Part 3: Sumpah Bapak
Part 3: Sumpah Bapak

Adara terbaring lemah di dalam mobil. Wajah putihnya semakin pucat, tetesan darah memenuhi kain jarik yang digunakannya.

Allan menginjak pedal gas semakin dalam, padatnya kendaraan di jalan membuatnya harus menginjak pedal rem kasar sampai terasa hentakkan.

"Shit!" dengusnya seraya menekan klakson. Lampu yang merubah merah membuatnya cukup geram.

"Cepet, Lan, cari rumah sakit terdekat!" ucap laki-laki beruban yang duduk di samping kemudi, tangannya erat menggenggam pegangan atas mobil. Dada pria tua itu tampak naik turun karena napas berat bentuk marah yang tertahan.

"Iya, Pak, Allan juga cepet-cepet. Kalau sampai Dara kenapa-napa aku bunuh si Lucky sialan itu. Bener Pak!" umpat Allan murka.

"Emang gila si Lucky, istri baru caesar suruh ngurus anak tiri tiga. Bener-bener gak punya otak. Udah bapak bilang dari awal, lahiran di kampung aja. Malah kekeh. Anak kitanya juga nurut aja sama laki begitu." Rojak menimpali. Diliriknya Halimah yang duduk di kursi belakang.

"Sudah, Pak. Sudah," timpal Halimah seraya mengusap kening Adara.

Wanita yang sudah mulai keriput itu kembali melihat bayi yang tertidur nyaman digendongannya. Diperhatikannya dua wajah yang nyaris sama itu. "Kasian sekali kalian, darah dagingku," batinnya menangis.

Mobil melesat menyusuri jalanan, mencari rumah sakit terdekat. Detik yang berputar terasa begitu lambat. Sedangkan Adara terlihat semakin melemah.

"Apa tidak bisa lebih cepat, Allan," seru Halimah.

"Allan juga sudah berusaha, Bu. Sabar."

Menit kemudian rumah sakit yang dituju telah terlihat. Segera Allan menghentikan mobilnya di depan sebuah ruangan yang bertuliskan "Instalasi Gawat Darurat" seorang perawat berseragam APD lengkap menghampiri.

"Pasen covid, Pak"

"Bukan, Buk. Pendarahan pacsa melahirkan," jawab Allan.

"Maaf Pak, sekarang RSUD khusus covid. Bapak bisa membawa ke RSIA saja," tolak perawat menelungkupkan tangan.

"Mohon maaf Pak," lanjut wanita yang tidak terlihat wajahnya itu.

Allan dan Rojak mematung bingung. Mereka harus melanjutkan perjalanan kembali sedangkan Adara semakin terlihat lemah.

"Ayo, Pak!" Allan menarik Rojak. Laki-laki tua itu tampak kebingungan atas penolakan perawat.

"Kenapa, Lan?" tanya Halimah di dalam mobil.

"Gak bisa, Bu. Rumah sakit ini khusus covid."

"Terus sekarang kita ke mana?"

"Rumah sakit ibu anak."

"Di mana."

"Allan juga gak tahu, Bu. Allan kan bukan orang sini."

"Tetus sekarang gimana? Ya Allah, Ya Allah.
Allan!" teriak Halimah terisak kembali. Kekhawatirannya memuncak.

"Bentar, Bu, ih!" sergah Allan yang ikut merasakan kepanikan. Diutak atiknya benda pipih di tangan. 

"Sepuluh menit kurang lebih, Pak. Bismillah," seru Allan setelah membaca Map. Ia langsung menyimpan HP di atas dashboard mobil. Lantas memutar stir mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Map.

Adara menggeliat seraya memegangi perutnya. Keringat sebiji jagung berkumpul di dahi. "Aduh!" serunya kesakitan.

"Dara, tenang. Sebentar lagi kita sampai."

"Sakit, Bu," rintihnya.

Suasana semakin kalut karena Ezra menangis. Mulut kecil itu terbuka mencari-cari telak ASI. Sebuah lengan yang menempel di pipinya berusaha ia raih.

Sedangkan Adara terus menggeliat kesakitan. Perih di perut bagai sedang diiris-iris. Seluruh tubuh sakit seakan baru dipukuli.

Halimah panik, begitupun Rojak juga Allan. Ditambah kondisi jalanan yang macet total menjadikan suasana kacau lengkap sudah.

"Pak pindah ke belakang bantuin, ibu!" pinta Halimah.

Rojak langsung turun berpindah tempat.

"Kipasin Dara, atau kasih minyak angin, atau apa?" perintah Halimah, dirinya sendiri pun bingung harus bagaimana.

Rojak mengambil sehelai kain popok bayi, diusapnya keringat yang memenuhi kening Adara.

"Yang mana yang sakit, Nak?" laki-laki berwajah garang itu berbicara lembut.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Adara. Ia hanya menggeliat ke kanan-kiri. Lantas diam. Hanya diam.

