Petaka
Reena membuka mata. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. ia beringsut duduk dan shock begitu melihat dirinya tanpa pakaian dan berada di ranjang.
Ia buru buru turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya. Tergesa Reena mengenakan pakaiannya sembari mencoba mengingat apa yang terjadi.
Seorang pelayan menawarinya minuman.
"Tidak terima kasih. Saya belum ingin minum."
"Saya diminta aktornya memberikan pada anda."
Pelayan itu menunjuk pada seorang pria yang berdiri di seberang menyandar pada tepian kapal. Pria itu mengangkat gelasnya mengisyaratkan untuk bersulang. Reena yang tak enak hati dengan terpaksa menerima minuman yang ditawarkan tadi.
Reena dengan enggan menghabiskan dalam sekali teguk. Ia pikir dengan menghabiskannya Ia bisa menyudahi tatapan tak pantas pria itu. Namun  kepalanya seolah melayang. Lalu pria itu merengkuh pinggangnya. Reena ingat Ia ingin menjauh, tapi tubuhnya melemah. Ia membiarkan pria itu membawanya pada sebuah pintu. Dan setelah itu Reena tak ingat apa apa lagi.

"Tidak!" Reena melihat ke ranjang yang tertutup sprei putih. ada bercak darah, seketika Ia tersadar ada nyeri dibagian bawah tubuhnya.
Reena mundur dengan rasa kalut. Bersamaan dering ponsel berbunyi "Reen kau dimana?"
"Aku aku dikamar" panik Reena menjawab.
"Kamar?" Baim sudah menjelajah semua sudut geladak atas kapal sejak tadi tapi tak menemukan Reena. Sekarang Ia di geladak bawah mencari letak kamar dan menemukan diujung lorong. Baim bergegas membuka.
"Pesta sudah mau usai dan kapal sebentar lagi merapat. Kau kenapa disini?" Baim bertanya tanpa menyadari apa yang terjadi
"Aku diperkosa!" Reena berteriak dalam luapan emosi yang tak terkendali.
"APA" Baim reflek melihat ke ranjang dan melihat bercak darah "Kau harus melapor."
"Karirku akan tamat. Aku akan didiskualifikasi karena terjerat kasus." Reena menutup wajah. Ia merasa hancur. untuk pertama kalinya Ia menangisi hidupnya.
"Reena." Baim menyentuh bahunya dengan rasa bersalah.
"Jangan pernah menyentuhku! Kau penyebab semua ini! Harusnya aku tak ikut denganmu!" Reena menyentak tangan Baim dan berlari meninggalkan kamar. Ia naik ke geladak atas dan melihat kapal sudah merapat ke dermaga.Reena bergegas turun, berlari mencari taxi dan meminta diantar ke alamat rumahnya.

Tiba di rumah ayahnya yang menunggu kabar baik membukakan pintu "Bagaimana? Kau dapat sponsor?"
"Tolong bayar taxinya dulu pah." Reena tak pernah dipegangi uang
Ayahnya segera membayar. Ia sedikit heran kenapa Baim tak mengantar putrinya.
"Jadi kau dapat berapa sponsor?" Ayahnya menutup pintu dan tak sabar untuk tahu
"Reen tak mendapat satupun. Reen pulang cepat."
Ayahnya terbelalak, ia menjambak rambut Reena "Bagaimana kau bisa berpikir pulang lebih cepat padahal kau jelas tahu kita butuh sponsor untuk melunasi tagihan kartu kreditku!"
"Reen minta maaf. Reen mendadak pusing!"
"Pusing katamu?! Apa kau pikir aku juga tidak pusing!" Ayahnya menyeret kepala Reena ke kamar mandi.
"Pah sakit" Reena merintih.
"Kau harus terima akibat perbuatanmu." Ayahnya mendorong kepala Reena dan membenamkan wajahnya ke bak mandi yang terisi penuh air
"Pah." Reena gelagapan saat ayahnya menarik kepalanya dan membenamkan berulang kali.
Reena terbatuk, kehabisan nafas "Pah, reen janji menggantinya dengan kemenangan." 
"Kalau kau tak tepati janjimu kupastikan aku akan menjualmu pada lelaki hidung belang" Ayah Reena menghentak kepalanya
Reena jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Ia hanya bisa menangis menyadari apa yang terenggut darinya dan imbas yang Ia terima dari Ayahnya.