Berlian Tak Cocok Disandingkan dengan Sampah!
"Kamu belanjanya jangan banyak-banyak dong, Sayang. Nanti uang aku gak cukup."

"Masa uang kamu gak cukup? Kamu kan kaya. Biasanya juga kita belanja terus."

Terlihat sekali dia mengacak rambut. Aku tersenyum tipis. 

Beberapa menit menunggu dan memperhatikan sambil mengambil makanan, seorang wanita berdiri tepat di hadapanku. 

Dia tersenyum, menyebutkan Haris. Ah, ini dia yang aku tunggu-tunggu. 

"Oke. Sesuai sama skenario, ya."

"Siap, Bu."

Wanita itu melangkah mendekati Mas Kala. Aku menganggukkan kepala. Menunggu sebuah drama yang sebentar lagi akan dimulai. 

Plak!

"Astaga!"

Mas Kala menoleh kaget. Dia menatap wanita yang baru saja menamparnya itu. Aku menyenderkan punggung ke dinding. 

Mereka sudah mulai mendapatkan perhatian. Bahkan ada beberapa yang memvideokannya. Aku tersenyum tipis. Ini akan menarik sekali. 

"Siapa itu, Mas?" tanya wanita yang sejak tadi bersama Mas Kala. 

"Gak tau juga siapa. Tiba-tiba datang gak jelas."

"Gak jelas kata kamu, Mas? Aku ini selingkuhan kamu. Sekarang kamu punya selingkuhan lagi? Gak ingat sama istri yang lagi hamil di rumah, hah?!"

Matanya terlihat sekali membulat. Tidak percaya dengan wanita suruhan Haris itu. Aku tersenyum tipis. Ini benar-benar akan seru.

"Kamu kok—"

"Lihat! Dia seolah gak tau menahu sama hubungan kita. Aku capek lihat hubungan ini." Dia mulai terisak. 

"Hah?!" Mas Kala menoleh dengan wajah tidak paham. 

"Sekarang, aku minta pertanggungjawaban sama kamu."

Eh? Tanggung jawab apa? 

Kali ini, aku yang tidak paham. 

Aku menoleh ketika ada yang menepuk kedua pundakmu. Haris tersenyum manis. Dia berdiri di sebelahku. 

"Tanggung jawab!" Terdengar teriakan pengunjung yang lain. Mereka sepertinya ikut geram melihat Mas Kala. 

"Tanggung jawab apaan, sih? Gak ngerti!" Wajah Mas Kala merah padam. 

"Udahlah, tanggung jawab aja, Mas. Aku capek dipermalukan begini. Memangnya kamu gak malu di hadapan orang banyak?"

Dengan wajah yang terlihat kesal, Mas Kala mengambil dompetnya. 

"Berapa, hah?! Dia ini sebenarnya siapa, sih? Gak pernah kayaknya selingkuh sama dia."

Wanita yang belanja dengannya itu mencubit Mas Kala.

"Jadi, kamu benar banyak cewek, hah?!" 

"Enggak, Sayang. Dia cuma drama itu mah. Nyebelin."

Aku tertawa pelan. Mas Kala memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. 

"Nah, gitu dari tadi. Ingat, istri di rumah kamu nungguin dengan perut buncitnya. Bukannya nabung buat biaya lahiran istri, malah belanjain wanita lain."

Astaga, pintar sekali akting wanita itu. 

Setelah wanita itu pergi, Mas Kala menatap belanjaan. Dia kemudian menggelengkan kepala. 

"Gak usha jadi aja. Uang aku habis."

"Eh? Kamu gak bisa gitu, dong."

"Gak bisa gitu gimana? Uang aku habis dimintain sama wanita tadi. Entah dia siapa." 

"Tapi—"

"Udahlah. Pulang aja." Mas Kala menarik tangan wanita itu. 

Setelah mereka pergi, aku menoleh ke Haris yang tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. 

"Berhasil! Makasih banyak, Ris. Pasti kamu ngeluarin uang yang banyak, kan?"

"Enggak, sih. Demi kamu, apa yang enggak." Dia tertawa pelan. 

"Tapi jadi takut ada masalah ke depannya." Aku diam sejenak. Melirik Haris yang menganggukkan kepala. 

"Ayo, deh."

Dia menarik tanganku pelan. Kami melangkah ke kasir. Haris berbicara mengenai sesuatu. Aku diam saja, tidak mengerti apa yang dia bicarakan. 

"Makasih, ya." Haris menebar senyum, membuatku ingin mencubitnya. 

"Jadi, aku kebetulan kenal sama pemilik supermarket ini. Nanti bakalan ketemuan. Bahas masalah ini. Gak perlu khawatir lagi, deh."

Harus. Dia pria yang hebat sekali. Pendidikan tinggi, tapi mau membantuku merintis sejak awal dulu. Aku menatapnya yang diam saja, kemudian tersenyum ke arahku.

"Kenapa ngeliatin gitu?" tanyanya pelan. Kami berjalan ke kantor. 

"Enggak. Kamu unik aja, Ris."

"Unik?" Dia tertawa pelan. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku dari dulu kayak gini, Yu."

"Kamu lebih dewasa aja."

"Heh." Dia menghentikan langkah, membuatku ikut menghentikan langkah. 

Tatapannya. Semua tentang Haris. Aku merindukan dia sejak dulu. 

"Kamu mau tau, kenapa aku sejak dulu mau merintis dari awal sama kamu, Yu?"

Pelan sekali, aku menganggukkan kepala. Menatap matanya yang terlihat teduh. Kami sedang menunggu untuk menyebrang jalan. 

"Karena kamu berlian."

Aku menelan ludah mendengarnya. Haris sebenarnya sejak dulu sering mengatakan itu. 

"Dan kamu gak cocok sama sampah kayak si Kala itu. Jadi, aku bakalan bantu buat kamu melepaskan diri dari dia dan buat dia menyesal seumur hidup."

Dia sungguh-sungguh sekali mengatakannya. Berapi. Aku tersenyum, suka sekali dengan semangat Haris. 

"Ingat, Yu. Sampah gak pernah cocok disandingkan dengan berlian kayak kamu."

***

Jangan lupa like dan komen, yaa.