BAB 5. RAMBUT BARU

KEAJAIBAN RAMADAN



"Yuk sekarang berangkat," ajak Mba Tanti.

Arum menyimpan kutek dan lipstik mini pemberian Mba Tanti.

"Ini Nur punyanya. Kita punya lipstik dan cat kuku yang sama dari Mba Tanti," kata Arum. 

"Simpan saja si sini Rum," sahutku.

"Terima kasih ya, Mba Tanti," ucap Arum, lalu menyimpan kekamarnya lipstik dan kutek itu.

"Maaf Mba saya tidak bisa ikut," sahutku.

"Nur, nanti Mba Tanti akan bilang ke Bibimu, ya? Pasti Bi Sri tidak akan marah. Percaya sama Mba Tanti."

"Saya pulang dulu, Mba. Saya harus mengaji habis Maghrib," elakku.

"Lo ini kan baru jam empat. Ayok sekarang berangkat, biar Nur yang pertama jadi modelnya. Nanti Nur Mba Tanti kasih baju baru yang bagus ya?"

Arum diam saja. Aku hampir melangkah untuk pulang.

"Bu Sumi boleh ikut kok ke salon. Ayo Bu, sekalian menemani Arum dan Nur," ajak Mba Tanti.

"Bu Sum nggak usah ikut, percaya kok sama Mba Tanti, yang penting setelah selesai antar kembali Arum pulang ya?" pinta Bu Sumi.

"Pasti dong Bu Sum, saya pinjam Arum sebentar saja kok, mau dipotong rambutnya untuk karyawan salon saya, nanti ada upah untuk Arum." Mba Tanti tampak memberi sesuatu ke Bu Sumi.
Bu Sumi mengambil pemberian dari Mba Tanti." Kok repot-repot sih Mba Tanti?" tutur Bu Sum.

"Nggak papa Bu Sum. Hanya berbagi sedikit rezeki," sahut Mba Tanti.

Mba Tanti menggamit tanganku dan Arum, mengajak naik ke mobilnya yang terparkir di halaman.

"Nur kita cuma sebentar kok. Sebelum maghrib Mba Tanti antar pulang ke rumahmu. Ayo." Mba Tanti membuka pintu mobilnya.

"Ayolah Nur, kan ada aku. Pasti Bi Sri tidak akan memarahimu," timbrung Arum.

Mobil melaju, Arum duduk di jok belakang dan aku di samping Mba Tanti. Hanya satu kilometer saja jarak ke salon sekaligus tempat tinggal Mba Tanti.

Sampai salon mba Tanti aku di sambut karyawannya. Ada tiga perempuan muda memakai kaos berwarna pink bertuliskan nama salon Mba Tanti, 'Tiara salon.'

Dua karyawan sedang mencukur seorang lelaki muda. Aku seperti paham dengan wajahnya. Tapi Mba Tanti menggandeng tanganku untuk menjauh dan masuk satu ruangan dalam rumahnya.

"Sekarang Arum dan Nur pakai ini dulu," ujarnya, lalu memakaikan alas kain yang diikat ke leher karena rambutku dan Arum akan segera dipangkas. Dua karyawan Mba Tanti menggamit tanganku dan Arum untuk duduk dan mulai memotong rambut.

"Nur," sapa lelaki yang ternyata Kakak kelasku. Dia etnis China yang jadi favorit di sekolah selain Mas Gatot ketua OSIS. 

"Eh, Andi ya?" sahutku lalu tersenyum. "Kamu potong rambut juga?" tanya Andi lagi.

"Anu ...." Aku tidak bisa menerangkan padanya bahwa aku hanya dijadikan model untuk karyawan Mba Tanti.

"Andi, sudah potongnya?" Seorang lelaki menghampiri Andi. Aku menunduk menyadari dia Mas Gatot, ketua OSIS dan kakak kelasku di sekolah saat SMP, namun kini mereka sudah mulai kuliah semester awal. Mereka memang akrab dan populer.

"Sudah. Kamu mau potong juga Tot?" tanya Andi. "Enggak ... eh iya," jawab Mas Gatot sambil melihatku.

Aku malu saat teringat Mas Gatotlah yang memberikan uang dalam amplop kepada Bi Sri sebagai uang duka atas kematian orang tuaku dari teman sekolah.

Mas Gatot dipotong rambutnya dikursi tempat Andi sebelumnya cukur. Dia melirikku. "Nur potong rambut juga, sama siapa?" tanya Mas Gatot. "Sama Arum, Mas." Mas Gatot mengangguk.

"Kalian saling kenal?" Mba Tanti tiba-tiba muncul. 

"Kita dulu satu sekolah saat SD, Mba." jawab Andi.

"Oh satu sekolah. Kalau yang ini kok Mba Tanti baru liat ya, si Andi mah langganan di sini. Mami Papinya juga kalau potong rambut di sini," sambung Mba Tanti.

"Ini Gatot Mba, anaknya Pak Prabowo," terang Andi.

"Pak Prabowo yang DPR itu ya? Wah ganteng ya, Gatot sama seperti Bapaknya." Mba Tanti lalu berceloteh ngalor ngidul mencandai Andi dan Mas Gatot.

