Enam
Gadis berkerudung kuning dengan gamis coklat muda yang terulur. Tampak sedang duduk di bangku panjang warna putih. Bangku yang menghadap taman kecil berhiaskan bunga-bunga hidup juga kolam air. Posisinya dekat sekali dengan lorong menuju ruangan mawar. Dia Aisyah. Aku kenal gadis itu. Kakak dari anak yang kutabrak kemarin. Entah mengapa hatiku mendadak berdesir saat melihatnya. Pakaiannya yang menjuntai, dengan kerudung lebarnya membuat ia tampak semakin elegan. Aku suka. 

Tanpa ragu aku berjalan mendekat ke arahnya. Kulihat ia sedang membaca sebuah buku, cukup tebal bersampul merah jambu. Gadis itu sendiri. Tak ada yang menemaninya di sini. Atau mungkin, memang dia niatnya menyendiri? Entahlah. 

"Assalamualaikum," sapaku saat tiba di samping bangku Aisyah. Gadis itu menoleh, sedikit terhenyak karena mungkin tak menyadari saking fokusnya membaca tadi. 

" Wa alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh," jawabnya kemudian berdiri. "Kenapa ke sini?" tanyanya sambil mengerutkan kening. Lipatan garis-garis di dahinya terlihat jelas. 

"Mampir aja," jawabku tenang. “Keadaan Hanif, bagaimana?" tanyaku memastikan. 

"Oh, dia alhamdulillah baik. Sekarang ada lagi di dalam sama Umi." Aisyah membalik badan menghadapku. "Kan udah dibilang, nggak kesini juga gapapa," katanya kemudian berlalu pergi.

Dih! Nggak sopan! Ada ya gadis model begitu? Orang niat baik juga malah dianya acuh. 

Aku berjalan mengikuti Aisyah. Biarkan saja, kan niatnya besuk. Lagian aku bukan mau nemuin dia. 

“Aa jangan ngikutin saya,” ketusnya sambil menoleh.

What?! Dia ge er banget, sih! Aku kan nggak tau ruangannya. Otomatis ngikutin dia dong.

“Saya ‘kan nggak tahu ruangan Hanif. Wajar atuh kalau ngikutin kamu,” jawabku. 

“Bilang napa dari tadi,” ketusnya lagi. 

Dia kenapa, sih? Sensinya nggak ketulungan. Adakah kalimatku yang salah tadi?

***  

Ruang mawar nomor tiga. Saat pintu terbuka, terdapat tiga bangsal yang dihalangi dengan tirai sebagai pembatasnya.  

Di atas bangsal paling ujung, Aisyah bergerak menuju ke sana. Mataku menangkap, terbujur lemah Hanif dengan kulit pucatnya. Selimut yang membungkus tubuh anak kecil itu tersingkap. Sepertinya memang tidurnya tak tenang. Toh, anak-anak biasa begitu. Kalau tidur suka berputar mencari posisi nyaman. 

“Assalamualaikum Umi,” panggil Aisyah pada perempuan yang sedang duduk menunggui Hanif. Sama seperti Aisyah tadi, Umi Zulaikha sibuk membaca. Tapi kali ini bukan buku. Melainkan mushaf al-quran kecil berwarna ungu. Terlihat jelas dari ukiran arab di depannya. 

Umi Zulaikha menoleh, “Wa alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” jawabnya sambil melihatku. Aku berjalan mendekat, menangkupkan kedua tangan di dada. 

“Maaf, baru ke sini lagi,” ucapku. Perempuan berwajah teduh itu mengernyitkan dahi. 

“Padahal nggak kesini juga nggak papa,” jawab Umi sambil teraenyum ramah. 

“Iya, tuh. Udah Aish bilangin juga,” Sela Aisyah. Wajahnya tampak ketus sekali. Apa dia tak menyukaiku? Tapi, masalahku apa?

“Saya hanya ingin membesuk,” kataku. Kulihat Umi Zulaikha berdiri. Mendorong kursi menyuruhku untuk duduk. “Nggak usah, Umi. Saya hanya sebentar. Ingin melihat keadaan Hanif saja,” tolakku halus. 

“Dia nggak papa. Hasil rontgen sudah keluar. Tinggal menunggu keputusan Dokter saja. Kebetulan hari ini Dokter spesialisnya nggak datang. Jadi, mungkin besok,” terang Umi Zulaikha. Belum juga aku bertanya detailnya, beliau memberi tahuku lebih dulu. Aku menganggukkan kepala paham.

“Maaf, ya. Ini gara-gara saya,” ucapku sambil menatap Hanif prihatin. Kulihat wajahnya yang terlelap. Di tangannya juga terpasang selang infus. Sementara kantung untuk air seninya tampak menggelantung di bawah. 

