Bab 7: Cemburu
USTAZ, NIKAH YUK!
(The Amazing Love)

Bab 7

Cemburu

Apakah aku harus menyerah saja? Laksana mengharap bintang di langit tinggi, sementara kaki masih menapak bumi. Seperti itulah aku yang saat ini mendamba khitbah seorang ustaz.

Kuhela napas dalam untuk mengusir resah. Cuaca cerah hari ini seolah-olah tak mampu menenangkan pikiranku yang mulai gelisah.

"Jadi, kapan kalian mau mulai liqo-nya?" tanya Ustazah Mariya. Suaranya terdengar pelan selembut awan. 

"Liqo apaan, Ustazah?" tanyaku.

"Liqo itu halaqah, pertemuan rutin untuk pembekalan tarbiyah atau pembelajaran agama Islam buat kalian nanti."

"Oooh, kapan ustazah punya waktulah, kita ngikut aja, ya, 'kan, Gaess?" Aku menoleh ke arah teman-temanku.

Lunara dan Batrisyia mengangguk tanda setuju.

"Baiklah, kita mulai besok, tiap hari Rabu bakda Asar di masjid Al Munawwarah, ya?" usul Ustazah Mariya.

"Siap, Ustazah!"

Ustaz Abhizar tampak mengangkat jempol tangannya ke arah belakang, seperti memberi kode untuk segera kembali ke Fakultas Agama Islam. Ustazah Mariya pun mengangguk pelan.

"Baiklah, kami permisi dulu, ya! Assalamualaikum." Tanpa membuang waktu, Ustazah Mariya langsung pamit, diikuti oleh Ustaz Abhizar.

"Waalaikum salam," jawab kami serempak.

Rasanya tak sabar lagi untuk belajar. Tanpa adanya Ibu, sementara Ayah sangat sibuk dengan proyek konstruksinya, aku tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal.

"Lun, kamu kenal sama Bu Dosen itu? Dia udah menikah? Masih terlihat muda, ya?" cecarku.

Sorot mataku masih mengarah pada Ustaz Abhizar dan Ustazah Mariya. Meskipun berjarak, tetap saja terlihat serasi saat berjalan beriringan.

"Kenal, setau ane, Ustaz Abhizar masih lajang, Paul. Emang kenapa? Anti cemburu, ya? Cieee ada yang cemburu nih, ye," pungkas Lunara.

"Enggaklah."

Apa hakku untuk cemburu? Aku bukanlah siapa-siapa bagi Ustaz Abhizar. Meskipun telah tumbuh sepercik rasa untuk dirinya, aku masih tahu batasan.

"Kalo memang anti cemburu, nggak apa-apa, kok. Cemburu, kan, tanda cinta. Ahay!" goda Lunara lagi.

"Udah, yuk! Kita balik ke Teknik aja. Kamu pakai apa tadi kesini, Lun?" Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Moodku rasanya sedang tidak baik.

"Jalan kaki. Motor ane tadi ane parkirkan di Fakultas Teknik."

"Ya, udah, naik motor sama aku aja," ajakku seraya meraih helm, lantas memasangnya. "Batrisyia cepat amat kaburnya," imbuhku.

"Iya, mau nyari dosen katanya."

Aku dan Lunara menaiki motor. Lantas, kulajukan kendaraan menuju Fakultas Teknik. Melewati jalan beraspal tanpa tanjakan dan belokan. Tak sampai lima menit, kendaraan roda dua yang kunaiki ini sudah menapaki pelataran paving block gedung berlantai dua. Terdapatnya sebuah kilang minyak di bagian depan. Di samping kirinya terdapat gedung laboratorium Teknik dan di samping kanan adalah gedung Magister Teknik.

Decitan roda terdengar saat kugenggam erat rem di tangan. Setelah menarik tuas standar motor dengan ujung telapak kaki, aku mematikan mesinnya. Kulirik keadaan sekitar. Sudah cukup banyak mahasiswa yang datang. Beberapa pasang mata memandang ke arahku saat kumelepaskan helm di kepala.

"Makasih, Paul. Aku langsung ke atas, ya. Ada kelas," tutur Lunara.

"Oke."

Gadis bergamis hitam itu bergegas menaiki anak tangga sebelah kiri. Bangunan kampus Teknik ini berbentuk letter U. Semua kelas dapat terlihat dari lantai bawah. Ada tiga buah anak tangga di masing-masing sisi; kiri, kanan dan di tengah.

Dapat kulihat di lantai dua para mahasiswa sedang berkerumun. Biasanya mereka menunggu dosen yang akan mengajar. Di antara mereka yang mengenalku memberikan reaksi yang berbeda dari biasa, menatap dengan mengernyit dan menyipitkan mata.

