Satu
Bab 1

"Eryn kena kasus narkoba! Kamu ada pake barang itu juga, nggak?" tanya Devan tiba-tiba. Tatapannya tajam, seakan aku benar bersalah di matanya. Devan adalah sepupu dan juga rekan kerjaku. 

"Apa? Narkoba? Kamu ini ngomong apa?" Aku bangkit dari duduk. Tak terima dengan tuduhan sepihak. 

"Bukan menuduh, nanya doang! Liat, ini!" Disodorkannya gawai miliknya. Sebuah video amatir berputar. Menunjukkan sosok yang kukenali sedang digiring masuk ke dalam mobil polisi.

"Eryn? Ini beneran Eryn?" Aku terbelalak. 

"Iya! Sudah kubilang, bukan? Dia bukan gadis baik-baik." Devan meraih kembali gawainya. Menatapku yang masih terperangah tak percaya. "Kamu pakai juga, nggak?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng. "Enggak, lah. Yang benar aja," jawabku malas. 

Sebenarnya sekarang aku sedang syok, bukan hanya  karena melihat video Eryn yang tertangkap polisi. Tapi, dalam video itu, ada lelaki lain yang ikut bersamanya.

Aku kenal, dia adalah Vino, lelaki yang membuat hubunganku dan Eryn kandas. Rupanya mereka sepaket. 

"Syukurlah kalau kamu nggak pake. Tenang, masih banyak stok gadis baik di dunia ini." Kurasakan  tepukan tangan Devan di punggungku. Ah, dia hanya tidak tahu saja. Bahwa hubunganku dan Eryn sudah putus sejak seminggu yang lalu. Sayangnya, rasa yang kumiliki untuk gadis itu terlalu dalam. 

Andai dulu aku mendengar kata Devan. Mungkin, aku tak akan pernah merasakan sakit hati seperti ini. 

"Lupakan. Aku baik, kok. No problem!" jawabku sambil tersenyum.

"Beneran?" Devan kembali menatapku. Ia memicingkan matanya. Seakan tak percaya.

"Dasar!" Kujitak kepalanya. Menutupi rasa dalam hati yang sebenarnya. Aku sedang tak baik-baik saja. 

*** 

Bohong jika aku baik-baik saja setelah melihat video penangkapan Eryn dan Vino. Dadaku terasa sangat sakit sekali. Kupikir hanya perempuan saja yang bisa merasakan patah hati. Rupanya aku salah. Pria juga bisa merasakannya, dan itu sungguh menyakitkan. 

Pekerjaanku kacau. Aku berantakan. Sama sekali tak fokus selama di kantor. Kepikiran? Mungkin. Bagaimanapun juga, rasaku pada Eryn tak pernah main-main. Ah, menyakitkan. 

Drrrrttt! Drrrrrttt! Gawaiku bergetar saat aku sedang sibuk berpikir. Kuraih benda pipih itu di atas nakas. Melihat satu nama tertera di atas layar yang menyala. Om Erick, ayah Eryn. 

"Iya, Om?" tanyaku setelah mengusap layar. Menghubungkan panggilan. 

"Sudah dengar kabar Eryn?" tanyanya dari seberang. 

"Iya."

"Kamu, bisa ke rumah Om, nggak?" 

Aku diam. Berpikir sejenak. 

"Maaf, Om. Tapi, Bagas sudah nggak ada hubungan apapun dengan Eryn," jawabku datar kemudian mengembus napas pelan. "Bagas juga nggak mau terlibat sama kasus Eryn," tambahku kemudian. 

"Kalian bukannya masih pacaran?" suara Om Erick terdengar sedikit menekan. 

"Enggak. Kami sudah putus sejak seminggu yang lalu," jawabku berusaha tenang. "Lelaki yang tertangkap bersama Eryn, dia kekasih barunya."

Tak lama setelah pembicaraan itu. Panggilan tiba-tiba terputus. Entah sinyalnya atau memang Om Erick sudah tak ingin berbicara. Aku juga tak ingin terlibat masalah Eryn. Lebih baik mengobati lukaku sendiri akibat ulahnya.

***

Tak ada bukti cinta paling nyata kecuali menuju satu ikatan yang suci, yaitu sebuah pernikahan. Sejauh ini aku sangat serius menjalani hubunganku bersama Eryn. Tapi, justru penghianatan yang ia berikan. Menyakitkan bukan?

Di usiaku yang sudah matang seperti ini, bukan lagi waktunya bermain-main dengan kata cinta. Bukan juga waktunya untuk bermain-main dengan para gadis.

Aku bukanlah pria yang mudah menaruh hati dan menjalin suatu hubungan. Tapi, sekalinya itu terjadi. Rasanya sungguh tak bisa ku utarakan. Aku benar-benar menaruh harapan besar.

