataukah pergaulannya dengan Vino membuatnya jadi seperti itu?

“Aaaaaargh! Ayolah Bagas! Nggak penting mikirin gadis itu lagi!” Kugelengkan kepala dengan cepat. Bagaimana mungkin aku masih kepikiran Eryn setelah penghianatan yang ia berikan selama ini.

Rasaku memang dalam. Tapi berpikir logis tetap menjadi acuan. Gadis itu, menyebalkan!

***  

Tidur dalam keadaan gelisah. Membuat rasa sakit dan nyeri kepala saat membuka mata. Tidurku terganggu. Sebab pekikan alarm yang  berisik memekakkan telinga. 

Belum juga kumatikan jam wekernya. Terdengar pula berisik gawai yang berdering. Pagiku diawali dengan suara berisik. Cepat kuraih gawai di atas nakas. Setelah terlebih dahulu mematikan alarm yang menyala. 

“Hallo,” ucapku setelah menerima panggilan. 

“Gudang pusat nggak bisa diselamatkan, Gas.” Jantungku seolah berhenti berdegub. 

“Maksudnya apa, Van?” tanyaku seketika. Ya, panggilan ini berasal dari Devan. Ia masih bertahan di gudang pusat. Sesuai perintahku. Karena memang aku atasannya. 

“Habis. Tak ada satupun yang tersisa.” 

Kakiku gemetar. Lutut menumpu tepat di atas lantai. Aku syok. Bagaimana bisa? Apa yang akan terjadi setelah ini? Gudang pusat ludes artinya semua barang-barang untuk produksi juga tak ada lagi. Belum lagi modal kami yang tersimpan di situ. 

“Hallo, Gas. Hallo!” panggilan Devan menyadarkanku. 

“Iya, Van. Udah ya, nanti lagi,” kataku kemudian mengakhiri panggilan. Kepalaku seperti mau pecah. Memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi saat ini. Usaha kami? Bagaimana kedepannya nanti?

Bisnisku dan Devan bergerak di bidang textile. Kami merintisnya bertahun-tahun yang lalu hingga kemudian bisa sebesar saat ini. Saat sedang di puncaknya, kenapa tiba-tiba jadi begini? 

Tak terasa bulir bening nan hangat keluar dari kelopak mataku. Ya, aku laki-laki dan aku juga seorang manusia yang punya hati. Punya rasa sedih. Dalam hal ini, aku menangisi kepedihan yang kurasakan sendiri. Akankah usahaku menjadi bangkrut setelah ini?

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu diketuk. Mendengar nada teraturnya, itu pasti ketukan Mama. Kuseka dengan segera sisa air mata yang masih singgah. Tak ingin tampak rapuh di hadapan Mama. 

Aku berjalan menuju daun pintu. Meraih gagangnya kemudian membuka. 

“Sudah subuh, Mama gak liat kamu ke mesjid tadi. Kenapa?” tanya perempuan tuaku itu. 

Aku nyengir. “Ketiduran, hehehe,” ucapku berbohong. 

“Tumben? Bukannya kamu paling rajin kalau subuhan?” Mama mencubit perutku. Duh, tingkahnya. 

“Iya. Udah atuh Bagas mau shalat dulu. Udah siang,” kataku lagi. 

Mama menggelengkan kepala berkali-kali  kemudian berbalik memutar tubuh. Menjauhi pintu kamarku. Aku kembali ke dalam. Mengunci pintu lagi lalu bersiap untuk shalat subuh.

*** 

Tenggelam dalam sujud. Sambil membisikkan untaian doa pada bumi. Sudikah ia kiranya menyampaikan pesanku. Agar hari ini, Allah mudahkan segala urusanku. 

Entah mengapa aku paling suka saat dahi menyentuh sajadah. Menunjukkan betapa diri ini sangat rendah. Seolah energi positif terpancar kuat dari dalam pikiranku. Juga rasa tenang yang menjalar dalam diam. 

