Part 7
YANG BELUM BERLANGGANAN SILAHKAN BERLANGGANAN TERLEBIH DAHULU.

"Sil, lo hanrus liat sesuatu di luar, seru banget, sih sumpah!" Mbak Risma menghampiriku tiba-tiba dengan berita hebohnya.

Ia menatap mata ini lama, seolah ingin menjelaskan sesuatu hal padaku, senyum yang terpancar dari kedua sudut bibirnya tidak seperti senyum ketulusan melainkan senyum yang menjelaskan kemenangan.

"Ada apa Mbak?" Aku masih benar-benar bingung, di dahiku membentuk beberapa kerutan kecil dengan manik mata yang masih belum beralih dari wajah wanita itu. Aku menatapnya intens.

"Makanya jangan dikamar Mulu, sekali-kali kek duduk di ruang tamu," cibir wanita itu gemas, ia menarik tanganku pelan membuat aku terpaksa harus mendekatinya.

Ia dekati mulutnya pada telingaku kemudian ia bisikkan sesuatu.

"Lihat deh keluarga suamimu sudah pulang dari liburan yang mengesankan mereka," bisik wanita itu membuat mataku membulat sempurna.

"Hah yang benar Mbak, pulangnya pake apa? Kok nggak kedengaran suaranya dari sini?" tanyaku penasaran sekaligus heran, Karena sejak tadi aku duduk di dalam kamar ini, dan tidak mendengar apapun.

"Kamu kan pake handset Sil, begonya sampe ke Yaman." Kesal Mbak Risma membuat aku menyengir kuda.

Wanita itu menarik tanganku, kali ini bukan berniat mendekatkan telingaku dengan mulutnya melainkan berniat membuat aku bangkit dari kasur yang begitu empuk itu.

Kami berhenti di depan pintu pintu masuk.

"Lihat," titah wanita itu membuat aku keheranan.

Penyebab yang membuat aku heran adalah, Mbak Risma menyuruhku untuk melihat sesuatu padahal jelas-jelas keadaan pintu masih di tutup bagaimana aku bisa melihat suasana di luar? 

"Astaghfirullah Sila! Cantik-cantik kok bego begini? Pantesan kenak tipu terus sama Erlan dan keluarganya," kesal Mbak Risma sambil menopang kedua tangannya pada pinggang dan menatapku lelah. 

"Kalau pintunya di buka, ya jelas-jelas kamu bakal ketahuan sama mereka. Bukankah tujuanmu tinggal di rumahku agar Erlan dan yang lain tidak tahu bahwa kau sudah kembali?" tanya Mbak Risma sambil menatapku dalam. Aku tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ah, aku lupa bukan berarti aku bego, ya salah sendiri membangunkan aku tiba-tiba padahal jelas-jelas nyawaku belum terkumpul.

"Akan kuajarkan kamu bagaimana cara membalas mereka. Aku tidak yakin jika kau menjalankan rencana sendirian, kau akan berhasil," timpal Mbak Risma. Aku tersenyum menganggapinya.

"Sekarang lo ngintip lewat jendela pelan-pelan, aku yakin bahwa mereka masih berada di luar rumahmu," perintah Mbak Risma membuat aku langsung mendekati jendela lalu sebelah tanganku sedikit menyibakkan penutup jendela itu, hanya sedikit kira-kira hanya sebesar telapak tangan, kemudian kutempelkan wajahku di sana dengan kedua bola mata bertentangan dengan bolongan tadi.

Seketika mataku membulat sempurna kala melihat sekeluarga belanu itu sedang terduduk di teras rumah dengan keadaan yang menghawatirkan.

Ya, bagaimana tidak, lihat saja keadaan mereka basah kuyup serta koper yang mereka bawa kemarin untuk liburan sudah terkena lumpur.

Memang sekarang hujan sudah berhenti tapi tetap saja, pakaian mereka belum sepenuhnya kering.

"Kaca jendela rumahku tidak tembus pandang kok, mereka tidak akan bisa melihat kita," jelas Mbak Risma tiba-tiba membuat aku kesal sendiri. Mengepa wanita itu tidak mengatakan padaku tadi? Kan aku tidak perlu bersusah payah menyibakkan hordeng seperti ini.

Wanita itu terkekeh kecil melihat raut wajahnya yang lelah sambil menatapnya. Mbak Risma juga ikut mendekat kemudian wanita itu juga melakukan hal yang sama denganku, yaitu menonton orang-orang itu.

"Mereka cari apa sih? Kok sampai sepanik itu?" tanyaku penasaran. Sedangkan mbak Risma sudah senyum-senyum tidak jelas.

"Kamu tidak dengar tadi apa yang dikatakan Erlan?" tanya Mbak Risma.

"Memangnya dia ngomong apa?" tanyaku penasaran. Pantas saja aku tidak bisa mendengarkan suara dari luar, toh suara tawa mbak Risma tepat pada telingaku.

"Kalau nggak salah, tadi mereka bilang kunci rumah hilang deh," kata Mbak Risma membuat tawaku hampir pecah. Aku berusaha menahannya takut suaraku terdengar keluar.

"Gimana, sih kamu Erlan? Masa kunci rumah hilang. Kita mau tidur di mana coba?" terdengar suara ibu mertuaku yang memarahi putra semata wayangnya itu.

"Ini bukan salahku Buk, ini semua salah ibu, lagian ngapain ibu soksoan ngajak liburan segala padahal tidak punya modal," ketus Mas Erlan tidak kalah kesal.

Dari sini aku sudah bisa melihat raut raut panik yang jelas terpancar dari wajah mereka semua.

"Ya, ibu pikir Sila bakal transfer,” sahut ibu lagi.

"Lagian yang salah itu istrimu, kok tiba-tiba jadi pelit benar?" tanya ibu kesal membuat senyum sinis di bibirku sirna?

Mereka selalu saja menyalahkan aku dalam setiap hal, tentu aku tidak bisa tinggal diam.

"Coba deh sekarang kamu telpon istrimu itu, nanya kunci cadangan di mana? Ibu tidak ingin tidur di teras malam ini, secara kan kamu sudah menjual rumah ibu," jelas ibu kesal membuat Mas Erlan menganggukkan kepalanya.

Ah ternyata rumah itu sudah di jual pantas saja mereka tinggal di sini, aku membuka ponselku dengan panik Kemudian menyetelkan mode hening di sana. Hingga saat panggilan masuk ponselku tidak berbunyi.

Dan benar saja, belum beberapa menit Mas Erlan sudah menelepon, mbak Risma memberikan isyarat agar aku mengangkat telepon pria itu di dapur saja.

"Apa Mas?" tanyaku ketus.

"Kok kamu begitu sih sayang, suaranya kayak orang ngajak berantem," Goda Mas Erlan sambil terkekeh geli.

" Katakan apa maumu Sekarang?" tanyaku to the points.

"Eum, Mas mau nanya nih, kunci cadangan rumah kita kamu taruh di mana, ya? Bukan apa? Mas tkut kamu ceroboh dan menaruhnya di tempat yang tidak aman," jelas pria itu.

"Cih, bohong, lagi pula tidak akan aku katakan di mana benda itu biarlah kamu tidur di luar malam ini, Mas." Batinku sambil tersenyum licik.

Bersambung ....