Ada urusan administrasi yang harus kuurus di bagian Tata Usaha. Ruangannya tepat di bagian sudut bangunan. Saat aku baru melangkah, salah seorang teman menyapaku.

"Hai, Paul! Ini kamu?" tanya pria muda bertubuh kurus itu. Ia melirikku dari ujung kaki ke ujung kepala. Ah, aku sudah bisa menebak reaksi mereka seperti apa saat melihatku memakai gamis dan khimar.

"Ya, iyalah. Siapa lagi," sahutku sambil terus berjalan.
Bangku-bangku kayu panjang menempel di sepanjang dinding kelas. Di sanalah mahasiswa yang hampir sembilan puluh persen pria berkumpul saat jam kosong.

"Ah, masa iya kamu ini si Paul? Saudari ceweknya kali?"

"Iya mirip Paul, tapi jauh beda, Bray," timpal yang lain.

Aku menghentikan langkah. Lantas menatap semua mata yang memandangku dengan tatapan entah.

"Ish, Ini aku Pauleen Gaitha Clemira, mahasiswi Teknik Sipil tingkat akhir!" teriakku seraya mendengkus lantas melipat tangan di atas perut.

"Biasa aja dong, ngomongnya. Nggak usah ngegas. Kami tau kamu itu Pauleen."

"Lah, terus kenapa pada nanya lagi?"

"Kaget aja, Paul. Nggak nyangka kamu bakal tampil cewek banget sekarang. Kenapa? Lagi jatuh cinta, ya? Mau mengejar cintanya sang ustaz?" ledek salah satu temanku. Terdengar dengungan gelak tawa dari mereka.

"Serah, dah, mau bilang apa." Aku memutar bola mata ke atas. Lantas, melanjutkan langkah.

"Eh, bentar-bentar, Paul. Santuy dong. Jangan marah. Biasalah bercandaan." Temanku yang berkacamata menghalangi langkahku.

"Iya, enggak marah. Aku mau ke ruang Tata Usaha."

"Mau ngurus Kartu Rencana Studi?"

"Gitu, deh."

"Akhir-akhir ini kamu jarang ngumpul sama kita. Mau ikut manjat dinding nggak ntar sore?"

"Boleh."

"Oke, sip."

****

Awan kelabu tampak bergumpal-gumpal di langit. Menjadi tabir bagi mentari sore untuk menebar sinarnya. Melahirkan hawa dingin yang didamba di sela musim kemarau. Semilir angin masih setia mengalirkan aroma segar khas hutan.

Beberapa mahasiswa sekaligus atlet panjat dinding berkumpul di depan Fakultas Teknik. Aku mengenakan celana training tanpa mengganti gamis. Kusingsingkan ujung rok ke atas, lalu kuikatkan di pinggang. Sepatu khusus dengan karetnya yang lentur kukenakan dengan rapi. Aku siap untuk beraksi menguji adrenalin serta melatih otot-otot tangan dan kaki. Sudah lama sekali aku tak melakukan olahraga ekstrem ini. 

Kakak Senior membantu mengaitkan hardness atau alat penopang yang diikatkan pada tali karmantel atau  pengaman. Seperti tali pinggang yang terhubung-hubung, lantas dililitkan ke tubuhku. Tepung khusus untuk mencegah tangan agar tak basah oleh keringat kutabur di tangan dan bungkusannya kugantung di pinggang.

"Go, Pauleen!" sentak Kakak Senior diiringi seruan teman-teman lainnya untuk mentransfer energi semangat.

"Siap!"

Aku memfokuskan pikiran, lalu kaki dan tangan mulai bergerak menapaki dinding dengan teknik pemanjatan. Meskipun terlihat mudah, olahraga ini membutuhkan konsentrasi tinggi. Dengan gaya bak spiderman aku memanjat dinding setinggi sepuluh meter itu perlahan. Hanya saja, aku tak memakai topeng seperti tokoh hero berbaju merah dan biru itu.

Sudah hampir setengah jalan, aku masih tetap fokus. Hingga saat netraku menangkap sosok yang kukenal. Pria yang paling memesona se-universitas. Siapa lagi kalau bukan Ustaz Abhizar. Ia berjalan melintasi jalan di depan papan panjat dinding. Oh, ia tak sendiri. Ustaz berjalan beriringan bersama Ustazah Mariya? Wajah mereka terlihat semringah dipenuhi senyuman. Dan wajah seputih kapas milik wanita berkhimar lebar itu bersemu merah.

Seperti ada bara api di dalam dada. Tiba-tiba saja rasanya panas. Tanganku mengepal erat. Konsentrasiku lantas hilang dan pijakanku goyang. Tubuhku seketika limbung, genggaman tanganku terlepas.

"Pauleen!" []