Itu Dia


"Aku selalu membeli amplop pada bapak tua itu," jelas Almira walau ia tak begitu yakin dengan bapak tua mana yang dimaksud oleh Risa adik kelasnya. 

"Tuh kan," Risa melirik Ahmad dan Rifki kakaknya meyakinkan. 

"Ini, Bro." Rifki menepuk pundak Ahmad yang sedari tadi menunduk. Heran, mengapa sahabatnya ini datar saja. Bukankah waktu itu ia sangat antusias mencari gadis pujaan hatinya. 

"Eh, iya." Ahmad menjawab singkat. 

"Aku sering sholat di sini, sering juga lihat kamu mengaji di pojokan masjid," jelas Almira dengan tatapan kagum. Ternyata Ahmad begitu tampan bila dipandang dari jarak yang sangat dekat. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar sosok idaman, semoga saja ia terpana dengan penampilannya kali ini. Sejak pagi ia telah sibuk mengukir alis dan mendandani dirinya agar tampil memikat.

“Emang sih, selain jadi mahasiswa aku juga aktif di kegiatan amal, jadi jiwa sosialku tinggi.” Almira memuji dirinya. 

Rifki melirik Ahmad yang diam tak bereaksi, berbanding  terbalik dengan sikapnya ketika di kosa an yang begitu antusias, kini sahabatnya itu tampak cuek. "Aku dan Risa tinggal ya," ucap Rifki. Ia ingin memberi kesempatan pada temannya ini untuk berdua saja, siapa tahu ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan. Lagipula ternyata Almira sangat cantik, kulitnya putih bersih dengan senyum yang menawan, apalagi ditambah dengan penampilannya yang kekinian ala mahasiswi modern. Cocoklah. 

"Aku juga mau pergi, kebetulan masih ada urusan di kantor, assalamu'alaikum," ucap Ahmad sambil berlalu. 

Rifki dan Risa terbata menjawab salam. Apa-apaan ini, kenapa si Almira ditinggalkan? Enak saja si Ahmad main pamit seenaknya. Rifki melirik Almira yang menekuk wajahnya, tampak betul bahwa ia kecewa. 

"Sorry ya, aku gak tahu kalau Ahmad ada urusan." Rifki menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

Almira diam tak merespon. 

"Kalau kita makan bakso saja gimana?" usul Risa. 

"Aku duluan." Almira menghentakkan kakinya dan berlalu, tak ada senyum sedikit pun tersisa di wajahnya. "Kalau cuma makan bakso, beli sepuluh pun uangku cukup," gerutu Almira.

***

"Gak gitu juga kali, kamu tu mempermalukan Almira. Walau kamu gak suka, basa-basi dikit kenapa." Rifki langsung mengungkapkan isi hatinya. Seharian ini Risa ngomel-ngomel padanya, bilang bahwa usahanya jadi sia-sia karena ulah Ahmad. Setelah mendengar ocehan panjang adik satu-satunya itu, tu anak langsung mengajak ke mall dan menodong membelikan dua buah t-shirt. Obat kekesalan hati alasan tu anak. Modus. 

"Emang ada apa dengan Almira sih? Baru satu kali ketemu kamu sudah ilfeel?" Rifki menghampiri Ahmad yang sedari tadi tetap fokus pada layar laptopnya. 

"Hei, aku ini lagi nanya, jawab donk!" 

Ahmad menghela napas dan menatap Rifki yang tampak kesal. "Itu bukan dia," ucap Ahmad singkat. 

"Tapi, kamu kan gak tahu wajahnya. Bagaimana kamu yakin kalau dia bukan gadis itu."

Ahmad tersenyum. "Sudah, gak usah diperpanjang, ayo kita ke masjid, sudah azan Isya. Nanti makan malam aku yg traktir."

Rifki masih ingin protes sebenarnya tapi mendengar kalimat ditraktir makan malam, ia langsung bungkam. Terkadang sulit menebak jalan pikiran sahabatnya ini, dari luar sebagian orang mungkin menilainya ketus atau bahkan sombong namun jangan tanya hatinya, sangat lembut. Ia tak segan membantu siapapun yang memerlukan bantuannya termasuk dirinya. Tak terhingga bantuan Ahmad padanya dan keluarga bahkan kos-an ini pun sepenuhnya Ahmad yang membayar, sahabatnya ini tahu betul bila dirinya memiliki tanggung jawab membantu kedua orangtuanya.

