Dia Mengikutiku

Mak Paraji 4


Aku terbangun saat mendengar suara orang-orang yang mengobrol, aku berusaha untuk bangkit, namun, kepalaku rasanya berdenyut nyeri, sekujur tubuhku rasanya lemas dan kulitku terasa perih.


Kubuka mata sedikit demi sedikit, silau rasanya. Ternyata sudah banyak orang yang datang untuk menjenguku. Termasuk Ibu, beliau juga ada di sini.


"Alhamdulillah, kamu sudah bangun, Neng," ucap A Farid, dia menggenggam tanganku dengan sangat erat seolah takut kehilangan.


Aku berusaha tersenyum. "Anak kita mana, A? Apa dia baik-baik saja?" Tanyaku, aku sangat takut anaku bernasib sama seperti anak Manisa, itulah sebabnya hal pertama yang ku ingat adalah keselamatan anaku.



"Anak kita selamat, Neng, Alhamdulillah," ucap A Farid, sekilas ku lihat ada bulir bening yang jatuh dari kelopak mata indahnya.


"Mana dia?" Aku bertanya dengan suara serak dan pelan.


"Dia di sebelahmu," jawabnya sambil mengusap rambutku.


"Tolong ambilkan dia untuku, A," titahku pada A Farid, entah mengapa rasanya tubuhku benar-benar kehilangan tenaga, bahkan untuk sekedar memiringkannya pun aku benar-benar sangat kesusahan.


A Farid menggendong bayiku dan memberikannya.


Seketika air mataku luruh berjatuhan dengan derasnya, teringat akan kejadian semalam saat aku berusaha kabur dari sosok mengerikan yang datang menyamar sebagai paraji. Aku terharu dan setengah tak percaya bahwa aku dan bayiku bisa selamat.



"Sudah, jangan menangis, yang penting sekarang kamu sudah selamat," Teh Rahila menepuk-nepuk pundaku untuk sekedar memberi semangat.



"Terimakasih," lirihku.


"Nuran, apa yang terjadi semalam? Kenapa kamu sampai melahirkan di depan pintu rumahku?" Tanya Teh Rahila, saat aku sudah benar-benar tenang.



Aku menarik napas dalam, sebelum akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpaku dari mulai kedatangan paraji sampai akhirnya aku kabur dari rumah, semuanya tak ada yang terlewat.


"Ya ampun, ngeri, ya," ucap Teh Rahila dan para tetangga lainnya, mereka bergidik bahkan ada pula yang mengusap tengkuk.


"Memangnya kamu ke mana, Farid? Istrimu kenapa di tinggal sendirian?" Tanya Bu Siti, matanya mengarah ke A Farid.


"Saya ke rumah paraji, Bu, tapi saat di tengah jalan saya bertemu dengan beliau, saat saya bertanya hendak kemana, beliau jawab mau ke rumah saya. Merasa kebetulan, saya pun langsung mengajak Mak Paraji untuk ikut," tutur A Farid.



"Tapi, kenapa Mak Paraji datang sendirian, A, memangnya Aa kemana?" Tanyaku merasa heran, karena pada saat itu memang suamiku tak ikut bersama Mak Paraji.



"Aku di suruh untuk mencari orang yang bisa menemani kamu, bodohnya, aku malah menuruti semua perintahnya. Dan satu lagi, saat aku ingin berbalik berniat untuk pulang, aku seperti linglung, tak tau arah jalan menuju rumah kita, aku hanya berputar-putar di jalan yang sama sebelum akhirnya adzan subuh berkumandang, dan aku kembali normal," A Farid menceritakan semua yang dia alami.



"Kan, udah Teteh bilang, kalau mau jemput paraji itu harus ada yang nemenin atau minimal bawa alat untuk penerangan, biar nggak di gangguin mahluk tak kasat mata," ucap Teh Rahila.



Suamiku hanya mengangguk lesu, sebenarnya itu bukan kesalahannya, tetapi aku saja yang bebal, padahal saat itu A Farid sudah enggan meninggalkanku sendirian.



"Ibu juga sudah bilang, kamu tinggal dulu di rumah ibu untuk sementara tapi kamu malah kekeh ingin tinggal di sini," cecar ibu. Sebenarnya waktu itu aku juga ingin tinggal di sana, tetapi aku tak enak hati, takutnya malah merepotkan ibu.



"Bagaimana kalau kamu pindah ke rumah ibu saja untuk sementara, sampai bayimu sudah agak besar, ibu khawatir terjadi sesuatu,"  Ibu memberi usul, matanya melirik ke arahku dan juga A Farid secara bergantian.



