2. Terciduk

Ya, Tuhan, kenapalah aku terdampar di perusahaan sebesar ini di bagian manual, memakai kertas dan pena? Jika ini dianggap anugerah oleh kawan-kawanku, tolong cabutlah kantuk ini dari mataku.

Itu adalah doa yang setia kulantunkan setiap masuk malam.

===

Aku terangguk-angguk di meja dengan setumpuk DHR(Daftar Hasil Rekaman) di atasnya.  Sehabis makan malam sudah jadi kebiasaanku teler seberat-beratnya. Kebiasaan yang membuat tulisan menjelma jadi cakar ayam dan memancing komplain dari para leader. Tentu saja karena salah input atau salah jumlah.

"Anak dokumen, kenapa bisa salah jumlah? Ngitung pakai jari-kah?"

"Anak dokumen, kok banyak kali asterik-mu?"

"Anak dokumen lot 604, lawan shift complain input-mu gak balance."

"Kamu itu jadi anak dokumen karena tulisan. Ingat, tulisan, kalau hasilnya masih serupa cakar ayam, mending semua anak line sekalian jadi anak dokumen!"

Leader sudah pasti marah jika kesalahan yang sama terus terulang, dan eksistensi sebagai anak dokumen--yang dipilih karena kerapian tulisan--akan dipertanyakan.

Ayolah, Kinara. Bangun.

Kubuka mata yang sungguh bandel, maunya merapat terus. Pun dengan kepala yang teramat berat, tidak mau lagi diajak berpikir. Bahu dan jari-jari sama semua, lemas tak bisa diajak kompromi.

"Anak oven ... cepat kembali." Biasanya jika sudah begitu, aku minta dipijitin anak oven--mereka yang bertugas menghandle material ke dalam oven raksasa, berbentuk bulat dengan kedudukan persegi-- tapi kadangkala mereka sibuk dengan material-material produk yang baru atau telah selesai dikeringkan.

Kali ini pun, mereka sedang ke area induk untuk mengambil material yang akan diproses selanjutnya. Area kami ini memang terpisah dari area induk. Di sini khusus pengeringan dan penyimpanan saja.

Di PT sebesar ini, yang menghandle mulai dari material mentah sampai ke office, dari buruh sampai direktur, aku malangnya terdampar di bagian produksi yang operasi 24 jam. Yaah, namanya juga hanya tamatan SMA, terima saja nasib ketika harus masuk shift pagi atau malam.

"Oh, Tuhan, toloong." Aku berdiri sempoyongan.

Bagiku, yang paling seram itu bukan ketemu hantu di toilet perusahaan, tapi terciduk oleh atasan permanen sedang tertidur. Surat peringatan, siapa tidak takut? Yang pasti selain berpotensi masuk zona degradasi, itu akan menjadi pintu pertama pembuka untuk melayangnya bonus finish kontrak! Kerja siang malam gak peduli ngantuk dan lelah, duitnya ilang gara-gara mata tak bisa dikondisikan. Sayang banget, kan?

Kugerak-gerakkan bahu. Meregang-regangkan tangan. Mulai melompat-lompat, lalu berjalan-jalan. Anak-anak area sebelah hanya melirik acuh. Mereka pun sibuk dengan kerjaan masing-masing. Jangan harap ada yang membantu kecuali diri sendiri.

Aku kembali ke meja di sudut ruangan. Tak ada perubahan berarti. Kupaksakan, kubangkit-bangkitkan semangat. Meraih pena, kalkulator, strapless, dan menyusun lembar dokumen agar mudah mengisinya. Baru dua DHR, ngantuk hebat datang lagi.

"Kalau seperti ini, habislah semua kerjaanku di komplain lawan shift," keluhku.

Jalan terakhir adalah pergi ke toilet untuk mencuci muka. Ke toilet ini selain karena gosip hantunya, juga horor karena harus membuka smock, pakaian seperti astronot yang wajib kami pakai selama berada di ruang produksi. Walau tak bertahan lama, kesegaran yang diberikan air kran di wajah lumayanlah untuk mengebut tumpukan riwayat perjalanan hidup material yang ada. Elah, lebay kali aku.

