Bab 1: Kontes Mengejar Khitbah

Ustaz, Nikah Yuk!

(The Amazing Love)


Bab 1
Kontes Mengejar Khitbah


Bola mataku membulat sempurna kala menatap gadis berkerudung instan itu. Tanpa aba-aba, ia mengumumkan sebuah kontes. Bukan kompetisi ajang kecantikan, pertandingan olahraga, tarung tulis atau lomba makan kerupuk. Melainkan, sebuah kontes mengejar cinta seorang ustaz kondang, se-kampus Universitas Islam Riau.

"Baiklah, kontes mengejar khitbah sang ustaz resmi dibuka!" seru gadis bersuara lembut itu sembari menggunting tali rafia merah, yang terbentang di antara dua batang pohon Akasia di depan Fakultas Teknik.

Hening. Hanya terdengar kicau burung layang-layang yang bertengger di sela reranting.

"Gaess! Tepuk tangan kek, nyanyi kek, atau bikin kerusuhan. Kok, ane dicuekin?" Gadis bernama Lunara itu mengerucutkan bibir. Raut wajahnya terlihat kecewa.

Lantas, aku bertepuk tangan dengan rasa malas, hanya untuk membuat hati temanku itu merasa senang. Sementara temanku satu lagi, bersorak-sorai seraya menggoyangkan tangan ke udara, bak cheerleaders tersetrum.

"Paul! Ayo, semangat! Persiapkan diri anti! Jangan sampai geng kita ini, geng bapaklu, eh lidah ane keseleo. Maksudnya, geng BaPaLu alias Batrisyia, Pauleen, dan Lunara dikatain sebagai geng lesbiola sama si Miss Kampus." Lunara mengguncang bahuku pelan.

"Enggak banget, deh, pake acara kontes-kontesan kayak gini." Aku mencebik.

"Ini tuh kontes teranyar. Jadi, jangan sampai dilewatkan! Sebab kontes ini diikuti oleh peserta-peserta terbaik se-Fakultas Teknik." Lunara mengacungkan jempolnya.

Aku dan Batrisyia saling melempar pandang, melorotkan bibir, lalu terkekeh-kekeh.

"Cuma kita berdua, kok. Enggak usah lebay!" Aku menggelitik pinggang Lunara, dengan gesit ia menghindar.

"Ah, kalau gue, sih, iyes. Ustaz Abhizar itu cakep pake banget," celetuk gadis berambut burgundy panjang yang duduk di sampingku. 

"Heleh, semua orang kamu bilang ganteng. Tukang jual cilok yang kemarin lewat, dibilang ganteng juga. Pake kacamata dulu, gih!" sindirku sembari mengibaskan tangan.

"Kalau yang satu ini kagak butuh kacamata, Paul. Dekan Fakultas Agama Islam itu asli guanteng banget. Mix lokal. Ada turunan Pakistannya. Kalau lu kagak naksir sama cowok satu entu. Fix, lu kagak normal!" jelas Batrisyia dengan semangat berapi-api.

"Ish, enak aja ngatain aku enggak normal. Udah kayak Miss Kampus yang julid itu aja kamu, Bat."

Aku jadi penasaran, seperti apa sosok ustaz yang selalu dibicarakan oleh mahasiswa kampus? Tak hanya di Fakultas Agama Islam. Bahkan santer terdengar sampai ke Fakultas Teknik.

"Ayo, lihat dulu orangnya!" Lunara menarik tanganku setengah memaksa. Aku pun berdiri. Lantas, menepuk-nepuk celana jeans gombrangku, menyingkirkan rerumputan kering yang menempel.

"Mau ke mana?" tanyaku sambil mengerutkan dahi.

"Ikut aja, deh, Paul! Yuk, Bat!" Tangan kiri Lunara menarik lengan Batrisyia, gegas ia berdiri, lantas mengenakan sepatu sendalnya yang tadi ia lepas.

Kami bertiga berjalan beriringan di jalan aspal lingkungan kampus yang dikenal dengan sebutan Green Campus of Riau ini. Sepanjang mata memandang berwarna hijau, mulai dari pepohonan hingga warna cat dinding bangunan. Udaranya beraroma segar khas hutan. Sesekali terdengar tawa renyah atas sahutan banyolan-banyolan receh dari teman-teman.

