Bab 5: Surat Cinta

USTAZ, NIKAH YUK!
(The Amazing Love)

Bab 5

Surat cinta

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju ke kamar kecil, tak kupedulikan mata-mata yang memandang dan suara yang memanggil.

Dadaku rasanya bergemuruh. Tanganku mulai dibasahi peluh. Kutekan kunci di kenop pintu, lantas tubuhku merosot ke pinggir bak air. Susah payah aku mengatur napas kembali.

Diam-diam, benih harapan tumbuh perlahan, melahirkan kuncup-kuncup rindu, merekahkan bunga-bunga cinta. Kutitipkan sebersit cita-cita pada Sang Maha Cinta, untuknya seseorang yang telah merubah arah tujuanku, membawaku ke jalan ridho-Nya. Namun, diri ini sadar, aku hanyalah sebutir debu yang beterbangan di antara kuntum-kuntum bunga. Tak mampu menebar wangi atau memberi warna, padanya sosok pria yang sempurna. Lantas, aku harus apa?

Baru kali ini aku merasakan hal yang berbeda, melihat sosok yang menyejukkan jiwa, seperti Ustaz Abhizar.

"Paul, anti lama amat di toilet. Jangan bilang anti lagi tidur di dalam, ya!" Terdengar suara Lunara di luar sedang menggedor pintu toilet.

"Iya, bentar!"

Air berkecipak keras saat aku mempercepat gerakan untuk membasuh wajah. Lantas, segera keluar menemui Lunara.

"Misi pertama kayaknya gagal, nih. Niat mau dapet perhatian dari ustaz, malah jadi memalukan seperti ini," gumamku seraya mengeringkan wajah dengan tisu.

"Nggak apa-apa, Ustaz Abhizar nggak ada ngetawain juga 'kan?" Lunara mengusap bahuku lembut.

"Iya, tapi gimana ustaz mau sama aku, kalau aku cuma bisa melakukan hal-hal yang memalukan," lirihku.

"Tiap orang pernah melakukan kesalahan, dan dari kesalahan itulah kita bisa belajar mengambil hikmah. Ayo! Tetap semangat memperbaiki diri!"

Aku langsung memeluk sahabat terbaikku itu. Batrisyia yang baru datang langsung ikut berpelukan. Persis seperti Teletubbies.

"Terus kita mau ngapain, nih, biar bisa mendapatkan perhatian dari ustaz?" tanyaku seraya mengurai rengkuhan.

"Kita bikin surat cinta aja, gimana? Biarpun rada jadul, kan, tetap romantis," usul Batrisyia.

"Oh boleh juga, tuh, idenya. Boleh apa enggak, Lun? Entar kita salah lagi." Kualihkan pandangan pada gadis berkhimar lebar itu.

"Boleh, kok. Pernyataan rasa cinta itu diperbolehkan, malah dianjurkan. Asalkaaan, rasa cinta itu berlandaskan rasa cinta karena Allah. Di dalam hadist riwayat Abu Dawud dan Tarmidzi, Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila seorang muslim mencintai saudaranya karena Allah, hendaklah dia memberitahukan kepadanya.'" Lunara menjelaskan dengan lembut.

"Cinta karena Allah itu gimana maksudnya?" tanyaku seraya mengernyit.

"Cinta karena Allah berarti cinta yang penuh keseriusan dalam rangka mengajak menjalin ikatan yang sah di mata agama. Dalam koridor keimanan dan keislaman."

"Oooh gitu. Eh, Lun!" panggilku dengan serius.

"Iya?"

"Aku sayang kamu karena Allah," kataku sambil mengulum senyum.

"Aww sweet, ane juga menyayangi anti karena Allah," sahut Lunara dengan mata berbinar.

"Gue juga, dong, I lope you pull karena Allah." Batrisyia ikut menimpali.

Kami berpelukan kembali. Mahasiswa lain yang kebetulan lewat memandang dengan tatapan aneh, seolah-olah kami bertiga ini adalah makhluk hijau dari planet Mars. Biasa aja lihatnya keles.

Lunara mengingatkan tentang Halaqah yang sudah dimulai. Lantas, kami mempercepat langkah, segera masuk ke dalam masjid. Kami duduk melingkar, untuk lebih mempererat hubungan sesama muslim karena dalam kegiatan tersebut terjadi proses interaksi yang intensif. Akan tetapi, kepalaku hanya tertunduk sepanjang pengajian. Pikiranku masih tak tenang dan bercabang.

Kemilau jingga langit sore perlahan menelusup dari celah-celah jendela. Kulirik jam di dinding masjid. Sudah jam enam sore. Acara pengajian telah usai. Satu per satu mahasiswa keluar meninggalkan masjid. Lalu, kualihkan pandangan pada temanku yang bergamis merah. Siapa lagi kalau bukan Batrisyia.

