Bab 2: Apakah Ini Cinta?
USTAZ, NIKAH YUK!
(The Amazing Love)

Bab 1
Apakah Ini Cinta?

Deringan jam beker melesak di telinga. Kelopak mata terasa berat untuk kukerjap. Tak seperti biasa, tadi malam, aku mulai menyetel pegas alarm di angka lima.

Azan subuh terdengar sayup berkumandang. Jarak musala dari rumah sekitar lima puluh meter. Lumayan dekat, tetapi seruan panggilan muazin itu seakan-akan tak dapat mengganggu tidurku, hingga bantuan alarm diperlukan.

Setelah mematikan beker, aku bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas menuju kamar mandi. Cuaca panas kota Pekanbaru membuat pagi di musim kemarau tak terlalu dingin. Aku langsung membersihkan diri, sekalian mengambil wudu. Lantas, melaksanakan salat Subuh.

Usai salat dan melipat mukena, aku kembali duduk di pinggir ranjang. Tak ada lantunan doa dalam bahasa Arab terapal, lantaran tak ada satu pun yang hafal.

Sejenak aku berpikir, ini, kan, enggak lagi di depan Ustaz Abhizar, kok, aku mau pura-pura salihah?

Tunggu-tunggu, ini bukanlah sebuah kepura-puraan. Aku melakukan semuanya tanpa paksaan. Ada rasa aneh yang perlahan menelusup di dalam jiwa.

Setiap kali teringat pertemuan pertama dengan Ustaz Abhizar, wajahku rasanya memanas. Ada hawa hangat yang mengalir di sekujur tubuh, hingga dada berdesir-desir hebat. Malunya masih terasa sampai detik ini. Sudah seminggu berlalu, aku belum juga pergi ke kampus. Sehari setelah kejadian itu, aku diberi jatah demam. Mungkin malarindu.

Entah apa sebabnya, wajah bak malaikat itu selalu tercetak di dalam benak. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Aku pikir, itu hanyalah cerita di dalam novel belaka. Mungkin, hal yang kurasakan ini hanya sekedar penasaran pada sang ustaz. Sosok yang begitu dingin, tetapi dikagumi banyak orang. Entahlah. Jika rasa yang mulai meraja ini sekadar kagum, lantas kenapa, kian detik rasa itu semakin kuat menjerat, bertabur rindu menyayat.

Tiba-tiba ponsel di nakas terdengar berdenting. Nadanya menandakan ada sebuah pesan masuk. Lantas, kuraih benda pipih itu.

[Assalamualaikum, Gaess, calon-calon 
kandidat istrinya Ustaz Abhizar. 
Sudah pada salat Subuh, belum?]


Sepagi ini Lunara sudah melakukan inspeksi di grup trio BaPaLu.

[Waalaikum salam. Udah, Ustazah.]


[Dih, Ukhti Pauleen Gaitha Clemira, 
ane bukan ustazah.]


[Sekarang kamu udah kayak ustazah aja, 
Lunara Prisha. Padahal baru sebulan 
ikut pengajian. Bagus, sih. Aku seneng 
ngeliat perubahan kamu. Seratus delapan 
puluh derajat berbeda dibanding Lunara 
yang kutemui saat ospek empat tahun 
lalu. Dah dapet hidayah, ya, Lun.]


[Alhamdulillah. Allah memberikan 
hidayahnya kepada siapa saja yang Dia 
kehendaki. Datangnya bukan saat ane 
menunggu, tapi saat ane mencari hidayah 
itu sendiri, Paul. Masalah iman, Allah 
nggak akan intervensi.]


Ada yang berdetak di dalam dada. Lalu, bagaimana denganku? Apa aku pernah mencari hidayah itu? Sampai detik ini, aku masih begini-begini saja.

Aku sadar diri, kalau aku ini bukan seorang wanita salihah seperti para akhwat berkhimar lebar. Aku juga bukan calon istri idaman berpenampilan menawan. Lantas, bagaimana aku akan mengejar khitbahnya Ustaz Abhizar?

