Bab 5. Kesepakatan
Di sebuah apartemen di salah satu sudut Ibukota Jakarta, seorang lelaki tengah duduk bersandar pada sofa. Salah satu kakinya menumpu di atas kaki yang lainnya. Sesekali ia melirik seorang lelaki yang berdiri di samping jendela. Pandangan lelaki itu kosong. Sepertinya ia tengah menanggung beban yang cukup berat. Lama ia melihat rintik hujan yang jatuh menetes, lalu membasahi kaca jendela di depannya. Napasnya berembus berat, terdengar seperti keluhan.

“Buat apa ke sini? Mau menghinaku? Silakan tertawa puas karena aku tak pernah mendengar semua nasehatmu!” cecar lelaki yang sedang berdiri.

“Di mana Aru?" Lelaki yang duduk enggan menjawab lawan bicaranya. Ia memilih mengalihkan topik.

“Belum pulang.”

“Apa Aru bahagia hidup di hunian kecil seperti ini? Apa dia gak kesepian?”

“Jangan sombong kamu! Aru bahagia denganku. Kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku. Pulang saja!”

Lelaki yang duduk itu berdiri. Ia menyusuri satu demi satu ruangan itu. Apartemen yang mereka tinggali cukup sederhana, terutama bagi Aruna. 

Gadis kecil itu mungkin akan kesulitan beradaptasi setelah keluar dari rumah besar tempatnya ia tinggal dahulu. Apartemen yang hanya memiliki tiga ruangan itu memiliki: satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruangan yang lebih besar. Ruangan yang lebih besar itu disekat menjadi ruang tamu atau ruang menonton. Lalu sebelahnya persis ada dapur mini.

Lelaki dengan kemeja biru langit itu berhenti di ambang pintu kamar Aruna. Di sana ia melihat, ada sebuah boneka beruang berukuran sedang yang sudah lumayan kotor. Lelaki itu mendesah pelan, mengurai sesak yang tiba-tiba merambati hatinya. Lalu ia berjalan kembali ke arah kanan, di mana kegiatan masak-memasak dilakukan.

Dapur dengan peralatan seadanya itu cukup berantakan. Beberapa piring kotor masih tergeletak di bak pencucian. Pun di pojokkan terdapat tumpukkan sampah yang isinya penuh dan hampir tumpah. Lelaki itu spontan menjepit hidungnya dengan jari. Ia benar-benar kecewa pada sosok yang masih berdiri di samping jendela. Lelaki berkemeja biru langit itu hampir saja berbalik badan, tapi sebuah benda kecil mengalihkan pandangannya kembali. Kulkas mini. Ia penasaran, dengan stok makanan yang tersimpan untuk Aru, gadis kecil kesayangannya.

Dibukanya kulkas mini perlahan. Saat matanya melihat dalam kulkas itu, hatinya pedih. Sebegitu menderitanyakah lelaki yang tengah berdiri itu?

“Hai, aku mau buat kesepakatan denganmu,” ucapnya keras dan mampu membuat lelaki yang masih meratapi nasib menyorot tajam matanya.

“Tidak usah bercanda! Hidupku sudah berantakan. Apa yang bisa kamu perbuat untuk membantuku?”

“Dengarkan baik-baik! Aku akan menjaga Aru untukmu, tapi ... kamu akan menjadi aku, Arjuna.”

“Konyol! Harusnya aku tahu bantuanmu tidak gratis! Kalau aku tidak mau?”

“Akan aku beberkan semuanya tentangmu, Ridwan! Bukankah seharusnya kamu yang menikah dengan wanita cacat itu? Mama sudah berjanji akan menikahkan putri kenalannya dengan salah satu putranya. Dan itu kamu!”

“Aku bukan saudaramu! Jadi ... perjodohan itu juga bukan untukku. Lagi pula mengapa kamu baru protes sekarang padaku?”

“Ayolah, Ridwan. Wanita itu belum melihat sosok suaminya. Jadi, jika kamu mengaku sebagai aku, dia tidak akan curiga.”

“Lalu Mama?”

“Soal Mama itu biar jadi urusanku. Lagian hanya Aru yang akan tinggal di rumahku. Kamu bisa fokus kembali dengan kerjaanmu. Mungkin bisa berbaikan juga dengan Amita. Dan aku bisa dengan bebas kembali pada Vanya tanpa ada yang curiga. Gimana, setuju?” Arjuna sudah berdiri di depan Ridwan. Ia mengulurkan tangannya sebagai tanda sepakat.

“Oke setuju. Asal kamu tepati janjimu. Jaga Aru untukku.”

“Fix.”

“Dasar br*nd*l. Kamu sama bejatnya denganku. Lelaki tak berperasaan,” celetuk Ridwan dan hanya dibalas senyuman oleh Arjuna.

