Bisa bikin dedek?

Tidak seperti keinginan Ara, tetangga yang cukup membuatnya repot sore ini. Seharusnya ia sudah tiba di rumah dan sedang mengistirahatkan tubuh lelahnya. Bukan mengantar bidan desa yang dititipkan Ara kepadanya.

Ketika tiba di rumah, ia menemukan tetangganya sedang cekikikan bersama sang ibu.

Tidak mengambil pusing, Banyu melangkahkan kakinya ke lantai atas. Ia butuh mandi sebelum menikmati segelas kopi.

Berkaca di depan cermin, Banyu teringat ucapan tetangganya.

Apa ia sudah setua itu?

Ck.

Bukankah dari dulu, Ara asal ceplos kalau ngomong?

Di bawah, Ara sedang merangkai cerita indah. Kisah kasih yang sama sekali belum dimulai, bahkan tidak ingin dimulai Banyu.

Kriteria wanita yang diinginkannya belum ditemukan. Jadi, masa bodo dengan kerjaan Ara yang ingin mencomblagi dirinya.

"Kira-kira berhasil nggak Ra?"

"Pasti Buk. Ara, gitu!"

Farida tersenyum. Kalaupun bukan Ara, tidak apa. Yang penting, putranya menikah dengan wanita baik-baik.

"Ibu nggak lihat aja, gimana tadi bang Banyu lihat-lihatan sama kak Munah. Ara sampai meleleh, Buk."

Gadis itu membuka kulit pisang rebus entah untuk yang keberapa kali. Pisang rebus yang disajikan satu piring besar oleh Farida, nyatanya tinggal 3 buah lagi.

Mengunyah perlahan, benda lembut dalam mulutnya sebelum menelan. Matanya menangkap sosok yang tengah turun dari tangga. Setengah pisang, dimasukkan lagi ke dalam mulutnya. Matanya menelisik laki-laki yang akan segere melepaskan masa lajangnya.

Oh...

Ara tidak sabar menanti aneka hidangan di atas meja prasmanan.

"Munah, ramah kan, Nyu?"

Banyu yang melangkahkan kakinya ke dapur, menoleh sebentar.

"Ada bu Ramlah, waktu nganterin tadi?"

Mata Banyu membidik gadis di samping ibunya. Sanltai, terkesan tidak terjadi apapun.

Apa yang sudah dikatakan tetangganya itu, pada ibunya?

"Nggak tau. Aku turunin di depan Pustu."

Seketika mata Farida membeliak. Ara juga sama. Sama-sama kaget. Tapi, hanya sebentar, karena gadis itu tersenyum meledek.

"Takut langsung dikawinin, ya Bang?"

"Bukan takut. Tapi lebih ke malu. Apa kata orang, kalau lihat kami boncengan berdu---"

"Bilang aja calon, ntar juga kawin!"

Banyu memejamkan matanya.

Kalau tetap di sini, dia bisa gila menghadapi tetangga gilanya.

"Gula habis, kalau mau bikin kopi."

"Sama Ara ada. Bentar, Ara ambilin."

Banyu bisa beli di warung depan komplek. Tapi, belum suaranya keluar, tetangganya sudah berlari keluar.

"Kamu beneran kan, sama Munah?"

"Ara jangan didengerin, Bu."

Farida merenggut, mendengar jawaban anak lajangnya.

"Terus mau kamu, siapa? Ara?"

Menghidupkan kompor, setelah membuang air dalam panci, Banyu menjawab. "Cari istri itu gampang Bu. Yang buat kita nyaman dan nggak nyesal seumur hidup itu yang sulit."

Farida juga tahu itu. Nggak usah diceramahin juga. Yang jadi masalahnya, "Jodoh itu dicari, diusahain. Bukan hanya didoain, terus nemplok ke ranjang kamu."

Banyu menggaruk pelipisnya. Ia selalu kalah adu argumen dengan ibunya perihal calon mantu.

Jangan salahkan dia.

Salahkan wanita. Kenapa ngga ada seperti yang dia inginkan.

"Nanti dicari."

"Ibu udah pengen nimang cucu, dengerin tangisnya. Gantiin popoknya."

"Sabar dong Buk. Bentar lagi juga dapat."

Banyu mendesah kesal, ketika makhluk samping rumahnya kembali muncul.

"Kawin itu enak Bang. Ada yang nyiapin makan. Ngurusin Abang juga. Yang penting Abang ada temen bobok. Nati debay-nya juga ada."

Sialan.

Kenapa mulut gadis malas itu nyerocos bak keran air bocor.

"Lagian ya Buk, kalau bang Banyu kawin sama kak Munah, debaynya pasti gemesin."

Astaga.

Warning di kepala Banyu mulai berbunyi.

Farida sebenarnya cukup kaget mendengar paparan Ara. Namun, ia hanya diam dan menampilkan ekspresi biasa.

"Udah maghrib, kamu nggak pulang?"

"Sholat di sini aja ya Buk. Nanti siap makan baru pulang. Ara nggak sempat beli nasi goreng. Kan, harus anterin kak Munah tadi."

Farida tersenyum, nggak usah izin juga, dia suka rela nampung Ara di rumahnya. Jadi ibu cucunya juga boleh.

"Cewek kok malas masak. Kalau nikah nanti, suaminya bakal kelaparan."

Suara Banyu tidak keras, tapi bisa didengar Ara.

"Aku tulang rusuk,  Abang! Bukan tulang punggung!"

Eh.

Kok tetangganya sewot?

"Seenggaknya tau masak, beres-beres."

Ara mendekat. Meletakkan dengan kasar gula di atas meja makan.

