Kejadian yang Menggemparkan
Mak Paraji 1

Pagi ini, ku lihat orang-orang kampung berkumpul di salah satu rumah warga, banyak yang saling berbisik di antara mereka, bahkan ada pula yang bergidik seperti ada hal menakutkan yang baru saja terjadi. 


Suara tangisan dari sang empunya rumah terdengar pilu, seperti baru saja kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya.


Terdorong oleh rasa penasaran, akhirnya kubelokan langkah ke arah kerumunan itu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Ada apa Teh?" Aku bertanya pada seorang warga yang berada di sana.


"Itu, Si Manisa, tadi malam katanya dia melahirkan tapi bayinya hilang, kasihan dia sampai sekarang belum juga sadar," jawab perempuan itu sambil sesekali mengusap air matanya. Mungkin ia ikut berduka atas apa yang menimpa tetangganya.


Mendengar hal itu, kuputusakn untuk masuk ke dalam rumah ingin mendengar lebih jelas bagaimana kronologinya.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Bu?" Aku bertanya kepada ibu-ibu yang tengah terisak. Tangannya tak henti membelai rambut perempuan muda yang sedang terbaring.


"Tadi malam, anak saya melahirkan, tapi saat saya tinggal sebentar bayi nya sudah tidak ada, dan anak saya sudah tak sadarkan diri," lirihnya di selingi tangisan yang semakin tergugu.


"Apa ada orang lain selain ibu?" Orang di sampingku ikut bertanya.


"Tidak ada, karena mak paraji pun sudah pulang, sedangkan suami dan menantu saya pergi mengantarnya," jelasnya.


Kami saling tatap, aneh, sejak aku pindah ke sini baru kali ini ada peristiwa hilangnya bayi.


Ya, aku memang termasuk warga baru di sini, bahkan kalau di hitung-hitung belum ada sebulan aku tinggal di kampung ini. Kampung yang masih asri bahkan listrik pun belum masuk, dan satu hal lagi, di sini belum ada bidan, jadi, jika ada yang mau melahirkan mereka akan meminta paraji untuk membantu persalinan. Tetapi, walaupun begitu aku nyaman tinggal di sini selain udaranya masih segar juga tetangganya ramah, beda dengan di tempatku dulu.


"Sabar, Bu, mudah-mudahan bayi nya cepat ditemukan, dan mudah-mudahan dalam keadaan baik-baik saja," aku mencoba menenangkan ibu tersebut. Walau kenyataannya dia masih terisak. Dia hanya mengangguk tanpa menjawab perkataanku.


Setelah cukup lama berada di sana, aku memutuskan untuk pulang, teringat sumamiku yang sebentar lagi akan pulang berdagang.


Aku berjalan membelah kerumunan warga yang masih berada di halaman rumah itu.

"Apa kamu sedang hamil?" Tiba-tiba seorang perempuan bertanya padaku, membuat langkahku seketika berhenti dan berbalik ke arahnya. 


"Iya, Teh," jawabku sambil tersenyum ramah.


"Sukurlah, sudah berapa bulan?" Tanya nya lagi, tangannya mengusap perutku yang mulai membuncit, membuatku risih.


"Delapan, Teh," aku berusaha tersenyum, tanganku menepis tangannya agar menjauh dari perutku.


"Jaga baik-baik hingga waktunya tiba," ucapnya, mata wanita itu tak henti memperhatikan perutku, sambil sesekali menelan ludah. Aneh!


Tanpa menjawab aku segera berlalu, meninggalkannya yang masih tetap mematung memperhatikanku, sekilas ku lihat dia tersenyum, seperti menyeringai, membuatku semakin takut dan mempercepat langkah kaki ini.




****



Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu, pagi ini, aku berniat untuk jalan-jalan sekedar menghirup udara segar, kata orang tua zaman dulu, jalan kaki bagi ibu hamil sangat di anjurkan bahkan bisa memperlancar saat persalinan.


"Nuran, aduh lagi jalan-jalan ya?" Sapa Teh Rahila basa-basi, saat aku berpapasan dengannya.


"Iya, Teh. Sekalian nyari udara segar," sahutku ramah.


"Kamu tau ngga, kabar yang lagi heboh di kampung kita ini?" Teh Rahila bertanya dengan nada serius, tangannya membimbingku untuk duduk di bangku kecil yang ada di depan rumahnya.


"Emangnya kabar apa, Teh?" Aku yang penasaran berjalan mengikutinya.


