Lima
Bab 5

Usai sarapan aku bergegas pergi meninggalkan ruang makan setelah sebelumnya tadi, aku menyalami Mama dan Papa bergantian. Meski aku laki-laki, tak ada kata gengsi untuk berpamitan setiap mau bepergian. 

Tuk! Tuk! Tuk! Kuketuk meja di depan Dinda. Ia yang sedang sibuk mengikat tali sepatu, seketika saja mengangkat wajahnya lalu mendelik ke arahku. "Aa mah, kenapa buru-buru, sih?" sungutnya kesal. 

"Buruan atuh, udah siang, nih!" seruku. 

Aku biasa mengantar Dinda lebih dulu sebelum pergi ke kantor. Dia adikku satu-satunya yang harus kujaga. Dinda gadis yang manja juga mudah percaya pada orang lain. Aku sangat khawatir terhadap sikapnya itu. Bagaimana jika ada yang berbuat macam-macam padanya? Mengingat ia sangat mudah percaya pada siapapun. Bahkan pada orang yang baru dikenali. Aku hafal betul itu karena terbiasa dekat dengannya sejak kecil.

"Yuk, A!" serunya sambil berdiri. Aku mengangguk sambil memberi kode. Melambai padanya.

"Yuk!" 

*** 

Rintik hujan turun perlahan. Beruntung aku sudah mengantar Dinda lebih awal tadi. Kini tinggal perjalanan menuju kantor saja.

Kota Bandung dengan segala hiruk pikuknya. Sepanjang perjalanan tadi, di sisi kiri maupun kanan para pengendara saling adu kecepatan agar sampai lebih dulu. Meski gerimis tipis masih mengguyur, tapi di luar sana, aktivitas pengendara tak pernah ada kata matinya. 

Di perlimaan jalan, tak jarang banyak pedagang asongan juga yang menawarkan dagangannya. Penjual makanan ringan, tissue hingga minuman dingin berulang kali mengetuk kaca mobil, menawarkan. 

Betapa aku harus banyak bersyukur setiap melihat itu semua. Pekerjaanku yang hanya duduk dan memerintah, harusnya membuatku terpacu untuk semakin maju. Bukannya lebih sering mengeluh.

Tin! Tiiiiin! Tiiiinnn! Terdengar suara klakson bersahutan. Entah mengapa para pengendara senang sekali terburu-buru? Jika berangkat kerja dari awal, mungkin mereka tak perlu seberisik ini. Ah, dasar, manusia memang selalu begitu. Sangat sulit memahami arti kata sabar. Tak dapat dipungkiri, kadang aku sendiri merasa begitu. 

Ting! Bunyi gawai milikku berdenting. Sambil menyetir, kuraih gawai di atas dashboard mobil. Membaca sebaris kata pesan yang masuk. 

[Twiy]

Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak. Twiy? Itu ‘kan panggilan Eryn khusus untukku? 

Kulirik sekilas nomer yang mengirimkan pesan tadi. Terdiri dari dua belas digit angka yang artinya kontak itu baru, belum kusimpan nomernya siapa. 

Ah, masa bodoh. Aku tak mau lagi berurusan dengan gadis itu. Jadi, kubiarkan saja. 

Saat yang tulus kau sia-siakan. Dan yang modus, kau perhatikan. Aku punya hati, bisa terluka dan butuh waktu untuk diobati. 

*** 

Aku berjalan melewati koridor kantor. Sepanjang jalan menuju ruang kerja, banyak sekali para karyawan yang berpapasan denganku. Mereka sepertinya sudah tahu banyak tentang keadaan gudang pusat. Karena dari cara bertanyanya padaku, mereka fokus menyampaikan satu kalimat yang sama. “Bagaimana bisa terbakar habis? Lalu petugas penjaganya pada ke mana?” 

Aku takut salah bicara. Kupilih diam saja sebelum melihat langsung lokasi kejadian. Bukankah selalu ada sebab dalam setiap perkara? Lagi pula, ini bukan gudang kecil sederhana, melainkan gudang besar. Harusnya petugas juga antisipasi saat ada kobaran api besar. Tapi, kenapa justru terbakar tanpa ada yang melaporkan saat kejadian awal? Sungguh, tak habis pikir sistem keamanan di sana. 

Aku segera menghubungi  Devan saat sudah tiba di dalam kantor.  Butuh penjelasan juga kabar dari Teh Euis. Jika ada korban yang meninggal, maka kami harus menanggung semua biaya pengobatan. Termasuk ganti rugi yang lumayan. 

