Paviliun
Ada tiga bangunan di kediaman ayah hara. Bangunan utama ditengah, paviliun arsa di kanan dan paviliun hara di kiri bangunan. 
Tiap bangunan berdiri berjauhan dan dibatasi taman. Arsa, pria yang memperkenalkan diri sebagai kakak hara mengantarnya ke bangunan sayap sebelah kiri.
“Kau akan tinggal di paviliun milik hara. Jangan pernah sekali kali keluar.  Di kediamanku sering diadakan pesta. Aku tak ingin tamu tamu yang datang tahu keberadaanmu.” Arsa memperingatkan
Pria itu mungkin usianya sekitar tiga puluh tahun. wajahnya tegas dan terkesan otoriter. Reena benar benar tak nyaman.
“Bisakah aku pulang dulu? bajuku masih dirumah.” Reena tak pernah bicara pada orang baru sebelumnya. Tapi Ia benar benar ingin pulang. Ia ingin membujuk papa untuk mengijinkannya aborsi.
“Bajumu tak akan terpakai disini. staffku sudah ku minta membelikan tadi. kau bisa lihat di ruang ganti kamar tamu. Bajumu sudah tergantung rapi di rak dan tinggal kau pilih.”
Arsa menyilakannya mengikuti ke kamar tamu.
“Ini kamarmu.” Arsa membukakan pintu
“Apa ada orang lain disini?”
“Mbok minah yang akan membantumu disini.” arsa melihat pada perempuan yang baru datang 
“Malam mas arsa.”
“Malam.”
“Ini tamunya?”
“Iya. Dia akan tinggal disini sampai melahirkan. Tolong bantu menyiapkan keperluannya.”
“Baik mas.”
Mbok minah melihat ke perempuan yang berdiri disebelah tuan mudanya “Saya mbok minah.”
“Reena” Reena menjabat tangan sekilas
“Nanti saya yang masakin mba reena. Kalau mau request menu nanti bilang ke saya.”
“Nggak.” Reena menggeleng. Ia tak terbiasa dengan perhatian
“Akan kutinggal kau disini. ingat untuk tidak kemana mana kalau tak ingin berakhir dengan tuntutan hukum.” Arsa memperingatkan. Ia tak ingin Reena terpergok wartawan.
Kanal berita tengah ramai membahas tentang kasus perempuan itu dan dugaan kehamilannya. Arsa tak ingin kasus Reena menyeret nama baik keluarga mereka lebih jauh. 

Reena permisi masuk ke kamar begitu arsa pergi. ia benar benar tak terbiasa dengan orang baru.
Mbok minah sempat tertegun saat reena permisi dan menutup pintu kamar. Perempuan itu tak tampak baik  baik saja.
Mbok minah sempat mendengar dari para pembantu dirumah utama berita video mesum hara. Mereka membaca di kanal berita. 
Reena korban pemerkosaan hara saat gala premiere film. Reena korban yang memilih menutup rapat kejadian demi bisa ikut turnamen bulu tangkis. 
Mbok minah dan para pembantu yang lain masih tak habis pikir, bagaimana reena bisa tetap bertanding setelah kehidupannya di luluh lantakkan hara.

Reena berdiri dekat jendela, menatap pada cahaya bulan yang menyinari taman. Ia belum bisa tidur, ia lapar dan tak terbiasa menginap kecuali di hotel jelang turnamen.
Reena ingin keluar dan mencari makanan di kulkas, namun ia sungkan. Ia khawatir mbok minah masih terjaga dan menegurnya.
Reena tak biasa menyapa atau disapa. Ia khawatir orang orang akan bertanya hal yang tak bisa ia jawab.
Reena pergi ke kamar mandi, ia menyalakan kran wastafel dan mendekatkan mulutnya. Ia menelan air banyak banyak untuk mengatasi laparnya. Begitu perutnya terasa penuh ia baru berhenti. 
Reena kembali ke kamar, naik ke  tempat tidur dan menarik selimut. Ia memaksa untuk tidur.  Ia sedang tak ingin berpikir dan memikirkan hidupnya.