BAB 7 - Resolusi
Melewati lorong antar ruangan, kami digiring oleh beberapa prajurit yang menodongkan senjata. 

Sepanjang perjalanan aku melihat berbagai macam ruangan, mulai dari dapur, kantin, ruang pelatihan, ruang istirahat, bahkan ada juga ruang senjata yang sepertinya terkunci. Kulihat juga prajurit yang lalu lalang menjalankan tugasnya masing-masing.

"Cepet dikit jalannya!"  Suruh salah satu prajurit mendorongku.

Aku tidak terlalu menggubrisnya dan melanjutkan jalan. Ujung lorong mulai terlihat. Dibukanya pintu oleh salah satu prajurit menggunakan sidik jarinya. Ternyata pintu ini menuju area bawah. Kami menuruni tangga yang cukup dalam dan gelap.

Kami harus menuruni tangga dan bukanya menggunakan lift, sepertinya agar area bawah tidak mudah diakses. 

Kami pun sampai di dasar area. Para prajurit menjelaskan apa yang harus kami lakukan.

Rupanya, untuk melakukan perjalanan antar galaksi, mereka memanfaatkan fenomena lubang cacing. Tak kusangka hal yang kukira sebatas teori dapat direalisasikan. 

Mereka memanfaatkan reaktor nuklir untuk mengaktifkan alat yang dapat memicu lubang cacing. Mereka menyebutnya GATE. GATE tersebut tertanam pada setiap Armada ekspedisi, dan hanya dapat menandai satu lokasi. Dan lokasi yang ditandai oleh GATE Armada ini adalah galaksi kami, galaksi Bimasakti.

"Ganti pakaian kalian,"  ucap seorang prajurit sambil menunjuk ke arah loker.

Kami pun mengganti pakaian dengan pakaian khusus. Kemudian mereka memberikan arahan apa yang harus kami lakukan.

Setelah itu para prajurit pergi, hanya tersisa satu untuk berjaga agar kami tidak kabur. Pintu area bawah mulai tertutup, dan kami pun mulai menjalankan tugas sesuai yang diinstruksikan. 

Aku berdiri di depan layar yang cukup lebar. Tugasku adalah melakukan penyesuaian agar takaran yang diperlukan untuk membuka GATE sesuai dengan yang diinstruksikan.

Proses pembukaan GATE dimulai, setelah beberapa saat aku merasa suhu di sekitar mulai naik. Bunyi sirine menandakan proses pembukaan GATE sedang berlangsung. 

Pakaian khusus yang kami kenakan perlahan mulai meleleh, apakah ini karena panasnya suhu atau radiasi, aku tidak begitu mengerti. Kukira pakaian kami terbuat dari bahan yang sama dengan yang dikenakan prajurit itu, ternyata tidak, karena pakaian prajurit itu tidak terkena dampak dari proses ini.

Orang-orang mulai terkapar. Kulihat proses sudah berjalan 87%, sedikit lagi selesai. 

Kutengok kanan kiri mencari sesuatu yang kiranya dapat digunakan untuk melumpuhkan orang, tapi di sini tidak ada apa-apa.

Tubuhku mulai lemas, karena kakiku tak kuat lagi berdiri, aku pun menyandarkan diri di layar. Sebelum aku kehilangan kesadaran, bunyi sirine berhenti, suhu ruangan perlahan menurun. 

"Dah selesai kah,"  pikirku dalam hati.

Aku melihat ke arah prajurit yang masih berdiri di sana sedari tadi.

"Ga bisa ni kalo kedepannya kerja kek gini terus, sampe sana dah lumpuh!"  Ucapku keras.

"Kayaknya kalo mau kabur terus sembunyi gampang nih, prajuritnya cuma satu, dihajar ma yang ada disini juga beres, terus tinggal sembunyi,"

"Lagian Armada ini gede banget, banyak orang selain kita di Armada ini, ga mungkin ketahuan," lanjutku.

Mendengar itu, mereka yang masih bisa berdiri menatap satu sama lain. Sepertinya berhasil. Awalnya aku ingin melumpuhkan prajurit itu sendiri. Namun aku tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk memukul atau menyobek sesuatu.

Kami semua berdiri, melihat ke arah yang sama. 

"Hajarrrr!"  Teriak seseorang sebagai tanda serang bersama.

Prajurit itu tidak tinggal diam. Ia melancarkan tembakan ke arah kami, membuat beberapa terkapar. Namun kami menang jumlah, 60 lebih orang mengepungnya. Prajurit itu pun berhasil dilumpuhkan.

Orang yang tadi berteriak mengambil senjata milik prajurit itu. 

"Yang pengen selamat, ikuti aku,"  katanya sembari menyongsong senjata.

Ia pun berjalan menuju tangga dan naik ke atas, disusul yang lainnya.

Aku tidak ikut mereka naik, karena masih ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku memutuskan mulai sekarang yang memegang kendali atas hidupku, adalah aku. Kalau pada akhirnya aku mati, setidaknya aku ingin melakukan hal yang keren walaupun hanya sekali. Kuraba-raba pakaian si prajurit itu, akhirnya aku menemukan bilah Foton. 

Kupotong jari telunjuknya, dan berlari naik ke atas. Sampainya di atas tangga, kutengok kanan kiri, memastikan ada prajurit atau tidak.

Lorong terlihat sepi, bercak darah menempel di mana-mana. Sepertinya para prajurit sudah teralihkan oleh orang-orang yang sudah kabur duluan tadi.

Aku berlari menuju tempat penyimpanan senjata. Kubuka pintu ruang senjata yang terkunci menggunakan sidik jari prajurit tadi. 