Kadang-kadang, bekerja di PT itu bukan hanya kejar-kejaran dengan output dan bus saja, tapi juga dengan mata yang ngotot ingin merem padahal dia harus melek.

Yang paling susah ya, ini. Melawan ngantuk. Apalagi dengan pekerjaanku yang kebetulan pas bagian manualnya. Sangat merepotkan. Ulang mengulang bagian yang tercoret atau tak jelas itu sungguh makan waktu. Kadang pengen protes sama takdir, kok harus aku yang dikasih dokumen manual ini? harusnya di data entri kek, di mana gitu yang enakan dikit.

Nah, nah. Mulai nggak bersyukur lagi aku, tuh.

Jarum jam besar yang tergantung di dinding berwarna biru laut itu rasanya lambat sekali berputar. Aku sudah dua kali tersentak oleh kantuk yang luar biasa, jam masih saja bercokol di angka 04. 45. Sepuluh menit lagi break Subuh areaku. Temanku yang dua orang sudah break sejak lima belas menit lalu. Keistimewaan anak oven, boleh istirahat menyesuaikan dengan pekerjaan, asalkan tidak melebihi waktu yang ditentukan.

Aku sendiri jelas lebih memilih break bersama anak 'line', karena beda gedung tempat loker karyawan dengan rekanku yang bertugas di oven. Bagaimanapun, sendirian itu adalah pilihan terakhir untuk menghabiskan waktu break di perusahaan.

Aku duduk bertelekan tangan di meja. Semakin lemas karena mengantuk.

Kurasa belum sepuluh menit, ketika kesadaran hampir hilang sepenuhnya ke alam mimpi, aku merasakan sesorang di dekatku. Kubuka mata perlahan tanpa mengangkat wajah dari meja. Entah kapan meja stainless yang dingin ini menggantikan tanganku menahan kepala.

Seraut wajah tertutup pakaian putih yang hanya menyisakan mata--sama sepertiku-- semula nampak biasa saja. Sel-sel di otak masih bekerja mengumpulkan kesadaran penuh untuk sekian detik. Kejap berikutnya aku tersentak.

"Pak Wu?"

Pak Alan Mauhendra Wu, atau nama bekennya Alan Wu. Pria berdarah keturunan, tapi sejak dari kakek neneknya, mereka sudah lama menjadi WNI.

Mampuslah, matilah. Ketangkap basah aku tertidur di area! Oh. Habislah nanti aku kena SP! Dimarahin leader, di briefing, di ... semoga ini nanti tidak disangkut pautkan dengan bonus finish kontrak. Karena itu bonus untuk nambah biaya aku kuliah.

Tolooong.

Oke.

Nggak ada orang, jadi percuma minta tolong. Lagian kalau ada pun mereka mau nolong apa?? 

Aku tidak tahu sejak kapan dia duduk di situ. Perasaan belum lama memejamkan mata menunggu waktu break. Kenapa pula dia tidak membangunkanku? Sengaja ingin menciduk rupanya. Mari kita lihat sampai kapan bocah ini akan tidur, mungkin begitu pikiran si manager area ini.

"Ada apa, Pak?" Meski sempat kena serangan jantung mendapati hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah mata atasan, aku sok profesional. Menggeser kursiku mundur sedikit ke belakang.

"Oven mana yang bermasalah? Coba lihat log book-nya."

Kusangka dia akan langsung men-skakku kedapatan tidur, ternyata hanya berujar kalem menanyakan salah satu mesin oven yang bermasalah sejak kemarin. Jantungku yang hampir melorot dari rongganya kembali ke posisi semula.

"Oh ... ini, Pak." Cepat kusambar  salah satu dari dua DHR yang terpisah dari  teman-temannya dan menyodorkan pada atasanku itu.

"Mana?" tanya Pak Alan Wu membolak-balik, mencari catatan informasi yang diinginkannya. "Ini log book oven 410."

Ya Lord ... salah kasih rupanya!

Meski gugup setengah mati, kusambar yang log book bersampul bening yang satu lagi.

"Maaf, Pak. Ini yang benarnya," ucapku.

"Tidur aja kerjamu. Kuketok kepalamu nanti." Sorot matanya kurasakan hendak menembus lapisan smock-ku.

Aku tak berani mengangkat wajah, hanya bisa mengumpati diri di dalam hati. Sementara si bapak  meneliti log book oven nomor 409 di tangannya.

