Gala Premiere
Reena benar benar tak nyaman saat Tery meminjamkan gaun model kemben warna hitam di atas lutut. Gaun itu terlalu banyak memapar bahu dan pahanya seolah Ia tak berpakaian.
"Bisakah kau pinjamkan gaun lain?" Reena bertanya putus asa saat melihat bayangan dirinya di cermin.
"Gimana mah?" Tery melihat pada mamanya yang tengah memulas lipstik merah menyala ke bibir Reena.
"Kau tak akan dapat sponsor kalau pakai gaun lain." Ibu tirinya bersikeras agar Reena tetap menggunakan gaun yang sudah Ia pilihkan.
Reena akhirnya terdiam pasrah. Hanya bisa menatap diri yang mirip pelacur. Gaun model kemben, lipstik merah menyala dan high heels bertali sangat bukan dirinya.
Walau di lapangan Ia mengenakan kaos pas badan dan celana pendek, pakaian keseharian Reena hanya kemeja dan celana panjang jeans. Bukan gaun apalagi gaun terbuka seperti yang sekarang Ia kenakan.
"Baim sudah menunggu." Ayahnya membuka pintu kamar dan melongokkan kepala.
"Jangan pulang tanpa membawa hasil." Ibu tirinya mendorong ke pintu. 
"Iya" Reena sebenarnya sudah enggan pergi. Kalau bisa memprotes Ia memilih di rumah berlatih atau menonton video pertandingan para legenda bulu tangkis.
Ia tak pernah datang ke acara, tak pernah menonton film dan tak mengenal aktor Indonesia sama sekali. Ia mungkin datang hanya untuk menjajal pengalaman baru naik kapal Phinisi.

"Kenapa kau pakai gaun itu?" Baim pusing saat beberapa teman wartawan memgira Reena artis pendukung dan berniat mewawancara. Ia sampai sampai harus menyuruh mereka Googling untuk menjelaskan kalau Reena atlet.
Reena memang cantik, walau potongan rambutnya pendek seperti laki laki kecantikannya tetap terpancar.Ia punya mata seperti telaga, hidung bangir dan bibir tipis yang jarang bicara. Wajahnya ramping berbentuk hati dengan dahi persegi. 
"Aku tak bisa memprotes. baju, lipstik dan hak tingginya pilihan ibu tiriku." Reena mengikuti Baim naik ke atas kapal.
Sudah ada  puluhan tamu yang datang. Mulai dari produser, sutradara, para pemainnya, sponsor dan wartawan yang di undang.
"Kau tunggu sini. Aku harus mewawancara pemain utamanya dulu." baim menarik Reena ke dekat tiang layar.
"Jangan lama lama aku tak biasa." Reena introvert. Ia tak pernah bergaul karena setumpuk jadwal latihan dan turnamen yang dibuatkan Ayahnya sejak Ia belia.
"Hanya sebentar. Kau akan aman. Tamu yang di undang tak banyak dan mereka semua sibuk."
"Cepat kembali."
"Iya." Baim meninggalkannya.
Reena melihat ke laut luas yang disinari cahaya bulan malam ini. Lalu terdengar ledakan kembang api sebagai penanda dimulainya acara gala premiere.
Kapal mulai bergerak ke tengah lautan. Reena melihat dermaga baywalk mall Pluit semakin jauh.
Ia sendirian ditengah hingar bingar peluncuran, tapi hatinya sedikit nyaman.ini pertama kalinya Ia memiliki kebebasan. Sedikit bisa bersenang senang dan keluar dari rutinitas sebagai atlet yang Ia lakoni dari muda.

Reena tak memperhatikan dari seberang geladak seorang pria tengah memperhatikannya. Hara pemeran pembantu dalam film yang di launching tengah jengkel. 
Satupun wartawan yang diundang belum ada yang mewawancarainya. Padahal Ia butuh diliput demi membuktikan pada papanya bawa pilihan karirnya sudah sesuai. Ia tak cocok sebagai pengusaha, Ia lebih pantas sebagai aktor. Itu yang ingin ia tunjukkan pada papanya.
Tapi dewa keberuntungan seolah mengejeknya dan mengatakan sebaliknya. Ia tak cocok jadi aktor, terlihat dari belumnya Ia mendapatkan kesempatan menjadi pemeran utama selama lima tahun berkarir. Ia masih tertatih tatih untuk menuju tangga popularitas. Ia terpuruk dan belakangan melarikan kekecewaannya pada sabu.
Hara mengambil gelas coctail di meja, Ia secara sembunyi memasukkan bubuk sabu ke gelas dan menghampiri pelayan "Berikan pada gadis dekat tiang layar."
Hara menyelipkan uang ke pelayan pria yang berada di dekat meja perasmanan.
"Baik."
Hara mengulas senyum. Ia ingin bersenang senang dengan wanita itu demi melarikan gundahnya. Ia sudah melihat lihat bagian dalam kapal dan menemukan satu kamar yang tak terpakai. Ia yakin bisa menggunakannya bersama gadis berambut pendek yang tampak menggoda tersebut.