Hanya dalam hitungan dua menit, kami tiba di depan sebuah bangunan berkubah putih. Kuhenyakkan bokong di lantai tangga teras, melepaskan sepatu sneakers abu-abuku, lantas masuk ke masjid Al Munawwarah itu. Hawa dingin perlahan terasa. Kuedarkan pandangan, tampak para mahasiswa duduk bershaf-shaf memakai penutup kepala.

"Siang ini jadwal pengajian HMI, Himpunan Mahasiswa Islam yang diisi oleh Doktor Abhizar Ezzah Syairazy, Lisence, Magister Agama atau lebih akrab dipanggil Ustaz Abhizar," kata Lunara sebelum aku menanyakannya. Semenjak hijrah sebulan lalu, ia acap mengajak kami untuk mengikuti pengajian.

"Yang mana orangnya?" tanyaku penasaran sambil memindai bagian depan masjid.

"Itu, yang duduk di depan paling tengah, lagi ngasih ceramah," jawab Lunara.

Kuikuti arah telunjuk Lunara. Posisinya tepat lurus sepuluh meter dari hadapanku. Kunaikkan tungkai sedikit, agar lebih tinggi dari kepala-kepala ber-khimar yang ada di depan. Barulah terlihat jelas pria yang duduk di bagian tengah, di antara puluhan mahasiswa. Ia memakai baju kemeja biru, peci rajut navy, serta kulot hitam. Jam tangan mewah berbahan metal melingkar di tangan kirinya. Kuperhatikan bagian wajah. Alisnya tebal, hidungnya mancung, rahangnya tegas. Janggut tipisnya menambah kesempurnaan wajahnya.

"Ohmaygat, itu orang apa malaikat, Lun? Cakep amat," celetukku tanpa sadar, dadaku pun berdebar.

"Tuh, kan, cakep. Kamu suka, 'kan?" tanya Lunara.

"Ish, enggak!" Aku menggeleng sambil mencebik.

Padahal, sih, di dalam hati enggak nolak, Lun. Cakepnya kayak bintang filem Indihe acha-acha tum meri jahe. Lantaran gengsi, lidahku malah mengatakan enggak.

Sang ustaz memberikan uraian kajian dengan sangat berwibawa, bahasanya ringan, tetapi seperti merasuk ke dalam sukma. Ia menjelaskan tentang pentingnya amalan sedekah. Selain mendapat pahala dan membersihkan diri dari dosa, bersedekah juga akan mendatangkan rezeki yang berlimpah, memberi ketenangan hati, terhindar dari marabahaya, terbebas dari siksa kubur, menyembuhkan penyakit, serta mendapatkan naungan di hari akhir. Tentu saja jika dilakukan dengan ikhlas dan niat yang baik.

Aku manggut-manggut saat mendengarkan penjelasan sang ustaz.

"Ngeliatinnya jangan begitu, Paul. Nafsu amat sama si ustaz. Sampai ileran tuh. Bok ya, tundukkan pandangan," tegur Lunara mengingatkan.

"Ohmaygat." Mukaku rasanya memanas. Saat yang lain menundukkan kepala, mungkin sesekali mengintip sang ustaz dari ekor mata, aku justru menatapnya tanpa berkedip. Apakah dia itu seorang penyihir? Sepertinya hati ini telah tersihir oleh ketampanan sang ustaz.

Selang setengah jam, acara pengajian usai. Satu per satu mahasiswa meninggalkan masjid. Sang ustaz tampak melangkah menuju ke ambang pintu.

"Tuh, target sudah mau keluar. Cepetan kita kenalan sama doi, yuk!" ajak Batrisyia.

"Dih, agresif amat, masa kita cewek yang minta kenalan duluan," tolakku sambil menggeliat agar Batrisyia mengurai genggamannya dari lenganku.

"Bilang aja kamu takut, Paul!" tantangnya.

"Eh, aku mana pernah takut. Aku ini mahasiswi Teknik yang paling pemberani sakti mandraguna! Sabuk hitam taekwondo, tambah lagi aku seorang anak Mapala, sekian hutan, gunung serta perbukitan telah aku taklukkan. Enggak ada wahasiswi lain yang mengalahkan catatan rekor keberanianku," belaku sambil berkacak pinggang. Sementara Batrisyia tampak memutar bola matanya ke atas. Iri bilang, Bos!

