Part 5: Kekecewaan Hati Bapak
Part 5: Kekecewaan Hati Bapak

“Bang,” ucapku seraya mengulurkan tangan mengajak salaman.

“Sialan!” dengusnya seraya melayangkan pukulan tepat di hidung, sampai aku terpelanting di rumput.

Laki-laki yang usianya beberapa tahun diatasku itu tidak puas dengan sekali pukulan. Dia menarik kerah bajuku dan menghajarku kembali. Aku hanya menunduk tidak membalas. Bukan tidak berani tapi karena menghargai dia sebagai kakak dari istriku.

“Kamu mau bunuh adikku, Ha?” teriak Bang Allan di depan wajahku, ditariknya kerah baju sampai aku berjarak lima senti saja dengan wajahnya.

Aku hanya menunduk merasakan mulut yang kini terasa asin.

Mungkin karena aku tidak membalas, atau karena dia sudah puas, Bang Allan mendorong tubuhku kembali ke halaman yang bertikarkan rumput.

“Kalau saja telat kedatangan kami hari ini. Mungkin kamu sudah melihat jenazah istrimu sekarang.” Bang Allan menatap ke atas seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Getar suaranya terdengar sedang menahan tangis.

“Kalau kamu tidak bisa menjaga Adara. Minimalnya biarkan dia tinggal bersama kami, bukan egois memikirkan diri sendiri.” Mata merah Bang Allan kembali nyala menatapku. Lagi aku tertunduk dihadapannya.

“Istri sekarat kamu masih tenang-tenang saja bekerja. Kamu itu bego atau memang otak kamu sudah tidak berfungsi?”

Kata ‘sekarat’ membuatku kaget, barulah aku berani menatap bang Allan lagi. Sungguh aku tidak mengerti dengan perkataannya. Bukannya mereka yang membawa pulang Adara tanpa mengajakku.

Aku kembali teringat perkataan Ramon dan Nindi, pendarahan pasca merahirkan bisa berakibat fatal. Jadi ….

“Jadi di mana Adara sekarang, Bang.”

“Di rumah sakit. Puas! Gue sama bapak yang dimaki dokter gara-gara Adara stres juga pola makan yang tidak diperhatikan.
Mana tanggungjawab kamu, Lucky.”

Aku diam tak dapat bicara. Memang selama ini tidak begitu memperhatikan Adara, kupikir dia bisa menjaga dirinya sendiri. Toh, aku pun tidak selalu meminta rumah harus dalam keadaan rapi. Atau setiap hari harus masak. Senyamannya dia saja seperti apa.

Seminggu setelah melahirkan Adara sudah melakukan pekerjaan seperti biasa kupikir dia sudah sembuh. Ternyata malah seperti ini jadinya.

Bang Allan memasukkan beberapa barang, ada selimut, bantal, tikar, dan tidak tahu apa lagi. Setelah dua kantong masuk ke dalam mobil, Bang Allan pergi tanpa permisi.

Aku mengusap wajah kasar. Terasa sakit dibagian hidung, pelipis dan mulut. Tetapi ini belum seberapa sakit dibanding rasa di dada.

Aku beranjak masuk ke dalam rumah, Nicholas, Nathan dan Casia terlihat mengintip dengan mimik ketakutan.

“Kalian kenapa?” seruku.

“Papa gak pa-pa?” Casia mendekat.

“Enggak, Papa gak apa-apa.”

“Casia sudah makan?”

Dijawabnya dengan anggukan.

“Papa beneran gak kenapa-napa,” timpal Nicolas.

“Enggak.”

“Jahat banget dia, Pah. Papa mendingan balik lagi aja sama Ibuk, gak usah ngurusin Bunda,” tandas Nathan.

“Sut! Bicara apa kamu.”
“Malam ini Papa mau ke rumah sakit. Kalian tunggu di rumah! Berani, kan?”

Nicholas, Nathan dan Casia saling lirik.

“Nicolas dan Natan sudah sebelas tahun, udah mau kelas enam. Masa gak berani. Nanti Papa minta teman datang ke sini.”

“Gak, pa-pa, ko, Pa. Kita berani,” jawaban Nicholas membuat hatiku lega.

.

Setelah shalat Maghrib aku pergi ke rumah sakit. Di sini memang ada beberapa rumah sakit. Tapi karena Adara baru melahirkan, jadi sasaran utamaku ke rumah sakit ibu dan anak.

Langit sudah menghitam saat aku tiba di pelataran parkiran rumah sakit. Sebelum memasuki area lobby rawat inap terdengar samar suara tangisan bayi.

“Maghrib begini bayi masih ada di area rumah sakit?” pikirku.

Aku yang hendak memasuki pintu, urung, malah melihat-lihat dari mana suara tangisan itu berasal. Ternyata di area halaman Masjid, ibu mertua sedang berusaha melerai tangis Ezra. Ya Tuhan, hatiku perih melihatnya.

“Ibu,” kutemui mertuaku itu.

“Lucky?”

