Bab 6: Wanita Idaman
USTAZ, NIKAH YUK!
(The Amazing Love)

Bab 6

Wanita Idaman

Semua mata mengalihkan pandangan padaku. Tawa mereka terdengar tertahan. Wajahku rasanya seperti terbakar, tanganku mulai terasa dingin dan aku menjadi salah tingkah.

Jika tak di depan Ustaz Abhizar, maka aku sama sekali tak memedulikan jika mereka menertawakanku.

"Woi Paul! Ngapain lu bacain proklamasi cinta segala?" 

Kualihkan pandangan untuk mencari asal lengkingan suara. Kudapati Batrisyia dan Lunara berdiri di antara kerumunan jamaah masjid, lantas bergegas menghampiriku.

Senyumku terkembang, untuk sesaat kecemasanku menghilang, lalu lengkungan di bibir seketika menguncup saat suara itu menggema.

"Kalian ini apa-apaan?! Tadi kamu Batrisyia, pagi-pagi memberikan saya puisi cinta dan sekarang Pauleen membacakan surat cinta untuk saya. Apa tak ada yang mengajarkan kalian adab?"

Aku terkesiap hingga bahu terangkat. Ustaz Abhizar yang sedari tadi seperti air danau tenang tanpa riak, seketika berubah laksana ombak lautan yang menerjang. Telingaku terasa berdenging untuk sesaat. Aku sama sekali tak mengharapkan reaksi seperti itu dari sosok yang dikagumi.

Kami bertiga saling melempar pandang. Batrisyia dan Lunara lantas menunduk seraya menggigit bibir. Salahku apa? Kenapa ustaz sampai semarah itu?

"Anu, Taz. Bukannya Rasulullah bersabda jika kita mencintai saudara kita, maka sampaikanlah padanya. Makanya aku ...." Aku menjawab dengan bibir bergetar hingga tak kuasa melanjutkan ucapan.

Ustaz Abhizar tampak menggeleng-gelengkan kepala lantas memijit pelipisnya.

"Makanya kalau mengaji jangan setengah-setengah ... memang betul, agama kita mengajarkan cinta. Rasulullah menganjurkan agar kita menyampaikan rasa cinta itu, baik dengan ucapan maupun perbuatan, kepada saudaramu. Akan tetapi, bukan untuk menyatakan cinta kepada lawan jenis secara langsung seperti ini. Melainkan melalui perantara untuk proses khitbah. Sebelumnya kita harus menjalankan proses taaruf." Ustaz Abhizar memberikan penjelasan dengan tenang.

"Ayuk, deh, Taz! Kita taaruf," celetukku spontan saat mendengar kata taaruf. Lantas aku membekap mulut sembari bola mata mendelik. Mulutku ini terkadang tak bisa diajak kompromi.

Ustaz Abhizar melirikku dengan tatapan entah. Lantas, kembali menatap ke arah deretan bunga-bunga Bougenville yang sedang bermekaran. Seperti rasa di hatiku yang kini mulai bersemi.

Lunara mencolek pinggangku sembari menaruh telunjuknya di atas bibir. Seperti memintaku untuk menutup mulut. Aku mendesah pelan. 

"Maaf, Taz. Kirain tadi ngajakin kita taaruf," kataku sambil menunjukkan gigi.

"Taaruf itu prosesnya gimana, Taz? Bukannya artinya perkenalan. Kita udah kenalan kemarin, 'kan?" tanya Batrisyia sambil mengernyit.

"Taaruf berasal dari kata ta'arafa atau yata'arafu. Artinya saling mengenal sebelum menuju jenjang pernikahan. Dalam proses taaruf ini tidak diperkenankan untuk berduaan. Sebab jika berduaan, maka yang ketiga adalah seee ...?" Ustaz Abhizar mengangkat telunjuknya ke udara.

"Seeeorang pelakor!" jawabku mantap.