Dalam sujud panjangku. 

*** 

Jam enam pagi semua sudah berkumpul di meja makan. Mama, Papa, juga adikku Dinda. Selalu seperti ini saat pagi hari. Sarapan bersama sebelum memulai aktivitas masing-masing. 

“Papa denger, di Bandung lagi ramai penangkapan kasus narkoba, ya?” Papa membuka suara. Aku yang sedang sibuk menyuap bubur ayam mendadak saja tersedak saat makan. Beruntung Mama bergegas memberiku segelas air. 

“Iya. Emang lagi rame,” kataku menimpali. Papa selalu begini, memainkan kata-kata, padahal sepertinya tahu arah pembicaraan ini akan kemana. Pasti ada hubungannya dengan Eryn. Sementara Papa seolah hendak menginterogasiku, Mama dan Dinda mendadak berdiri lalu pergi menuju dapur. Membereskan makanan. 

“Gadis itu, siapa namanya?” Papa menatap ke arahku. Kulihat ia sedang berpikir. Mungkin mengingat nama Eryn, begitu?

“Eryn?” tanyaku sambil menaikkan alis. 

“Ah, iya. Bener si Eryn yang pernah kamu bawa ke rumah.” Papa menyuap makanan ke dalam mulut sambil berbicara. 

“Kenapa?”  

“Jangan kira Papa nggak tahu. Dia kena kasus narkoba, kan?” tanyanya penuh selidik. 

Tuh, kan? Bener? Papa sengaja menginterogasiku. 

“Bagas gak ada hubungan lagi sama Eryn. Juga nggak ikut terlibat dengan kasusnya. Papa jangan mikir aneh-ameh,” ucapku menjelaskan.

Papa tersenyum. Baguslah, semoga tak ada lagi pertanyaan. Aku sudah malas membahas gadis yang bernama Eryn itu. Karena bahkan sampai detik ini, aku masih selalu teringat dengannya. Semakin dibahas akan semakin lekat dalam ingatan. 

Belum lagi hubungan dua keluarga kami yang sudah cukup dekat. Kan, aku jadi kembali teringat!

“Baguslah kalau begitu. Papa juga kurang suka dengan Eryn. Kamu, carilah gadis baik-baik. Jangan asal dapet cantik trus dibawa ke rumah.” 

Aku tersenyum mendengar kalimat Papa barusan. Sejak awal memang Papa kurang respect. Mama pun sama. Hanya saja aku terlanjur tertarik pada Eryn. 

Siapa yang tak terpikat padanya. Badan bak gitar spanyol yang digandrungi banyak pria termasuk aku. Rambut hitam yang terurai hingga punggung. Tampak hitam lebat jatuh menimpa leher putihnya yang mulus. Eryna dengan segala yang dimiliknya. Seolah pusat keindahan wanita ada pada gadis itu. Kedua matanya dengan bulu mata lentik lagi panjang. Ditambah hidungnya yang mancung di atas bibir eksotis sedikit tebal. Setiap ucapannya terdengar menggoda. Membuatku sangat tergila padanya. 

Eryn adalah segalanya bagiku. Saat dulu, saat kami masih bersama. Namun baru-baru ini hubungan kami menjadi kandas tak berbekas. Selain ia memfitnah Devan yang tak lain adalah sepupuku, ia juga terang-terangan mengaku selingkuh bersama Vino. 

Belum juga menikah tapi kelakuannya sudah berani padaku. Lalu, apa yang harus dipertahankan? Toh hubungan kami sama-sama tak ada kejelasan. Eryn tak sedikitpun berniat serius padaku. Huft! Menyebalkan, bukan? 

“Gas! Hey! Malah ngelamun!” Papa menghardikku. Membuatku seketika membuyarkan lamunan tentang Eryna. 

“Ah, iya. Maaf,” kataku menutupi kecanggungan. Sebenarnya emang aku deg-degan kepergok sedang tak fokus bersama Papa. Memalukan.