Sampai usiaku yang kedua puluh satu tahun ini, belum pernah sekali pun aku memiliki hubungan khusus dengan teman pria. Selain aku fokus dengan pendidikan, tak ada juga yang berani datang mendekat. Mungkin, lantaran penampilanku yang tak jauh berbeda dengan mereka. Rambut cepak, kulit cokelat akibat terbakar sinar matahari, aslinya, sih, kuning langsat, dan wajahku tak pernah tersentuh benda keramat bernama make-up.

Suara dentingan ponsel kembali mengalihkan perhatianku. Masih pesan chatting WA dari Lunara.


[By the way, Batrisyia Ereshva mana, nih?]


[Paling masih molor. Dia, kan, putri tidur.]


Dalam sepersekian detik, langsung ada pesan balasan. Lantas, kubaca.


[Woi, enak aja! Gue udah bangun. 
Nyimak kelen sejak tadi. Elu, Paul yang 
biasanya tukang tidur, kagak bisa pisah 
sama kasur.]

Aku mengirimkan tiga biji emoticon tertawa ngakak. Sebab apa yang dikatakan oleh Batrisyia itu benar. Lalu, aku kembali mengetik pesan.


[Ya, gitu, deh. Tempat tidur aja sulit aku 
tinggalin, apalagi si ustaz. 
Aku ini tipe cewek setia, tau!,]

[Setia sama syaiton?] timpal Lunara.

[Ish, apaan, sih, Lun. ]


Kukirim emoticon memutar bola mata ke atas.


[Kalau tidur di pagi hari, lalu 
meninggalkan salat itu karena dikencingi 
syaiton berdasarkan hadits riwayat 
Bukhari. Gitu.]

[Ohmaygat, aku enggak tau.]


[Sekarang, kan, sudah tau, setan menutup 
telinga orang tidur dan nggak mau 
bangun untuk salat, sehingga nggak 
dapat mendengar suara azan. 
Makanya, anak gadis yang cantik jelita, 
ayo, semuanya bangun!]


Lunara menjelaskan pada kami berdua.


[Hari ini, kan, aku udah bangun 
subuh, Lun.]

Aku menegaskan.


[Gadis cantik jelita hadir. Untuk mengejar 
Yayang Abhizar, apapun akan gue 
lakukan, mau bangun subuh, mau bangun 
rumah sama bangun rumah tangga 
sekalian, hayuk, dah.] sela Batrisyia.


[Bucin terooos. Emang si ustaz mau sama 
kamu, Bat?] tanyaku diiringi emoticon menjulurkan lidah.


[Kalo dia kagak mau sama gue, itu 
hanyalah jodoh yang tertunda, jodoh 
kagak ke mana-mana.]

[Iya juga, jodoh enggak kemana, tapi 
saingan di mana-mana.]


Emoticon tawa ngakak guling-guling pun bertebaran di layar grup WA.


[Segala sesuatu itu diciptakan Allah 
berpasang-pasangan. Itu janji Allah, 
dan janji-Nya nggak teringkari. 
Jadi, tetap semangat, Gaess!]

Ah, pesan Lunara memang selalu menyejukkan jiwa.


[Ashiaaap.]

[Tarik, Sis! Semongko!]


[Anti jadi ke kampus hari ini, Paul? 
Sudah turun panasnya, 'kan?] tanya Lunara.


[Jadi, iya, udah agak lumayan rasanya. 
Pagi ada kelas Mekanika Teknik dan 
nanti siang jadwal konsultasi Tugas 
Akhir ke dosen pembimbing.]


[Yo wes, ketemuan di kampus, ya!]

[Wokeh!]


Usai berbincang dengan teman-teman di grup WA, aku bergegas untuk bersiap-siap pergi ke kampus.