"Setan, Paul. Eh, maafin teman saya, Taz!" ujar Lunara cepat.
"Lah, pan orang ketiga itu seorang pelakor, Lun. Jangan ngatain aku setan, dong, Lun," protesku.

"Anti ini, kita lagi bicara serius malah bercanda. Apalagi soal agama, itu paling dilarang buat dijadikan lelucon. Pengen tak hihhh!" Lunara menjewer pelan ujung telingaku dibalik khimar. Aku mengaduh.

Dapat kulihat Ustaz Abhizar mengulum senyum tipis. Membuat wajahnya terlihat bersinar. Sinar itu seperti merambat di udara, lantas menciptakan kemilau laksana percikan embun yang membasahi pagi. Menyejukkan hati dan pandangan.

Oh, aku baru ingat kalau harus menundukkan pandangan. Yang sepersekian detik sebelumnya, kuanggap saja rezeki.

"Lalu, saat proses taaruf, masing-masing kita bisa saling menceritakan biografi secara tertulis. Sehingga tidak harus melakukan pertemuan untuk saling cerita. Tulisan, kan, sudah mewakili lisan. Meskipun tidak semuanya harus dibuka. Ada hal-hal tertentu yang perlu diberitahu secara terus terang, terutama terkait data yang diperlukan untuk kelangsungan keluarga. Setelah itu, baru mendatangi wali ke rumah. Bukan malah menulis surat cinta begini. Paham?" Ustaz Abhizar melanjutkan penjelasannya.

"Paham, Taz!" sahut Lunara cepat.

"Oh gitu ya, Taz. Tadinya kami bermaksud biar romantis pakai surat cinta, Taz," khilahku.

"Romantis itu wajib," ujar ustaz.

"Nah, itu ustaz setuju."

"Setelah menikah," lanjut Ustaz lagi.

Aku hanya mengulum senyum.

"Somplak lu, Lun! Udah ngasih kita ceramah panjang kali lebar, taunya lu salah kaprah. Lu bilang boleh ngirim surat cinta ke ustaz." Batrisyia menoyor kepala Lunara. 

"Ya, kan, ane baru hijrah sebulan lalu. Jadi, wajar pemahaman ane masih ngambang. Dan ane lagi semangat-semangatnya untuk belajar berdakwah. Seperti kata kitab suci, sampaikanlah walau satu ayat." Lunara membela diri.

"Makanya kalian kalau belajar agama cari sumber yang benar. Belajar dengan guru yang latar belakangnya jelas. Jangan yang hanya tahu kulit-kulitnya saja. Kalau baru hijrah itu, fokus dulu dengan diri sendiri. Perbanyak baca kitab. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tidak perlu repot mengurus dan menasehati orang lain." Ustaz Abhizar menyela pembicaraan antara aku dan Lunara.

"Siap, Taz!" sahut Lunara.

Ustaz Abhizar mengangguk pelan. "Kalian ini benar-benar ingin belajar agama atau bagaimana? Jika iya, saya bisa membantu kalian."

"Mau, mau, mau, Taz!" sahutku tanpa pikir panjang.

"Gue, eh saya mau juga, Taz!" timpal Batrisyia.

"Baiklah, saya permisi sebentar!" 

"Siap, Taz!" jawab kami serempak.

Ustaz membalikkan badan sambil merogoh saku celana kulot hitamnya. Dia menjauh beberapa langkah.

"Kapan lagi kita bisa deketan dengan ustaz, kan, ya? Belajar langsung sama ustaz, kesempatan emas ini," bisik Batrisyia padaku.

"Iya," jawabku singkat, lantas menoleh ke arah Lunara. "Lun! Lu Kenapa manyun?"

Gadis bertubuh mungil itu menghela napas. "Ane jadi ngerasa nggak enak, lantaran udah memberikan informasi salah sama kalian. Maafin ane, ya."

"Nggak apa-apa kok, Lun. Nggak ada yang salah atas pemaparan kamu, kok. Kita aja yang salah mengartikan." Aku mengusap bahu Lunara. Gadis bergamis hitam itu tersenyum.

