menanggung malu
MALU DI PERNIKAHAN SUAMIKU



"Dah, Ayah ...!"

"Dadah ...!"

Tangan mungil putriku melambai seiring dengan menghilangnya bus yang membawa Mas Faiz--suamiku juga ayah dari putriku. 

Peluk dan cium dia hadiahi kepadaku sebelum keberangkatannya. Sangat berat untuk melepasnya pergi. Itu pertama kalinya dia meninggalkanku selama pernikahan kami. Tidak ada jalan lain, selain melepasnya. 

Bagaimanapun hidup harus terus berjalan, perut harus tetap terisi meski hati tak ingin menjauh. Aku relakan dia pergi merantau mengadu nasib mencari rezeki ke kota besar. Dan aku tetap tinggal di desa menunggunya kembali kedalam pelukan. 

Tidak terasa bulir hangat membasahi pipiku kala mengingat perpisahanku dengan Mas Faiz tiga tahun yang lalu. 

Kini, aku dapat melihatnya kembali. Dia semakin tampan, warna kulitnya tak lagi hitam. Mungkin karena sudah lama tinggal di kota dengan bekerja di dalam ruangan yang ber AC. Dia tidak lagi harus memeras keringat seperti saat bekerja di desa menjadi buruh serabutan. 

Suamiku dia terlihat sangat gagah memakai tuxedo putih dengan rangkaian bunga yang melingkar di lehernya. Di sampingnya wanita yang amat sangat cantik dengan gaun warna senada sedang bergelayut mesra di lengannya.

Sekian lama aku menunggu kepulangannya, berharap dia datang dengan membawa sejuta kebahagiaan untukku dan putrinya. Namun, harapanku musnah. Sekarang aku yang harus mendatangi dia di pelaminan dengan istri barunya. 

"Sabar, Na." Lita, teman yang menemani kedatanganku ke kota ini, menenangkanku dengan memeluk dan mengusap pundakku. 

Apa yang akan terjadi jika Mas Faiz melihatku ada dipernikahannya? Bukan hanya Mas Faiz, ternyata kedua mertuaku juga ada di sana. Ya Allah, tega sekali mereka mengkhianatiku. 

Aku ingin melabraknya atau bahkan mengahancurkan pengantinnya. Namun, itu hanya akan menambah masalah baru untukku. Bagaimana tidak, sepertinya keluarga istri baru Mas Faiz bukan orang sembarangan. Mereka punya banyak uang, terbukti dari pestanya yang megah dan meriah. Sedangkan aku, aku hanya wanita dari desa yang mencari keberadaan suaminya. Dan malangnya, suami yang aku cari tengah berbahagia bersama wanita lain. 

Tapi marah dan benci sudah bercampur menjadi satu, aku bukan wanita lemah yang dengan mudah bisa memaafkan tanpa berbuat sesuatu. Tujuanku dari desa ke kota ialah untuk melabrak suamiku dan istrinya seperti pada cerbung yang sering aku baca di KBM. Dan sekarang adalah waktunya. 

"Lit, bantu aku, yah?" kataku pada Lita. Namun pandangan tetap lurus memperhatikan suamiku yang selalu menebar senyum kepada semua orang. 

"Hayu, aku selalu siap. Mau nyerang itu laki kan?" tanya Lita semangat. 

Aku menggeleng, "Aku ingin berada di sana." Aku menunjuk panggung yang bersebelahan dengan pelaminan. 

"Hah?!" Lita berteriak. 

"Temui panitianya, bilang jika aku akan menyampaikan sesuatu kepada pasangan pengantin baru itu," ucapku dengan penuh penekanan. 

"I-iya, aku kesana dulu, yah?"

Lita pergi, sedangkanku masih pada posisi yang sama. 

Jadi, ini yang kamu maksud merubah nasib Mas? Bukan hanya nasibmu yang berubah, tapi juga hatimu. 

Bagaimana bisa aku tidak menyadari jika dia telah mendua. Sedangkan setiap bulan dia selalu rutin memberikan nafkah lahir untukku dan putriku. Bahkan dia selalu meluangkan waktu menghubungiku hanya untuk berbincang dengan Aliya putri semata wayang kami. 

Lagi, air mata tidak bisa aku tahan. Kenyataan ini begitu menyesakkan. 

"Ok, untuk menemani para tamu undangan yang sedang menikmati santapan, kali ini ada seseorang yang ingin menyumbangkan sebuah lagu untuk kita semua. Kita panggil saja si dia ke atas panggung. Mbak Husna!" 

Seorang MC memanggil namaku, semua mata kini tertuju padaku, tak terkecuali sepasang pengantin beserta keluarganya. 

Bisa aku lihat raut keterkejutan dari wajah Mas Faiz dan orang tuanya. Dua orang tua di samping mempelai wanita itu saling berbisik. 

Apa tadi, lagu? Astaga Lita, kenapa dia bilang kalau aku akan menyanyikan lagu? Sedangkan aku saja tidak bisa bernyanyi. Mau tidak mau, aku pun melangkah gontai ke atas panggung. 

