Part 4: Murka Allan
Part 4: Murka Allan

“Hati-hati, Bro. Sodara gue aja ada yang meninggal gara-gara pendarahan pasca melahirkan. Bahaya juga itu, bro.”

“Yang bener?”

“Suer.”

Aku tertegun mendengar perkataan Ramon. Apakah sakitnya Adara seserius itu?

Kenapa bisa merenggut nyawa padahal operasinya telah berlalu. Luka jahitannya juga sudah kering. Adara juga sudah beraktifitas seperti sedia kala.

Dari pada khawatir tidak jelas kuketik huruf-huruf di pencarian google. "Pendarahan pasca melahirkan caesar."

Keluarlah beberapa artikel dan langsung kupelajari.

Dalam halaman sebuah konsultasi dokter online menjelaskan jika pendarahan pasca melahirkan caesar itu ada yang wajar juga tidak wajar. Yang tidak wajar jumlahnya bisa menyentuh 500 cc atau setara dengan lima kali ganti pembalut dalam sehari. Atau jika darah yang keluar bisa memenuhi pembalut besar, pasien harus segera konsultasi. Jika pendarahannya sebanyak itu maka harus diperiksa lebih lanjut untuk memastikan apa penyebabnya. Bisa karena kontraksi rahim yang kurang baik, bisa karena pendarahan akibat pembuluh darah yang terbuka atau karena sebab lainnya.

Setelah sampai di ujung artikel tidak ada kesimpulan yang aku dapatkan. Karena aku tidak tahu seberapa banyaknya darah Adara yang keluar. Melihat Adara mengeluarkan darah pun baru dua kali. Pada saat caesar, juga tadi di seprei.

Meskipun aku sudah ketiga kalinya melihat seorang perempuan melahirkan, masalah begini aku masih belum paham. Dulu aku dan Elsa tinggal di kota S bersama orangtuanya. Elsa sepenuhnya diurus mertua. Saat itu waktuku cukup banyak, karena aku staff biasa yang digaji UMR 10% tunjangan pendidikan yang tidak seberapa.

Saat berumah tangga dengan Elsa aku bisa pulang sore. Libur dua hari dalam seminggu. Bolos pun tidak pernah ada yang mencari. Tapi Elsa seakan tidak membutuhkan kehadiranku walau kami punya anak kembar. Yang dia butuhkan hanyalah uangku. Kami bertengkar setiap hari hanya gara-gara uang yang tidak cukup. Saat itu rasanya aku benar-benar sudah tidak punya harga diri sebagai laki-laki.

Hidup adalah belajar. Boleh jadi saat itu aku gagal, tapi tidak untuk sekarang. Saat ini aku fokus kerja, kerja dan kerja. Bukan tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan Adara di rumah, tapi tidak ingin hal yang dulu terulang kembali.

Suami istri sama-sama punya tanggung jawab. Minimalnya saat aku bekerja dia harus bisa menjaga diri sendiri. Seharusnya kalau Adara memang kelelahan dia bisa istirahat. Toh anak-anakku dari Elsa juga sudah besar. Bukan anak kecil yang segalanya harus dipersiapkan.

Berkali-kali kubilang. Kalau banyak kerjaan suruh anak-anak. Tapi sepertinya Adara tidak mengikuti perkataanku.

.

Sedikit kulupakan permasalahan tentang Adara karena pekerjaan yang menumpuk, tanpa terasa jam telah berputar hingga mendekati waktu Asar. Perutku bersuara karena tidak makan siang. Kuputuskan untuk pergi ke kantin sekalian shalat.

“Ky, balik jam berapa?” Nindi menghampiriku di meja kantin, dia terlihat sedang melihat kondisi kantin untuk persiapan makan karyawan yang over time. 

Nindi temanku sedari SMA, karena bantuan dia juga aku kerja di kota ini dengan upah yang lumayan.

“Tau. Jam berapa, ya, tadi. Jam dua kali.”

“Buset nyampe gak liat jam. Gimana istri lu sekarang.”

“Pendarahan lagi.”

“Udah diperiksa?”

Nah, kan, aku ketemu lagi dengan pertanyaan yang jawabannya tidak kuketahui. Sedangkan kalau aku jawab jujur jelas harga diriku hilang. Entah harus menjawab apa akhirnya aku diam saja, hingga pertanyaan Nindi pun menggantung di udara.

“Woi, malah diem. Kacau banget, lu, kelihatannya. Sakit parah, ya, istri lo, Ky?”

“Gue juga gak tahu. Tapi sekarang jalan aja gak bisa. Lagi periksa sama mertua.”

“Bukannya udah beberapa minggu, setelah melahirkan itu.”

“Udah sebulan.”

“Heran, udah sebulan masih pendarahan. Jangan-jangan dari luka caesarnya, Ky.”

“Tapi lukanya udah kering, ko,” untuk yang satu ini aku yakin karena sudah pernah melihat kondisi perut istri, dan memang sudah tidak luka.

“Di luar gak luka belum tentu di dalam. Itu beberapa lapis, lo, Ky, jahitannya. Malah ada yang harus dioprasi lagi gara-gara lukanya gak kering.” Nindi menjeda.

