Negosiasi
Telphone dari asistennya ketika Ayah Hara tengah berada di pemakaman Java Hills mengantar jasad putranya ke tempat peristirahat terakhir. 

Asistennya memberitahu bahwa korban pemerkosaan datang ke kantor dan ingin bertemu.

“Tanyakan berapa kompensasi yang diminta.” Ayah Hara menepi dari kerumunan.

“Saya sudah menanyakan tapi ayah korban ingin bertemu dengan anda langsung. Putrinya hamil.”

Ayah Hara terkejut “Antarkan ia ke kediaman saya.”

“Baik pak.” telphone di akhiri.

Ayah Hara menghampiri istrinya lalu berbisik di telinganya. Wanita itu mengerti dan langsung berpamitan pada para pelayat yang ikut mengantar.

Arsa melihat heran keduanya dan menyusul berpamitan.

“Aku akan ikut mobil papa. Kau pulang dengan supir.” Arsa bicara pada istrinya.

Istrinya mengangguki, Ia menghampiri mobilnya dan membiarkan Arsa ikut mobil orang tuanya.
 
“Aku ikut mobil kalian.” Arsa naik ke dalam alphard ayahnya yang seat belakangnya telah diubah  berhadapan sehingga memudahkan para penumpang berbincang.

“Korban akan datang ke kediaman kita.” Ayahnya memberitahu. Istri dan putra sulungnya sudah mendengar kabar yang disampaikan informan di kepolisian.

Perempuan dalam video seorang atlet bulu tangkis, datang ke cruise bersama temannya yang wartawan dan tak mengenal Hara sebelumnya. Ia bukan pacar Hara. Ia di bius lalu di perkosa. Korban tak melapor karena khawatir akan di diskualifikasi dari turnamen.

“Jika hanya uang dia tak perlu datang.” Arsa berkomentar.

“Dia hamil.” Ibunya memberitahu.

Arsa terkejut, Ia melihat ke ayahnya. Pria tua itu mengangguki.

“Jadi akan papa apakan jika Ia sungguhan hamil?”

“Jika dia memang hamil mamamu ingin mengambil bayinya.” Ayahnya memberitahu.

“Lucy tak menyukai ide memiliki anak. Ia terlalu mencintai  dirinya dan cemas jika bentuk tubuhnya berubah setelah melahirkan. Jadi kupikir tak ada salahnya membesarkan anak hara. Cucuku sendiri.” Ibu hara menyampaikan kekecewaannya terhadap istri Arsa. Lima tahun Arsa menikah, Lucy istri Arsa tak jua mengubah pendiriannya. Perempuan itu tetap tak punya keinginan memberi pewaris untuk mereka.

“Aku minta maaf.” Arsa memuja Lucy. Karenanya Ia menerima dengan lapang dada keinginan Lucy untuk tak memiliki anak.

“Kau tak perlu minta maaf. Kau hanya perlu menolong mamamu.” 

Arsa menatap Ibunya bingung “Pertolongan apa?”

“Jika perempuan itu sungguhan hamil tolong kau nikahi dia secara sipil sampai bayinya lahir. Aku membutuhkan legalitas hukum untuk mengambil bayinya.”

“Tidak mungkin. Lucy pasti mengamuk.” Arsa tercengang dengan rencana Ibunya.

“Aku yang akan bicara padanya. Lucy tak akan mau meninggalkan kehidupan mewahnya hanya karena kau menikah sementara.” Ibu Hara cukup mengenal Lucy. Dia bekas karyawan perusahaan mereka yang gigih mengejar Arsa. Latar belakang keluarganya yang sederhana membuat perempuan itu seperti kalap dan selalu ingin berpesta. Rumah Arsa tak pernah sepi dari pesta setiap minggunya. Lucy benar benar hidup untuk kesenangan. Bukan  Istri pada umumnya.