Dua
Bab 2

Jantungku berdegub kencang. Kulepas setir mobil seketika. Tanpa terasa, kedua tangan turut bergetar hebat. Pertama kalinya dalam hidupku kejadian seperti ini. 

Ya Allah! Astagfirullah! Anak kecil tadi bagaimana? Kenapa bisa mobilku menabraknya?

Shit! Kulepas cepat sabuk pengaman setelah sebelumnya mematikan mesin mobil lebih dulu. Kubuka pintu mobil, menjejakkan kaki ke luar. Seketika saja aku terbelalak melihat pemandangan di depanku. Kedua mata seolah  tak mampu berkedip. Anak kecil yang kutabrak tadi tengah terkapar di halaman parkir. Dengan lelehan darah segar yang mengalir di pelipisnya. 

“Astagfirullah!” pekikku tertahan. 

Otakku seakan kebas. Hawa dingin menelusup cepat ke sekujur badan. Bulir keringat terasa mengucur deras. Entahlah, langkah kaki juga enggan digerakkan. Aku terpaku tak mampu melawan. Phobia terhadap darah yang kumiliki menjadi sangat menyeramkan di saat seperti ini. Dinginnya udara tak mampu mendinginkan rasa panas dalam tubuh. 

"Hey! Tanggung jawab! Tanggung jawab!" seruan orang-orang dan sebuah tarikan membuyarkan keteganganku. Aku memaksakan diri untuk menoleh,  satu wajah menatap geram. "Tanggung jawab!" serunya lagi. Refleks aku mengangguk kaku. 

Kugerakkan sebisaku. Kupaksa sendiri badanku melawan hati yang enggan beranjak pergi. Sekuat tenaga, melebihi batas kemampuanku. Aku terengah hanya karena melihat lelehan darah. 

“Bawa ke dalam mobil, Pak.” Kubuka pintu lebar. Membiarkan orang-orang menggotong seonggok badan itu masuk ke dalam mobil. Entah sejak kapan persisnya aku tak tau. Saat ini, mobilku sudah dikerumuni banyak orang. Seorang gadis berkerudung marun ikut masuk ke dalam. Memegangi anak kecil tadi yang mungkin adalah adiknya. 

“Maafkan saya, Teh,” kataku sambil menatap iba. Gadis itu balik menatapku, kedua matanya berkaca-kaca. Ah, aku memang salah. Salah karena tak sengaja menabrak. Tak membuat perhitungan saat hendak parkir tadi. Aku ingat, kejadian tadi, bukannya rem yang ku injak melainkan justru membuat mobil bergerak lebih cepat. 

“Tolong, bawa adik saya secepatnya ke rumah sakit,” ujar gadis itu sambil mengusap lembut kepala sang adik. Aku mengangguk. 

Iya. Secepatnya! Secepatnya!

***  

Gerimis tipis mengguyur kota kembang. Jalanan tampak penuh, tumpah ruah antara pengendara dan pedagang asongan. Saat genting seperti ini, mendadak aku ingin meledak-ledak. Jalanan macet parah. Aku takut sesuatu terjadi dengan anak kecil di belakangku. 

“Teh, sekali lagi tolong maafkan saya,” kataku sambil menoleh ke belakang. Hanya berani memandang gadis itu, sebab di pangkuannya lelehan darah mengalir dari kepala sang adik. Aku tak berani melihatnya. “Saya akan bertanggung jawab penuh,” kataku lagi meyakinkan. Gadis itu masih bergeming. Mungkin sedang memikirkan sesuatu. “Barangkali ada nomer keluarga yang bisa dihubungi?” 

Kulihat gadis itu mengernyitkan keningnya. “Tolong fokus menyetir saja. Saya butuh segera ke rumah sakit!” ia mendesis sambil menatapku tak suka. Padahal aku hanya ingin meminta maaf saja. 

Aku menarik kembali pandangan. Fokus menyetir dan menatap ke depan. Tak ada suara. Hening.

Hanya erangan dan rintihan anak kecil di belakang. Di depanku, kendaraan sudah melaju normal. Tetiba aku teringat dengan Ibu. Aku bahkan belum menghubunginya. Pesanannya tadi? Ah biarkan saja. Aku ada masalah genting saat ini. 

Kulajukan mobil menuju rumah sakit daerah. Kupilih rute tercepat. Membelah jalanan yang sedikit lenggang dibandingkan tadi. Gerimis masih setia menurunkan rintiknya. Membuat aspal jalanan yang menghitam semakin terlihat lebih pekat. 

Tak lama mobilku tiba di depan pintu UGD.  Kubuka kaca mobil, melongokkan kepala “Kecelakaan, Pak,” kataku. Dua satpam yang melihat langsung mengangguk. Mereka lalu membuka pintu UGD dan mengambil sesuatu dari dalam. Sebuah brankar untuk membawa korban kecelakaan. Syukurlah, di sini tanggap. Jadi begitu ada pasien datang, mereka langsung sigap. 