Sayangnya, anganku melambung terlalu tinggi, hingga saat terempas jatuh ke bawah. Aku lupa caranya untuk kembali mengudara. Angan dan harapanku sirna. Sayapku patah. Mungkinkah luka hati yang dalam bisa sembuh dengan sendirinya? Ataukah butuh sebuah pelarian? 

Huft!

Aku sudah bersiap untuk keluar dari ruang kerjaku. Kulirik arloji di tangan, sudah pukul lima sore rupanya. Aku terlambat pulang.

Kumantapkan hati saat membuka pintu. Sebenarnya aku memilih telat pulang sebab malu jika kepedihan yang kusimpan tertangkap oleh Devan. Bagaimanapun, sepupuku itu hafal betul seluk beluk hubunganku dengan Eryn. Sejak awal ia bahkan memintaku untuk tak memilih gadis itu. Sayangnya, aku telah mabuk cinta lebih dulu. Tak sedikitpun mengindahkan kata-katanya.

Krieeet! Pintu terbuka. Bersamaan dengan itu aku nyaris terperanjat saking kagetnya. Seseorang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjaku.

"Dewi?" tanyaku. Kulihat ia juga tampak syok. Mungkin sama kagetnya sepertiku. 

"Maaf, Pak. Saya kira sudah tidak ada orang," jawabnya gugup. 

"Ah, iya. Gapapa." Aku tersenyum. Ia adalah office girl di kantor kami. Jadwalnya membersihkan ruanganku setiap jam pulang tiba. 

"Saya, izin membersihkan ruangan Bapak," katanya lagi.

Aku mengangguk. "Silahkan."

Kembali kulangkahkan kaki. Berjalan keluar kantor. Melewati koridor-koridor yang panjang. Juga lorong yang sudah sepi. Jarang sekali aku pulang terlambat seperti ini.

Gawaiku bergetar saat aku tiba di tempat parkir. Bukan gawai untuk urusan kantor ataupun kolega, ini gawai jadul yang hanya bisa untuk telvon dan sms saja.

Kulihat layar. Nama Mama tertera di sana. 

"Hallo, kenapa Ma?" tanyaku setelah mengangkat panggilan.

"Tolong sebelum pulang, kamu mampir ke mini market sebentar," jawabnya cepat. 

"Beli apa?"

"Bantal Mama!" 

Aku nyengir. Duh, kenapa juga harus aku yang disuruh? Itukan urusan perempuan. Bantal dalam istilah lain maksudnya. 

"Bagas!" panggilan Mama mengagetkanku. 

"Iya, deh. Iya," jawabku malas.

"Ada lagi!" Mama berseru. 

"Apa?"

"Roti tawar, selai coklat, mentega sama mie instant." 

"Udah, itu aja?"

"Iya."

Panggilan berakhir dan aku sudah masuk ke dalam mobil. Terpaksa mampir belanja dulu. Kalau tak kubelikan, pasti sampai rumah dapat omelan panjang lebar.

***

Jalanan di kota Bandung tampak cukup padat. Seperti di kota-kota besar yang lain. Saat jam berangkat dan pulang kerja, jalanan pasti macet karena saking banyaknya pengendara. 

Kujalankan saja mobilku dengan kecepatan sedang. Mengikuti arus pengendara yang lain. Sambil mengamati jalanan yang rapat, sesekali pikiranku kembali melayang pada Eryn. Bayangan gadis itu, masih saja belum kunjung hilang.

"Tin! Tin! Tiiiiin!" Bunyi klakson bersahut-sahutan. Menjadi teman sepanjang perjalanan melewati kepadatan. Kupilih jalur sebelah kiri, karena hendak menuju mini market untuk memenuhi titipan Mama tadi. Padahal dekat rumah juga ada toko, tapi perempuan tuaku itu sepertinya sengaja mengerjai.

Ah, biarkan saja. Hitung-hitung sambil cuci mata. Barangkali ada jajanan yang menarik. 

Tak lama setelah melewati kepadatan. Kutepikan mobil di depan sebuah mini market bercat hijau. Tak ada tukang parkir yang berjaga padahal lokasinya pinggir jalan.

Aku fokus menjalankan mobil masuk ke area tempat parkir. Tapi, tiba-tiba saja tampak seorang bocah berlari kencang di depan.  

Syok! Kuinjak rem dan menahan pegas. Tapi, sepertinya perkiraanku salah. 

Deru mesin bersahutan dengan decitan rem yang melengking. 

"Bruaaaaakk!" 

Mobil membentur. Disusul teriakan seseorang dari luar. Nafasku seakan tercekat. 

Apakah aku menabrak bocah tadi?