Di dalam terdapat banyak senjata yang tidak kuketahui. Aku mencari sesuatu yang terlihat seperti bom atau peledak, atau yang dapat melelehkan sesuatu. 

Karena tidak punya banyak waktu, kubawa semua yang terlihat berguna. Aku kembali berlari menuju area bawah. 

Ruangan yang menyimpan GATE berada dibalik dinding area bawah. Kuambil sesuatu yang terlihat seperti senjata untuk melelehkan sesuatu. Kemudian mengarahkannya pada dinding.

*Duarrr*

Ternyata ini bukan senjata cairan peleleh, tapi sesuatu yang mirip bazoka. 

"Gak guna,"  gumamku.

Setelah kucoba beberapa senjata, akhirnya dapat juga senjata pelelehnya. Aku pun berjalan menuju sisi dinding yang sudah berlubang karena meleleh.

Pandanganku tertuju pada sebuah core (inti) yang bersinar layaknya lampu. Sepertinya ini adalah core dari GATE.

Mungkin beberapa orang tidak paham, kenapa aku tidak ikut lari bersama orang-orang tadi. Kenapa aku malah pergi ke ruang senjata dan kembali ke sini lagi. Dan beberapa lainnya paham setelah aku menyinggung hal ini, sementara sebagian kecil sudah paham dari awal, apa yang sebenarnya sedang kulakukan.

Kita kesampingkan itu, melihat alat yang dapat menciptakan fenomena lubang cacing penghubung Galaksi Nox 1604 dan Galaksi Bimasakti, aku pun mengeluarkan semua senjata yang kubawa. 

Ada senjata tipe tempel, ada juga senjata tipe tembak. Saat aku sedang menyiapkan semuanya, terdengar banyak langkah kaki menuju ke sini.

"Cepet banget sampainya," gerutuku.

Kuarahakan semuanya ke core GATE, bersiap untuk menghancurkannya. 

*Cuzz*

Lengan kiriku tertembak, tanpa memberi peringatan. Entah kenapa tangan kiriku selalu yang kena.

"Astaga woi, biasanya kalo di film-film, teriak jangan bergerak dulu kn,"  tolehku ke arah prajurit yang sudah mengepungku.

Kali ini aku akan menyebutnya keberuntungan, karena yang tertembak tangan kiriku. Tangan kananku yang memegang pemicu tidak sabar untuk memencetnya.

Aku berlari menjauhi core GATE. Kupencet tombol yang memicu pengaktifan senjata.

*Bummm*

Gelegar suara dari campuran berbagai senjata terdengar begitu keras. Terlihat dari balik kepulan asap pecahan core GATE yang sudah tidak berbentuk. Aku tersenyum lega karena senjata-senjata tadi dapat menghancurkannya.

Karena tangan kiriku tertembak, alih-alih mengangkat kedua tangan, aku mengangkat tangan kananku sebagai tanda menyerah.

*Bugggg*

Pukulan keras mendarat di wajahku, membuatku tersungkur. Aku ditenteng menuju suatu tempat. Kurasa aku akan dieksekusi.

Aku dibawa ke hadapan Yovanka. Sambil meminum segelas wine dia menatapku.

"Ga kusangka bakal beneran ada yang ngancurin tu benda,"  ucapnya memutar gelas.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"  Tanyanya.

"Gada," 
jawabku singkat.

"Engga, pertanyaanku salah. Bukanya kamu membenci rasmu ya? Terus, kenapa kamu mau repot-repot ngancurin GATE, padahal kamu seharusnya tau, kalo kamu bisa aja dieksekusi karena hal ini?"  ucap Yovanka mengganti pertanyaannya.

"Kamu ngancurin GATE supaya kami ga bisa ke planetmu lagi kan. Karena GATE cuma bisa nandain 1 lokasi, agar kami ga bisa ke sini lagi jadinya gitu,"  lanjut Yovanka.

Sepertinya pangkat Letnan Jenderal Angkatan Udara bukan isapan jempol belaka. Kemampuannya menganalisis keadaan benar-benar gila. Yovanka seolah tau apa yang kulakukan. Sebelumnya juga, Yovanka curiga sejak awal akan ada beberapa yang menyelipkan penanda lokasi berupa chip. 

"Ngga juga, mungkin karena sejak awal aku ngga berharap kalau sampah akan berbau harum,"  jawabku.

"Hoohh, aku benar-benar ngga ngerti. Kalo kamu segitunya ga peduli dengan mereka, segitunya lepas tangan terhadap mereka, kenapa kamu masih berusaha menyelamatkan mereka?"  Sambung Yovanka.

"Kalau aku biarin aja, bukankah itu artinya aku sama kayak mereka? Sama kayak sesuatu yang aku benci?"  Entah kenapa aku mengungkapkan apa yang aku pikirkan ke orang ini.

Yovanka tidak memberi pertanyaan lagi. Ia hanya tersenyum tipis menatapku. Tangannya melambai menyuruh prajurit mundur.

"Menarik, sia-sia kalo dieksekusi atau diserahin ke departemen tenaga kerja, hahaha," tawanya seperti merencanakan sesuatu.

"Okee, mulai hari ini kamu adalah milikku pribadi," ucap Yovanka melihat ke arahku.

"Hahh?" Responku terheran......✍︎

Saat itu aku masih belum tahu,  kalau kehidupanku akan berubah sangat drastis.

--
Kalo ada review, kritik, saran, ketik aja di komentar.

Penulis memutuskan untuk vacum karena suatu hal. Apabila dikemudian hari ada yang memerlukan sesuatu dapat menghubungi
0823 2927 7559 (WA)

Terimakasih atas dukungannya selama sebulan saya di KBM ^^