"Yuk ah, sudah selesai," kata Mas Gatot lalu bangkit dari kursinya. Andi mengeluarkan uang dalam dompetnya membayar ongkos cukur, "Sekalian dengan punya Nur ya, Mba?" ucap Andi ke Mba Tanti.

"Lo ... Nur berdua lo sama Arum, nggak dibayarin juga Arum?" kata Mba Tanti.

"Oh ya, sekalian dengan Arum." Aku dan Arum saling pandang.

"Enggak Ndi, Mba Tanti becanda kok. Nur dan Arum tidak bayar. Mereka jadi model untuk karyawati yang kursus di salon," ralat Mba Tanti.

"Oh, ya nggak papa, Mba," ujar Andi menyerahkan uang seratus ribu  dua lembar.

"Nggak usah, Ndi. Asal kalian jadi pelanggan salon Mba, Mba sudah senang kok. Salam buat Mami Papi, ya?" kata Mba Tanti. Setelah menerima kembalian uang dari Mba Tanti, Andi dan Mas Gatot keluar Salon. Tak lama terdengar suara mobil distarter dan kembali terhenti.

"Gimana, kalian jadi makin cantik, kan? Ini namanya shaggy style." Mba Tanti menatapku dari kaca. Rambut panjang sepinggangku berubah jadi sebahu setelah dipotong. Begitu juga dengan Arum.

"Nuuur!" Suara yang sangat kukenal terdengar menggelegar.

"Bibi," desisku. Gawat, Bi Sri datang. 

"Mbak Sri, Nur sedang jadi model. Maaf tadi tidak sempat pamit ke Mbak Sri," sambut Mba Tanti. Wajah Bi Sri tak sedap dilihat.

Bi Sri sudah berdiri di sampingku," Nur cepat pulang sekarang!" bentak Bi Sri tanpa menghiraukan kata-kata Mba Tanti.

"Ini sekarang mau saya antar pulang pakai mobil dengan Arum juga, Mbak. Jangan marah-marah dong sama Nur." Tatapan Bi Sri sangat tajam ke Mba Tanti. Aku heran kenapa Bi Sri sangat antipati kepada Mba Tanti.

"Saya tahu, Nur harus mengaji 'kan habis Maghrib?" Bi Sri masih saja memasang wajah ketus.

"Cepat Nur, pulang," kata Bi Sri dengan menyeret tanganku. Tak ada pilihan, selain mengikuti Bi Sri.

"Nur tunggu aku!" seru Arum. "Sudah biar Nur pulang sama Bibinya, nanti Arum, Mba Tanti yang antar," ujar Mba Tanti.

Sampai depan salon, aku melihat Mas Gatot dan Andi masih ada. Mobilnya membuntutiku dan Bi Sri yang berjalan tergopoh. Bi Sri terus mengomeliku sepanjang jalan.

"Nur, ayok kami antar," kata Andi. "Mbaknya juga, mari saya antar saja. Jauh 'kan kalau sampai rumah Nur, berjalan kaki," tutur Andi.

"Siapa dia Nur?" tanya Bi Sri.

"Kakak kelasku, Bi. Tadi mereka juga cukur rambut di salon Mba Tanti," sahutku.

"Bi Sri," tegur Mas Gatot.

"Ealah, ini kan Mas yang waktu itu ke rumah Nur, ya?" Rupanya Bi Sri masih ingat dengan Mas Gatot.

"Ayok kalau mau mengantar, sudah setengah enam. Nur harus mengaji dengan Ustaz Toyib. Takutnya, ustaz datang, Nur belum siap. Sudah Bi Sri bilang jangan ke salon Tiara tanpa Bi Sri, masih saja Mba Tanti itu memaksa." Mas Gatot dan Andi menimpali cerita Bi Sri. Aku hanya diam saja mendengar celotehan mereka bertiga.

"Iya Bi, saya dan Andi sengaja menunggu Nur dan Arum tadi untuk mengantar pulang. Saya kira mereka berjalan kaki."

"La iya, Tanti itu mengajak Nur, tanpa izin dulu ke saya. Nur juga kenapa mau saja di ajak sama  perempuan seperti itu." Hah? Perempuan seperti itu? maksud Bi Sri apa sih?

"Terima kasih ya Andi dan Gatot, tumpangannya. Maaf sudah sore tidak bisa mengajak kalian mampir." Rupanya sudah sampai rumahku.

"Sama-sama Bik, kapan-kapan saya dan Andi boleh main ya, menemui Nur?" tanya Mas Gatot.

"Boleh-boleh," Jawab Bi Sri sambil tergesa menarik tanganku masuk rumah.

Sampai rumah Bi Sri masih menceramahiku. Sedang aku memikirkan Arum. Apa sudah pulang?

Ustaz Toyib datang seperti biasa. Aku tak semangat mengaji memikirkan gaji bulanan untuk Ustaz yang biasanya tiap bulan diberikan Ibu. Apa aku masih bisa membayarnya bulan ini?

Nur datang saat aku sedang mengaji. "Sini ikut mengaji bareng Nur," ajak ustaz. "Pakai mukenanya, ya?" kata ustaz lagi. Aku menggangguk ke Arum, agar ia menuruti Ustaz Toyib. Aku senang ada teman.

*****

Bersambung




Komentar

Login untuk melihat komentar!