"Abang pikir aku nggak bisa masak?"

"Hanya ragu."

Farida menyembunyikan senymnya, melihat anak laki-lakinya yang kerap tak akur dengan tetangganya itu. Banyu jelas memperlihatkan ketidaksukaannya pada Ara.

"Minggir!!"

Banyu tersentak. Namun, kakinya mundur dua langkah.  Melihat apa yang akan dilakukan tetangga tidak tahu malu itu.

Dengan gesit, tangan mungil Ara memasukkan dua sendok kopi ke dalam gelas dan satu setengah sendok gula. Kemudian menuangkan air yang sudah mendidih.

Lima kali aduk, Ara menyodorkan gelas keramik putih pada anak kepala RW tersebut.

Banyu tidak langsung meminumnya. Jelas sekali ia ragu, walaupun ia melihat sendiri cara Ara menyeduhkan secangkir kopi untuknya.

"Aku lupa bawa sianida, jadi aman untuk diminum."

Berdeham sekali, Banyu menyesap seteguk kopi perdana yang dibuatkan Ara.

Lidahnya bermain di dalam mulutnya yang tertutup. Antara menyesap dan mencecap tekstur kopi.

Kopi yang sama. Sama seperti tadi pagi. Tapi, kenapa ada rasa lain. Enak, kental, dan ingin lagi, ingin lagi.

Itu, namanya apa ya?

"Ampasnya jangan ditelan!"

Eh.

"Enak kan? Mau nyangkal kalau aku nggak bisa masak? Itu baru kopi Abang. Belum yang lain, bisa lupa diri kalau Abang makan masakanku."

Berbangga diri di depan Banyu, wajib dilakukan Ara, kalau tidak mau laki-laki itu merendahkan harga dirinya.

"Iya, bisa masak. Tapi, kompor jangan lupa dimatiin."

Dengan cepat, Ara melongokkan kepalanya ke sumber topik. Dan, tawa yang sejak tadi ditahan Farida, pecah mengisi ruangan itu.

"Ibuuukkk...!!"

Dengan cepat, Ara mematikan kompor. Kemudian menatap tajam wajah Banyu.

"Cuma kompor."

"Dan kompor, salah satu sarana untuk masak."

Kekesalan Ara memuncak. "Bisa nggak, nggak usah balas ucapanku?!"

"Kok nyolot?"

"Aku jadi ragu, kak Munah mau kawin nggak sama Abang!"

Ck, Kawin. Kucing kali. "Siapa juga yang mau sama dia?"

Kali ini, keterkejutan Ara dinikmati Banyu. Mulut gadis itu terbuka.

"Tapi, kalian tadi pulang bareng."

Banyu tersenyum sinis, "Kamu yang maksa."

"Abang nggak nolak!"

Kok jadi adu urat?

"Udah adzan. Wudhu dulu."

Ara melihat Banyu dengan sinis, sampai kepalanya memutar karena langkahnya mengikuti Farida, yang mengintrupsi perdebatan mereka.

Tiga rakaat, telah mereka kerjakan. Ara menyeret dengan cepat langkahnya ke dapur.

"Bantuin Ibu, Ra. Bawain ini ke meja makan."

Ara mengacung jempolnya. Satu mangkuk nasi, Dua mangkuk sayur dan ikan. Serta satu toples kerupuk.

"Laki-laki kalau dilayanin makan, tidur dan bajunya, nggak bakalan lupa dia sama kita, Ra."

"Seperti Bapak ya, Buk?"

Farida tersenyum, anggukan kepalanya menjawab argumen Ara.

"Kamu juga akan jadi istri," kata Farida. Tangannya mengisi nasi ke piring suaminya.

"Dan, kamu harus belajar dari sekarang," lanjut Farida.

"Iya Buk."

Tinggal dua piring yang belum diisi. Dengan sengaja Farida membuat Ara larut dalam pembicaraan. Hingga tanpa gadis itu sadari, ia telah mengisi piring Banyu berikut segelas air.

"Calon suami Ara, seperti apa kira-kira?"

"Yang penting seiman, Buk." senyum terbit di bibir Farida. Namun langsung tertekuk, ketika mendengar lanjutan kalimat Ara.

"Asalkan bukan bang Banyu. Bisa mati muda Ara."

Elaan nafas Farida tidak tertangkap pendengaran Ara. Karena wanita itu mengalihkan tatapan, pada dua sosok yang baru masuk ke ruang makan.

Makan malam, sesekali diringi celetukan Ara membuat suasana hangat, bagi orang tua Banyu. Minus bagi dirinya.

"Mamamu mau datang, Ra?"

"Iya, Pak. Mungkin minggu depan." Ara meneguk habis minumannya.

"Sudah lama juga nggak datang, terakhir kali, lima bulan yang lalu ya?"

Ara mengangguk.

Mamanya single parent sejak papanya meninggal di usianya masih kecil. Ia memaklumi kesibukan ibunya diwaktu sendiri. Mengisi kekosongan hari bukankah sesuatu yang mudah dilakukan.

"Kangen sama Mama Risa."

Delikan mata Ara, sangat tajam. "Mama nggak mau nikah lagi. Lagian aku nggak mau punya ayah tiri macam Abang. Mama juga nggak bisa hamil lagi."

"Hah?"

Dan, kedua orang tua di sana terbahak bersama.

"Tipe Mama bukan seperti Abang," sambung Ara, mengacuhkan tawa Farida dan Darma.

"Kalau tipe kamu, gimana? Bisa bikin dedek 'kan?"

Giliran Ara yang melongo.

Yang suka Ara?

Tapi kesel ma Bang Banyu?