"Kemarin, Manisa sudah siuman, dia bercerita kalau malam itu bayinya di bawa oleh sosok yang menyeramkan, bahkan sekarang para laki-laki sedang mencari keberadaan bayinya." Teh Rahila bicara dengan sungguh-sungguh, dia menceritakan semua yang di dengarnya dari para tetangga, termasuk ciri-ciri mahluk mengerikan itu.


"Ish, jangan nakut-nakutin ah, Teh, mana saya lagi hamil besar ini," aku sedikit bergidik.


"Serius ini, makanya sekarang di sini di adakan ronda, untuk jaga-jaga agar mahluk itu nggak datang lagi ke kampung kita." Teh Rahila berkata dengan sangat antusias.


Aku terdiam mendengarkan ceritanya. Pantas saja malam tadi ada orang yang ronda keliling kampung, padahal biasanya tidak ada.


"Hei, malah melamun," Teh Rahila menyenggol lenganku. "Makanya saat kamu lahiran nanti, kamu harus hati-hati, jangan sendirian di rumah, apalagi kalau suami mu mau jemput paraji usahakan dia ada yang nemenin, takutnya kamu kontraksi di malam hari," ucapnya mewanti-wanti.


Aku meng-iyakan semua ucapan Teh Rahila, walau hati kecilku menolak untuk percaya semua ceritanya, tak mungkin ada mahluk seperti itu, bagiku itu hanya mitos belaka, kecuali kalau itu seorang penjahat spesialis penculik bayi yang menyamar. Bukankah sangat memungkinkan?


"Tolong, ada mayat, ada mayat!" Tiba-tiba dari kejauhan datang seorang laki-laki paruh baya berteriak sambil berlari ke tengah perkampungan. Membuat aku dan Teh Rahila menghentikan obrolan kami.


Mendengar teriakan itu, warga berlarian ke arah laki-laki itu, begitu juga aku dan Teh Rahila.


"Mayat? Mayat di mana, Pak?" Seorang warga bertanya.


"Mayat bayi, d-di sungai dekat hutan," laki-laki itu menjelaskan dengan terbata, napasnya terengah-engah.

Tanpa menunggu penjelasan selanjutnya, para laki-laki langsung berlarian ke arah sungai dekat hutan seperti yang di katakan pria paruh baya tadi. Sementara para wanita hanya bisa menunggu kabar dengan hati cemas.


"Apa benar ada mayat bayi? Di mana mayatnya? Apa itu mayat bayiku?" Manisa bertanya dengan air mata yang sudah membasahi pipi, ia baru saja datang.


"Kamu tenang dulu, Manisa. Bapak-bapak sedang mencari tau, kamu berdoa saja semoga bayimu baik-baik saja," Bu Esih mencoba menenangkan Manisa, tangannya merangkul pundak Manisa dan membawanya duduk.


"Bagai mana kalau--" ucapan Manisa menggantung tatkala melihat rombongan laki-laki yang tadi berangkat ke sungai telah kembali. Mereka semakin mendekat, salah satu di antara mereka terlihat membawa sesuatu.


Manisa berhambur ke arah rombongan itu, langkahnya setengah berlari.


"Manisa, tunggu! Jangan lari, kamu baru saja selesai melahirkan!" Aku berteriak berusaha mengejar Manisa walau dengan susah payah.


Rupanya ibu-ibu yang lain pun ikut berhambur bersama Manisa. Sepertinya mereka sudah tak sabar ingin mengetahui kebenarannya.


"Oh, tidak! Anaku!" Pekik Manisa, saat tangannya telah membuka kain sarung yang di pakai untuk menutupi jasad bayi tersebut. Manisa menjerit-jerit histeris sebelum akhirnya tak sadarkan diri.



"Astagfirullah!" Teriaku langsung menutup mulut, rasa mual tiba-tiba saja menguasai perutku saat ku lihat kondisi jasad bayi itu, tubuh mungil itu terkoyak dari bagian dada sampai ujung perut, seperti habis di cabik-cabik oleh binatang buas.


Aku memalingkan wajah karena tak sanggup melihat bayi malang itu, dan saat itu juga tak sengaja aku melihat perempuan cantik yang waktu itu mengusap-usap perutku, dia berdiri tak jauh dari kerumunan sambil terus memperhatikanku. Siapa dia sebenarnya? Mengapa terus memperhatikanku?