Meninggalnya Anakku
"Mas, Dinda kejang lagi! Kali ini lebih parah, ayo kita bawa ke rumah sakit, Mas!"

"Halah, bentar lagi juga berenti. Aku sibuk, gak ada waktu ngurusin anak itu. Udah penyakitan, nyusahin lagi."

"Yaudah, kalau kamu gak mau bawa Dinda ke rumah sakit aku aja, tapi tolong kasih aku uang, Mas."

"Gak ada uang buat anak itu. Minggir."

Mas Kala melewatiku, dia seolah tidak peduli dengan anaknya yang sedang kejang parah. Aku mengusap dahi, kembali menarik tangannya lagi. 

"Tolong, Mas. Tolong Dinda."

"Biarkan saja dia. Jangan bawa pikiran. Sana, Ayu." Mas Kala mengambil jaketnya. 

"Mau kemana kamu, Mas!" Aku berteriak, mengusap pipi, tidak bisa menahannya lagi. Dia sudah pergi dengan mobil yang selalu di banggakan itu.

"Gak punya hati kamu, Mas!"

Buru-buru aku berlari ke dalam lagi. Anak pertamaku masih kejang. Sementara aku sedang mengandung. Aku mengacak rambut, menggendong Dinda. 

Cukup berat, karena Dinda sudah kelas enam SD. Gemetar aku mengambil ponsel jadul dan dompet di atas meja. 

"Sabar ya, Sayang. Kamu kuat, bertahan Nak." Aku mengusap pipi, gemetar mengatakan itu. 

Langkah kakiku rasanya tidak kuat, ditambah kehamilan tujuh bulan. Aku mengusap kening. 

Tetanggaku semua tidak ada yang bisa membantu. Banyak sekali alasan mereka. Aku menatap wajah Dinda, kembali melanjutkan langkah mencari angkot. 

"Ayu? Kamu Ayu, kan?" 

Aku menoleh. Menatap seorang pria di dalam mobil yang tidak asing menurutku. 

"Ha—Haris?" tanyaku dengan nada gemetar. 

"Iya. Ini aku. Kamu kenapa?" tanyanya sambil melihatku yang menggendong Dinda. 

"Tolong aku, Haris. Kamu bisa antar aku ke rumah sakit? Aku butuh bantuan." 

Dia melebarkan mata, kemudian mengangguk. Membukakan pintu mobil untukku. 

Sepanjang perjalanan, aku sibuk mengusap kening Dinda yang panas sekali. Dia memang demam tinggi sudah dua hari ini. Aku tidak bisa membawa ke rumah sakit. Tidak punya uang. 

"Tolong anak saya, Dokter."

Dokter hanya mengangguk, menyuruh kami duduk di kursi tunggu ruang IGD. Aku menutup muka, terisak. 

"Aku bayar biaya rumah sakit dulu." Dia mengusap lenganku, membuatku menoleh. 

"Gak usah. Biar aku aja. Makasih udah mau anterin." Aku menggelengkan kepala. 

"Yu, ada yang mau aku bicarain sama kamu."

Dia duduk di sebelahku, batal ke administrasi. Aku menatapnya, tersenyum tipis. 

"Bicara apa?"

"Kamu ada masalah apa? Kurang uang?" tanyanya pelan. Mungkin takut menyinggungku. 

Aku bukan kurang uang. Suamiku yang pelit. Apalagi pada Dinda, anak pertamaku. Dia hanya memberikan tidak sampai seperempat dari seluruh gajinya yang besar. 

Dengan alasan untuk Mamanya. Ah, alasan klasik.

"Gak ada masalah apa pun."

"Jelas-jelas tadi, Yu. Kemana suami yang kamu bela itu? Sampai kamu ninggalin usaha yang lagi berjaya?" 

Ya. Haris memang yang membantuku menjalankan bisnis dulu. 

"Dia—"

Dokter keluar dari ruangan. Aku buru-buru berdiri. Menghentikan kalimat tadi. 

"Bagaimana, Dok?" 

Tidak ada ekspresi yang meyakinkan dari dokter itu. Kemudian menjelaskan banyak hal padaku. Soal  Kematian mendadak. 

Aku menutupi wajah, terisak pelan. 

Setelah dokter meninggalkan kami, aku melangkah masuk ke ruangan Dinda. Menatapnya yang sudah tidak bernyawa. 

"Ayu."

"Pulang saja, Haris. Makasih." Aku mengusap pipi. Harus apa aku sekarang?

"Aku tadi sempat suruh orang cari tahu keberadaan suami kamu. Maaf." 

Dia memberikan ponselnya. Kemarahanku langsung naik melihat foto itu. 

Keluarganya bersama seorang wanita tak kukenal di restoran mewah. 

"Tidak punya hati." Aku memeluk jasad Dinda kembali, berkali-kali mengucapkan maaf. 

"Kamu mau balas dendam, Yu?"

Balas dendam apa? Aku tertawa pelan. Hidupku ternyata tak seberuntung itu. 

"Aku miskin. Mau balas dendam dengan apa?"

"Heh, usaha yang kamu tinggal itu berkembang pesat. Kamu kaya raya, Yu. Meskipun aku yang menjalankan, tapi kamu pemilik sebenarnya."

Mendengar itu, aku terdiam. Aku memang meninggalkan usaha yang hampir berjaya, demi menikah dengan pria itu. 

Tanganku mengepal. Aku menatap Haris yang menganggukkan kepala. 

"Aku akan membalaskan semuanya, Mas! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"

***


Jangan lupa like dan komen, yaa.