After 3 Month
Reena mendapatkan kemenangan di banyak turnamen. Namun belakangan kondisinya gampang letih.  Ia seringkali mual dan muntah.

"Ugh" Reena bergegas ke kamar mandi dan meninggalkan sarapannya.

Ibu dan adik tirinya melihat heran.

  "Kau tidur dengan Baim?" Ibu tiri bertanya curiga.

"Apa?" saat kembali ke meja makan Reena dibuat terkejut dengan pertanyaan ibu tiri. Ia sudah lama tak berhubungan dengan Baim semenjak kejadian Phinisi. Ia membenci Baim karena menyebabkan kemalangannya.

"Kau seperti orang yang tengah hamil belakangan ini" Ibu tiri berkomentar yang menyetak kekagetan ayah dan adik tirinya.

"Aku tak pernah tidur dan berhubungan dengan baim." Reena membela diri.

"Tery tinggalkan sarapanmu. Pergilah beli test pack" Ayah Reena terpantik kecurigaan yang sama. Apalagi sejak gala premiere ayahnya melihat Reena menghindari Baim.

“Pah percaya padaku.” 

“Aku baru percaya kalau sudah melihat hasil test pack.”

Reena dirambati cemas. Ia khawatir hasil tes positif. Ia khawatir malapetaka kemarin meninggalkan janin di perutnya.


Pria tua itu membenamkan wajah putrinya berulang kali ke dalam bak mandi “Katakan siapa yang menghamilimu?!” 

“Aku benar benar tidak tahu.” Reena tersengal. Ia benar benar tak tahu identitas orang yang menghamilinya.

“Kau bodoh! Kau menghancurkan karirmu!” Ayahnya benar benar murka dan terus membenamkan wajah Reena ke air berulang kali.

Reena sudah kehabisan nafas, Ia sudah berpikir mungkin ini akhir hidupnya.

“Pelakunya artis terkenal pah!” suara Tery di pintu. Adik tirinya sama sekali tak mempedulikan apa yang terjadi padanya.

“Bagaimana kau tahu?” ayahnya masih menjambak rambut Reena.

“Video mesum reena  beredar di internet.”

Ayah Reena terbelalak. Ia melepaskan jambakan dan menyambar ponsel yang diberikan Tery. Begitu melihatnya ledakan amarah seperti tak terkendali, tangannya mengepal dan melayang ke wajah Reena. Reena jatuh tersungkur dilantai.

“Aku akan mencarinya!”

“Percuma dia sudah tewas karena over dosis obat obatan kemarin. Videonya beredar karena ada oknum yang mencuri ponselnya saat ia tewas.”

Reena menggeleng, ia tahu Ia tak akan mendapat keadilan “Aku mau aborsi.” 


Semua agenda pertandingan yang Reena akan ikuti batal. Panitia turnamen mendiskualifikasi Reena karena kasus yang menjeratnya. Polisi memanggilnya, awalnya statusnya tersangka. Namun Baim dan pelayan yang waktu itu menawarinya minum memberi kesaksian yang meringankan. Kalau Ia korban sehingga tak bisa dijatuhi tuduhan.

“Kenapa kau tak melapor?” penyidik heran.

“Ada banyak schedule turnamen yang kemarin harus saya ikuti. Saya akan di diskualifikasi  jika kedapatan tersangkut kasus.”

Penyidik menatap Reena terkejut. Masih tak mengira ada perempuan korban perkosaan yang memilih melindungi karirnya daripada mengadili pelaku saat kejadian.


Reena di bebaskan, ayahnya yang menjemput “Kita akan meminta tanggung jawab materiil pada keluarganya.”

Reena menoleh pada ayahnya, ayahnya menyodorkan artikel di smartphonenya. Artikel yang membahas keluarga hara.

“Aku bisa aborsi kalau papa bisa meminjamkan uang. Aku akan membayarnya dengan kemenangan." Reena tak ingin berurusan dengan keluarga pelaku.

“Kalau aku punya uang aku tak akan mengajakmu ke perusahaan ayahnya sekarang. Aku berencana menuntut ganti rugi yang setimpal atas pelecehan yang kau alami. Dengan itu baru kau bisa aborsi.” Ayah Reena sudah bisa membayangkan pundi pundi yang akan di dapatnya dengan mengancam akan membeberkan kehamilan putrinya ke publik.

 Reena sendiri menatap nanar keluar jendela mobil. Berpikir sampai kapan Ia harus menjadi sapi perah ayahnya.