“Ibu ngapain maghrib-maghrib di sini. Kasin Ezra, Bu.”

“Terus kamu pikir saya harus di mana?” balas ibu mertua dengan intonasi tinggi.

Aku menghela napas berat, keluarga ini masih sensitif padaku walau niatnya ingin membantu.

“Pulang, ya, Bu. Kasihan Ezra,” pintaku.

“Pulang ke mana, memang saya punya rumah di sini?”

“Rumahku lah, Bu, aku juga masih ayah Ezra, masih suami Adara.”

“Suami yang tak acuh.”

“Bu, sudahlah. Pikirin Ezra dulu.”

“Tak sudi aku tinggal bersama anak-anakmu itu. Yang ada saya hanya akan jadi babu di sana, seperti Adara,” jawab ibu mertua sinis.

Ya Tuhan, kapan aku menganggap istriku sebagai pembantu. Sayangnya sekarang bukan waktunya mendebat. Saat ini aku hanya bisa menelan makian itu mentah-mentah.

“Kita cari penginapan sekitar sini, Bu. Ayo,” ajakku, ibu mertua bergeming.

“Bu, pikirkan Ezra, ini rumah sakit lho, Bu. Banyak jurig*.”

Ibu mertua melihat ke sekeliling, aura mistisnya memang terasa. Walaupun terpaksa akhirnya ibu mertua ikut. Aku membawa barang-barang Ezra, dua kantong berisi pakaian dan lain-lain.

Irisku menemukan ada susu formula juga di sana. Teriangat kembali Adara pernah memintaku membelikan dot karena tidak bisa terus-terusan menyusui Ezra.

“Ezra lama kalau nyusu, Mas. Kalau ada dot kan bisa dijagain Casia, sementara,” tandasnya mencoba menjelaskan.

“Iya, nanti Mas belikan,” jawabku waktu itu. Tapi sampai hari ini ternyata aku malah baru ingat.

Kami menyisir jalanan dekat rumah sakit. Ada beberapa hotel di dekat sana. Tanpa mempertimbangkan hal lain aku pilih yang paling dekat.

“Bukannya di sini mahal, Lucky?” Langkah ibu terhenti di depan hotel.

“Yang penting bisa istirahat dulu, Bu.” Ibu mertua pun menurut dan melanjutkan langkahnya.

Setelah check-in kami memasuki sebuah kamar. Aura tenang dengan harum pewangi ruangan terasa saat baru saja memasuki kamar dengan ornament berwarna putih itu. Ibu mertua menidurkan Ezra lalu mengambil dot dari dalam tas. Ia segera mencucinya lantas membuat susu dari air galon yang disediakan di Hotel.

Kudekati bayiku yang sudah semakin gemuk itu. Kata Adara sebulan ini bayiku naiknya dua kilo, nyusunya kuat. Setiap malam bisa tiap jam dia menyusu.

Dadaku perih lagi tiap kali mengingat Adara, sebetulnya hal semacam itu kan urusan perempuan, masalah bangun malam hari aku tidak bisa menggantikannya untuk menyusui Ezra. Tapi saat seperti ini yang disalahkan pasti suami.

.

“Aku mau ke rumah sakit lagi, Bu,” seruku setelah menyimpan beberapa makanan di meja, persediaan untuk ibu jika lapar di malam hari.

“Lucky!” panggilnya.

“Iya.”

“Kamu jangan dekat-dekat dulu sama Bapak. Ibu takut tekanan darahnya naik lagi. Hari ini Bapak marah-marah terus,” ucap Ibu melembut. Aku diam, lantas mengangguk seraya pergi.

.

Di area ruang tunggu rawat inap kulihat bapak sedang duduk di sebuah kursi besi. Rasa ragu menjalar saat ingin mendekatinya.

Tetapi bapak menatapku, lantas kembali menunduk. Akhirnya kuputuskan untuk duduk disampingnya.

Bapak mertua tidak marah, tidak juga bicara. Hening menyelimuti di antara kami.

“Setiap orang tua menikahkan anaknya dengan harapan bahagia, ada teman saat dia sedang ditimpa ujian, ada yang mengusap airmatanya saat menangis, ada tempat berkeluah kesah. Bapak berharap Adara dan kamu saling menjaga. Saling mengurus satu sama lain.
Setelah menikah sepenuhnya tangung jawab orang tua perempuan berpindan di pundak laki-laki. Ada batasan untuk orang tua tidak terlalu ikut campur. Semua ada di tangan kamu sebagai imam anak saya sekarang.
Dua puluh tujuh tahun bapak merasa gagal menjadi seorang ayah, gagal karena salah memilihkan jodoh untuk anak bapak.
Perih hati bapak, Lucky. Nyeri di sini. Sakit!” Bapak menepuk-nepuk dadanya.

“Anak bapak bertarung nyawa demi kamu, Lucky. Demi melahirkan anak kamu, ko, bisa-bisanya … Hih!”

….

.

Ket: *Jurig = hantu.

.

Sub like and share ya teman-teman. Terimakasih ❤❤❤