Bab 3: Pertaruhan Gengsi

USTAZ, NIKAH YUK!
(The Amazing Love)

Bab 3

Pertaruhan Gengsi

Hati siapa yang tak hancur berkeping-keping saat melepas kepergian Ibu ke pangkuan Sang Khaliq. Rasanya seperti separuh nyawa ikut terbang melayang. Bagaimana aku hidup, jika harus kehilangan Ayah, separuh nyawaku yang lain.

"Ayah enggak boleh tinggalin Leen sendirian. Ayah harus sehat-sehat terus. Leen enggak akan sanggup hidup tanpa Ayah."

Mataku terasa perih, bulir bening itu pun luruh, menetes satu per satu. Lantas, tangan keriput Ayah mengusap pucuk kepalaku lembut. Matanya tampak berkaca-kaca, menyiratkan kalau hatinya ikut teriris saat melihat anaknya terluka.

"Setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, Nak. Tanpa menunggu kita siap atau tidak. Tinggal kita yang harus mempersiapkan bekal amal untuk kembali ke kampung akhirat."

Ayah tampak mengerjap-ngerjap, lalu mendongak, seperti ingin mencegah manik hitamnya itu berembun. "Sudah! Jangan menangis lagi. Ayah tidak suka melihat kamu sedih," imbuhnya, lantas mengalihkan pandangan ke arah televisi yang menyala. Tangan kirinya meraup seluruh wajah, menyeka sudut matanya yang mulai basah.

Aku menyusut air mata di pelupuk, lalu berkata, "Leen enggak apa-apa kok, Yah. Leen enggak sedih." Kupaksakan diri untuk melengkungkan senyuman di pinggir bibir.

"Kalau bukan sedih, lalu kenapa kamu menangis?"

"Leen lagi nahan laper, Yah."

Senyuman Ayah tampak tersimpul. "Mari kita sarapan!" ajaknya.

Aku harus sampai di kampus jam delapan. Secepat kilat kuhabiskan sarapan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Mbok Inah. Kucium punggung tangan Ayah, lantas pamit.

Mesin motor gede matic hitam 530 cc di teras sepertinya sudah cukup panas. Deru suaranya semakin mengecil saat kubiarkan menyala lima menit lalu. Setelah selesai menyarungkan sepatu sneakers, kusambar jaket kulit serta helm yang tergantung di bagian depan motor, lantas mengenakannya.

"Ayo, Tmax ganteng! Kita berangkat ke kampus," seruku pada motor kesayangan. Sebuah skuter matic dengan teknologi pada sistem dan mesin yang diadaptasi dari tipe kendaraan untuk balap di ajang MotoGP.

Motor skuter melesat melewati jalan protokol kota. Gedung-gedung publik seperti perkantoran, rumah sakit, mal, hotel berdesain minimalis modern berjejer rapi di sepanjang jalan. 

Sepagi ini suasana lumayan macet saat ada perbaikan drainase. Kepala-kepala pekerja berhelm kuning menyembul dari ceruk-ceruk yang digali semakin dalam itu. Beberapa palang menghalang di pinggir jalan. Kendaraan seperti berdesak-desakan. Kepulan-kepulan asap yang keluar dari kenalpot membumbung di udara. Berbau amis dan lumayan membuat sesak. Suara klakson pun menggema bersahut-sahutan.

Awalnya aku merasa kebingungan, tetapi rintangan seperti ini tak lantas membuatku berbalik arah. Dengan sabar kususuri jalan yang menyempit.

Dalam waktu setengah jam, akhirnya aku sampai di kampus Universitas Islam Riau. Baru saja kuparkirkan motor di pelataran, seorang gadis memakai khimar model gantung diri muncul di hadapan. Maksudku, ia melilitkan ujung selendangnya ke leher rapat-rapat. Kaos ketatnya membentuk tubuh sintalnya. Tak seperti Lunara dengan khimar terulur menutupi dada. Menurutku, itu persis seperti orang mau gantung diri. Entah ia dapat bernapas lega dengan penutup kepala seperti itu.

Gadis bertubuh langsing itu bernama Genoveva, seorang mahasiswi tingkat akhir Fakultas Hukum. Setingkat dengan kami, geng BaPalu. Seperti namanya yang berarti ratu, Miss Kampus itu sok paling sempurna. Salah satu kebiasaan buruknya adalah mengejek BaPaLu sebagai geng lesbiola. Dasar julid!

Lantaran ejekan Miss Kampus itu, Lunara berencana melepas masa lajang. Baru minggu kemarin ia memutuskan untuk menerima perjodohan dari orang tuanya, lantas menetapkan tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan setelah lulus wisuda nanti. Gadis bertubuh mungil itu memang beruntung, memiliki wajah cantik dan penampilan menarik. Sehingga banyak lamaran yang datang padanya. Tak sepertiku yang lebih mirip seperti seekor itik, ber-body tiang listrik.

"Hei Paul, ditungu-tunggu baru muncul," sapa Genoveva, si Miss Kampus dengan nada sinis.

Mau tahu kenapa ia dipanggil sebagai Miss Kampus? Jadi begini, Genoveva itu pernah memenangkan kontes kecantikan yang diadakan oleh BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa kampus. Ya, orangnya cantik memang, tetapi sayang, terkadang ucapannya tak secantik penampilannya.