Katanya ia baik-baik saja, tapi, kenapa seperti tak baik-baik saja? Aku membatin dalam hati. 

“Eh, Bagas baru pulang kerja, kan? Sini atuh ada kue, tuh.” Ucapan Umi Zulaikha menyadarkanku. Beliau lalu berjalan menuju nakas dekat bangsal Hanif. Mengambil sesuatu kemudian menyerahkannya padaku. 

“Makanlah dulu,” katanya. 

“Terima kasih, tapi saya masih kenyang.” 

Bukan aku tak ingin. Hanya saja malu. Aku juga lapar, tapi ekor mataku menangkap pandangan Aisyah. Gadis itu rupanya sedang memperhatikanku. Ah, rencanaku ke sini bukan untuk minta makan. Melainkan untuk memberi bantuan. 

“Saya ada perlu bicara sama Umi,” kataku sambil menatap. 

“Iya, ada perlu apa?” tanyanya. 

“Terkait biaya pengobatan Hanif.” 

*** 

Urusan di dalam sudah selesai. Meski awalnya Umi Zulaikha menolak, akhirnya mau menerima juga setelah kudesak berkali-kali. Ini semua kulakukan demi Mama.

 Mama sudah tau semuanya. Dan aku berjanji akan bertanggung jawab pada kasus Hanif. Itu salahku, sedikit banyak aku ikut andil besar dalam kejadiannya. Papa juga mendukung, katanya laki-laki harus berani. Menanggung resiko atas apa yang terjadi.

Jika dibilang lebay tak mengapa. Tapi itulah didikan orang tuaku. Aku sudah terbiasa dengan itu semua.

 Mobil yang dipakai untuk mengantar Hanif ketika hendak ke rumah sakit, pun harus terpaksa diganti. Traumaku saat melihat bekas darahnya membuatku tak pernah fokus saat menyetir. 

Beruntung Papa memahami. Akhirnya untuk saat ini, kami bertukar dulu kendaraannya. 

*** 

Usai berbincang dengan Umi Zulaikha, aku berpamitan hendak pulang. Kebetulah Aisyah juga mau beli makanan di luar. Jadi sekalian barengan jalannya. Begitu. 

Sepanjang lorong kami diam. Hanya beriringan saja. Aku di depan dan dia di belakang. Aisyah, entah apa yang dipikirkannya. Gadis itu sama sekali tak mengajakku bicara. 

Hey, kenapa aku jadi baper begini? 

Aku berhenti dan membalik badan dengan cepat. Seketika saja, Aisyah menahan dirinya agar tak menabrakku. Karena memag jarak kami berjalan sepertinya cukup dekat tadi. 

“Astagfirullah!” pekiknya. 

“Maaf, tapi, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku. Aisyah mengerutkan kening. 

“Bicara apa?” tanyanya.

“Saya minta nomor kamu, bisa?” 

Aisyah diam. Sepertinya ia sedang berpikir. Wah, jangan sampai ia berpikir macam-macam. Maksudku baik tak aneh-aneh.

“Hey, jangan mikir aneh-aneh,” kataku setelah ia tak kunjung menjawab. 
“Buat apa? Maaf, tapi saya nggak sembarangan ngasih nomor ke orang,” ucapnya. 

“Saya hanya ingin memastikan keadaan Hanif saja. Baru ingat, besok saya nggak bisa ke sini. Ada dinas ke luar kota,” jawabku. Aku tadi lupa bahwa besok ada rapat dan kunjungan ke gudang pusat. Meninjau langsung hasil interogasi polisi juga melayat ke rumah Teh Euis. 

“Jangan nomor saya, nomor Abi saja,” katanya. 

“Terserah nomor siapa saja. Asal jangan nomor sepatu kamu,” candaku. Aisyah mendelik. Matanya yang kecil dipaksa melebar. “Kenapa, ada yang salah?” tanyaku lagi. 

Aisyah menggeleng. Ia lalu sibuk memperhatikan gawainya. Ku keluarkan gawai milikku sendiri, hendak menyimpan nomor Abi Aisyah. 

Gadis itu tampak fokus mencari. Mungkin saking banyaknya kontak yang ia punya. Kenapa pula ekspresi seriusnya itu membuat sesuatu menggelitik di sini. Aisyah, nama yang indah. Seindah orangnya. 

“Jadi, berapa?” tanyaku.

“Bentar.” Ia masih sibuk mencari. Jemarinya mengusap dan menscroll ke bawah. Kenapa coba nggak di pencariaan aja? Kan bisa pakai ketik nama? 

Ish!

‘Laph!’ 

Mendadak kulihat gawai Aisyah mati. Ia lalu menatapku, “Kumaha atuh? Lowbet,” ucapnya. 

“Ya udah. Nomor kamu saja,” kataku sambil tersenyum.