Part 1: Pesan Bernada Ancaman
Kembalikan Istriku, Pak!

[DARA SAYA BAWA PULANG SEKARANG. JANGAN HARAP KAMU BISA MEMBAWANYA KEMBALI!]

Jantungku bagai copot saat kubaca inbok yang baru saja masuk. Pesan dari bapak mertua yang bernada ancaman. Tulisan dengan seluruhnya huruf kapital yang diikuti banyaknya tanda seru.

Kutelan saliva saat kembali membaca pesan itu, dadaku berdebar kencang. “Dara saya bawa pulang sekarang. Jangan harap kamu bisa membawanya kembali!” Aku mengulang.

Jelas sekali dari kata-kata juga tulisannya bapak marah. Tapi kenapa? Bukannya Adara tidak pernah cerita pada keluarganya. Atau jangan-jangan ….

Tidak mau berlama-lama, akhirnya segera kuambil tas, hendak pergi meninggalkan kantor secepatnya.

“Nin, gue ijin ke luar dulu, ya. Urgent. Istri gue sakit. Tolong bilangin bos.” Seruku pada Nindi staf HRD.

Nindi menjawab dengan mengacungkan jempol.

“Lama gak, Ky?” teriaknya karena aku sudah menjauh darinya.

“Gue usahain cepet!” jawabku sebelum membuka pintu. Nindi menghilang seiring pintu yang baru saja kututup.

Aku berlari cepat menuruni tangga, berbelok ke parkiran untuk mengambil motor. Lantas segera tancap gas.

Wajah Adara tadi pagi berkelebat dalam ingatan. Dia yang berbaring lemah mencoba menarik tanganku.

“Untuk hari ini tolong jangan kerja!” pintanya dengan nada lemah.

“Jangan manja! Aku sedang banyak kerjaan. Nanti tinggal minta anak-anak buat nganterin. Kalau enggak pesan ojol saja pergi ke bidan. Sendiri juga bisa ‘kan!” timpalku memberi pengertian.

Sekarang banyak ojol atau taxi online. Tinggal buka HP datang. Tidak harus aku stand by di rumah untuk menungguinya yang sakit. Terlebih memang pekerjaanku tidak dapat ditinggalkan.

“Tapi Mas, Aku —”

“Mas banyak kerjaan, Dik,” seruku memberi penegasan.

Adara pun tidak membantah, dia melepaskan tanganku lalu berbalik, memeluk bayi kami yang baru berusia sebulan. Aku sempat mendengar isakkannya pelan. Tapi kuyakin sebentar lagi pasti tangisnya reda.

Belum jam makan siang sudah ada sms dari bapak mertua yang mengancam begitu. Rumah mertuaku di kampung, butuh sekitar empat jam untuk sampai ke sana. Itu artinya empat jam yang lalu mungkin Adara memberi tahu. Ek! Kenapa harus memberi tahu orang tua. Kalau orang tua sudah tahu masalahnya pasti jadi besar.

Lima belas menit berlalu aku sampai di rumah kontrakan. Terlihat sebuah mobil terparkir di halaman.

“Nah, dia datang,” seru bang Allan, kakaknya Adara. Dia sedang menggendong Ezra--anakku. Tampaknya dia hendak memasukkan bayiku ke dalam mobil.

Di pintu ibu dan bapak mertua tampak sedang membopong Adara. Wanita itu terlihat pucat dan kesulitan berjalan. Ya Tuhan, aku bahkan tidak tahu dia separah itu. Belakangan ini dia memang mengeluhkan sakit di perutnya, katanya sudah hed padahal baru sebulan pasca caesar, kusuruh dia ke bidan dan kulihat dia sudah minum obat. Tapi semalam dia demam kembali.

Bapak melotot saat melihatku sudah ada si depan rumah. Dia melepas pegangannya di tubuh Adara. Wajah garang itu kini menatap tajam padaku, dengan tangan bertolak pinggang.

“Dasar laki-laki b**ci! Cuih!” bapak mertua membuang ludahnya ke lantai. Sedangkan ibu mertua terlihat terisak.

Aku menelan saliva getir karena takut.

“Adara kenapa, Pak?” Rasa was-was membuatku melontarkan pertanyaan bod*h.

“Kenapa tanyamu! Istri sakit kamu tidak tahu! Di mana tanggung jawabmu sebagai laki-laki, LUCKY?!” Bapak memberikan penekanan saat menyebut namaku.

“Iya, tapi tadi--” Maksudku ingin mengatakan kalau tadi pagi tidak apa-apa, tapi kalimatku terhenti karena dipotong bapak.

“Istri baru melahirkan anakmu saja kamu tidak becus ngurus!” teriak bapak lagi.

Aku sungguh kikuk tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum aku bisa berkata terdengar sesuatu terjatuh diiringi teriakan.

“Dara!” teriak ibu mertua. Sedangkan istriku sudah tergeletak di lantai. Nampaknya ibu kesulitan menahan berat tubuh Adara sendirian.

“Bapak sudah, Pak. Cepat bawa anak kita!” teriak ibu terdengar serak, mungkin karena sedih juga marah.

Cepat kuraih istriku yang tergeletak di lantai. Niat hati ingin menggendongnya. Sayang tanganku dicengkeram bang Allan sebelum tangan ini bisa menyentuhnya.

“Minggir, Bos!” seru bang Allan sambil mendorong dadaku. Posisi yang tidak siap terhadap dorongannya membuatku terjungkal ke belakang.

Bang Allan memeluk Adara, lantas menggendongnya, kemudian memasukkan Adara ke dalam mobil.

“Kalau tahu begini tidak akan ibu restui pernikahan kalian. Sudah ibu bilang melahirkan di rumah saja. Malah mau di sini sendiri dan gak ada yang ngurus. Hik … hik … kasihan sekali anak ibu, Ya. Allah.”

Ibu mertua terus merancau seraya mengusap air matanya kasar. Beliau masuk ke dalam mobil dengan air mata yang telah menganak sungai.

“Jangan harap kamu bisa mengambil Adara kembali. Camkan itu, Lucky!” teriak bapak sebelum menaiki mobil. Bapak membanting pintu mobil saat menutupnya. Mata nyalanya membuatku tertunduk.

Adara bersama keluarganya pergi. Meninggalkanku yang masih tergeletak di lantai.

“Adara … maafkan, Mas,” ucapku dengan dada terasa berat.

Aku bangun mencoba mengejar mereka.

“Dara, Adara. Maafin, Mas. Kamu duluan nanti Mas nyusul.” Kugedor kaca mobil yang sedang mudur dari halaman rumah.

“Nanti kasih, Mas, kabar, ya.
Dara ….
Adara ….”

Aku menghela napas berat. Mobil putih itu telah menjauh lantas menghilang dari pandangan.

.

Aku memasuki rumah dengan perasaan kacau. Kulihat tiga anak sedang asyik memainkan gawai di sofa.

….