"Kenapa? Kangen, ya? Sampai main ke Fakultas Teknik segala," cecarku seraya melepaskan helm.

"Ge-er kamu. Aku cuma mau ngeliat pertunjukan gratis. Itung-itung buat hiburan. Katanya kamu ngajakin Ustaz Abhizar menikah di masjid kampus. Nggak salah, tuh? Mahasiswi tomboi kayak kamu ngelamar Dekan Fakultas Agama Islam? Kamu masih waras, 'kan? Hahaha!"

Miss Kampus itu seperti sengaja mengeraskan suaranya. Hingga para mahasiswa yang sedang duduk-duduk di sekitar parkiran sontak melirik padaku dan ikut tertawa.

"Kamu tahu dari mana, Va?" tanyaku dengan nada kesal.

"Semua orang sudah tau, Paul. Beritanya sudah menyebar ke seluruh kampus. Kalian mengadakan kontes mengejar khitbah sang ustaz. Bahkan ada yang nyetatus di akun sosmed." Gadis berkulit putih itu berdecak panjang seraya menggeleng tanda mengejek.

Wajahku rasanya memanas. Entah seperti apa rupaku sekarang. Mungkin, sudah merah seperti badut lantaran malu.
"Lalu, apa salahnya?" Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku merasa bingung.

Dari kejauhan Lunara tampak datang dengan tergopoh. Aku melambaikan tangan padanya. Ia membalas. Lalu, aku kembali melirik Genoveva.

"Jangan mimpi, deh, Paul! Kamu nggak ada pantes-pantesnya buat Ustaz Abhizar. Mana mungkin ustaz mau sama cewek kayak kamu. Udah! nyerah aja! Dan akui kalau kamu itu cewek nggak normal, Paul!" seru Genoveva, si Miss Kampus itu.

Itu mulut apa comberan, sih? Kayak nggak pernah makan bangku kuliah aja. Coba cocol dulu bangkunya sama sambel, biar bisa kamu makan. Dasar Miss Kampus julid! Tentu saja kata-kata itu tak kulontarkan.

"Heh, Miss Julid, eh maksudnya Miss Kampus. Selagi Ustaz Abhizar belum mengkhitbah siapa pun, kesempatan bagi siapa saja terbuka lebar. Pauleen akan buktikan sama kamu, kalau dia ini pantas untuk Ustaz Abhizar. Ya 'kan, Paul?" Lunara angkat bicara saat mendengar ucapan Genoveva.

Tak kujawab pertanyaan gadis berkhimar itu. Aku sendiri masih merasa bimbang.

"Hahaha pungguk merindukan bulan! Nggak mungkin cewek model tiang listrik begini bisa mendapatkan Ustaz Abhizar. Kalau aku, baru bisa, secara aku ini pemenang kontes kecantikan Miss Kampus," tuturnya menyombongkan diri.

Lantaran terpancing, spontan aku menjawab si Miss Kampus itu.

"Ish, aku juga bisa memenangkan kontes mengejar khitbah sang ustaz! Aku akan mendapatkan Ustaz Abhizar. Kalau enggak, namaku bukan Pauleen Gaitha Clemira. Camkan itu!" Suaraku yang lantang sontak membuat semua mata memandang.

Lunara lantas bertepuk tangan, perlahan melambat saat ia sadar menjadi pusat perhatian. Gadis bergamis hitam itu menggigit bibir bawahnya.

"Oke, aku ingin lihat kekalahan kamu, Paul. Pasti lucu banget saat nanti kamu ditolak sama ustaz," katanya sambil terkekeh-kekeh, lalu ia pergi meninggalkan Fakultas Teknik.

Tubuhku mulai terasa bergetar, lantas terhenyak di lantai pelataran kampus. Baru tersadar kalau lidah ini telah berucap tanpa berpikir panjang. Berjanji akan memenangkan hati ustaz yang seperti tak ada cela itu. Mimpi!

"Paul, anti baik-baik aja?" tanya Lunara terlihat khawatir.

"Masa aku yang duluan ngejar-ngejar si ustaz. Aku, kan, perempuan, Lun. Mana aku udah janji di depan Miss Kampus lagi," sahutku seraya menunduk semakin dalam.

Lunara perlahan berjongkok, lalu memegang kedua bahuku. Aku mendongak, menatapnya lekat.

"Nggak masalah mengejar khitbahnya seorang pria yang memang pantas untuk diperjuangkan. Sayyidah Khadijah Radiallahu Anha, istrinya Rasulullah SAW dulu juga melamar kanjeng Nabi duluan." Lunara berusaha untuk menghiburku.

"Ya kali, nyamain aku dengan Sayyidah Khadijah Radiallahu Anha. Aku, kan, hanya gadis biasa. Benar kata Miss Kampus, aku enggak pantas buat Ustaz Abhizar. Dia itu ustaz, Lun. Dekan Fakultas Agama Islam lagi. Bukan pria biasa." Kuhela napas dalam-dalam.

"Jangan menyerah, Paul. Anti bisa belajar untuk memantaskan diri agar dapat dikhitbah oleh Ustaz Abhizar. Apa pun rintangan yang menghadang, harus anti hadapi." Lunara tetap saja menyemangatiku.

"Gimana caranya?" tanyaku dengan dahi mengernyit.

"Nanti, deh, ane kasih tau, kita masuk kelas dulu, Yuk!" ajak Lunara seraya menarik lenganku. []