Kulirik ke arah Ustaz Abhizar dengan ekor mata, ia berdiri di bawah pohon kurma jantan berdaun memanjang sambil memegangi ponselnya. Wajahnya tampak berbinar sembari bibirnya komat-kamit. Ia sedang berbicara pada siapa? Terlihat begitu akrab, sebab beberapa kali ia menunjukkan giginya putihnya dengan ginsul di sebelah kanan. Tapi justru membuat senyumnya semakin terlihat manis. Untung saja tidak ada semut di sini. Jika tidak, ustaz sudah bentol-bentol dikerubungi semut.

Beberapa saat kemudian, Ustaz Abhizar kembali menghampiri kami, saat seorang wanita berhijab syar'i datang dengan gegas langkahnya. Meskipun tak beriringan, mereka berdua datang menghampiri kami.

Batinku bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu? Tubuh semampainya berbalut gamis satin berwarna merah muda, kulitnya putih berseri, khimarnya berkibar-kibar saat tertiup angin.

"Nah, kalian bisa belajar dengan Ustazah Mariya Aziza. Dia ini dosen Tarbiyah. Ustazah Mariya akan membantu kalian untuk mendalami ilmu agama." Ustaz Abhizar tersenyum lebar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

Yah, penonton kecewa, deh.

"Loh, kok bukan ustaz yang ngajarin kami?" tanya Batrisyia.

"Seorang akhwat tentu belajarnya dengan ustazah dan Kalau ikhwan baru akan belajar dengan saya."

Kami berdua manggut-manggut rada sedikit kecewa. Kami mengulurkan tangan pada Ustazah Mariya, lantas memperkenalkan diri. Ia menyambut dengan hangat.

"Nah, kira-kira sudah paham, 'kan? Ada yang mau ditanyakan sebelum saya mengajar kuliah?" tanya Ustaz Abhizar sambil melirik jam di tangan.

"Ada, Taz! Kriteria calon istri dalam Islam itu seperti apa, Taz?" tanyaku.

"Wanita itu dinikahi berdasarkan empat perkara, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, kriteria yang paling utama adalah agamanya," jawab ustaz.

"Kalau kriteria istri idaman Ustaz Abhizar seperti apa?" tanyaku dengan pipi yang rasanya memanas.

"Pepet terooos," bisik Lunara yang semakin membuat jantungku berdegup kencang.

"Jawab, dong, Taz! Saya juga pengen tau," timpal Batrisyia.

Ustaz Abhizar berdehem. "Saya pikir saya sudah menjawab pertanyaan itu tadi. Meskipun dasar agama disebutkan paling akhir. Tentu agamanya adalah pilihan utama. Seorang wanita salihah yang taat kepada Tuhannya, rasulnya, mematuhi perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Sesimpel itu."

Sesimpel itu, kata Ustaz Abhizar, tetapi tak sesimpel itu bagiku.

Saat aku menoleh ke arah Ustazah Mariya, aku menangkap wajah putihnya bersemu merah. 

Apa jangan-jangan? Bukankah kata Lunara, Ustaz Abhizar masih lajang di usianya yang baru saja menginjak tiga puluh tahun?

Aku memperhatikan pantulan bayanganku di kaca jendela hitam masjid. Gadis bertubuh tinggi dengan khimar instan cukup berantakan. Terlihat kontras dengan Ustazah Mariya yang anggun dengan khimar syar'i-nya.

Bukankah barusan Ustaz Abhizar mengatakan kriteria calon istrinya adalah wanita salihah yang taat agama? Hal itu terpampang nyata ada di hadapannya saat ini. Bukan aku tentunya.

Tiba-tiba saja hatiku rasanya meluruh. Impian khitbah itu hanya seperti bayang-bayang mimpi yang tak dapat kuraih. Haruskah kusudahi saja sampai di sini niat untuk mengejar khitbah sang ustaz? []