“Ayo buruam, “ panggil Ahamd yang telah menanti di teras. 

“Iya ngambil kopiah dulu.”

Ahmad tersenyum, ia tahu kali ini tindakannya kurang sopan pada gadis bernama Almira itu, namun ia tahu benar suara gadis itu. Bukan, itu bukan dia, lalu kenapa Almira harus berbohong? Bila di pertemuan awal saja sudah dihias dusta maka ia tak yakin hubungan itu akan berjalan baik. Mengapa harus merasa tak enak dengan basa-basi, ia tak bisa bersikap manis bila tak suka. Sifat yang menurut ibu diwariskan dari ayahnya.

"Kalau pun kamu tak suka dengan wanita itu, setidaknya mengobrol lah terlebih dahulu sekedar basa-basi," ucap ibunya ketika seorang kerabat membawa putrinya untuk dikenalkan dengannya. 

Ahmad hanya diam. 

"Mau cari wanita yang seperti apa sih, Nak?" tanya ibunya lagi.

"Yang kayak ayah suka." 

"Ha ha ha, ayahmu itu sukanya dengan wanita cantik, modern, mana ditoleh ibumu ini kalau gak dijodohkan nenek." Ibunya tertawa. 

Ahmad memonyongkan mulutnya, ya dia sudah berkali-kali mendengar kisah cinta ayah dan ibunya juga perjuangan ibu merawat Maila ayuknya. 

"Ahmad hanya gak mau memberi harapan pada wanita itu, Bu. Dari awal kayaknya kita gak cocok,” jelas Ahmad. 

“Terus kenalkan dong dengan ibu dan ayah tipe wanita yang menurut kamu cocok. Kamu sudah mapan, Nak, sudah siap untuk menjadi kepala keluarga.” Naya mengusap lembut kepala putranya. 

“Ayolah, berikan Risa adikmu itu keponakan biar dia tak terlalu manja,” Ucap Rais. 

“Nantilah, Ahmad belum ketemu yang sreg di hati.”

Naya tersenyum dan memeluknya erat. Wanita ini tahu betul apa yang anaknya inginkan. Selintas mungkin ia tampak angkuh seperti ayahnya, namun hatinya lembut. Cuma selera mereka yang berbeda, bila Hanafi ayahnya dulu menyukai kesempurnaan berbeda dengan Ahmad yang lebih sederhana. Ia tak suka semua yang berlebihan termasuk penampilan wanita tadi dengan make up tebalnya. 

"Tapi lain kali harus lebih ramah ya, Nak,” ucap Naya lagi.

***

"Maaf, Mbak, cari dompetnya ya, kayaknya itu." Ahmad menegur seorang wanita yang nampak tergesa meninggalkan WC masjid. Ia baru saja selesai sholat subuh dan melihat seorang wanita yang tampak kebingungan. 

Wanita itu tersenyum lega dan segera mengambil dompet berwarna merah muda yang tergeletak di dekat pintu WC masjid. 

"Terima kasih banyak ya, terima kasih." Wanita itu berkata tulus  dan segera berlalu, sepertinya terburu. 

Ahmad tersenyum, cukup aneh bila ada wanita berkeliaran di masjid di waktu Subuh seperti sekarang. Entah apa yang ia lakukan padahal matahari pun masih malu menampakkan diri. Untung saja ia yang menemukan dompet itu, kalau orang yang tak baik mungkin isinya telah dikuras baik. Wanita tadi terlihat sangat bersyukur, ucapannya sangat tulus tadi. Ia paham betul suara itu, suara yang…

“Ya Allah.” Tubuh Ahmad seketika terasa kaku ketika menyadari sesuatu. "Ya Allah." Ia menepuk dahinya. Kenapa ia tak menyadari, bukankah itu adalah suara yang selama ini hadir dalam mimpinya. Sebuah suara yang sangat ia rindukan. Ia, gadis Pembeli amplop itu.

Bersambung...

Bantu subscribe cerita ini ya.