Dituduh Tanpa Bukti

Bab 4


Mas Bayu memandangku dengan tatapan marah, bagaimana caraku menjelaskan kepadanya kalau aku tidak bersalah dalam hal ini?


"Sekarang cepat mandikan kedua anakku!" Mas Bima mengarahkan jari telunjuknya ke arahku dengan gayanya yang sok dan sombong itu.


"Memangnya Mas siapa? Berani memerintahku seperti itu?" ucapku dengan tegas, aku tidak mau terus-menerus di intimidasi seperti itu.


"Berani kamu melawanku ya, Desi!" Mas Bima mendekat, sehingga anakku yang lagi dalam gendongan menangis, mungkin ia takut. Lelaki itu mengangkat tangannya dan hendak menamparku.


Seketika, suamiku langsung menahan tangannya, menghempaskannya hingga Mas Bima terjungkal ke belakang.


"Berani kamu menyentuh istriku, kau akan langsung berhadapan denganku!" bentak Mas Bayu dengan nada tinggi. Terlihat dari wajahnya kalau suamiku sedang menahan emosi.


"Ada apa ini ribut-ribut? jika ada masalah, selesaikanlah secara baik-baik, Jangan seperti ini. Malu sama tetangga!" Pak RT yang kebetulan lewat, menghentikan motornya saat mendengar perseteruan di antara kami.


"Begini, Pak. Si Desi ini tidak amanah. Istri saya lagi pulang kampung menjenguk ibunya yang sedang sakit. Istri saya menitipkan anak-anak pada si Desi, tapi malah anak-anak saya ditelantarkan, Pak. Anak-anak belum dimandikan, makan juga nggak dikasih, gimana saya nggak marah pak," ucap Mas Bima, suaminya Sinta itu menyalahkan ku tanpa bertanya lebih dahulu.


"Apakah betul seperti itu, Bu Desi?" tanya Pak RT.


"Bukan seperti itu, Pak, Sinta tidak menitipkan anak-anaknya padaku. Bahkan Sinta pergi tanpa sepengetahuanku," jelasku mengatakan yang sebenarnya.


"Dia bohong, Pak, jelas-jelas istri saya pergi karena dikasih duit sama si Desi. Katanya Desi bersedia menjaga anak-anak sampai istri saya kembali."


Ingin rasanya aku menendang burung lelaki yang tidak tahu diri itu agar ia tahu rasa. Saking geram melihatnya. Berani sekali ia menyalahkan dan melibatkanku dalam urusan rumah tangganya dengan Sinta. 


Lidahnya tajam sekali, bahkan melebihi ibu-ibu rempong yang selalu mencari bahan ghibah setiap harinya. 


"Mas Bima bohong, Pak, bukan begitu ceritanya. Memang tadi siang Sinta nangis-nangis datang ke rumahku dan meminjam uang untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit. Karena kasihan, kupinjamkanlah duit padanya. Dan Sinta pergi kapan dan jam berapa aku tidak tau. Satu hal lagi, Sinta tidak pernah menitipkannya anak-anaknya padaku. Jikalau pun Sinta memintaku untuk menjaga anak-anaknya, aku tidak akan bersedia," kelasku tanpa ada rasa takut sedikitpun. Agar pak RT tidak salah paham juga terhadapku.


"Jika memang benar seperti apa yang diceritakan Bu Desi, berarti bukan Bu Desi yang bersalah dalam hal ini." Pak RT menengahi.


"Bukan, Pak, istri saya sendiri tadi yang telpon saya, dan bicara seperti itu" sahut Mas Bima.


"Sekarang coba telpon istri Bapak, lalu tanyakan yang sebenarnya!" Pak RT memberi usul.


Mas Bima pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Lalu menjauh dari kami.


Ketika Mas Bima menelpon Sinta, kudengar Sinta ngomongnya gugup. Sepertinya memang benar, Sinta lah dalang di balik semua ini. Berarti ada udang di balik bakwan, eh salah. Di balik batu maksudnya.


"Bagaimana, Pak Bima?" tanya pak RT setelah Mas Bima bergabung bersama kami.


"Suaranya gak jelas, Pak. Putus-putus!"


"Berarti disini terjadi kesalahpahaman antara Pak Bima dengan Bu Desi. Menurut saya, Pak Bima tidak seharusnya bersikap seperti tadi terhadap Bu Desi. Apalagi Bu Desi sama sekali tidak seperti apa yang pak Bima tuduhkan."


Mas Bima terdiam, entah dirinya merasa bersalah, aku tidak tahu. Yang jelas aku sudah benci sekali padanya.


Setelah menyelesaikan kesalahpahaman di antara kami, Pak RT kemudian pamit, karena masih ada urusan lain.


"Dasar keluarga edan!" ucap Mas Bima, kemudian berlalu meninggalkan kami. Memasuki rumah, dan membanting pintu rumahnya sehingga menimbulkan bunyi yang memekikkan telinga. Sepertinya Mas Bima tidak terima karena pak RT membelaku.


***


Hatiku masih saja diselimuti rasa kesal dan marah pada Sinta dan suaminya itu. Sementara Mas Bayu, di sepanjang perjalanan hanya diam saja. Kecuali diajak ngobrol oleh anak sulungku Nindy, baru suamiku mau bicara.


Aku tau, mungkin suamiku marah padaku. Karena aku sudah meminjamkan uang pada Sinta tanpa sepengetahuannya.


Kejadiannya begitu cepat. Aku memang berniat ingin menceritakan semuanya kepada suamiku, tapi sudah lebih dulu diketahuinya. Membuat suamiku salah paham dan marah terhadapku.


Sesampainya di sebuah taman bermain, kedua anakku bermain dan tetap dalam pantauan kami.


Mas Bayu masih diam seribu bahasa. Biasanya disaat-saat seperti ini, ketika anak-anak sedang sibuk bermain, mas Bayu pasti akan menggodaku. Menggombal dengan jurusnya yang jitu, sehingga membuatku makin sayang padanya.


Aku pun mencoba merayunya, "Mas… Mas…."


Tetap saja belum mau bicara.


Aku kemudian menggenggam jemarinya, "Mas, marah ya padaku?"


Belum ada respon sama sekali.


Gak baik ah, ngambek, kayak anak kecil saja. Aku minta maaf ya, Mas!"


"Kamu sih, bikin Mas kesal. Sampai-sampai hal seperti ini tidak kamu beritahu sama Mas!" 


"Sebenarnya, aku ingin menceritakan semuanya sama Mas, saat kita ada waktu seperti ini. Karena tadi semuanya sudah terlanjur, jadi Mas taunya dari orang lain. Maafin aku ya, Mas!"


"Ya sudah, gak apa-apa. Mas maafin. Lain kali jangan seperti ini lagi. Jangan pernah  meminjamkan duit pada orang lain tanpa sepengetahuan suami. Bukan apa, Mas tidak ingin orang lain menyalahgunakan kebaikanmu. Mulai sekarang, jauhi keluarga Sinta, ya. Demi ketenangan keluarga kita. Mas maafin kamu, Mas sayang sama kamu." Ucap mas Bayu kemudian mencium keningku.


"Ih, Mas, apa-apa sih, pake cium-cium segala! Malu tau, banyak orang!" Aku menahan rasa malu karena dilihatin pengunjung lain. 


"Gak apa-apa, sesekali." Mas Bayu mengeratkan genggaman tangannya.


Alhamdulillah, Mas Bayu sangat pengertian terhadapku. Hampir saja keluargaku berantakan gara-gara ulah si Sinta.


Awas kamu Sinta, aku akan membalasmu!


Bersambung ....