Segera kuganti piyama dengan baju kebangsaan, kemeja kotak-kotak lengan panjang dan celana jeans gombrang. Lalu, aku menyambar tas ransel hitam di meja belajar. Tanpa mematut diri di cermin, kusisir rambut yang panjangnya hanya sebatas telinga.

Saat menuruni anak tangga, kudapati Ayah sedang duduk tepekur di ruang tengah. Layar televisi menyala, menampilkan berita CNN Indonesia Good Morning. Melihat dari pakaiannya yang biasa saja, kaos oblong dan celana pendek, sepertinya Ayah akan berangkat ke kantor agak siang.

Ayah berprofesi sebagai seorang kontraktor. Jika sedang banyak proyek, maka ia akan sangat sibuk. Bahkan aku sulit menemuinya. Jika tidak, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah bersamaku.

"Leen," panggil Ayah dengan suara berat.

Leen adalah panggilan kesayangan Ayah padaku. Ada doa di tiap nama yang dipilihkan orang tua. Pauleen Gaitha Clemira. Pauleen itu cerdas, Gaitha artinya cantik, beruntung, dan Clemira artinya putri yang cemerlang.

"Iya, Yah?" tanyaku.

"Mau berangkat ke kampus?"

"Hu'um, Yah."

"Duduk dulu sebentar sini, ayah mau berbincang dengan kamu."

"Baik, Yah."

Aku segera duduk di samping Ayah. Kuletakkan tas ransel di meja kaca yang ada di depan.

Ayah menatapku dengan sorot mata tenang. "Leen, sebentar lagi kamu lulus kuliah. Jadi, kapan mau menikah?"

Tahu rasanya menjadi jomlo akut, lantas orang-orang bertanya, kapan menikah? Rasanya melelahkan.

"Belum ada calonnya, Yah," jawabku seadanya.

"Ayah carikan, ya. Anak bujang teman-teman ayah banyak yang masih lajang. Dan sebenarnya ayah sempat berbicara dengan salah satu kawan lama untuk menjalin hubungan baik dengannya."

Ucapan Ayah membuat dahiku mengernyit, lantas aku mengambil sebuah kesimpulan.

"Menjalin hubungan baik itu maksudnya perjodohan, Yah?" tanyaku untuk memastikan.

"Bisa dibilang demikian," jawab Ayah datar.

"Ayah apaan, sih. Sekarang bukan era Siti Nurbaya, Yah. Perjodohan itu udah enggak zamannya lagi buat anak milenial," rajukku padanya.

Ayah mengangkat kedua bahunya. "Kalau tidak mau ayah jodohkan, ya, bawa calonmu ke rumah. Perkenalkan kepada ayah. Jika menjelang wisuda kamu belum juga punya calon pasangan hidup. Maka, kamu harus bersedia menerima calon suami rekomendasi dari ayah."

"Leen masih muda, Yah. Belum siap untuk menikah."

Entah kenapa, rasanya aku begitu takut jika dijodohkan. Bagaimana jika suatu saat aku tak bahagia, apakah aku ikhlas untuk tak menyalahkan perjodohan itu? Jika aku memilih pasanganku sendiri, maka tak ada alasan untuk menyalahkan orang lain, melainkan diriku sendiri.

Terdengar helaan napas berat dari Ayah. Lalu ia berkata, "Umur sampai di mana tidak ada yang tahu, Leen. Kamu seorang anak tunggal. Ibumu juga sudah lama berpulang. Jika ayah dipanggil dalam waktu dekat. Siapa yang akan menjaga kamu?"

"Ayah jangan ngomong kayak gitu, dong. Ayah enggak boleh tinggalin Leen sendirian. Ayah harus sehat-sehat terus. Leen enggak akan sanggup hidup tanpa Ayah."

Kata-kata Ayah tiba-tiba saja membuat dadaku terasa sesak, genangan basah di mata keluar mendesak. Tanpa sadar aku pun terisak. []