1. Prolog


Eskalator mall ini rasanya terlalu lambat berjalan. Entah karena euforia atau karena sedikit rasa bersalah. Niatku yang hanya ingin membeli satu buku untuk referensi masuk universitas, menjadi khilaf dengan memborong tiga buku lainnya. Yang kalau ibuku di kampung melihat, akan menjerit karena harga satu buku setara dengan upah satu kodi jahitan.

Aku sebenarnya benar-benar tak berniat, tapi bagaimana bisa aku mengendalikan diri jika buku incaran sudah sejangkauan tangan? Menunggu gajian bulan depan insomniaku bisa kumat sebulan full. Ujung-ujungnya akan tetap berlari ke sini seperti anak kecil melihat mainan. Meski ini pemborosan karena jatah beli buku melonjak jauh dari budget, tak ada ruginya membeli buku, 'kan?

Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ke anak tangga eskalator di bawah kakiku. Mencoba membesarkan hati dan sabar,  lebih sabar lagi ketika di sampingku ternyata seorang nenek yang sudah uzur, tapi terlihat masih kuat. Jangan sampai karena gerakan serampanganku, nenek ini jadi tersenggol dan mengakibatkan HSE.

HSE. Ya. Health Safety Environment. Perusahaan tempatku bekerja terkenal dengan gaung safety-nya yang mendunia. Kesehatan dan keselamatan kerja, adalah hal mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Sugesty bahwa kesehatan dan keselamatan adalah prioritas setiap orang benar-benar tertancap kuat di ingatan. Bagaimana tidak bila minimal dua kali sehari, pagi dan pulang kerja, kadang-kadang ditambah briefing atasan, atau teguran para leader, karyawan harus mengulang hal yang sama. HSE, adalah mantra keramat yang tak boleh diabaikan siapa pun.

Kakiku sudah menjejak ubin ketika si nenek di sebelahku terhuyung. Terkejut, refleks aku menangkap tubuh si nenek dan kami jatuh menimpa lantai. Beberapa orang histeris.

"Nek? Kakimu tak apa?" tanyaku cepat. Khawatir kaki nenek itu tersangkut dan bisa saja putus digilas eskalator yang terus bergerak. 

"Tidak, Nak. Terima kasih. Untung kau menolongku, kalau tidak kepalaku bisa terbentur. Kau tidak apa-apa?" 

Si Nenek meraba-raba tubuhku dengan cemas. Jelas saja dia menggeleng walau pantat terasa nyeri.

"Aku baik-baik saja, Nek. Syukurlah Nenek tidak apa-apa," ujarku seraya membimbingnya menepi. Orang-orang yang semula berkerumun mulai bubar melihat mereka tidak apa-apa.

"Ini salahku, Nak. Ayolah kita berobat dulu. Siapa tahu tulangmu terkilir," Si Nenek memaksa. Aku tersenyum sambil menggeleng. 

"Tak apa, Nek. Nenek sendirian saja? Mana teman Nenek?" Sendirian dalam mall sebesar ini jelas riskan untuk orang tua sepertinya. Ekspresi nenek itu seperti bingung. Aku menunggu yang kemudian diinterupsi oleh dering ponsel dalam kantong tas.

"Halo, Kin. Aku sudah sampai. Kamu masih lama?" Suara hangat seseorang dari seberang membuatku tersenyum lebar.

"Hai, An. Cepat sekali kamu. Aku masih di Gramedia. Sebentar lagi sampai, kok. Ini mau naik taksi aja biar cepat. Tunggu sebentar, ya." Aku segera menutup telepon dan memandangi wanita tua di depanku.

"Nenek sendirian?" Aku mengulang pertanyaan yang kulontarkan tadi. 

"Dompetku, mana dompetku." Wanita itu merogoh tasnya. Sibuk mencari hingga selembar kertas kecil terjatuh ketika dia menemukan yang dicari. Sebuah dompet berwarna cokelat tua, serasi dengan setelan baju panjangnya yang elegan.

"Ini, Nek." Aku mengambil menyodorkan kertas kecil yang seperti kartu nama. Aku membacanya sekilas.

"Ah ya ... apa aku sendirian?" kata Si Nenek sambil mencari-cari sesuatu dalam dompetnya tanpa melihat kertas yang kusodorkan. "Tidak. Nenek tadi bersama cucu. Tapi dia lama sekali antri di ... di mana itu, tempat mesin uang, dia meninggalkanku. Jadi aku mau pulang saja sekarang." 

Nenek itu berjalan menuju pintu keluar. Astaga. Apa nenek ini sedang berantem dengan cucunya? Masa dibiarin saja beliau jalan sendiri? 

Seharusnya ini tak jadi masalah, tapi aku menangkap sesuatu yang tak beres dari si Nenek. Aku bergegas menyusul.

"Nenek ada handphone?" Pertanyaan yang dijawab gelengan. Aku melirik jam dan mulai diburu waktu.

"Alamat rumah nenek di mana? Biar aku cariin taksi." Biar saja nanti si cucu brekele pusing nyari neneknya, ngapain juga bawa orang tua kok dicuekin. Yang penting si nenek aman sampai di rumahnya.

"Di ... di ... mmm ...." Benar saja, kondisi nenek ini terlalu mengkhawatirkan untuk berpergian sendirian.

Ya, Tuhan. Sungguh terlalu seseorang yang membawanya kemari tapi tidak waspada! 