"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" teriakku kencang di telinga Batrisyia.

Sontak gadis yang terkulai di bahuku itu terbangun.

"Mana? Mana? Air! Air!" Batrisyia memindai ke segala arah dengan panik. Saat ia tersadar tak ada kebakaran, pipinya terlihat menggembung. "Elu, ngerjain gue, Paul!" Batrisyia menoyor kepalaku.

"Kamu, sih. Masa lagi pengajian kamu molor. Dasar putri tidur." Kugelitik pinggangnya, lalu ia menggeliat.

"Putri tidur, kan, cantik, Paul. Jadi, gue tidur lagi, ah."

"Hei, bentar lagi masuk waktu Magrib. Kita harus pulang. Lunara udah duluan tadi. Aku nungguin kamu, malah enggak bangun-bangun, kepaksa deh dibangunin."

Aku bangkit berdiri, lalu menarik tangan Batrisyia. Mau tidak mau gadis berwajah bulat itu mengangkat tubuhnya. Kami pun berjalan keluar bersisian. Saat menoleh ke samping, dapat kulihat bayangan Ustaz Abhizar. Entah aku salah lihat, sepertinya tadi ia menoleh ke arah kami. Sekarang aku hanya bisa melihat punggungnya, lalu bayangannya ditelan silau mentari sore.
****


Setelah makan malam dan salat Isya, aku baru bisa meluruskan punggung. Tubuhku seperti remuk usai beraktivitas seharian. Jemariku mengusap-usap ranjang. Kasur ini terasa benar-benar nyaman.

Saat kelopak mataku mulai berat dan hendak mengatup. Tiba-tiba ponselku berdering. Kuraih benda pipih yang tergolek di kasur. Nama Batrisyia terpampang di layar, lalu kutekan tombol terima.

"Kenapa, Bat?" tanyaku langsung tanpa ba-bi-bu.

"Bro, ternyata bikin surat cinta itu susahnya minta ampun. Mending gue nguras air laut atau ngecat es aja. Biarin tepar, deh, abis itu."

"Idih, kalo enggak bisa nulis surat cinta, bikin puisi aja."

"Nah, apalagi itu. Gue kagak bisalah. Elu bikinin buat gue dong, please, Sayang-gue, Cinta-gue, Negri-gue, Tanah air tumpah darah-gue."

"Ish, kalau ada maunya aja, begitu ngomongnya, dimanis-manisin."

"Please ...." Suara Batrisyia terdengar memelas dan memprihatinkan.

"Iya, iya aku bikinin, bentar ya."

"Makasih, Paul!"

Sambungan telepon pun terputus.

Dengan rasa agak malas, aku bangkit dari tempat tidur, lantas duduk di depan meja belajar. Kuraih selembar kertas putih serta pulpen bertinta biru. Lama aku menggoyangkan alat menulis itu, lalu aku mendesah pelan. Sebenarnya aku sendiri bingung mau menorehkan kata apa. Sebelumnya aku tak pernah menulis surat cinta.

Kuhela napas perlahan, mencoba untuk berkonsentrasi, lalu mulai menggores pena. Untaian kata demi kata mengalir begitu saja. Setelah selesai, surat kulipat, lantas kumasukkan ke dalam amplop. Besok akan kuserahkan surat ini pada Ustaz Abhizar.

Setelah itu, aku mencoba untuk menulis puisi untuk Batrisyia. Sebenarnya, itu adalah ungkapan perasaanku untuk ustaz.

Mahabah Sang Musafir

Duhai pelantun ayat-ayat suci
Penebar dakwah ke penjuru negeri
Tahukah engkau aku di sini menanti
Sebuah khitbah suci di hadapan Ilahi

Mahabah ini telah meraja
Perlahan tumbuh di rongga dada
Sudikah kiranya, mendengar sebuah pinta
Memberi naungan pada hamba
Sang musyafir cinta

Aku tahu aku bukanlah siapa-siapa
Namun, kuingin mendampingimu, sehidup sesyurga

Ohmaygat! Aku sendiri bahkan tak mengerti, bagaimana aku bisa menulis kata-kata bucin seperti itu. Tanpa membuang waktu, kukirimkan bait-bait puisi itu pada Batrisyia melalui pesan WA.
****


Pagi pun tiba. Aku membersihkan diri, salat serta berpakaian rapi. Kali ini, aku memakai foundation dan bedak yang mengandung UV-filter agar terlindung dari sinar matahari. Rasanya sekarang aku jadi ingin merawat diriku sendiri.

Setelah bersiap-siap, aku bergegas turun ke lantai bawah.

"Pagi, Ayah tersayang!" sapaku saat lewat di depan Ayah.

"Leen?" panggil Ayah.

"Iya, Yah?" Aku menoleh ke samping.

"Ini beneran anak ayah? Kamu pakai khimar?" Ayah tampak mendelik, memperhatikan pakaianku dari ujung kepala ke ujung kaki.

