Pelan-pelan Abang!


Perjaka tua. Yang benar saja!

Sebutan itu, tidak enak didengar.

"Tapi, kok kak Munah nggak cerita. Memang kapan jadiannya, Bang?"

"Itu usul Ibu, Ra. Banyu belum mau sepertinya." pak Darma yang menjawab.

Anggukan kepala Ara seirama dengan tatapannya pada Banyu.

"Mau aku bantuin pedekate, Bang?"

"Tidak usah."

Mendengar tawaran Ara, mata Farida berbinar. Gadis itu supel, kenapa tidak meminta bantuannya saja?

"Coba aja Ra. Kali aja jodoh, ya kan?"

Senyum Ara terbit. Membantu orang untuk dekat, berujung nikah, bobok bareng dan punya dedek emesh, dapat pahala, kan?

"Boleh, Buk. Nanti aku WA kak Munah." gadis itu tidak sabar menanti awal misi barunya.

"WA Abang masih sama, kan?" mata Ara mengerjap, dan membuat jari Banyu gatal untuk mengeluarkan isinya.

"Gini, Bang. Abang kan tahu, kak Munah itu bidan, nanti kalau mau ketemu, aku yang rekom Abang harus pakai baju apa."

Terkadang Banyu Heran, perihal tetangganya yang sama sekali tidak sungkan mengompori urusannya.

Sudah tidak cantik, males, nggak sopan, mulutnya lemes pula.

"Siapa yang mau ketemu dia?"

Ara berdecak, ia sudah bangun dari bangku yang didudukinya. Sarapannya juga telah selesai.

"Abang lah, masa Bapak!"

Dan, tawa Darma juga Farida, mengisi ruang makan itu.

"Coba aja, Nyu."

"Hm, selagi ada kesempatan. Jarang-jarang loh. Bides ini!"

Ucapan Darma dan Ara, tidak dihiraukan Banyu. Laki-laki itu melihat Ara yang masih berada di antara mereka.

"Sudah jam 8, kamu nggak kerja?"

"Selow Abang. Ini juga mau berangkat. Lagian ya, Konter-konter aku. Suka-suka aku dong, mau berangkat jam berapa!"

Malah nge-gas. Padahal, aku ngusirnya dengan cara sopan.

Ara mencium punggung tangan Darma dan Farida.

"Aku nebeng ya Bang, sampe halte aku naik angkot." hampir saja Ara lupa maksud keduanya, datang ke rumah tetangga.

"Motormu, kan ada."

"Kan di bengkel Abang."

Banyu mendesah dalam hati, kenapa harus berakhir seperti ini?

"Lagian, banyak hal yang ingin kukasih tahu sama Abang. Complete tentang kak Munah."

Baru saja menyesali keadaan, kini beban pikiran Banyu bertambah dengan ucapan Ara.

Pagi-pagi, mood-nya sudah sejelek ini.

Setelah mengucapkan terimakasih, Ara mengikuti langkah besar Banyu.

"Aku mulai dari mana, Bang?"

Suara deru motor Banyu kalah dengan teriakan Ara yang duduk dibelakangnya. Gadis itu ingin tahu, Banyu mau tahu yang mana dulu, tentang Maemunah.

"Diam, atau aku turunkan di sini."

Belum juga nyampe jalan raya, memang nggak kasihan lihat aku jalan kaki sampai persimpangan?

Tapi Ara memilih diam. Ia masih sayang sepatu yang baru dibelinya seminggu yang lalu.

Laju motor yang cukup kencang, membuat gadis itu menarik kuat-kuat jaket Banyu, hingga laju motor Banyu melambat.

Belum sempat Banyu bertanya, Ara sudah berteriak dari belakang.

"Pelan-pelan, Abang!"

🛠 Selamat datang di dunia bang Banyu.