“Hallo, Van? Gimana?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku bahkan lupa belum mengucap salam karena saking kepikirannya. 

“Hari ini dimakamkan,” jawab Devan dari seberang sana. 

Aku menelan saliva. Dadaku mendadak sakit. Seperti ada yang tercubit di sini. 

“Hallo, Gas?” pertanyaan Devan membuyarkan lamunanku. 

“Ah, iya. Maaf, gimana tadi? Jadi aku pake kesana nggak?” tanyaku. 

“Nggak usah. Ada perwakilan juga dari Bos.” 

Perasaanku sedikit lega saat Devan bilang begitu. Tak apa. Ini musibah dan perusahaan kami mengambil langkah tercepatnya. 

“Ya udah, aku mau kerja dulu, ya? Assalamualaikum.” 

“Wa alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.”

Tut! Tut! Tut! Panggilan pun berakhir. 

***  

Orang bilang menjadi atasan itu enak. Mungkin bagi yang melihat akan berpikir begitu. Tapi, andai mereka tahu bahwa yang terlihat enak itu belum tentu enak. Jika masalah gaji  jelas takarannya berbeda dengan karyawan yang lainnya. Namun, tanggung jawab juga lingkup pekerjaan justru jauh lebih besar. Lebih sering memiliki resiko. Tak disukai bawahan mungkin?

Jadi atasan harus tegas. Punya wibawa agar disegani anak buah. Juga harus kuat tahan banting. Sebab tak jarang pekerjaan menumpuk hingga harus lembur melebihi jadwal kerja yang semestinya. Bahkan seringnya pekerjaan itu ikut dibawa pulang ke rumah. 

Seperti saat ini, aku dan tumpukan berkas-berkasku. Harus kuselesaikan saat ini juga. Jika tak cukup waktu di kantor. Maka membawa pulang adalah pilihan tepat yang harus di ambil. 

Ting!

Ting!

Ting!

Gawaiku berdenting berkali-kali. Aku yang sedang menyetir dalam mobil harus menepi lebih dulu. Melihat pesan dari seseorang. Mendengar dentingnya yang bertubi-tubi, jelas saja seperti sesuatu yang mendesak harus kubaca. 

[Twiy, aku rindu.]

[Twiy, maaf, aku khilaf. Bisakah kita mulai lagi hubungan yang baru?]

[Twiy, aku membutuhkanmu.] 

Kubaca pesan-pesan itu. Tak lagi kubalas karena memang rasanya sudah tak perlu. Untuk apa? Bukankah ia tengah mendekam di penjara?

Eh, tunggu. “Astagfirullah!” Aku menepuk jidat sendiri. Jika itu Eryn, bukankah ia sedang dipenjara karena kasus narkobanya? Kenapa bisa ia menggunakan gawai untuk menghubungiku?

Hubungi balik apa enggak, ya? 

Ah. Abaikan saja. Bukankah dia juga sudah bersama yang lain?

Ayolah Bagas! Move on! Kalau perlu blokir nomornya! Jeritku dalam sudut hati. 

Tak kuhiraukan. Kembali membiarkan. Aku harus bersiap untuk pulang. Kulajukan mobil kembali di jalanan yang tenang. Sambil menikmati musik dari radio yang kuputar. Alunan lagunya begitu lembut, membuatku seakan di nina bobokan. Aku mendadak ngantuk. 

Kulirik arloji di pergelangan tangan. Sudah jam lima sore rupanya. Mendadak pikiranku kembali teringat pada Aisyah. Bukan pada gadis alim itu, tapi peristiwa tabrakan yang menimpa adiknya. Apakah aku harus kesana? Begitu?

Aku tak tenang. Kujalankan mobil menuju arah rumah sakit tempat Hanif dirawat. Ya, meski kata Ustaz Zul aku tak bersalah dan memang tak bersalah. Setidaknya ada itikad baik dariku untuk membesuk anaknya. 

*** 

“Korban kecelakaan tadi malam atas nama Hanif sudah dipindahkan ruang. Ia harus dirawat inap dulu.” Seorang petugas UGD memberiku penjelasan. 

“Ruang apa, Suster?” tanyaku. 

“Ruang mawar. Bapak bisa bertanya nomornya pada petugas jaga di sana.” Kembali suster itu menjelaskan. Aku tersenyum berterima kasih. 

Sudah kubilang bukan? Aku anak baik. Menurut kata mama. Harus bertanggung jawab pada apa yang dibuatnya. Entah mengapa firasatku akan Hanif rasanya tak enak saja. Bocah itu, ah, semoga dia baik-baik saja.