Otakku berpikir cepat. Aan sudah lama menunggu. Nenek ini juga terlihat butuh pertolongan. 

"Nek, ini alamat rumah Nenek, kan?"

"Ah, iya. Aku tinggal di sana."

"Baiklah. Aku akan membantu Nenek mencari taksi untuk mengantarkan Nenek ke rumah," ucapku seraya membawa nenek itu keluar. Kebetulan sebuah taksi baru saja menurunkan orang di pinggir jalan depan mall. Berbicara sebentar dan menyodorkan kartu alamat yang kutemukan di tasnya ke pak sopir, kubantu nenek itu masuk ke taksi.

"Nenek pulang diantar taksi ini, ya. Nanti telepon aja cucu Nenek dari rumah. Alamatnya sudah aku kasih ke supir. Bayarnya juga sudah, aku pamit ya, Nek. Hati-hati," ujarku. Ini kuanggap sebagai jalan terbaik meskipun dompetku langsung jebol karena nominal yang disebutkan pak supir taksi.

"Terima kasih, Nak. Apa kau tidak mau ikut denganku dulu?"

"Makasih, Nek. Lain waktu saja. Maaf harus cepat pergi, teman saya menunggu, Nek." Aku menutup pintu taksi.

"Nak. Tunggu dulu, namamu siapa?" Wajah tua itu mendekat ke jendela. Aku tersenyum. 

"Namaku Kinara, Nek."

"Ini untukmu, Nak. Sebagai ucapan terima kasih." Sang nenek lagi-lagi mencari sesuatu ke dompetnya. 

Mataku membulat tak percaya. Nenek itu menyodorkan gelang bermanik-manik hijau lumut yang terlihat berkilau. Sekali lihat saja aku tahu ini pastilah barang mahal. 

Seketika aku menggeleng kuat. Nenek ini benar-benar pikun. Ya, Tuhan. Semoga dia tak bertemu orang jahat.

"Jangan, Nek. Lupakan saja," tolakku cepat-cepat.

"Ayolah, terima saja. Cucu keparat itu tidak memberiku uang. Hanya dua lembar saja, sungguh tidak mematut. Aku hanya punya gelang imitasi ini untukmu. Tidak terlalu berharga, tapi lumayan untuk kau hidup sebulan bila kau jual." Si Nenek terlihat gusar. Aku menolak lagi. Meletakkan gelang itu dipangkuannya dan segera berlari.

"Tolonglah, Nak. Aku mohon." Si Nenek menangis!

Oh God. Kenapa begini? Nenek itu memberiku gelang? Katanya imitasi, tapi ini terlalu elegan untuk sebuah barang KW. Tapi entahlah, aku juga tidak tahu menahu soal harga aksesoris dan perhiasan. 

Aku berbalik lagi. Tak tega melihatnya menangis. Kuterima dengan pasrah meskipun rasa tak enak menggayuti hati. Rupanya akulah si penjahat yang kukhawatirkan barusan.

"Terima kasih sudah membantuku. Semoga kau selalu sehat dan bahagia." Si Nenek menghapus air matanya. Kemudian segera menyuruh taksi pergi.

"Sama-sama, Nek," 

Aku cepat-cepat memoto plat taksi dan dua orang di dalamnya. Ini perlu jika nanti terjadi masalah. Supir taksi segera berlalu, aku pun mencari taksi lain seraya berpikir, semoga suatu hari nanti bertemu dengan cucu Nenek itu dan mengembalikan gelangnya. 

Sebuah pertolongan kecil tidak disengaja, lalu mendapat sesuatu yang tidak disangka-sangka. Ini situasinya persis ketika kami anak dormitory-asrama-sepakat memborong makanan ibu penjual klepon. Niat hati mau melebihkan untuk ibu yang saban siang menjajakan makanan door to door ke dorm, malah lupa membayar. Akhirnya aku dan Ayuk Siti harus berkeliling dormitory mencari jejak si ibu. Ketika ketemu, si ibu justru menambah tiga porsi lagi untuk kami makan sebagai bonus.

Kadang-kadang hidup senaif itu.

Kemudian masalah Nenek dan gelang terlupakan. Euforia baru memenuhi dadaku. Aan akhirnya datang juga. Aku akan sangat senang bisa membantunya mendapat pekerjaan sepertiku di sini. Pulau ini, sempurna untuk kami pejuang yang tak punya apapun kecuali keringat. Membayangkannya aku tersenyum senang.

Bagiku, kebahagiaan sesederhana itu. 

Hanya saja, aku benar-benar tak menyangka, bahwa apa yang kumulai hari ini memiliki buntut panjang untuk kehidupanku selanjutnya.

***


Namaku Kinara Aurora. Kinara artinya titik pertemuan, Aurora adalah matahari terbit. Matahari terbit melambangkan harapan. Titik pertemuan untuk sebuah harapan, serupa matahari terbit yang dinantikan banyak orang. Begitulah doa Ibu ketika menyematkan nama itu untukku.

Aku dulu tak begitu suka dengan arti namaku. Tapi kini aku sangat menyukainya. Pulau ini kuanggap sebagai implementasi dari namaku. Di sinilah aku mulai menemukan titik yang menjadi pertemuan harapan di masa depan. Aku bekerja, menabung, kemudian aku akan kuliah, menemukan pekerjaan yang lebih baik, membahagiakan Ibu, dan barulah akan memikirkan tentang seorang lelaki, mungkin.

Bravo, Kina. You have dreams and you can!

****