"Iyalah, Ini Leen. Memangnya siapa lagi? Leen baru belajar memakai khimar ini, Yah. Kemarin Leen beli beberapa helai busana muslimah," jelasku.

"Masya Allah, cantik sekali. Seperti ibumu," puji Ayah seraya membelai pucuk kepalaku seperti biasa.

"Cantikan Ibu, dong, Yah. Almarhumah enggak tomboi kayak Leen."

"Kata siapa? Kelembutan hatimu persis seperti ibumu."

Ah, pagi-pagi Ayahku tercinta sudah memberikan moodbooster.

Aku dan Ayah sarapan seperti biasa. Setelah itu, aku segera berangkat ke kampus.

****


Sesampainya di kampus, aku menghubungi Batrisyia.

"Kamu di mana? Udah dikasih belum suratnya ke Ustaz Abhizar? Aku nitip, ya?" tanyaku saat Batrisyia menjawab telepon.

"Yah, lu telat. Udah gue kasih tadi. Ustaz Abhizar ada di masjid. Coba lihat ke sini, gih. Kasih sendiri suratnya."

"Oh, ya udah, deh." Aku langsung mematikan sambungan telepon.

Rasanya deg-degan saat akan memberikan surat yang sudah kutulis. Akan tetapi, tekatku sudah bulat. Mengingat janji pada Miss Kampus, Genoveva dan juga memenuhi harapan Ayah yang ingin aku memperkenalkan calon suami padanya.

Sampai di masjid, aku memarkirkan motor, lalu mencari Ustaz Abhizar. Kudapati ia berdiri di teras.  Aku mempercepat langkah, lantas menghampirinya.

"Assalamualaikum, Ustaz."

"Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu, Pauleen?"

Eh, ustaz ingat namaku? Wow, rasanya aku ingin melompat-lompat kegirangan, tetapi aku menahan diri. Ustaz ingat namaku saja, senangnya bukan kepalang. Semoga nanti namaku disebut ustaz saat ijab qabul di pelaminan. Ah, mimpi!

"Taz, ada yang mau aku kasih, nih." Aku langsung menyodorkan surat yang kuikat dengan pita Jepang berwarna merah muda.

"Apa ini?" tanyanya dengan dahi berkerut tanpa mengambil surat itu.

"Ya, ustaz bacalah biar tau isinya apa."

Ustaz Abhizar hanya bergeming.

"Mau aku bacain?" tanyaku.

Ustaz Abhizar masih bergeming. Duh, ustaz ini orang apa robot kehabisan baterai? Dari tadi ia diam saja.

Aku memindai sekilas keadaan sekitar, ingin memastikan tak ada orang lain di sekitar sini. Suasana kurasa sepi. Aku tak sabar ingin tahu respon ustaz, sehingga tak berminat menjenguk ke dalam masjid. Lekas kubuka ikatan pita, lantas membacakan surat itu keras-keras agar Ustaz Abhizar yang berjarak dua meter dariku dapat mendengar.

Kepada Ustaz Abhizar
Yang jauh di mata, tetapi dekat di hati

Assalamualaikum wr wb,
Apa kabar ustaz? Kuharap engkau baik-baik saja dalam dekapan perlindungan Sang Maha Cinta, menuai setiap kepingan berkah yang turun dari surgaloka.

Tak tahu harus memulai dari mana, aku hanya ingin meminta maaf pada ustaz mengenai hari itu, saat tanpa sadar aku melontarkan kata-kata yang kiranya kurang berkenan di hati ustaz, yakni mengajak ustaz menikah. Saat itu, aku begitu grogi, sehingga kata-kata itu terucap tanpa sengaja.

Namun, kian hari berlalu. Ada rasa yang mulai menelusup ke dalam kalbu. Aku tahu, aku tak sebanding dengan Sayyidah Khadijah RA, tetapi aku memiliki sebuah hati tulus dan cinta yang qudus untuk kau genggam. Dan cinta sejati adalah cinta suci yang diikat oleh tali pernikahan yang syah. Untuk itu, melalui surat ini, dengan rendah hati aku ingin tahu apa pendapat ustaz mengenai hal ini.

Mohon maaf atas kelancanganku ini. Sudilah kiranya ustaz memberikan jawaban atas suratku ini.

Salam hormat,

Pauleen Gaitha Clemira

Setelah selesai membacakan surat itu, aku mendongak, mengalihkan pandangan ke sekitar. Lalu, kulihat kepala-kepala berkopiah serta berkhimar satu per satu muncul dari dalam masjid. Sepagi ini mereka sudah berkumpul? Aku pikir tadi tidak ada orang.

Ohmaygat! Ternyata banyak orang. Mana aku bacain surat cinta kayak baca proklamasi kemerdekaan lagi. Rasanya aku mau pingsan! []