Tujuanku ke sini untuk membuat malu Mas Faiz yang telah menikah lagi tanpa sepengetahuanku. Tapi sepertinya senjata makan tuan. Aku yang akan dipermalukan di sini. Lita, teman macam apa dia, bahkan aku tidak melihatnya sekarang. 

"La-lagu ini, saya persembahkan untuk suami saya yang sudah tiga tahun tak kunjung pulang--" ucapku terbata karena gugup. 

Aku menjeda ucapanku, kulihat Mas Faiz mengusap wajahnya yang mulai memerah. 

"Aku hanya minta padanya, untuk secepatnya ... men-ce-rai-kan-ku," tegasku dengan bibir bergetar menahan tangis karena semakin gugup. 

Kulirik lagi si mempelai pria. Dia tercengang dengan perkataan terakhirku. Mungkin tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar dari mulutku. Sedangkan wanitanya membulatkan mulut dengan berkata 'oh'. 

Semua orang yang hadir di sini menatapku. Mereka menungguku yang akan membawakan sebuah lagu untuk mereka dengar. Tubuhku mulai gemetar saat musik dimainkan. Mak, ini bagaimana ... aku tidak bisa nyanyi. 

Aku mendekatkan mikrofone ke bibirku. Aku tahu lagu ini, aku juga hafal liriknya. Lagu dengan judul 'Gaun Merah' dari Sonia. Tapi aku tidak bisa bernyanyi. Sumpah demi apa sekarang keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. 

Dalam hitungan ketiga, aku harus mengeluarkan suara, bernyanyi mengikuti alunan musik. 

Satu ... dua ... tiga ....

"Sa--"

ğŸŽ¶Saat gerimis datang membasahi gaun merahku
Yang engkau berikan untukku
Kini gaun merah ini menjadi saksi bisu 
saat kau tinggalkan dirikuğŸŽ¶

Ya Allah Ya Tuhan, itu suara siapa yang keluar? Kenapa merdu sekali? 

Orang-orang kini takjub mendengarkan suaraku yang merdu. Pikir mereka. Sedangkan diriku kebingungan mencari sumber suara yang indah itu. 

Apakah ini yang dinamakan keajaiban Tuhan? Ok, aku akan mensyukurinya dengan cara menikmati suara indahku ini. Mulutku komat-kamit seperti orang yang baca mantra, tapi tidak mengeluarkan suara. 

ğŸŽ¶Terbuai aku dalam mulut manismu
Yang penuh dengan janji palsu
Seakan semuanya indah
Terpuruk aku di dalam lembah cinta
Yang membuat mataku buta
Karena diriku selama ini
Tak tahu dirimu mendua

Biarkan kubawa luka hatiku ini
Dan tak akan aku sesali
Walaupun gerimis tak henti
Kini cukup sudah aku rasakan perih hati
Dan ku tak mau terulang lagi
Walaupun cintaku bersemiğŸŽ¶

Terbayang jelas saat-saat kebersaman kami dulu. Tidak pernah terpikir olehku, jika akan mengalami nasib menyedihkan seperti ini. Air mataku jatuh kembali, buru-buru aku menghapusnya dengan jariku. 

Mas Faiz duduk dengan kepala menunduk. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Aku tidak bisa menyelaminya karena dia bukanlah Mas Faizku. Kini dia telah menjadi milik orang lain. 

Tidak bisa aku melanjutkan, suaraku tidak keluar, karena memang aku tidak pernah mengeluarkan suara. Namun lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terimakasih kepada si penyanyi, tapi aku sudah tidak mau berada di sini lagi. 

Satu langkah aku maju hendak turun dari panggung, nahas, kakiku tersandung kabel yang menghubungkan dari mikrofone ke sound sistem. 

Brukkk
Aku terjatuh, badanku terguling hingga ke bawah panggung melewati tangga yang hanya tiga biji. 

Suasana yang hening karena lagu melow yang tadi, kini hilang dan berganti riuh dengan tawa mereka yang melihatku jatuh menggelinding seperti trenggiling. 

"wahahaha ... kalau dia bini gue, udah gue cerein, bikin malu hhaha!"

"Kelamaan dianggurin jadinya gitu deh. Tidak fokus." 

"Suaminya jadi Bang Toyib, istrinya bikin aib." 

Ah, aku isin Bu ...! 

Lita yang melihatku jadi bahan tertawaan, dengan sigap dia membantu dan membawaku keluar dari gedung tersebut. 

Tangisku pecah. Sakit, sangat sakit luka yang Mas Faiz berikan untukku. Terlebih malu yang amat besar dan sudah merajai jiwaku. Aku berjongkok dipinggir jalan, kedua tanganku kugunakan untuk menutup wajahku. Untungnya jalanan diperumahan ini sepi, tidak ada yang lewat saat aku menangis tergugu mengeluarkan kesakitanku. 

"Na!"

Aku mendongak melihat ke arah suara. Ternyata lelaki durjana yang berdiri di hadapanku. Matanya sayu menyiratkan kesedihan. Ah, tidak. Bukan sedih, sepertinya dia sedang menertawakan nasibku yang menyedihkan. 







Next?



Komentar

Login untuk melihat komentar!