"Ya, ayo kalau gitu, kita hampiri si ustaz ganteng itu." Batrisyia menarik lenganku, setengah menyeret.

Dengan langkah ragu-ragu aku mengekori Batrisyia dari belakang. Sampai di depan sang ustaz, Batrisyia langsung mengibaskan rambut panjangnya. Bergaya sok cantik. Memang cantik, sih. Hanya saja, penampilannya agak tomboi. Ia memakai kemeja bergaris serta celana jeans. Tak jauh beda denganku.

"Assalamualaikum, Ustaz." Suara Batrisyia terdengar dilembut-lembutkan ala Syahrini. Biasanya seperti geledek.

"Waalaikum salam," jawab sang ustaz. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil menyarungkan sepatu hitam dengan ikatan tali terbuka, model smart casual.

"Ini, Taz, Ada yang mau kenalan. Ayo, Paul, kenalan! Mumpung ustaz lagi ada di sini."

Yaelah, si Batrisyia malah jadiin aku tumbal, aku merutuk di dalam hati.

Sang ustaz mengalihkan pandangan ke arahku. Manik abu-abu itu berkilau laksana berlian yang menyilaukan. 

"Ohmaygat." Kenapa lututku terasa tak bertulang. Lemas. Sementara Batrisyia menatap nyalang dengan menaikkan sebelah alisnya yang tipis. Seperti menunggu untuk membuktikan ucapanku tadi.

Entah kenapa, seperti ada yang menyumbat tenggorokan, hingga tak ada kata yang keluar. Lututku semakin gemetaran. Tangan pun mulai terasa dingin oleh basahnya keringat. Akhirnya, aku membalikkan badan. Belum sempat kakiku melangkah, tangan Batrisyia mendekap hingga aku tak bisa kabur dari sini.

"Gaya doang, katanya pemberani sakti mandraguna. Baru segitu aja takut. Dasar cemen lu," bisik Batrisyia dengan nada mengejak.

Sontak dadaku naik turun mendengarnya. "Dih, aku enggak cemen!"

"Buktikan!" tantang Batrisyia seraya melepaskan dekapannya.

Aku membalikkan badan sambil mendengkus kasar.

"Ayo, lekas sana kenalan sama ustaz, sebelum dia pergi," seru Batrisyia, lantas mendorong tubuhku dari belakang.

Daripada harga diriku jatuh di depan Batrisyia, lebih baik kuberanikan diri untuk berkenalan dengan ustaz ganteng itu. Tak ada ruginya juga. Perlahan aku mendekat ke arahnya. Saat posisi kami hanya berjarak satu meter, aku dapat mencium aroma maskulin pria bertubuh tinggi itu yang tertiup angin. Oh, Tuhan, apakah seperti ini namanya angin syurga?

Aku berdehem. Ustaz yang sedang melirik jam tangannya itu mendongak ke arahku. Degup jantungku berdetak sangat cepat.

"Ustaz! Nikah, yuk!" teriakku kencang.

Pria berjanggut tipis itu menatapku tanpa ekspresi. Datar seperti papan talenan. Sorot matanya sulit untuk kuartikan.

Waktu seperti terhenti. Orang-orang di sekitar mematung menatapku. Aku menggaruk kepala. Bukan gatal, tetapi refleks lantaran merasa bingung. Kualihkan pandangan pada Lunara yang terlihat terngaga lebar. Apa salahku?

"Woi! Main langsung-langsung aja! Pakai salam, dong, kenalan dulu. Masa kagak ada angin, kagak ada hujan, tetiba ngajak nikah. Dasar lu, Paul. Yang agresif itu gue apa elu?!" Batrisyia tertawa terpingkal-pingkal.

"Habisnya grogi banget, Bat. Otakku tetiba nge-blank. Mau bilang kenalan, yuk! Malah jadinya nikah, yuk! Gimana, dong?" ujarku dengan memelankan suara serta merapatkan gigi.

"Anti kebelet nikah kayaknya, nih. Sampai pas nge-blank malah langsung ngajakin ustaz Abhizar nikah," timpal Lunara sambil tersenyum.

"Ohmaygat, mau ditaruh di mana mukaku ini. Malu!"

Aku beringsut ke punggung Lunara, lalu menenggelamkan wajah di balik khimarnya. []