Di Mana Bayiku?


Mak Paraji 6



"Teh, di cariin ke depan juga, eh, taunya udah di sini," terdengar suara Kamila mengomel dari arah belakang, aku segera membalikan badan. Benar saja itu Kamila, lalu gadis yang berdiri di dekat wastafel, siapa?



Gadis itu benar-benar mirip dengan Kamila, bahkan pakaian yang sedang digunakan pun sama persis.


"De, bukannya kamu barusan d-di sini?" tanyaku sambil menunjuk tempat semula gadis itu berdiri.



"Teteh ngaco nih, kan aku baru datang dari luar, tadinya mau ngajak Teteh sarapan, eh ternyata Teteh udah duluan ke sini," celoteh kamila, kelihatannya dia tidak berbohong.



Segera ku alihkan pandangan kembali ke arah dekat wastafel, kosong. Di sana tidak ada siapa-siapa. Seketika aku merinding, rasanya hawa di ruangan ini berubah drastis.



"Teh, ayo sarapan, malah bengong tar kesambet lho," Kamila mengguncangkan lenganku, membuatku terkejut. "Lagi lihat apa, sih?" tanya nya, matanya ikut tertuju pada tempat yang sama denganku.



"Ng-gak ada," ujarku tergagap, lalu berbalik ke arah meja makan. Aku menarik nafas panjang untuk menetralkan rasa takutku, mencoba berpikir positif bahwa yang kulihat tadi salah.



Kamila terlihat mengernyitkan dahi dan memandangku heran, namun, ia tak mengatakan apa pun. 


Kami pun sarapan tanpa saling bicara, perasaanku tak tenang seperti ada sesuatu dari sudut lain yang sedang memperhatikanku.



"Teh, habis ini aku pamit mau ngerjain tugas kelompok di rumah teman," ucap Kamila memecah keheningan.



"Apa nggak kepagian, De? Tunggu agak siangan lah, ya?" bujukku, aku tak mau jika harus di rumah hanya berdua saja dengan anaku yang masih bayi. Bagaimana kalau perempuan mengerikan itu kembali lagi dan ingin mengambil anaku?



"Nggak ko, Teh, lagian aku nggak lama perginya," sahut Kamila seraya mencuci piring bekas sarapan.



"Bener, ya?" tanyaku untuk lebih meyakinkan.


"Iya janji, ya udah assalamu'alaikum." Kamila pamit pergi, mengambil tanganku dan menciumnya.



Kini, hanya tinggal aku dan bayiku yang ada di rumah ini, rasa cemas perlahan kembali menyeruak memenuhi pikiran. Bagaimana jika sosok mengerikan itu datang lagi? Bagaimana jika aku tak mampu lari darinya? Bagaimana kalau anaku berhasil direbutnya? 



Berbagai pikiran buruk terus berputar memenuhi otak, hingga ketakutan itu datang lagi tanpa bisa aku cegah.



Kuputuskan untuk kembali ke kamar tanpa membereskan terlebih dahulu piring bekas sarapan, rasa takut sudah terlanjur menguasai hati dan pikiranku. Dalam hati terus berdoa, berharap Yang Maha Kuasa dapat melindungiku dari berbagai tipu daya mereka yang tak kasat mata.



"Ya Allah," ucapku dalam sepi, entah mengapa waktu terasa begitu lambat, ku lihat jam berkali-kali, tetapi jarumnya seakan tak mau bergerak. Rumah ibu yang cukup jauh dari tetangga, membuat suasana terasa sepi walaupun hari masih pagi.



Seakan tak bisa di ajak kompromi, perut ini tiba-tiba saja merasa mulas. Aku di ambang dilema. Haruskah pergi ke toilet dan meninggalkan bayiku sendiri di kamar? Sementara aku akan merasa was-was saat meninggalkannya sendirian. Atau haruskah ku bawa bayiku?


Krieet!


Kudengar suara pintu ruang depan terbuka, suaranya pelan tetapi sangat jelas. Aku mengintip dari celah pintu, ternyata itu Ibu. Sukurlah, aku keluar dari kamar untuk menemuinya.



"Bu, aku nitip Dede sebentar, ya," ucapku, melepas jarik yang di pakai untuk menggendong anaku.


Ibu tak menyahut, ia hanya tersenyum dan langsung menggendong anaku menuju kamarnya. Tanpa pikir panjang, aku berjalan setengah berlari menuju toilet.


Tunggu, bukankah Ibu pergi bersama A Farid? Lalu ke mana suamiku itu, atau jangan-jangan ....



Aku kembali berbalik, berjalan menuju kamar Ibu untuk memastikan bahwa bayiku baik-baik saja, namun setelah aku sampai di sana, ternyata kosong. Tidak ada siapa pun di sini.



"Bu, Ibu di mana?" teriaku, aku mencoba tenang walau sebenarnya hatiku sudah tak karuan.


Aku mencari ke segala arah, ruangan demi ruangan ku susuri, namun tak kutemukan keberadaan Ibu dan juga bayiku.



"Ibu, Ibu di mana? Ya Allah ...," aku mulai putus asa. Air mataku tak dapat di bendung lagi.


"Ibu!" teriaku lebih keras. Aku hendak berjalan ke luar rumah untuk mencari Ibu, namun ternyata pintu masih terkunci dari dalam, itu berarti Ibu masih di dalam rumah.



Berlari ke kamar untuk mengambil kunci, namun, napasku tercekat kala melihat ke luar jendela, di sana terlihat seorang perempuan tengah menggendong bayi, dan itu ... bayiku.


"Hei! Kembalikan bayiku, kembalikan!" teriaku. Aku melompat melewati jendela untuk mengejar perempuan itu, akan tetapi dia sudah tidak ada.



Ku tengok kanan dan kiri, perempuan itu tetap tak ada, heran, kenapa secepat itu dia menghilang. Ku edarkan pandangan ke sekeliling. Mataku membulat, saat ku lihat perempuan itu kini berada di kamarku. Dia menatapku dari jendela. Senyumnya yang menyeringai kian lebar membuatku semakin takut.



Aku melangkahkan kaki lebih cepat untuk kembali ke rumah, sial, jendela sudah terkunci.


Aku kembali berlari ke arah pintu utama, berusaha mendobraknya walau harus memakan waktu cukup lama. Aku harus segera menyelamatkan bayiku, aku yakin dia bukan manusia. Pun seandainya dia manusia pastilah bukan wanita sembarangan.



Brak!

Akhirnya pintu terbuka setelah ku dobrak untuk kesekian kalinya.


"Hei! Siapa pun kamu, kembalikan anaku!" aku berteriak-teriak. 


Hening. Tak ada jawaban sedikitpun.


Lututku mulai lemas, aku jatuh tersungkur dengan tangis yang semakin menjadi.