Arjuna Sakti Wiwaha, seorang lelaki berusia 23 tahun, pewaris tunggal keluarga Dimas Wiwaha. Selalu pandai mengambil celah di setiap kesulitan orang, bahkan kerabat dekatnya. Kali ini ia memilih memanfaatkan Ridwan, sang kakak angkat untuk melancarkan aksinya. Juna, panggilannya. Ia memang tersiksa harus bersikap ramah apalagi manis pada Dahayu, istrinya. Terlebih saat hari pernikahannya, Lalita benar-benar tak memberi ia pilihan. Arjuna terpaksa setuju, karena Lalita berjanji tak akan menghalangi putranya untuk tetap berteman dengan Lavanya. Namun, Arjuna pun membuat kesepakatan serupa dengan sang mama. Ia meminta waktu untuk bisa mengenal Dahayu tanpa harus dipaksa segera mendapatkan cucu.

Ya, semenjak kepergian Ridwan beserta Aruna, Lalita sempat depresi. Ia benar-benar merasa kehilangan cucu dan putra kesayangannya. Ridwan memang bukan putra kandung Lalita, tapi Lalita begitu menyayangi tanpa membedakan dengan Arjuna. Dahulu, Lalita mengambil Ridwan dari panti asuhan karena ia dan mendiang sang suami, Dimas, tak kunjung diberi kepercayaan oleh Allah. Lalita yang sempat mengandung di awal pernikahan, harus rela kehilangan janinnya karena keguguran. Lima tahun sudah ia menunggu kehadiran janin di rahimnya kembali. Namun, semua seakan sia-sia, sedangkan rasa rindu memiliki buah hati kian membuncah tatkala dokter sempat memvonis dirinya akan kesulitan memiliki momongan.

Ridwan yang berusia satu tahun kala itu, akhirnya diadopsi oleh Lalita. Kebetulan panti asuhan di mana Ridwan tinggal, merupakan salah satu panti donatur keluarga Dimas Wiwaha. Maka, tak sulit bagi keluarga Wiwaha melegalkan Ridwan menjadi putra kandung mereka.

Ridwan tumbuh penuh dengan kasih sayang, hingga dua tahun lebih kehadiran Ridwan, Lalita akhirnya benar-benar mengandung, dan bayi itu kini menjelma sebagai sosok Arjuna Sakti Wiwaha. Kehidupan Lalita menjadi sempurna, hingga saat Lalita berniat ingin menjodohkan Ridwan enam tahun lalu, Ridwan memilih kabur bersama perempuan lain yang tak direstui oleh Lalita. Sebenarnya Lalita tak pernah membedakan status sosial. Bahkan keluarga Dimas terbilang loyal dan dekat dengan siapa saja termasuk dengan kalangan bawah. Hanya saja, janji delapan tahun silam sudah terlanjur terucap oleh Lalita. Mau tidak mau ia harus menepati. Nahas, Ridwan pergi dan menghancurkan harapannya.

Setahun kepergian Ridwan, ia kembali membawa Aru dan Amira. Namun, sikap ambisius Amira saat bekerja membuat Lalita jengah. Terjadilah cek-cok antara Lalita bersama Ridwan, dan Ridwan pun memilih pergi. Bersamaan dengan kepergian Ridwan, Dimas kecelakaan. Lalita murka dan berjanji tak mau menerima putra angkatnya lagi.
Sebenarnya Arjuna tahu, sang Mama tak serius akan ucapannya. Buktinya, Lalita sering mengigau menyebut nama Ridwan. Terlebih saat Aruna berkunjung dan meninggalkan kerinduan semakin dalam di hati Lalita. Namun, rasa egois Lalita dan Ridwanlah yang membuat jarak itu semakin jauh. Akibatnya, saat Lalita didera kerinduan akan hadirnya Aruna, Arjuna menjadi korban. Ya, malam pertama di hari pernikahannya dengan Dahayu, ia terjebak karena ulah sang mama. Malam tersial yang pernah Arjuna habiskan. Malam yang ia impikan bersama Vanya, harus berakhir pada Dahayu.

Sekarang, Arjuna tak lagi tahan atas kepura-puraan pernikahannya dengan Dahayu. Ia akan berusaha sekeras mungkin menghindar jika perlu berpisah. 

Sementara Arjuna merencanakan semuanya, ia pun meminta bantuan Ridwan. Tentu agar Lalita tak curiga. Beruntung saat kesepakatan pernikahan dengan Lalita, Arjuna meminta sang mama tak menginjak tempat tinggalnya lagi tanpa izin. Pun dengan kehidupan berumah tangga, Arjuna meminta sang mama untuk tak banyak ikut campur.

Ini bukan salahku, 'kan? Jika aku harus terpaksa merencanakan semua yang kumau. Bukankah selama ini aku sudah menuruti semua kemauan Mama. Kini giliranku mewujudkan mimpi yang tertunda.

Arjuna tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Ia benar-benar bahagia Ridwan bersedia menggantikan posisinya.
Vanya tunggu aku.

Bersambung. 

Jangan lupa like, komen, dan subcribe. Terima kasih. 💙