Bab tiga
Bab 3

Aku berdiri di depan pintu UGD. Kata petugasnya, tidak boleh terlalu banyak penunggu pasien di dalam sana. Selain itu, beberapa kali tampak petugas medis membawa pasien laka lantas. Aku begidik ngeri mengingat phobia dengan darah sejak kecil. Takut kejadian seperti di halaman parkir terulang lagi. 

Kurasakan angin malam berembus pelan. Sangat sejuk menerpa kulit wajah yang basah sisa cuci muka tadi. Kulirik alroji di pergelangan tangan kanan. Sudah jam delapan malam rupanya. 

Huft! Kuembuskan napas pelan. Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Melihat orang-orang yang lalu lalang. Suasana di rumah sakit selalu begini. Meski malam, tak pernah ada yang namanya kata sepi.

Rumah sakit dan segala kesibukan di dalamnya. Aku merenung. Di antara banyak orang, dalam pelupuk mata, mendadak bayangan satu wajah muncul. Eryna. Ah, apa kabarnya gadis itu? Kugelengkan kepala pelan. Menepis rasaku setiap kali mengingatnya. Menyesakkan. 

Haruskah aku menemuinya setelah penghianatan yang ia berikan sejauh ini? Haruskah kuberikan suport agar ia tabah menjalani ujian bersama Vino, kekasih barunya?

Ck! Ayolah Bagas! Dia bukan gadis baik-baik. Tak perlu terlalu kepikiran dengannya. Aku sibuk berbicara dalam hatiku sendiri. 

Saat aku sedang berusaha mensugesti diriku sendiri. Tiba-tiba gawai memekik nyaring. Kuraih benda pipih itu di dalam saku celana. 

[Pak. Ada kebakaran di gudang pusat.]

Astagfirullah! Aku terperangah membaca pesan barusan. Ku usap wajah kasar. Malam-malam begini, kenapa ada insiden seperti ini? Aku bahkan masih terjebak di rumah sakit. 

Kusentuh layar mencoba mencari nomor Devan. Hanya ia yang bisa membantuku saat ini. Secara, ia dan aku bekerja di bagian yang sama. 

"Hallo, assalamualaikum," ucapku memberi salam.

"Wa alaikumussalam warahamatullah wabarakatuh," jawab Devan. "Ada apa, Gas?" tanyanya lagi.

"Gudang pusat kebakaran! Aku lagi di rumah sakit, nih."

"Astagfirullah. Kamu kena kebakaran sampe masuk rumah sakit?" kudengar suara Devan memekik.

"Enggak, bukan gitu, aku lagi ada urusan lain. Barusan karyawan gudang kasih tau. Ada kebakaran di sana." Kujelaskan pada Devan. Berharap ia bisa membantu. Mewakili divisi kami agar segera bergerak ke sana. 

"Iya. Aku meluncur," jawabnya. 

Alhamdulillah. Lega. Syukurlah kalau begitu. Aku bisa fokus dulu di rumah sakit. Walau tak dapat dipungkiri, aku sangat khawatir dengan keadaan gudang saat ini. 

*** 

Hawa dingin dari ac rumah sakit menelusup hingga ke dalam tulang. Bagaimana ini, pihak rumah sakit juga belum memberi kejelasan? Bocah yang kutabrak tengah tertidur. Sedangkan Aisyah, ia tampak sibuk memainkan gawainya. Ah, bukan memainkan. Ia sedang fokus membaca al-qur’an dalam aplikasi. Kuperhatikan sejak tadi, gadis itu tampak lebih tenang sekarang.

“Teh,” panggilku. 

“Iya?”

“Keluarga Teteh, nggak ada yang ke sini?” tanyaku. Heran saja, kenapa saudaranya juga tak ada yang menemui di sini. 

“Inshaa Allah sebentar lagi mereka tiba. Umi dan Abah dalam perjalanan.” Aisyah kembali merunduk menyentuh lagi layar gawainya. 

“Teteh nggak lapar? Barangkali mau beli makanan dulu? Biar adik Teteh, sama saya dulu dijaganya,” kataku menawarkan.

Aisyah mengangkat wajah. “Nggak usah, terima kasih,” ucapnya.

Saat kami sedang mengobrol. Tiba-tiba saja terdengar ucapan salam mengejutkan. “Assalamualaikum.”

Aku menoleh. Mendapati satu wajah seorang pria dengan janggut yang menutupi dagunya.

“Wa alaikumussalam,” jawabku. Kusalami pria itu. Sosok yang sudah sangat sering muncul di berbagai acara stasiun televisi. “Ustaz Zul?” tanyaku setengah tak percaya. Apa dia abinya Aisyah?