Diamnya Adara tidak membuat Rojak dan Halimah merasa lega. Yang ada malah semakin panik.

Tetiba tangan yang digunakan Adara memegangi perut terkulai lemah. 

"Adara!"

"Dara!"

"Ya Allah. Kuat, Nak, Kuat."

"Dara sadar, Nak."

"Bangun, Nak!"

"Gimana ini, Pak?"

"Enggak tahu, Bu."

Rojak dan Halimah bersahutan. Menepuk pipi Adara yang tidak memberikan respon apa-apa. Sedangan tangan dan kakinya terasa dingin.

"Bapak bersumpah. Demi Tuhan bapak tidak akan pernah menerima Lucky kembali!" teriak Rojak ditengah kepanikan. Ditunjukannya jari itu ke langit seraya menyucap sumpah. Setelahnya ia meluapkan marah dengan memukul kursi yang ada di depannya.

“Ini mobil orang, Pak.” Allan mengingatkan.

“Abis kesel bapak, Lan!”

“Cepat, Allan!!!” teriakan Halimah membungkam mulut semuanya. Sedangkan si kecil masih menangis. Susu tidak ada dalam barang bawaan mereka.

Mobil berhasil memasuki sebuah rumah sakit ibu dan anak. Mereka disambut dua orang perawat yang membawa brangkar.

“Kenapa, Pak,” ucap salah satu perawat.

“Pendarahan pasca melahirkan.”

“Normal, caesar?”

“Normal, eh caesar.” Allan langsung mengklarifikasi saat tangan ibunya baru saja menepis lengan.

“Pasca caesar berapa hari?”

“Se-sebulan,” jawab Allan ragu.

“Tolong ibu jangan masuk!” larang perawat saat melihat Halimah yang membawa bayi akan ikut ke ruang IGD.

Halimah menjauhi ruangan itu, sementara hatinya diliputi rasa khawatir.

Allan dan Rojak ikut ke dalam Ruang IGD, beberapa menit mereka kembali setelah menandatangani beberapa berkas.

.

“Keluarga ibu Adara,” panggil seorang dokter di depan puntu bertuliskan IGD itu.

Allan dan Rojak segera menghampiri. Halimah berdiri agak jauh tapi masih berusaha mendengarkan.

“Pasca melahirkan caesar ibu makannya apa?” dokter cantik itu bertanya tegas dengan intonasi cepat.

Rojak dan Allan saling lirik.

“Apa kunyit dan garam?” tebak dokter mendahului.

“Eangak, ko, Bu. Biasa,” ucap Rojak, ragu. Sungguh dia tidak tahu apa yang dimakan Adara selama ini.

“Biasa apa, Pak? Ibu pasca melahirkan caesar tidak boleh makan sembarangan. Agar lukanya cepat menyatu kembali. Sudah sebulan tapi luka sayatan ibu Adara belum menyatu.”

Rojak dan Allan saling lirik. “Benar-benar si Lucky sialan. Diapakan anakku sebenarnya,” batin Rojak.

“Se-sebenarnya kami tidak tahu pasti, Bu. Karena pasien tinggal bersama suaminya,” jelas Allan.

“Anda bukan suaminya?” Doket itu menatap Allan.

“Bukan.”

Doker dengan tanda pengenal bertuliskan Mariana itu mengamati dua orang laki-laki dihadapannya.

“Baik begini, Pak. Ibu Adara luka dalamnya belum sembuh, sepertinya asupan makanannya kurang dijaga. Terus tampaknya beliau kecapean. Selalu kami tekankan ibu pasca melahirkan caesar tidak boleh bekerja berat, apalagi angkat-angkat barang berat.” Mariana menjeda.

“Selain itu tekanan darahnya tinggi. Ibu Adara harus dirawat, silahkan bapak lengkapi administrasinya untuk memesan kamar,” lanjutnya.

Seorang suster yang berdiri di belakang Mariana menulis di papan yang dia bawa dengan cepat. Ia memberikan beberapa helai kertas dan menujukkan arah sebuah ruangan.

Allan menerima kertas itu. Teringat uang di dompetnya yang hanya beberapa helai saja.

“Pak,” ucap Allan galau.

“Ikuti saja dulu. Di kampung ada sawah, jual sawah. Ada rumah jual rumah. Yang penting Adara sembuh dulu,” timpal Rojak mengerti kekhawatiran Allan.

Allan hilir mudik di depan rumah sakit, banyak sekali beban di kepalnya. Serupa benang kusut yang coba dia rajut satu per satu. Sedangkan Rojak sedang menemani Adara di dalam.

Halimah tengah mengurusi Ezra di Mesjid yang ada di halaman rumah sakit. Tidak tahu dimana mala mini akan tidur. “Mungkin di dalam mobil.” Pikirnya.

“Aku harus memberi peringatan pada si Lucky sialan itu. Ya, harus!”

….