"Berarti lebih tiga jam prosesnya ya?" Normalnya, waktu yang digunakan oven raksasa untuk mengeringkan ribuan material sekali proses itu antara 120-180 menit. Jika lebih atau kurang, berarti ada gangguan di mesinnya.

"I-Iya, Pak. Kemarin sudah diperbaiki maintenance, malam ini kumat lagi," sahutku mencoba bersuara jernih.

Aku menunggu dalam deg-degan yang melebihi pengumuman kelulusan waktu sekolah.

"Baiklah. Untuk sementara aku pinjam dulu log book-mu," ucapnya sambil menutup buku di tangan, lantas berdiri.

"Baik, Pak." Aku menahan napas lega, menunggu waktu yang tepat untuk mengembuskannya. Semoga dia lupa ... semoga dia lupa ....

"Sekalian, sini ID-mu."

Napasku lolos dengan kasar, nyaris membuat tersedak.

"Ya, Pak," kataku lemas sambil mengambil ID dari balik smock. Berharap Pak Wu mengerti apa yang ingin disampaikan oleh hatiku lewat sorot mata. Tapi tentu saja tidak, mengangkat wajah saja aku tak berani, bagaimana pula dia akan bisa memahami jeritan hati ini?

Aku terduduk di kursi dengan hampa. Memandangi punggung Pak Wu yang menjauh sambil mengantongi ID-ku, aku jadi geregetan sendiri.

Kantuk sialan! Setelah berhasil membuatku celaka, ia minggat ke seberang lautan.

Tak pernah bermasalah selama satu setengah tahun di sini, sepertinya ini akan jadi bom dalam catatan putih bersihku bekerja di perusahaan ini.

Sial-sial-sial!

Dari sekian banyak karyawan, kenapa harus aku yang terciduk oleh pemimpin departemen yang jarang masuk malam, sekalinya masuk malah menciduk orang ini? Biasanya siang aja dia jarang turun langsung ke area produksi, apalagi malam. Nasibmu, Kinara ....

***

"Apa? ID-mu diambil Pak Wu?" Kak Dita, line leader permanen areaku setengah membelalak. Sontak mata satu line dekat meja leader menyorot padaku.

"Iya, Kak." Aku lemas selemas-lemasnya. Break dua puluh menit tidak mengembalikan energiku gara-gara panik. Pikiranku terus ke ID card yang disita.

"Astaaga,Kinara, kok bisa? Hadeeeh ... abislah aku pula kena ceramah gratis nanti. Kamu itu, sudah dibilangin masih tak dengar juga. Kalau ngantuk cuci muka. Kalau udah waktu break, break aja duluan. Jangan mingkem di meja. Yaalah kamu tewas karena gak ada yang mengganggu di bawah." Sang leader geleng-geleng kepala.

"Jadi gimana ini, Kak? Aku dah gemetar udah," ringisku memelas.

"Ya sudah. Pergi sana ambil dulu log book-mu. Nanti kalau disuruh panggil aku baru panggil lagi."

"Kak Dita kejam." Aku bersungut-sungut. Hilang sudah harapan berpegangan di lengan leader beranak satu itu.

"Aku pula dibilang kejam. Salahmu itu, Non. Berdoa saja Pak Wu sedang baik hati pagi ini."

Aku tersaruk-saruk bagai zombi. Berita ID-ku dibawa Pak Wu segera tersebar bagai debu musim panas. Belum keluar dari area tatapan penuh tanya dan kasak-kusuk sudah terdengar.

Ish ... tatapan mereka seperti melepasku ke kandang singa saja.

Kubuka smock di gowning. Sengaja pelan-pelan sambil menguatkan mental. Lalu berjalan ke lorong sebelah kiri. Sepi tak ada orang, karena memang ruangan kepala departemen agak di pojok.

Lewat sebidang kaca persegi panjang ukuran 10 × 30 cm di pintu aku sempatkan mengintip sebelum masuk. Sosok gagah berkemeja biru muda duduk menghadap komputer.

"Masuk." Suara Pak Wu terdengar ketika aku mengetuk tiga kali.

Perlahan kudorong pintu, lantas masuk dengan jantung menabuh genderang.

***