“Duh gue jadi ngilu bayanginnya. Hhhiihhh.” Nindi bergidik.

“Untung gue normal. Normal aja gue bejek-bejek suami. Apalagi begitu.”

Aku hanya mengacak rambut mendengarkan penuturan Nindi. Hari ini rasanya semua orang sedang memojokanku.

“Udah, lah, sana! Ganggu, Lu.”

“Dih, ngambek. Orang gue cuma nanya,” ucap wanita tambun itu seraya pergi.

Sialan, ngajak ngobrol cuma buat nambahin pikiran.

.

Jam 16:30 para staff mulai meninggalkan office. Hanya beberapa yang masih kerja, biasanya karena ada banyak pekerjaan sehingga memilih lembur. Aku sendiri tidak bisa keluar kantor sebelum MR. Lee pulang. Karena aku assistennya.

Mungkin Adara sudah sampai di kampung. Ini saatnya aku menelpon dia. Atau jangan-jangan mungkin sudah ada di rumah sakit daerah yang ada di sana.

Kumainkan benda pipih enam inci, sebuah nomor kusentuh, “Bunda.”

Beberapa kali denting panggilan masuk tidak ada jawaban. Sampai terdengar suara laki-laki.

“Pah …,” ucapnya.

Dahiku mengernyit, menjauhkan layar dari telinga untuk memastikan barangkali salah tekan.

“Nichol?”

“Nathan, Pah.”

“Ko, kamu yang ngangkat. Bunda sudah pulang?”

“HP Bunda gak dibawa. Ada geletak di meja.”

Haduh … aku menarik napas berat. Dara, Dara, HP penting gak dibawa.

“Yaudah lah.”

“Oke, Pah”

Kalau sudah begini tidak ada pilihan, antara menelpon Bapak atau Bang Allan. Tapi pastinya aku dimaki lagi. Jadi ragu kalau begini.

Setelah lama mempertimbangkan akhirnya kuberanikan untuk menelpon Bang Allan.

Sekali, dua kali direjek. Ketiga kalinya baru diangkat.

“Ngapain, Lu?”

“Udah nyampe mana, Bang.”

“Nyampe mana? Pala lu peang?”

“Dimana, Lu, sekarang?” lanjutnya.

“Masih di kantor.”

“Gue tunggu di rumah, sekarang!” tandasnya membuatku kaget.

“Rumah mana, Bang?”

“Elu tinggal di rumah mana sekarang? Nah, gue tungguin elu di situ!”

“Oh, i-iya.”

Astaghfirullah, aku mengusap wajah kasar. Bang Allan terdengar murka sekali. Kenapa pula dia balik lagi ke rumah, bukannya tadi sudah pergi ke kampung.

Daripada keluarga Adara ngamuk-ngamuk lagi, lebih baik sekarang aku pulang saja.

“Mr. Saya pulang, ya, ada urusan.” Aku memutar kursi, meja atasanku itu berada tepat di belakangku.

“Pulang sekarang, ya?” timpal laki-laki berkebangsaan Korea itu.

“Iya, Mr. Saya ada urusan, istri sedang sakit.”

“Ya, pulang saja, lah.” Dia menghempaskan tangan menepis udara.

Kumatikan komputer, lantas memasukkan beberapa barang pribadi ke dalam tas. Kemudian aku beranjak pergi. Baru sampai pintu office suara parau itu terdengar kembali.

“Lucky, ya. Sini dulu!” Mr. Lee melambaikan tangan.

“Laki-laki beruban ini mau apa lagi?” Aku mengumpat dalam hati.

“Ambil order recap,” pintanya.

Ijin yang tadi dia berikan ternyata palsu belaka. Dia malah memberikan beberapa intruksi yang sebenarnya bisa dikerjakan besok. Belum lagi pertanyaan yang sama terus diulang-ulang. Membuatku semakin geram.

Pantat terasa semakin panas. Teringat ancaman Bang Allan di telepon, sudah pasti jadi masalah lagi.

Setengah jam berlalu barulah aku bisa terlepas dari cengkraman Mr. Lee. Ditambah perjalanan pulang yang kurang lebih lima belas menit karena macet. Empat puluh lima menit aku membiarkan keluarga Adara menunggu.

“Tapi tidak mengapa, yang penting mereka sudah di rumah lagi sekarang. Mungkin tadi Bapak hanya membawa Adara berobat,” pikirku.

Mobil putih itu sudah kembali terparkir di halaman rumah. Gegas aku masuk hendak mencari Adara dan Ezra. Di teras Bang Allan sudah menunggu.

“Bang,” ucapku seraya mengulurkan tangan mengajak salaman.

“Sialan!” dengusnya seraya melayangkan pukulan tepat di hidung, sampai aku terpelanting jatuh di rumput.
 
….

.

Author akan sangat berterimakasih jika reader tersayang berkenan memberi tahu keberadaan typo laknut.🙏🙏🙏

Mohon bantu Sub, rate, and komen, agar cerita ini naik.
Terimakasih 🙏😍