“Teh, jangan khawatir. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab,” ucapku sebelum memarkirkan mobil. Gadis itu baru saja turun hendak menyusul adiknya yang sudah di dorong masuk ke ruangan. Setidaknya aku berusaha membuatnya yakin. Khawatir sesuatu yang tidak-tidak bakal ia lakukan. Melaporkan ke polisi mungkin?

“Saya tunggu itikad baik anda di dalam!” ujarnya kemudian berlalu pergi masuk ke dalam ruang UGD. Aku mengangguk kemudian kembali menyalakan mesin mobil. Seperti kataku tadi, memarkirkan. 

***  

Sebelum masuk ke dalam ruang UGD. Aku menghubungi Mama lebih dulu. Khawatir perempuanku itu kepikiran yang tidak-tidak. Meski ini kabar buruk, setidaknya aku harus menghubunginya. 

“Hallo, Assalamualaikum,” sapaku memulai pembicaraan.

“Wa alaikumussalam warahmatullah, kamu di mana, Gas? Kenapa lama? Lupa pesenan Mama?” 

Duh. Belum juga kujelaskan, Mama sudah nyerocos duluan. 

“Bagas nabrak orang, Ma,” ucapku pelan.

“Apa? Di mana? Gimana keadaannya? Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Mama lagi.

“Bagas mah nggak papa, tapi ini lagi di rumah sakit. Yang ketabraknya anak kecil,” jawabku berusaha tenang. Takut membuat Mama khawatir. 

“Astagfirullah. Anak kecil? Bagaimana? Ada darah?” tanyanya terdengar panik. Padahal aku berusaha untuk tenang saat memberitahunya.

“Ada. Udah ya, Bagas mau ke dalam dulu. Yang penting udah ngasih tau Mama. Bagas selesaiin urusan yang di sini dulu,” kataku menjelaskan. 

“Iya. Hati-hati. Kabari Mama kalau ada apa-apa.” 

Tut!

Panggilan mati tiba-tiba. Seiring dengan gawaiku yang juga mati. Efek baterai lemah sepertinya. 

Gegas aku berjalan masuk ke dalam ruang UGD. Kusiapkan mental baik-baik. Semoga tak ada darah tercecer yang kulihat. Sebab jika sudah begitu, bisa-bisa aku tak sadarkan diri nantinya. 

*** 
Ruangan persegi panjang berisi beberapa ruangan kecil yang dibatasi dengan kain. Hanya ada banyak brankat dengan pasien di atasnya. Sedangkan kursi penunggu hanya dibatasi beberapa jumlahnya. Aku tak kebagian duduk. Terpaksa berdiri di samping korban yang kutabrak tadi. 

“Teh,” panggilku pada gadis yang masih diam tak mau mengajakku bicara. Dia tampak galak sekali. “Kata Dokter, bagaimana?” tanyaku memberanikan diri. 

Gadis itu menoleh. Menatap sendu ke arahku. Ah, jadi tak tega. “Nunggu hasil rontgen,” jawabnya datar. 

“Jadi, hari ini menginap di sini?” tanyaku lagi. 

“Iya.” Ia mengangguk pelan. 

“Saya akan bertanggung jawab penuh. Terkait biaya, saya sanggup menanggungnya berapapun itu. Tapi un-“

“Sudahlah.” Gadis itu memotong kalimatku. “Adik saya yang salah karena berlari tepat di depan mobil anda, maaf dan terima kasih. Saya tidak menuntut apapun,” ucapnya mantap. 

Aku mengernyit bingung. Jadi, aku dibebaskan begitu? Ya, meski memang bukan salahku. Tapi, jarang ada korban kecelakaan model begini. Mau mengakui kesalahannya sendiri. 

Kulirik alroji di pergelangan tangan. Sudah menjelang maghrib rupanya.

“Saya tungguin di sini. Nggak papa saya bantu berjaga. Saya juga tetap bertanggung jawab dalam kasus ini, bagaimanapun mobil saya yang menabrak adik anda.” Kulihat kening gadis itu berkerut. “Saya hanya tidak mau lari dari tanggung jawab,” ucapku kemudian.

Ku ulurkan tangan. Hendak menjabat tangannya. “Bagas,” ucapku memperkenalkan diri. 

Gadis itu menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Aisyah,” katanya sambil tersenyum. 

Ada ceruk di pipi sebelah kanan. Aisyah, nama yang indah. Seperti wajahnya, sama-sama indah. Aku menarik kembali tanganku. Tak jadi bersalaman. Gadis itu menjaga dirinya dengan baik.  

Astagfirullah! Kenapa justru menilai paras seseorang di saat seperti ini.