A Farid memberikan isyarat dengan menganggukan kepalanya ke arahku saat mata kami bertatapan. Itu artinya dia setuju.



*****


Sore ini, kami bersiap untuk berangkat ke rumah ibu, barang-barang perlengakpan sudah kumasukan ke dalam mobil.



Aku berpamitan pada tetangga yang ikut mengantarku sampai jalan yang berada di depan rumah. Namun, saat aku hendak masuk ke dalam mobil tak sengaja mataku menangkap sosok perempuan yang berdiri di dekat pohon mangga di depan rumahku. Itu ... perempuan yang selalu ku lihat beberapa kali memperhatikanku dari sejak aku hamil. Siapa dia sebenarnya? Bahkan setauku dia bukan warga kampung ini, karena aku tau semua warga kampung di sini, dan aku mengenali mereka semua.



"Neng, ayo masuk kenapa malah berdiri di sana?" Tanya suamiku yang sudah berada di dalam mobil.



"Eh, ng-nggak apa-apa, A," jawabku gugup. Lalu segera masuk ke dalam mobil.



Akhirnya, mobil pun melaju meninggalkan kampung ini, meninggalkan rumahku untuk beberapa waktu ke depan.



Sepanjang perjalanan, pikiranku terus melayang teringat kejadian yang menimpaku semalam, dan juga teringat akan wanita cantik yang selalu memperhatikanku, apakah wanita cantik itu ada hubungannya dengan kejadian malam itu? Karena kalau di ingat-ingat dia selalu saja memperhatikanku, bukan, tepatnya perutku.



Setelah perjalanan beberpa jam, akhirnya kami sampai di rumah ibu, maklum jarak rumahku dan ibu cukup jauh, ibu berada di pinggir kota sedangkan rumahku benar-benar di dalam kampung.



A Farid membawa barang bawaanku masuk ke dalam rumah, sementara bayiku di gendong oleh ibu. Aku turun dari mobil menyusul mereka, karena jalanku masih sangat lamban.



Ada perasaan aneh yang mengganggu pikiranku, dari tadi, aku seperti sedang di awasi oleh seseorang. Aku mengedarkan pandangan ke segala arah untuk memastikannya. Tetapi, aku segera menepis pikiran buruk itu, mungkin saja aku masih trauma dengan kejadian malam tadi.



****


Malam pun tiba, aku sedikit lebih tenang sekarang, karena ada ibu dan juga saudara-saudaraku yang menemani, kuputuskan untuk tidur lebih awal mumpung bayiku anteng dalam gendongan ibu.


"Bu, nitip anaku dulu, ya, aku sangat lelah dan ingin tidur," ucapku.


"Iya, istirahatlah, nak."


Aku terlelap entah berapa lama, sampai akhirnya aku terbangun karena anaku menangis dengan sangat kencang. Aku bangkit dan meraih anaku ke dalam pelukan untuk menenagkannya.


Brug, brug. 


Terdengar suara berisik dari atap, seperti orang yang berlarian di sertai tawa lirih yang sangat pelan tetapi sangat jelas. Aku memiringkan telinga untuk memastikan pendengaranku.



Namun anehnya, kenapa semua orang tertidur sangat pulas seakan tak mendengar suara berisik itu, kecuali aku.


Tiba-tiba lampu mati dengan sendirinya, tetapi hanya di ruangan ini saja. Aku mencoba berpikir positif, mungkin saja lampu ini mati karena sudah rusak.


Mataku mulai beradaptasi dalam kegelapan, dalam ke adaan remang ku lihat ada sosok perempuan mendekat ke arahku, dia memakai kebaya dengan kain jarik sebagai bawahannya.



"Ibu?" Teriaku untuk memastikan siapa wanita itu.


Bayiku yang mulai tenang, kini kembali menangis bahkan suara tangisannya semakin keras.



"Kamu kenapa, sayang?" Ucapku cemas.


"A Farid, Ibu, Kamila, bangun!" Tanganku menepuk siapa saja yang berada paling dekat denganku, namun, tak ada seorang pun dari mereka yang terbangun.


Bayangan perempuan itu semakin mendekat, bau busuk tiba-tiba saja menguar mengganggu penciumanku, hingga rasanya aku benar-benar ingin muntah.



Dia semakin mendekat, sehingga kini tak ada lagi jarak di antara kami. Aku terdiam tak dapat bergerak.



"Kadieukeun orok aing!" (Berikan bayiku) Teriaknya tepat di depan wajahku.



____________________________