Dibalik punggung Ustaz Zul, muncul perempuan yang juga tidak asing bagiku. Beliau adalah istrinya. Umi Zulaikha. Jadi? Yang kutabrak adalah anak mereka?

Astagfirullah. 

“Kita bicara di luar ya?” Ustaz Zul meraih pundakku. “Aisyah ikut Abi. Biar Umi yang jaga Hanif,” katanya lagi. 

Aku menurut. Mengikuti perintahnya. Tak apa. Mungkin memang butuh penjelasan saat ini. 

*** 

Mama selalu menasehati. Pria sejati adalah yang berani mengakui kesalahan. Tak peduli apapun itu resikonya. Saat bersalah, ya waktunya meminta maaf dan mengakui. Aku selalu di didik untuk berkata jujur. Pendidikan utama yang selalu mama gaungkan. 

“Jangan pernah berbohong untuk menutupi kesalahan. Karena sekalinya bernohong, akan muncul lagi kebohongan-kebohongan yang lain. Muncul pula kesalahan-kesalahan yang lain,” kata Mama suatu waktu. Dan itu menjadi pegangan kuat bagiku.

Seperti saat ini. Saat aku harus mengakui tentang insiden yang terjadi tadi. 

Di depan UGD ada bangku panjang. Aku, Ustaz Zul dan Aisyah duduk berjajar bersama. Membicarakan perkara yang membuat Hanif masuk rumah sakit. 

“Aish sudah bilang, Bi. Aa ini nggak salah. Tadi, Hanif lari pas mobil lagi jalan,” ucap Aisyah. 

“Benar, awalnya memang begitu. Saya juga syok begitu melihat Hanif lari. Tapi, berusaha maksimal buat ngerem. Saya malah injak gas. Jadinya nabrak,” jawabku menjelaskan. “Saya bersedia bertanggung jawab,” kataku lagi.

Ustaz Zul menganggukkan kepala. “Alhamdulillah, clear ya? Jadi unsur ketidak sengajaan di sini. Qodarullah wa mashaa Allah.” Ustaz Zul menepuk pundakku. “Maafkan anak saya sudah merepotkan,” ucapnya lagi.

“Aish juga suda bilang. Nggak perlu bertanggung jawab karena memang kesalahan pada Aish karena tidak bisa menjaga Hanif dengan baik.” Lagi-lagi Aisyah membelaku. Mashaa Allah. Kenapa jadi terharu dipertemukan orang-orang jujur seperti ini? 

“Iya. Itu sudah benar.” Ustaz Zul mengusap lembut kepala Aisyah. Beliau lalu berganti menatap ke arahku. “Kalau Bagas mau pulang boleh. Saya suruh malahan. Karena memang di sini tidak ada kesalahan Bagas.”

Alhamdulillah. Aku bisa benar-benar bebas saat ini. Jujur itu mujur. Jujurku membawa keberuntungan. Aku memang tak bersalah dalam hal ini. 

“Kalau begitu, saya pamit dulu, ya Ustaz?” ucapku. Ustaz Zul mengamgguk.

“Iya,” jawabnya kemudian. 

Setelah bersalaman dan berpamitan. Aku bergegas pergi meninggalkan Ustaz Zul dan Aisyah. Andai semua orang bisa jujur, ya? Maksudku. Para korban kecelakaan yang bilang terus terang. Karena terkadang kesalahan bukan hanya pada pengendara. Tapi lalainya pengguna jalan yang lain. 

*** 

Melewati jalanan kota Bandung. Malam hari masih saja ramai dipenuhi manusia yang setiap sisi jalan tampak berkerumun. Entah itu pedagang makanan ataupun para remaja yang berkumpul. Semuanya jelas menikmati hiburan malam. 

Kulajukan mobilku dengan tenang. Tapi, tiba-tiba saja gawaiku memekik nyaring. Kulirik layar yang menyala. Devan memanggilku rupanya. 

Ah, iya! Ini pasti tentang gudang yang terbakar tadi. Bagaimana bisa aku lupa seperti ini? Astagfirullah. 

“Hallo, iya, Van?” tanyaku langsung setelah mengangkat panggilan.

“Ada korban meninggal, Gas!” teriaknya. Terdengar juga suara sirine pemadam kebakaran di sana. Berisik sekali. Membuatku tak konsen mengemudi. 

“Astagfirullah! Siapa, Van?” tanyaku panik. Segera kupinggirkan mobil. Agar bisa leluasa mengobrol bersama Devan dalam panggilan. 

“Teh Euis. Mana sekarang ia lagi hamil tua,” jawabnya. 

Deg!

Astagfirullah. Mendadak otakku blank. Korban kebakaran Teh Euis? Perempuan yang sedang hamil tua itu?

Aku mengusap wajah kasar. Sedikitpun tak terbayangkan olehku.